Jumat, 26 Juli 2013

The Overtunes FanFiction (Bab 2)

Bab 2

Di gedung lomba Olimpiade Sains
Aku dan Reuben duduk di depan, berusaha menahan rasa gugup masing-masing.
Today is the day. Olimpiade Sains tingkat nasional. Gedung bercat putih ini ternyata besar. Banget. Bisa nampung 2000 orang, dan orang yang ada disini lumayan banyak.
10 menit lagi lomba dimulai. Aku dan Reuben sudah duduk dari 20 menit yang lalu, memegang kertas essay.
Aku menatap Reuben. “Reu. I’m nervous, really…” kataku gelisah.
Reuben menatapku prihatin. Sebenarnya dia juga sama nervousnya sama aku. But he’s trying to hide it from me.
Reuben menggenggam tanganku dengan kedua tangannya erat-erat. “Mona, believe in yourself. Kita berdua pasti bisa. Jangan takut, you’re not alone right? Anggap aja ini kayak yang biasa kita lakuin di ruang olimpiade.”
HUFT……… Aku menghela nafas.
Kata-kata Reuben lumayan menenangkanku. Aku mengangguk, kemudian membalas senyum manis Reuben dengan lemah. Reuben melepas genggamannya, dan tiba-tiba rasanya gugup lagi. RRRRR.
Aku membuka hapeku dan melihat ada message. Its from Mikha:
Halo, Mona.
Kamu udah sering denger goodluck pasti akhir-akhir ini. Well, I’ll say something different. Aku tunggu kamu besok sama piala yang kamu bawa di atas podium sekolah sama Reuben ya? Ntar habis menang, langsung traktir aku bareng Mad and J!
Reuben itu orangnya nenangin loh. Yes, aku promosi. Hahaha, just kidding Ms. Beautiful.
Well, do your best. Kamu pasti bisa, goodluck! :)

Aku senyum-senyum sendiri menatap layar hape. Ah Mik, I wish you’re here with me right now.
Aku menyimpan hapeku, kemudian membuka tasku dan wait wait…
APAAN NIH?
Mataku membelalak begitu melihat ada kotak kecil berwarna coklat di dalam tasku.
Aku segera mengeluarkannya. Ada memo di atasnya:
Morning, Mona…
Goodluck goodluck goodluck goodluck goodluck!
Believe in yourself, Mona. Kamu pasti bisa. Anggap aja kayak yang kamu lakuin selama latihan ini, don’t be nervous.
And I will be standing right in front of the podium tomorrow, you and Reuben Nathaniel, with the cup.
Well I cant see you in school today. But nevermind, I’ll meet you no matter what. I’ll find the way haha.
I may not get to see you as often as I like, I may not get to hold you in my arms all through the night. But deep in my heart, I truly know, you're the one that I love and I can’t let you go.
Love, and miss also
Your Admirer :)

Aku membuka kotak itu perlahan dan melihat sebuah gelang coklat, bahannya dari kayu dan indah sekali. Dan jelas sekali ini handmade.
Ada bandul melodi dan hati kecil. Di kotak itupun ada suratnya:
This is special for you, Mona. I made this whole day yesterday, and made another surprises for you again.
Wear this, and I would be the happiest man in the world.
Love, and please wear this,
Your Admirer :)

Tanganku gemetaran saat menggunakan gelang coklat itu. Pas sekali di tanganku. Match perfectly, and so wonderful.
Aku nyaris menangis saking tersentuhnya, tapi lomba sudah dimulai. Seorang juri berdiri di atas panggung.
Reuben menatapku dan berbisik, “Well, here we go, Mona. Kita bakalan berdiri di podium sekolah besok. Believe in ourself.”
……
Wait wait…………………………………
What did he say?
SMS Mikha, surat dari secret admirer, dan kata-kata Reuben barusan.
Tiba-tiba puzzle yang kususun di otak selama ini menemukan dua bagian yang pas untuk diisi di puzzle.
Dua, bukan satu.
Siapa orang dibalik surat, bunga, coklat, memo, gelang, and all of these things?
***
Still at Gedung Olimpiade Sains, 2 pm
WHAT A…. DAY!
“Cant believe it, Reu! Akhirnya selesai, tinggal nunggu resultnya ajaaa! AAAA!” pekikku saat aku dan Reuben keluar dari ruangan Olimpiade.
Reuben tertawa lebar. Baru kali ini aku ngeliat dia ketawa lega. “Yang jelas aku lega. Masalah menang atau gak, itu urusan belakangan. We did our best, weren’t we?”
Aku mengangguk mantap. “Yes.”
Kemudian aku dan Reuben kembali ke gedung olimpiade yang super besar tadi dan duduk di bangku awal.
Reuben sibuk dengan hapenya, maka aku membuka novelku yang belum selesai kubaca.
Tak sampai lima menit kemudian, guru pembimbingku, Mrs. Winslet mendatangiku dan Reuben.
“Hi guys… Sebentar lagi waktunya pengumuman, udah siap dengernya?” tanya Mrs. Winslet sambil tersenyum.
Reuben tersenyum, “Apapun hasilnya, kami udah berusaha memberikan yang terbaik tadi. Yah, hope for the best hehe…”
Aduh, Reuben emang idaman banget deh……….
Kemudian Mrs. Winslet duduk di sebelahku. Dan tepat pada saat itu juga, juri naik ke atas panggung dengan membawa secarik kertas.
“Reuben, this is the time…….” bisikku, mulai cemas.
Reuben menoleh dan menatapku. Lama. Dan aku mulai grogi diliatin Reuben kayak gitu. “Mona, calm down. We do our best, aren’t we?” Kemudian ia menggenggam tanganku lagi dengan kedua tangannya yang hangat itu.
Langsung saja aku merasa damai, tenang, aman. Hanya tersisa sedikit rasa panik.
Mikha’s right. Reuben memang punya kemampuan buat orang merasa tenang, aman, dan terlindungi. (adoh ugi:3)
“Selamat siang, semuanya…” kata seorang juri laki-laki yang mengenakan jas.
Tanganku semakin dingin. Bisa kurasakan kontrasnya perbedaa suhu antara tangan Reuben dengan tanganku.
“Seperti yang telah kita ketahui, Olimpiade Sains telah dilaksanakan selama 4 jam tadi.” Yup, 4 jam bareng Reuben, menyelesaikan soal-soal yang sulitnya minta ampun. Belum lagi sesi tanya jawab yang rebutan. Bikin puyeng.
“Dan di kertas yang saya pegang ini, berdasarkan keputusan para juri, kami sudah menemukan tiga pemenang, dan mereka memang layak untuk mendapatkan piala serta piagam dan hadiah lainnya.” Terdengar tepuk tangan bergemuruh. Aku gak ikutan.
Perutku mulai sakit-reaksi yang pasti terjadi kalau aku gugup. Tanganku semakin dingin. OH MY GOD, kasih tau siapa yang menang sekarang aja bisa gak sih?!
Reuben memandangan tangan kami berdua yang bertaut. “Why your hand is so cold, Mona?” tanya Reuben bingung.
Aku menggigit bibir bawahku.
“Oh I know. Nervous, aren’t you?” tanya Reuben dengan tatapan meneduhkannya. “Mona, apapaun hasilnya, kita berdua udah berjuang, kan? Optimis aja, ya.”
Aku cuma bisa mengangguk.
Di lomba tadi, aku sama Reuben memang ada bingung beberapa soal. Dan pas tanya jawab rebutan, ada satu sekolah yang gencar banget jawab pertanyaan.
Okay, I’m getting so nervous right now.
“Juara tiga, dimenangkan oleh…………”
ARGH. ARGH.
Aku memegang tangan Reuben erat-erat. Entah ia merasa kesakitan atau apa, yang jelas aku butuh tangan seseorang untuk dipegang.
“Harapan Bangsa School, selamat!”
Tepuk tangan dari sudut kanan meledak. Siswa-siswi dan guru-gurunya pun langsung berpelukan satu sama lain. Kemudian dua orang siswa beserta guru pembimbingnya maju ke atas panggung. Wajah mereka terlihat bangga. Yaiyalah. Ini lomba nasional cuy.
“Reuben….” lirihku pelan.
“Masih ada juara dua sama satu, kan?” tanya Reuben, tersenyum lembut. But I know, deep inside his heart, he feels so nervous too.
“Dan juara dua. Jatuh kepada………………………..”
Aku menutup mataku.
“Pelita Jaya School, selamat!”
Teriakan yang lebih heboh terdengar dari tengah ruangan. Aku melihat wajah mereka memerah saking senangnya.
“Reu, itu kan sekolah yang pas sesi tanya jawab bener semua jawabannya? Kok cuma juara dua?” tanyaku panik.
Reuben mengangkat bahunya. “Mungkin pas sesi soal dia ada yang salah, kan…”
“Mereka cuma juara dua, juara satunya mau sepintar apa!” pekikku panik. “Oh, Reu. I think I’m going crazy.”
Reuben mengelus kepalaku lembut. “Please, don’t be like this Mona. Keep believing…” kata Reuben pelan, matanya berusaha meyakinkanku.
Aku tertunduk lemas.
“Dan sekarang, juara satu. Hmmm, kira-kira siapa ya?” tanya si juri jas hitam itu.
Aku langsung membalikkan badanku, menatap Reuben. Menatap matanya yang teduh itu. Reuben pun menatapku.
Oke, ini kayak adegan film so sweet. Pegangan tangan, saling hadap-hadapan sambil tatap-tatapan. Kalau aja aku lagi gak nervous, pasti aku udah ngakak.
“Reu….” lirihku.
“Mona…”
“Yap, CONGRATS TO……”
………………………………….
…………………………………..
Aku menggenggam erat tangan Reuben. Menatapnya tidak lepas-lepas.
“CONGRATS TO SYMPHONI INTERNATIONAL SCHOOL AS THE FIRST WINNER!”
WHAT? GAK SALAH DENGER KAN INI?!
Aku diam. Reuben diam.
………….
………...
…………
………………………………………………………..
Krik.
Teriakan heboh terdengar dari depan dan belakang. Kupingku sampai sakit mendengarnya.
Mrs. Winslet memeluk ku dan Reuben bersamaan. “Congrats Mona dan Reuben! You guys really deserved this, oh my god! You won!”
Aku dan Reuben menatap satu sama lain. Kemudian perlahan-lahan bisa kulihat ekspresi wajah Reuben berubah.
“REUBEEEENNNNNN, WE DID IT! WE DID IT REU!”
Aku sontak memeluk Reuben erat. Membagi kebahagiaan yang kami rasakan satu sama lain.
“I can believe it!” pekik Reuben di antara semua teriakan dan tepuk tangan yang ada.
Aku melepas pelukan Reuben. Menatapnya dengan mata berbinar-binar.
Aku, Reuben, dan Mrs. Winslet kemudian naik ke atas panggung. Semua cameramen langsung menjepretkan kameranya ke arah panggung. Duh, berasa artis hahahaha!
Juri kemudian memberikan piala, piagam, dan hadiah ke juara tiga. Lalu juara dua. Lalu aku dan Reuben.
Kulirik Reuben saat menerima piagam. Wajahnya yang putih berubah merah saking senangnya. Matanya berkilau berbinar-binar.
And now, its my turn.
Juri memberikan piagam dan piala, berserta hadiah. OH MY GOD, feel so proud!
And time to take some pics.
Semua peserta heboh bertepuk tangan, tapi tiba-tiba tatapan mataku jatuh ke arah belakang.
Aku menyipitkan mataku sejenak, and oh my God.
Mikha, Mada, dan Jeremy ada di belakang. Masih pake baju seragam. OH MY GOD, THEY ARE COMING!
Mada menyadari kalau aku melihatnya. Ia memberi tahu Jeremy dan Mikha. Mereka bertiga sontak mengangkat jempol mereka ke arahku dan Reuben.
“Reu, itu Mikha, Mad, sama J!” bisikku pelan.
Reuben pun melihat saudaranya. Wajahnya langsung sumringah.
Acara foto-foto sudah selesai. Aku dan Reuben pun turun dari panggung, menerima ucapan selamat dari guru-guru yang datang, lalu berfoto sebentar dengan juri yang kagum dengan kemampuanku dan Reuben.
Lalu kami berdua segera berlari ke belakang, mendatangi Mikha, Mada, dan Jeremy.
Begitu melihat Mikha ada di jarak pandangku, aku melihat Mikha merentangkan kedua tangannya, seakan hendak memelukku.
Aku pun segera berlari dan menghambur ke pelukannya.
AND I’M HUGGING MIKHA RIGHT NOW OH MY GOD CAN YOU BELIEVE IT GUYS?!
(nowplaying: My Heart Is Yours - The Overtunes (Justin Nozuka Cover))
Dipeluk Mikha dan rasanya damai. Tenang. Adem. Bahagia.
Dan ternyata Mikha itu wangi banget! Wanginya bikin relaks, dan emang khas Mikha banget.
Can I go cry now. I hug Mikha Angelo Brahmantyo, ladies and gentleman. Bintang sekolah!
Masih berada di pelukan Mikha, dan Mikha berbisik, “Congrats, Ms. Beautiful. I know you can. You did it!”
Bisa kurasakan pipiku memerah. Telingaku juga. Pipiku panas banget. Aku menutup mataku, menghirup aroma wangi Mikha. “Thanks, Mikha.”
Selamanya pelukan sama Mikha boleh gak……………………
Kemudian Mada datang dan mengacak rambutku. Oke, hancur semuanya.
“Duh, tau deh yang duet. Pelukannya juga gak usah lama-lama kali, hahahahahha!” olok Mada.
Mikha melepaskan pelukannya, wajahnya memerah. Dan ini pertama kalinya aku liat Mikha salting. Mukanya merah banget. Oh, mungkin aku juga semerah itu.
Mikha mendatangi Reuben untuk menutupi ke’salting’annya.
“Congrats my sweety, my sister, hahaha,” kata Mada kemudian memelukku.
Kalau yang kali ini beda. Rasanya pelukan dari seorang kakak cowok yang sayang ke adeknya. Sweet.
“Thanks, Mad,” balasku, tersenyum di pelukan Mada.
Mada melepaskan pelukannya, kemudian gentian Jeremy yang memelukku. Hari ini temanya peluk-pelukan, hahaha! (asik banget ya si Mona, seharian meluk The Overtunes mulu :’)
“Aduh lapar nih, lapar. Iya gak guys?” kata Mada sambil memegang perutnya.
“Aduh gak terima kode aduh gak dengar, hahaha!” kataku sambil tertawa.
“Yaudah, yuk aku sama Mona traktir sekarang! Lets goo!” kata Reuben, merangkulku. Mada gak mau kalah, ikutan ngerangkul di sebelah kiri, hihihihi :3
Ternyata Mada bawa mobil kesini. Dan sesampainya di depan mobil….. OH MY GOD.
Aku segera berlari ke kap mobil. Ada sebuket bunga mawar, lengkap dengan suratnya.
Aku membuka surat itu dan membacanya,
Congrats my lovely girl, Mona!
Ah, I knew it from the start that you and Reuben were the winner! But, ah congrats. I cant tell you how much I’m proud of you.
You’re so beautiful today. With that pink bandana, and your brown sweeter. Ah, an angel from heaven, aren’t you?
Love and proud,
Your Admirer :)

Aku nyaris sesak napas membaca surat itu. Lalu aku mengambil buket bunga itu, dan ada memo yang tertempel:
Mona,
Someone told me that there really is such thing as magic. I never believed in that till I saw your smile and felt your touch. Then I realized you’re the only magical thing on earth who could turn this world into paradise.
Love, miss, proud,
Your Admirer :)

Mikha mengambil bunga itu dari tanganku. Aku terkejut.
“Hmm, bunganya harum!” kata Mikha ke Mada. Mada langsung ketawa ngakak.
“Its not funny, Mikha. Give it back to me!” kataku.
Mikha kemudian memberikan bunga itu dengan santai. Lalu Reuben melirik surat yang kupegang, dan ternyata ia membacanya.
“So sweet banget.” Reuben berkata santai.
Mada masuk ke mobil diikuti Jeremy. Aku melirik Mikha dan Reuben sebelum masuk ke mobil.
Wajah Mikha bener-bener stay cool. Jangan-jangan, memang bukan dia yang ngasih? Tapi SMS nya tadi pagi sama surat dari secret admirer rada sama. Bakal liat aku di podium bareng piala. Kebetulan?
Dan Reuben. Wajahnya sulit ditebak. Masih ada sisa euforia kemenangan disana, but eyes cant lie. Theres something in his eyes.
Reuben juga bilang hal yang sama kayak di surat secret admirer. Just same like Mikha too.
Puzzle ku tiba-tiba terhambur lagi dan pasangannya hilang entah kemana.
***
“Audisi sebentar lagi loh….”
Perkataan Jeremy barusan menyadarkanku dari lamunan. Aku menegakkan tubuhku dan langsung menatap Jeremy, “Berapa hari lagi?”
“Hmm, denger-denger dari teman-teman aku sih… seminggu lagi.”
Seminggu lagi? WHAT? Waktu berjalan sangat cepat rupanya.
Aku menghela nafas, dan ternyata Reuben melihatku. “Gak ada yang perlu ditakutin, Mona. Kita udah siap kok. Lagu, aransemen, semua udah siap.”
Aku menatap Reuben lama-lama. Dan, as always, Reuben itu selalu nenangin. “Well… Tapi tetap aja rasanya gugup.”
Pintu ruang musik terbuka dan masuklah Mikha dengan kertas di tangannya. Mikha kemudian segera duduk di sebelahku.
“Audisi seminggu lagi. Pendaftaran dimulai besok, dan ini-“ Mikha menunjukkan kertas di tangannya. “-harusnya baru bisa didapat besok. Tapi karena aku ke ruangan Ms. Kath dan ngobrol bentar, she gave me this.”
Mikha menyerahkan kertas itu ke tanganku. Ku baca sekilas. Pointnya ada event sekolah, dan bakalan ada acara musik. Bisa band, duet, solo, boyband or girlband, vocal group. Bakalan ada audisi seminggu lagi, dan yang lolos audisi cuma 5 peserta. Dan di event nanti, bakalan ada tiga pemenang.
Aku memberikan kertas itu ke Mada. Kulirik Mada sebentar, matanya menyusuri kalimat-kalimat di kertas dengan seksama.
Aku memandang Mikha. “Seminggu lagi,” bisikku pelan.
Mikha menoleh, “Yup. Dan kita harus nentuin lagu apa yang bakal kita bawain buat audisi nanti.”
“Dan nama band kita,” sambung Jeremy, kertas pengumuman ada di tangannya.
Reuben mengubah posisi duduknya. “Jeremy bener. Band kita harus punya nama.”
Hening.
Nama… Reuben bener. Band harus punya nama.
“Gak usah yang ribet-ribet, cukup yang sederhana tapi udah nunjukkin kalau itu kita,” saranku pelan.
Jeremy menatapku lama sekali. Aku hanya membalas tatapannya sebentar, sebelum kemudian merasa jengah lalu mengalihkan pandangan ke Mikha.
“Just got an idea,” kata Jeremy di tengah keheningan. Semua mata langsung mengarah ke Jeremy. “But first, sorry Mona. Ugi, Mikha, Mada, kalian masih ingat gak waktu kita latihan di studio nyanyi lagu Fix You nya Coldplay?”
Reuben langsung mengangguk, disusul dengan Mikha dan Mada. “Terus kenapa?” tanya Mada.
“Waktu bagian reffnya, kita naikin kan, nadanya?”
Reuben, Mikha, dan Mada mengangguk lambat-lambat. “Kita overtuned nadanya.”
Hening lagi. Dan sepertinya aku tau ke mana arah pembicaraan mereka.
“The Overtunes.”
Semua langsung menatap Reuben dan Mikha. Mereka ngomong di saat yang bersamaan. The power of family!
“The Overtunes…” Kuulang kalimat itu dan rasanya…… Cool!
Mikha dan Reuben menatap satu sama lain, kemudian mengangguk berbarengan. “The Overtunes,” kata Reuben.
“That’s our name. Agree?” tanya Mikha.
Mada mengangguk, aku mengangguk, dan Jeremy yang paling girang. Karena ia yang mengusulkan.
“So… The Overtunes. Cool!” kataku bersemangat. Mikha tersenyum, manis sekali.
Dan langsung saja, jantungku berkerja dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Cuma karena senyum Mikha. Oh my God.
“Oke. Nama sudah fix. The Overtunes,” kata Reuben. Bisa kulihat jelas, ada setitik semangat yang membara di matanya. Membuat Reuben jauh lebih tampan. “And now… Song for audition.”
Semua diam lagi, dan sepertinya sore ini akan dihabiskan dengan berfikir.
Namun akhirnya ada satu lagu yang melintas di pikiranku, dan langsung kuutarakan.
“How about Terrified by Katherine Mcphee feat Zachary Levi?”
“It’s a sweet song.” Reuben langsung menatapku; tatapannya tak yakin. “Kamu yakin mau nyanyi itu?”
Aku mengangkat alis. “Maksud kamu, Reu?” Yeah, it’s a sweet song, and why then?
Mada tertawa. “Ya maksud Reuben, itu lagu so sweet. Kamu yakin mau nyanyi itu bareng Mikha? Yakin bisa dapat chemistry nya? Yakin tahan tatap-tatapan so sweet sama Mikha? Cause Reuben will be jealous, Mon! Hahahahaha!”
Jeremy dan Mikha ikut tertawa. Reuben menatap Mada. “Thanks, Mad. He’s right at first, but totally wrong in the end. I will not jealous, so calm down.”
Mada mengangkat bahu, sisa tawa masih terlihat jelas di matanya.
“I have no problem with that song, Reu,” kataku yakin. Masalah chemistry, tatap-tatapan, aku yakin pasti bisa. Dan untuk masalah salting, dadigdug gak jelas, itu…… urusan belakangan. Oke.
Reuben menatap Mikha. Tanpa ditanyai, ia langsung menjawab, “Yeah, same with Mona. I’m okay with that song.”
Reuben akhirnya mengangguk puas. “Okay. Jadi fix: The Overtunes dan Terrified Katherine Mcphee feat Zachary Levi.”
Semua mengangguk senang, dan satu hal yang jelas: lega terpancar di wajah semuanya.
“Jadi, mulai besok kita fokus latihan lagu itu, dan nyiapin satu lagu cadangan. Keep spirit guys!” seru Mada. Aku bertepuk girang sendiri.
Kemudian Mikha mendatangiku dan duduk di sebelahku. Okay, my heart beat, listen to me. Act normal, please.
“Good choice, Mona. Aku juga suka lagu itu,” kata Mikha, tersenyum.
Dan entah ini untung atau apa, aku sudah berani menatap wajahnya disaat ia juga menatapku. Jelas ini keuntungan besar.
Dan kulihat lingkaran hitam tidak ada lagi di bawah mata Mikha. Wajahnya jauh lebih segar dan jauh lebih tampan setiap detiknya.
“It’s a good song,” balasku singkat, gak tau harus ngomong apa.
“We will make it perfect. Together.” Mikha menatapku lekat-lekat, tersenyum.
RRRRRRRR………………….
Together, kata Mikha. Okeh, fine. Jangan nge fly, Mon. Please.
Aku cuma tertawa. “Goodluck for us, then?”
Mikha mengangguk. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telingaku, “For your information, I don’t know why, I think I have to see you everyday now. Oh, everytime. If I ever lost you, I'd go crazy.”
Kemudian ia mengelus kepalaku sebentar, dan tersenyum.
Apa tadi kata Mikha?
If I ever lost you, I’d go crazy?
MIK, ITU SO SWEET BANGET, AAAAHHHH I’M GOING CRAZY NOW!
And after he said that, I saw his eyes were sparkling.
Fall in love with Mikha: the best feeling I’ve ever had.
***
Satnite, spend my time in my room. A-L-O-N-E.
Jane mutusin buat pergi ke luar kota bareng keluarganya di satnite kali ini, dan dengan teganya dia ninggalin aku sendirian. Biasanya kan dia satnite bareng sama aku, sesama cewek single (yeah, single, not jomblo!) kami bakalan ngelakuin hal-hal aneh tapi menyenangkan dirumahku.
Maka malam minggu ini aku mutusin buat ngebacain semua surat-surat, hadiah, dan memo-memo yang aku dapat dari secret admirer.
Sudah berminggu-minggu ini dia ngirimin aku surat terus. Dan yang bikin melting, suratnya itu manis banget. Seakan-akan, cowok ini cinta mati, oh maybe something like that lah. He’s sweet.
Dan gelang coklat yang dia kasih, aku pakai setiap hari. Gelang ini gak pernah lepas dari tangan aku.
Semua perhatian yang dia kasih setiap harinya cuma bikin aku nambah kepo pastinya. Siapa, sih, yang ngirim?
Dilihat dari isi suratnya yang penuh kode dan misteri, aku nyimpulin kalau aku kenal sama dia. Dan dia orang yang lumayan sering ketemu aku tiap hari pastinya. Tapi siapa?
Sebenarnya, ada beberapa orang yang kucurigain. Well, Mada, Jeremy, Reuben dan Mikha. 4 orang terdekat akhir-akhir ini.
Mada? He’s my brother. Segala acak-acak rambut, cubit-cubit pipi, elus rambut, dan pelukan, mestinya wajar aja, kan?
Jeremy? Wajah cutenya itu emang bikin aku gemes sendiri kadang. But, yeah he’s my bestfriend!
Mada dan Jeremy gak mungkin. Tapi mungkin aja sih. Aduh, jadi gak jelas gini………….
Reuben dan Mikha. Aku sudah curiga waktu Olimpiade Sains kemaren. Sms Mikha, surat dari secret admirer, dan kata-kata Reuben itu sama. Apa mungkin kebetulan?
Aku menatap gemas surat di depanku. Hari ini aku dapat lagi, disertai dengan boneka teddy coklat yang imut. Cowok ini bener-bener tau apa yang aku suka.
Dan suratnya:
Dear Mona…
Teddy bear ini bakal nemenin kamu tidur, hahaha. I know you love Teddy Bear so much, so, hope you like it.
Okay, so hmm I just wanna write lyrics here. Special for you, beautiful
“When I look into your eyes, is like watching the night sky, or a beautiful sunrise, there’s so much they hold.”
You are so beautiful, Mona. You are the star's that twinkle in the night sky.
Love,
Your Admirer :)

Dan semalaman ini, lagu I Wont Give Up sudah kuputar berulang kali. Dan gak tau kenapa, setiap dengerin lagu ini, ingatnya langsung ke Mikha.
Okay, well, ini pasti efek kangen. Yup, I could say I miss him right now. Walaupun sudah seharian bareng Mikha tadi, tetep aja rasanya gak lengkap.
Kemudian tiba-tiba aku mendengar suara ganjil dari bawah. Aku segera berjalan ke jendela pelan-pelan, lalu membuka kaca jendela dan……………………………….
“Mikha?”
Untuk kedua kalinya, Mikha berdiri di depan rumahku. Dan bedanya kali ini malam.
“Hey, Mon!” sapa Mikha sambil tersenyum. Gitar sudah tergandul di punggungnya.
Aku tertawa lepas, jelas terlalu bahagia ini namanya. Aku segera mengambil sweter ku dan turun ke bawah.
Sesampainy di bawah, kulihat keluargaku asyik menonton tv. Maka aku segera berlari ke depan pintu, membukanya dan berjalan ke taman rumah.
Kulihat Mikha sudah duduk di rerumputan di taman rumahku. Aku pun suka sekali duduk di sana kalau sudah sore, melakukan aktivitas wajibku: menonton sunset.
Aku duduk di sebelah Mikha dan menatapnya penuh semangat. “What are you doing here, Mik?”
Mikha tersenyum. “Aku gak ada kerjaan di rumah. Sebenarnya Mama sama Papa ngajakin makan di luar, tapi Reuben sibuk. Andrew-“
“Andrew?” tanyaku bingung.
“Oh, dia adek aku yang paling kecil. Kamu harus ketemu dia, he’s extremely cute, hahaha!” kata Mikha. Aku menyerap semua kata yang Mikha katakan. “Andrew ngajakin aku main PS, tapi kata Mada aku harusnya datangin kamu buat latihan lagu terrified. Mada emang agak aneh sih waktu ngomong itu tadi, tapi yaudah, akhirnya aku kesini.”
Aku mengangguk. Suaranya yang lembut dan jernih itu masih terngiang di benakku, dan Mikha is more than handsome tonight.
Dan ternyata, ada untungnya Jane pergi ke luar kota. Aku satnite bareng Mikha!
“Jadi, kita latihan lagu itu?” tanyaku.
“Kamu mau?” tanya Mikha. “Menurut aku sih di sekolah aja, mungkin lebih ada feelnya kalau bareng-bareng. Sekarang kan kita cuma berdua.”
“So, what should we do now?”
“There’s something I wanna ask, actually…” kata Mikha, wajahnya berubah serius.
“What?”
“Secret admirer.”
Jantungku berdegup kencang. “Yea, why?”
“Masih ngirimin surat?”
Aku mengangguk.
“Masih ngirimin hadiah-hadiah?”
Aku mengangguk.
“Masih gak tau itu siapa?”
“Iya, aku-“
“So, do you love your secret admirer?” tanya Mikha langsung.
Aku terdiam. “Why do you ask me like that?”
Mikha menaruh gitarnya, lalu merebahkan dirinya ke rerumputan. Matanya menatap satu bintang yang paling terang di langit, “Just curious. He’s in love with you, I think.”
Lalu aku ikutan merebahkan diriku di rerumputan, menatap bintang. This is just like a sweet scene in movie, OHMYGOSH.
“I don’t know. Thay boy is really care to me. Tapi…” kataku pelan. Mikha menoleh. “I already loved someone.”
Wajah Mikha sempat berubah, namun ia langsung buru-buru menatap langit malam yang cerah itu lagi. “Wow, pukpuk for secret admirer, but congrats for boy that you love!”
Mik, yang aku maksud itu kamu…………………………….
I’m in love with you, Mik. Yeah, kamu menyelamati dirimu sendiri!
Aku diam. Namun Mikha mengeluarkan iPod dari saku celananya. Ia memberikan satu headset kepadaku, lalu ia memakainya. Maka aku memakai headset juga.
“Reuben lagi suka-sukanya sama lagu ini. Aku sudah suka lama sama lagu ini, dan lagi sering aku dengerin.”
Petikan gitar lembut terdengar, dan jantungku langsung melompat.
I Wont Give Up - Jason Mraz.
Oke, calm down, Mona. Okay ini………………………………… Secret admirer, Mikha, dan Reuben. Kebetulan lagi?
(nowplaying: Mikha - I Wont Give Up)
Mikha ikut bernyanyi. Dan langsung saja, suara Mikha jadi favorit ku. His sweet voice, bikin lagu ini jauh jadi lebih keren dan….. Oh my gosh, I’m melting.
Di taman depan rumah, sebelahan sama Mikha, watch the sky together, count the stars, and he’s singing my fav song right now. This is just so perfect.
“I wont give up on us, even if the skies get rough. I’m giving you all my love, I’m still looking up…”
Hening.
Mikha mengakhiri lagu itu dengan sempurna.
Ia kemudian menoleh dan menatapku, “If I counted to star's to how many way's I adored you, I would run out.”
Nafasku tertahan.
His. Words. Just. Made. Me. Breathless.
Mikha kemudian tersenyum. Jarinya menyentuh hidungku, lalu ia menutup matanya. “You are the answer to my prayers.”
Aku bisa merasakan air mataku meleleh satu persatu. Ini…………. Lebih dari bahagia.
Best satnite ever. With the one I love, Mikha Angelo.
***
Aku membawa bukuku yang lumayan banyak pagi ini ke kelas Biologi. Sekolah sudah lumayan ramai-aku kesiangan hari ini-dan gak heran kalau Mikha udah di kelas.
Memikirkan Mikha, aku mempercepat langkahku ke kelas. And finally, sampai.
Aku berjalan ke meja favoritku, dan…………………………
Berpuluh-puluh bunga mawar merah ada di atas mejaku. Aku terkejut, kemudian menaruh bukuku yang banyak itu ke meja lain.
Cewek-cewek di kelas menatapku dengan tatapan ‘envy’ dan melirik bunga-bunga mawar yang ada itu dengan tatapan memuja.
Aku duduk di kursiku, menghadap ke mejaku yang nyaris seluruhnya tertutup dengan bunga mawar.
Dan di tengahnya, ada memo:

Morning Mona…
If I had a flower for every time I thought of you, I could walk in my garden forever. And here’s the flower, anyway.
I just love you more and more, Mona.
And now, I know that you’re so curious. I will tell about myself as soon as possible. I don’t wanna lose you, really.
Je t’aime, Mona Louissa,
Your Admirer :)

Dan ada satu kotak berwarna coklat muda dihiasi pita pink lembut. Aku mengambil kotak itu dengan gemetar, dan membukanya.
Oh. No.
Sebuah frame handmade, berbentuk persegi dan ujung-ujungnya dihiasi dengan gambar piano putih, serta balok-balok nada.
Framenya bagus. Sangat kreatif. Namun foto yang ada disitu yang membuatku tercengang.
Fotoku ketika memegang piala di Gedung Olimpiade Sains kemaren. Dan entah efek cahaya atau apa, Mona di foto ini luar biasa cantiknya. Tersenyum penuh kebahagiaan.
Dan lagi-lagi ada memonya, namun pendek saja:
There’s no reason for me to not fall in love with you. Stay flawless. I love you, Mona Louissa.
Bisa kurasakan ada yang mengalir dari mataku, perlahan namun pasti. Aku tertunduk, dan perasaanku campur aduk. Antara senang, bahagia, tersentuh, terharu, sedih.
Siapapun secret admirer ini, selalu bisa bikin mood aku naik, walaupun aku kepo ujung-ujungnya. Oh my god… Siapa sih dia?
Lalu tiba-tiba ada jari yang menghapus air mataku dengan lembut. Aku mengangkat kepalaku.
Reuben.
“Why are you crying?”
“Is there something hurt you?” Terdengar suara di belakangku. Aku menoleh.
Mada.
Oke, ini aneh. Kenapa mereka tiba-tiba datang?
“Are you okay?” Suara dibelakang lagi. Dan tanpa perlu menoleh aku tau suara siapa itu.
Jeremy.
Aku melirik sekitarku. Kurang satu orang, atau drama ini bakal lengkap.
“Secret admirer lagi?” tanya Reuben sambil menunjuk mawar-mawar yang ada di mejaku. Aku mengangguk. “Then why are you crying?”
Aku mengangkat frame. Reuben mengambilnya. Wajahnya langsung berubah. Terkejut iya, namun…. tampak puas?
Ia melirik Mada dan Jeremy sebentar, kemudian mengembalikan frame itu ke tanganku.
Reuben mengacak-acak rambutku, “Don’t cry Mona. Your secret admirer is sweet.”
Tepat saat Reuben menaruh tangannya di kepalaku, Mikha berdiri di ambang kelas. Wajahnya sempat terkejut sebentar, lalu ia masuk dan tersenyum.
“Hey guys…” Mikha menaruh tasnya di sebelahku. Lalu matanya membulat besar begitu melihat bunga mawar di atas mejaku. “Wow, secret admirer again, eh?”
Aku mengangguk pelan.
Namun tepat pada saat itu juga, Reuben, Mada, dan Jeremy saling tatap penuh kode.
Wow wait wait… I think….
Ada rahasia antara Reuben, Mada, Jeremy…… dan juga Mikha.
***
Audisi semakin dekat.
Seiring dengan audisi yang dekat itu pula, secret admirer semakin gencar mengirimiku surat, memo, dan hadiah-hadiahnya yang selalu sukses bikin aku terharu. Dalam sehari, aku bisa dapat 5-8 surat, belum lagi hadiah-hadiahnya.
Dan seakan itu semua belum cukup buat bersarang di pikiranku, Mikha Angelo tentu aja gak terlewatkan.
I could say that me and Mikha are bestfriend now. But sometimes, more than bestfriend. Yup.
Apa natap mata lekat-lekat bisa dibilang bestfriend?
Apa pelukan yang tak terduga bestfriend?
Perhatian yang berlebihan?
Tangannya memegang pipiku?
Tentu aja hal-hal itu bikin aku senang, Mikha is care with me. Seenggaknya untuk sekarang, bisa dibilang perasaan aku gak bertepuk sebelah tangan.
Tapi… antara Mikha sama secret admirer.
Bisa dibilang aku udah mulai perhatian sama secret admirer. Apalagi sejak suratnya yang terakhir, dia bilang kalau secepatnya dia bakal bilang siapa dia sebenarnya.
Jadi…. Mikha dan secret admirer, bikin aku gak karuan.
Dan masalah aku nebak-nebak siapa si secret admirer, I give up. Gak ketebak. Tapi, ada satu hal yang aku yakin banget. Secret admirer itu antara Mada, Mikha, Reuben, atau Jeremy. Dan, kayaknya yang paling gak mungkin itu……
Semuanya sih……………….. Okay, ini gila.
WOY SECRET ADMIRER, KAMU SIAPA SIH SEBENARNYA?
“Mona!”
Aku yang sedang menutup mataku dengan tangan, langsung menyingkirkan tangan dari hadapan begitu mendengar ada yang memanggilku.
Mikha berjongkok di depanku yang sedang duduk di kursi taman. Dan ini lagi istirahat. Dan rame. Dan cewek-cewek langsung ngeliat kesini. Dan dan dan……..
“Mik, what are you doing here?” bisikku kaget.
“Meet you, I guess?” tanyanya sambil tertawa girang. Ia kemudian duduk di sebelahku dengan santai.
Ini orang gak tau apa ya aku sering salting kalau dia udah duduk di sebelahku………..
“Mik, ini lagi rame,” bisikku, menatap matanya tajam.
Mikha menoleh. “Then why? Kalau istirahat emang lagi rame, kan?”
Aku membuang muka frustasi.
Bukannya aku gak senang Mikha ada di sebelah aku sekarang. Rasanya bahagia banget, bisa duduk bareng Mikha di taman sekolah, dan tatapan envy cewek-cewek itu kadang bikin aku senang juga, hahaha. Tapi, masalahnya, aku sama Mikha itu berbeda.
Dia bintang sekolah, famous, dipuja sana-sini.
Aku cuma anak pintar sekolah, yang cuma di puji kalau aku menang lomba.
Terlihat jelas, kan, perbedaannya?
“Kamu kenapa, Mon? Kok gelisah gitu?” tanya Mikha bingung.
“Kita gak seharusnya duduk duduk santai berdua disini,” keluhku. “Kamu gak liat cewek-cewek itu apa?”
Dan benar saja.
Cewek-cewek sekarang berdiri di dekat taman, menatap ke arahku dengan tatapan membunuh. Benci. Kesal.
Dan kulihat di dekat pepohonan rimbun, ada Camille sama Clara. Dua cewek yang aku yakin seyakin yakinnya, gak suka dengan kedekatanku sama Mikha, Reuben, Jeremy, dan Mada. And now I can see they are staring at me.
Oke, harus ada yang ngambil tindakan sebelum semuanya jadi makin buruk.
Aku berdiri. Menutup novelku. “Mik, I have to go. See ya,” kataku pelan.
Mikha menatapku heran. Namun ia tetap ditempatnya, terpaku.
Sorry, Mik. But you don’t know what they say about us.
***
Dear, Mona…
If you hide, I’ll seek for you. If you’re lost, I’ll search for you. If you leave, I’ll wait for you. If they try to take you away from me, I’ll fight for you. Cause I never want to lose someone I love.
Mona, aku udah nemuin waktu yang tepat buat ngungkapin siapa aku sebenarnya. Now, all you have to do is just waiting. I swear, it will not take too long.
I saw you when you were standing in front of the Biology Class today. You looked so smart, beautiful also.
Love,
Your Admirer :)

Aku melipat surat itu, berusaha meredam debar jantungku yang begitu cepat. Hingga terasa sakit kadang.
Aku melirik ke dalam kotak. Dan… Wait wait wait. Apaan nih?
Sebungkus kopi instan (TOP COFFEE, BONGKAR! hahaha :3). Aku mengambilnya, mengamatinya dengan bingung.
Ada memonya:
Try my fav coffee, Mona. Haha, it’s a clue too.

Belum sempat aku menaruh kopi itu kembali ke kotak, Mada sudah menyambarnya. “Wah, minum kopi nih sekarang vokalis kita?”
Aku menggeleng cepat. “No! Itu dari si secret admirer!”
Jeremy yang melihat langsung mendatangiku dan Mada. “Niat banget ngasih kopi.”
Aku mengangkat bahu.
“Kopi ini kesukaannya Mikha sama Reuben,” kata Mada sambil melirik Mikha yang sedang bermain gitar, dan Reuben yang memegang kertas aransemen.
Wait wait wait….
“Mikha sama Reuben suka kopi ini?” tanyaku pelan, sehingga hanya Mada dan Jeremy yang bisa dengar.
“Yup,” kata Mada. “Kadang kalau kita semua begadang nonton bola, Mikha paling jago minum kopi ini. Reuben juga.”
“Aku gak sesering Mikha kok. Mikha paling jago tuh, iya kan, Mik?” tanya Reuben ke Mikha. Mikha hanya menaikkan alisnya.
Entah ini kebetulan atau apa……………………….
Mikha dan Reuben?
Aku menatap Mikha dan Reuben bergantian, sedikit gugup. Namun akhirnya Reuben bilang kami harus latihan.
Aku duduk di samping Mikha, yang sudah siap dengan gitarnya. Ia melirikku sekilas, lalu memberikan senyum terbaiknya.
RRRRRR….. Heart attack ini namanya.
(nowplaying: Terrified - Katherine Mcphee feat Zachary Levi. Yaaa anggap aja yang nyanyi kamu duet bareng mikha hihiw :3)
“You by the light is the greatest find, in a world full of wrong you’re the thing that’s right… Finally made it trough the lonely, to the other side…”
Mata Mikha menatapku dalam-dalam.
“You set it again, my heart’s in motion, every word feels like a shooting star. I’m at the egde of my emotions, watching the shadows burning in the dark…”
Hening. Aransemennya dibuat berbeda oleh Reuben. Jadi akustik.
“And I’m in love…” Mikha menyanyikan bagian ini dengan sangat lembut. Aku merinding. Melting.
Aku membalas tatapan Mikha yang lembut itu. “And I’m terrified…”
“For the first time, and the last time… In my only life…”
2 menit kemudian, kami mengakhiri lagu. Semua bertepuk tangan.
“Wow you guys did a good job!” seru Reuben, wajahnya nampak antusias. “Kita pasti bisa lolos audisi!”
“Gak cuma lolos audisi, kita juga pasti bisa menang di lomba nanti,” kata Jeremy optimis. Semua mengangguk setuju.
Kemudian kami melatih lagu itu 2 kali lagi dan satu lagu cadangan. Dan berkali-kali lagi aku harus melting gara-gara tatapan mata Mikha dan senyumannya itu loh……….. Aduh banget.
Jam setengah 6. Sekolah sudah benar-benar sepi dan kami memutuskan untuk pulang.
Aku berkemas, menyimpuni barang-barangku lalu memasukkannya ke tas. Sampai akhirnya ada yang mengacak-acak rambutku dengan ganas.
Siapa lagi kalau bukan….. Mada.
“Mad, stop. Kamu bisa bikin rambut aku rontok kalo gitu caranya,” kataku geli.
Mada tertawa. “J, Gi, ayo pulang!”
Aku menaikkan alis. “Gi?”
“Ask Mikha,” sahut Mada singkat.
Lalu Mada, Jeremy, dan Reuben pamit pulang dan berlalu dari ruangan. Mikha berdiri di belakangku.
“Mmm kita pulang sekarang?” tanya Mikha.
Aku mengangguk.
Lalu kami berdua berjalan beriringan. Sekolah sudah sangat sepi.
“Mik, Gi itu siapa?” tanyaku.
Mikha tersenyum. “Gi itu dari Luigi, namanya Reuben waktu masih kecil. Tapi sampai sekarang, kami masih manggil dia pake nama itu.”
“Cute name, hahahaha…”
Mikha menatapku. Aku menatapnya, kemudian menaikkan alis. “What?”
“Kenapa kalau pulang sekolah gini, kamu lebih ceria, Mon?” tanya Mikha.
“Maksud kamu?”
Kami menuruni tangga.
“Maksud aku….” Mikha diam sebentar. “Kamu kalau sekolah sudah sepi begini, jalan sama aku kayaknya santai aja. Lebih ceria. Tapi kenapa kalau sekolah rame, kamu gelisah, Mon?”
Pertanyaan Mikha membuatku menjatuhkan novel Romeo Juliet yang kupegang.
Mikha memungutnya. Aku mengulurkan tangan, hendak memintanya namun ia tidak memberi. Aku menghelas nafas.
“Mik, you don’t know what they say,” bisikku pelan. Sedih.
“I know. Aku denger apa yang mereka omongin,” jawab Mikha santai.
“Nah?”
“Nah apa?”
Aku berhenti berjalan. Kami berdua sudah sampai di taman depan sekolah. Kulihat mobil Mada masih terparkir di parkiran yang berada di sebelah kanan taman.
“Kamu harusnya ngerti, Mik. Cewek-cewek itu ngomongin kita!” Bibirku bergetar saat mengucapkan kata kita.
“I know it, Mona. Then why?” tanya Mikha bingung.
“Mereka envy sama aku. Bayangin, deh, Mik. Kamu bintang sekolah, famous, terkenal, keren, cakep, dan semua cewek yang ada di sekolah ini itu suka sama kamu. Dan aku? Cuma cewek biasa yang kalau dipuji karena menang lomba. You see the differences, don’t you?”
Mikha diam. “Jadi, kamu mikirnya gitu?” tanyanya pelan.
Sedih rasanya menatap mata Mikha yang tiba-tiba redup; kehilangan cahaya. “Aku gak mau, dengar cewek-cewek ngomongin kamu terus, kenapa kamu sering sama aku akhir-akhir ini. They can hate you in the end. And I wont let that thing happens.”
Aku melihat Mama sudah menjemputku. “Bye, Mik.”
Aku berjalan memunggungi Mikha, rasanya sakit sekali. Bilang hal-hal begitu ke Mikha, hal yang sebenarnya. Lalu meninggalkannya pergi begitu saja. Kutahan mataku untuk tidak menangis. Oh c’mon, Mona….
“MONA!”
Aku berhenti, menoleh. Mikha menatapku sedih.
“Mon, I don’t care what people say. Karena aku… ngerasa nyaman sama kamu.”
Rasanya jantungku berhenti berdetak.
“So, please. Stay,” kata Mikha lemah.
Oh no… Matanya. Mikha gak boleh sedih!
Aku segera mendatangi Mikha lalu menggenggam tangannya. Mikha menunduk. “Mik, you don’t have to worry. I will stay.”
Tanpa kusangka, Mikha langsung memelukku.
“Thanks, Mona. You just made my day,” bisiknya di telingaku.
Bisa kurasakan jantungku benar-benar berhenti berdetak. Atau saking kencangnya ia berdegup, hingga dadaku rasanya sakit sekali.
Tapi, dipeluk Mikha.
Gak ada yang bisa nandingin bahagia yang kayak gini.
***
H-1 Audisi.
Sekolah ramai membicarakan audisi yang bakal dilaksanakan di Gedung Kesenian sekolah. Yap, gedung ini buat acara-acara seni yang biasanya diadakan di sekolah. Dan buat latihan-latihan juga kadang biasanya disini. Bahkan, pelepasan siswa diadakan disini. Karena gedung ini yang paling besar dan paling bagus di sekolah.
Berita Mikha, Reuben, Jeremy, dan Mada bakal ikut audisi sudah terdengar seantero sekolah. Entah mulai dari siapa berita ini disiarkan, namun akhirnya satu sekolah sudah tau dan mereka gak sabar buat nonton audisi besok.
“… Tapi, Mon. Entah ini sisi bagusnya atau jeleknya, mereka cuma tau kalau Mikha cs yang bakal ikut audisi. Mereka gak tau, kalau kamu juga bakal duet sama Mikha!”
“Ssssttt, Jane!” kataku. Aku melirik kanan-kiri. Anak-anak tampak asyik mengobrol satu sama lain.
Jane mengimbangi langkahku yang semakin cepat. “Anyway, aku gak sabar liat kamu latihan di ruang musik!”
Aku tersenyum.
Latihan hari ini, aku sengaja ngajak Jane buat nonton aku latihan. Ini pertama kalinya, dan tentu aja dia bisa ngasih komentar buat The Overtunes nantinya.
Sesampainya di depan ruang musik, aku membuka pintunya. Aku masuk diikuti Jane. Lalu Jane menutup pintunya.
“Halo, guys…” sapaku.
“Hi, Mon!” kata Reuben. “Gimana kelas Sejarahnya?”
Aku menaruh tasku. “Hmm, not bad.”
Lalu Jane menyikutku. Aku menoleh. “Apa?”
Jane menunjuk ke arah Reuben, Mikha, Jeremy, dan Mada. Oh, I got it.
“Well guys, hari ini aku bawa sahabat aku buat latihan kali ini. Dia kan belum pernah dengar kita latihan gimana, jadi aku pikir dia bisa ngasih komentar buat kita nantinya.”
Jeremy mengangguk. “Great idea, Mon!”
“Thanks, J!” kataku, tersenyum. “Kenalin, namanya Jane. Dia sahabat aku.”
(nowplaying: The Overtunes - Sahabat)
Reuben yang menyapa Jane pertama kali. “Hello, Jane! Nice to meet you.” Reuben memberikan senyum mautnya. Bisa kudengar Jane menahan napas. Well, untung aku sudah lumayan kebal dengan senyum maut Reuben.
“Aku gak perlu kenalan, kan, sama kamu, Jane? We are classmate, aren’t we?” kata Mikha sambil tertawa.
Dan bisa kulihat wajah Jane memerah sekarang.
Jeremy tersenyum kepada Jane. “Hello, Jane. I’m Jeremy. Panggil J aja, hahahaha…”
Kali ini, Jane sudah jauh lebih rileks. Tepat pada saat ia membalas sapaan Jeremy, pintu terbuka dan masuklah Mada sambil membawa tasnya.
“Hey, Mad!” sapaku girang.
Mada menaruh tasnya lalu berjalan mendekat dan mencubit pipiku sekilas. Aku cemberut. “Mad, ini sahabat aku, namanya Jane. Dia baru pertama datang ke latihan kita hari ini, dan nanti dia bisa kasih komentar.”
Mada melirik Jane. Lalu menyodorkan tangannya. “Mada.”
Jane menjabat tangan Mada. Dan tepat pada saat itu bisa kulihat wajah Jane berubah menjadi merah sekali, sampai-sampai terlihat ungu.
Mada melepaskan tangannya, lalu memberikan senyum cool nya. “Nice to meet you…. Jane.”
Jane hanya mengangguk. Mada berlalu, mendatangi Mikha.
Lalu sesuatu yang sedingin es menggenggam tanganku. Kusadari itu tangan Jane. “OHMYGOD, Jane are you okay?”
Jane menutup matanya. “They are more than handsome.”
Aku tertawa.
“Kita mulai aja latihannya gimana?” tanya Reuben. Semua langsung mengangguk.
5 menit kemudian, kami sudah di posisi. Jane duduk di depan kami dan wajahnya sudah tidak sabar.
Petikan gitar Reuben terdengar pertama. Disusul gitar Mikha, bass Jeremy, dan cajon Mada.
Aku menyanyikan bagianku dengan baik, dilanjutkan dengan Mikha.
Dan satu hal yang bikin aku ngerasain senang yang meluap-luap: setiap nyanyi, aku sama Mikha harus ngebangun chemistry supaya lagunya tambah kerasa feelnya. Dan, cara Mikha ngebangun chemistry itu oke banget. Matanya selalu natap aku gak lepas-lepas sambil senyum.
Can I go fly now.
“For the first time and the last time, in my only…….. life.”
Tepukan heboh langsung terdengar dari depan. Jane menepukkan tangannya cepat sekali, wajahnya sangat sumringah.
“Kalian keren banget gilaaaaa! Kalian bakal menang! Kalian harusnya udah punya album, jadi artis, menang Grammy, go internasional!!!”
Aku dan Mikha tertawa. Begitu pula Reuben, Jeremy, dan Mada.
Kami berlatih 3 kali lagi, melatih lagu cadangan yang siapa tau diperlukan, dan setelah itu beristirahat.
Kami berenam duduk membentuk lingkaran. Mikha di sebelah kananku, lalu sebelah kiriku Jane. Lalu Mada disebelah Jane, Reuben di depanku, lalu Jeremy.
“Gak sabar nunjukkin apa yang selama ini kita persiapin besok ke juri,” kata Mikha sambil tersenyum.
“Gak cuma ke juri, Mik,” kata Jane perlahan.
Sekarang semua mata memandangnya. Jane langsung salting.
“Maksud kamu?” tanya Mada.
Jane diam. Tidak menjawab. Alih-alih menjawab, wajahnya langsung berganti warna menjadi merah. Namun yang lain terus memandangnya, ingin tahu. Maka sebelum wajah Jane berubah jadi hijau atau ungu, aku menyelamatkannya,
“Jane bilang, semua orang di sekolah ini, udah tau kalau kalian pada ikut audisi. Dan mereka semua gak sabar buat nonton audisi besok,” jelasku. Hening. “Tapi, mereka gak tau kalau aku juga ikut bareng kalian.”
“Wow, kejutan besar,” kata Mikha.
“Well, itu bukan jadi masalah. Toh pada akhirnya mereka bakal tau, kan? They should know about The Overtunes!”
“Agree!” sahutku sambil tertawa.
Lalu aku menaruh tanganku di tengah. Aku menatap mereka satu persatu sambil tersenyum penuh makna.
Mikha menaruh tangannya di atasku. Disusul Reuben. Lalu Jeremy. Dan Mada.
Jane menatap tangan-tangan kami ragu-ragu. “Join us, Jane!” seru Reuben ramah.
Maka Jane menaruh tangannya di atas tangan Mada, dan bisa kulihat bulir-bulir keringat jatuh di wajahnya. Namun ia tersenyum.
“Audition, wait for us, The Overtunes are ready!”
***
19:30, in my room, rain.
Aku bergelung di kasurku, membaca novel Twilight untuk yang keseribu kalinya. Karena selain tidur, hanya cara inilah yang bisa bikin aku tenang.
Besok audisi, dan ketegangannya sudah bisa kurasakan dari sekarang. Besok hari besar bagiku. Dan kata-kata audisi terngiang-ngiang di otakku.
Dan besok, untuk pertama kalinya, aku bakal nunjukkin ke orang-orang kalau aku juga punya feel di bidang musik.
Mereka yang ngenal Mona Louissa sebagai anak pintar selama ini, bakal ngeliat Mona yang nyanyi sambil duet dengan bintang sekolah, Mikha Angelo. Mona Louissa satu band sama Mikha Angelo, Reuben Nathaniel, Jeremy Hugo, dan Mada Emmanuelle. Bintang sekolah yang dipuja.
Entah mereka bakal ngeliat aku gimana besok. Cari sensasi? Seperti yang Camille dan Clara bilang waktu di kelas Sejarah terakhir. Mereka benci liat aku dekat-dekat Mikha, Reuben, Jeremy, dan Mada.
Aku udah cerita ini ke Reuben, dan dia dengan sangat yakinnya kalau semua orang bakal terpesona sama suara aku.
Tapi…
Gimana kalau besok suara aku jadi jelek? Atau hilang? Atau fals?
Gimana kalau besok The Overtunes gagal?
Gimana kalau mereka gak nerima aku duet bareng Mikha?
Gimana kalau mereka malah tambah benci dan aku bakal dikucilin nantinya?
Gimana? Gimana? Gimana? Gimana? Gimana?
“AAAA!” pekikku.
Aku membuka mata. Dan yang kulihat pertama kali adalah boneka teddy bear dari secret admirer yang kupajang di meja belajar.
Ternyata aku ketiduran. Oh my God…
Aku duduk lalu memegang gelang dari secret admirer itu. Menghembuskan nafas, dan akhirnya aku merasa tenang lagi.
Lalu tiba-tiba aku teringat dengan kopi yang diberikan oleh secret admirer. Aku beranjak dari kasur dan mengambil kotak berwarna coklat muda. Entah kenapa kotaknya selalu berwarna coklat. Dan sebisa mungkin hadiah yang secret admirer kasih itu juga warna coklat. Mungkin dia suka warna coklat. Aku sih gak masalah dengan warnanya, coklat bagus. Dan mungkin ini bisa bantu aku buat tau siapa orangnya….
Aku mengambil kopi itu lalu keluar kamar dan turun kebawah. Dan aku bertemu Mama di dapur.
“Hello, sweety. Sudah siap audisi besok?” tanya Mama.
“Yeah,” jawabku pelan sambil membuat kopi.
Mama mengelus rambutku, “Goodluck Mona. Doa Mama dan Papa selalu buat kamu. Tunjukkan yang terbaik, Sayang.”
Aku mengangguk dan tersenyum, “Thanks, Mom.”
Mama mengangguk kemudian berjalan ke ruang tengah. Aku selesai membuat kopi, lalu berjalan ke tangga sampai akhirnya aku mendengar ada suara benda jatuh dari luar.
Aku terdiam sebentar. Lalu memutuskan untuk berjalan ke pintu depan.
Aku berdiam diri disana. Ragu untuk mengecek atau tidak. Namun akhirnya kekepoanku mengalahkan rasa takut.
Aku membuka pintu. Tidak ada siapa-siapa. Yang ada malah rintik hujan dan angin malam menerpa wajahku.
Aku menunduk lalu melihat sebuah kotak. Coklat.
Secret admirer.
Aku mengambilnya dan memastikan bahwa ada memo bertuliskan namaku. Aku segera menutup pintu dan menaiki tangga dengan terburu-buru.
Sesampainya di kamar, aku langsung menaruh kopiku di meja, dan buru-buru membuka kotak itu.
Mawar merah yang ditempeli memo, lalu kain berwarna coklat. Segera kuambil dan ternyata….
Sweter berwarna coklat.
Aku buru-buru mencari suratnya yang ada di dasar kotak. Lalu membacanya.
Dear Mona…
Goodluck for tomorrow. Aku yakin kamu pasti bisa audisinya. Sukses!
“Hah?” pekikku tertahan.
Secret admirer tau kalau aku ikut audisi. Keyakinanku semakin bertambah kalau ini antara Mada, Jeremy, Reuben, dan Mikha. Jantungku berdegup keras.
Kulanjutkan membaca.

You don’t have to worry about tomorrow. You have beautiful voice. Your voice is just so perfect, Mona.
Kamu gak usah perduli orang ngomong apa. Begitu mereka dengar suara kamu, mereka bakal terpesona, dan gak ada alasan mereka buat benci kamu.
Goodluck, my beloved Mona. Te amo.
By the way, pakai sweter ini besok. Bakal matching sama gelang yang aku kasih. And I will be the happiest man alive again ;)
Love, proud, nervous also
Your Admirer :)
p. s: Mon, audisi besok dan sebentar lagi kamu bakal tau siapa aku.

Aku menaruh surat itu dan mengambil sweternya. Bagus sekali. Sangat cocok dengan gelang yang selalu kupakai ini.
Lalu kubaca memo yang ada di mawar:
Mona Louissa.
Would you believe me if I tell you that I love you so much? Actually, I’d prefer it if you won’t. Why? So that I can spend the rest of my life proving to you how much I do.
Goodluck for tomorrow.
Love,
Your Admirer :)

Aku duduk di sofa kamarku yang menghadap jendela. Hujan di luar tinggal rintik-rintik namun angin dingin yang menusuk tulang tetap berhembus.
Feelingku bilang kalau kotak ini baru aja ditaruh di depan rumahku, dan si secret admirer sendiri yang naruh.
Aku mendadak cemas. Maka kuambil kopi dan meminumnya. Dan rasanya….. Enak. Tenang.
Aku mengambil sweter itu dan mendekapnya. Lalu tercium bau parfum khas dari sweter itu. Aku terdiam sejenak dan mendekatkan sweter itu ke hidungku.
Baunya familiar! Oh Mona, ingat, ingat! Ini bau parfum siapa…….
5 menit penuh berakhir, tapi aku gak bisa ngingat bau parfum siapa ini.
Aku menaruh sweter itu dengan galau, lalu memikirkan suratnya.
You don’t have to worry. Aku bilang itu ke Mikha tempo hari sebelum dia meluk aku.
Terpesona dan gak ada alasan benci. Aku bilang ketakutanku ke Reuben kemaren-kemaren.
Lama aku terdiam di sofa. Otakku bekerja keras. Kopi sudah habis kuminum, sampai akhirnya aku ngeliat jam.
23:30
Mataku membelalak, dan langsung menyimpuni barang-barang di kasur, mematikan lampu dan tidur.
Tapi, gara-gara efek kopi. Aku jadi gak ngantuk……………………
“Mona, you are so smart. Jadi gak bisa tidur kan sekarang!” rutukku kesal.
Lalu tiba-tiba hapeku berbunyi dan kulihat Mikha menelpon. Jantungku langsung berdebar tak karuan.
“Halo?”
“Kamu belum tidur, Mon?”
“Not yet…” kataku.
“Kok belum?”
“Aku habis minum kopi yang dikasih secret admirer. Ya jadinya gak bisa tidur. How bout you?”
Kudengar Mikha tertawa. “Well, biasa. Newcastle!”
Aku tersenyum. “Goodluck for the match, Mr. Handsome!”
Mikha tertawa lagi. “Goodluck for tomorrow, Mona. The Overtunes pasti berhasil,” kata Mikha lembut.
Kata-kata Mikha membuatku tenang. “Yeah, Mik. Goodluck for us.”
“Well, you have to sleep, Mon. Nite, Ms. Beautiful.”
“Nite, Mr. Handsome.”
Lalu kutaruh hapeku di bawah bantal.
Aku menatap jendela kamarku.
Je t’aime, Mikha Angelo.
Te amo, Secret Admirer.
***
“Gila. Ini bohong. Ini mimpi. Please someone slap me or kick me or something. INI MIMPI!” pekikku keras, lalu berjalan menjauh.
Reuben menarik tanganku. “Mon, stay here!”
Aku diam. “Reu, please tell me this is dream.”
Reuben memegang kedua tanganku. “Gak, Mona. Ini bukan mimpi, and we will face this.”
Aku tidak mau memandang mata Reuben yang menatapku sangat lembut. Tatapannya menenangkan tapi…
Rupanya menoleh pun sangat salah.
The Overtunes sudah di Gedung Kesenian, di backstage (yup, ada backstagenya!). Pertama kali aku datang bareng Mikha tadi, gedung ini masih sepi dan hanya ada beberapa peserta. Lalu aku dan Mikha memutuskan untuk ke backstage untuk menemui Reuben, Jeremy, dan Mada yang udah nyampe duluan di gedung ini.
Awalnya aku cuma gugup-gugup biasa. Reuben, Mikha, Jeremy, dan Mada berulang kali menenangkanku, dan berhasil.
Tapi………….
Backstage akhirnya penuh dengan peserta yang BANYAK banget. Sampai akhirnya ada cewek yang bilang gini,
“Cant believe it! Semoga aku gak gugup nanti, banyak banget diluar…”
Aku yang dengar dan kepo langsung keluar dari backstage dan ngintip keluar.
Dan ternyata…………………….
Gedung Kesenian belum pernah sepenuh ini. Belum pernah aku liat selama sekolah disini, kursi-kursi terisi penuh bahkan banyak yang berdiri.
Aku kembali ke backstage dengan jantung hampir copot, lalu memberitahu apa yang kulihat.
Dan 25 menit terakhir inilah Reuben, Mikha, Jeremy, dan Mada berusaha menangkanku namun tidak berhasil.
Aku memandang Reuben yang berdiri di depanku. “Mona, kita pasti bisa. Anggap aja kayak kita latihan di ruang musik selama ini.”
Aku menutup mataku. Kemudian ada yang merangkulku. Aku terkejut dan melihat Mikha merangkulku.
Reuben menatap kami berdua bergantian. “Well, Mik, make Mona calm down. She needs your words, kayak apa yang selama ini kamu lakuin,” kata Reuben kemudian berlalu.
Ucapan Reuben tadi sempat membuat otakku beku sebentar, seperti ada lampu menyala. Namun keributan dari bangku penonton membuaku seperti tersiram air mendidih.
Mikha memegang kedua bahuku, menghadapkanku kepadanya. “Mona, what do you feel right now?” tanya Mikha cemas.
“Takut, cemas, panik, gugup, nervous…” bisikku pelan sambil menatap mata Mikha. “Gagal, fals, haters, envy. Oh, Mik, they will hate me!”
Mikha segera menggeleng. “Mona, please. Believe in yourself!”
Mataku sudah mau berkaca-kaca saking gugup dan takutnya. Jadi aku membuang muka, tidak ingin menatap Mikha.
Namun Mikha memegang pipiku dengan kedua tangannya.
Andai aja bukan dalam situasi panik, aku yakin jantungku pasti bakal stop bekerja.
Mikha menaruh kedua tangannya di pipiku. “Mona, look at me.”
Maka dengan rasa panik dan dagdigdug gak karuan gara-gara Mikha, aku menatap matanya. 1 menit penuh hanya memandang mata Mikha itu rasanya………………………….
ASDFGHJKL banget!
“Mon, aku udah bisa ngerasain kalau kita bakal lolos audisi. Just sing with your heart, with your soul. Just feel it. You don’t have to be nervous or something like that. Calm down. The Overtunes are ready. Kita pasti bisa.”
Belum sempat aku mencerna semua kata-kata Mikha, ia sudah membawaku ke pelukannya. Dan ini ternyata jauh lebih ampuh daripada apapun. Rasanya……… damai. Tenang.
“You are my strength, Mona,” bisik Mikha di telingaku.
Aku membenamkan wajahku di pelukkan Mikha. “Thanks, Mik. Gak tau apa jadinya kalau gak ada kamu,” bisikku.
Mikha tertawa kecil. “Secret admirer kamu harus berterima kasih sama aku, you don’t feel panic anymore, and your performance will be amazing. He should say thanks to me, haha!”
Aku melepaskan pelukan Mikha dan menatapnya bingung, “Mik, you say that like you know my secret admirer.”
Mikha diam.
“You know him, don’t you?” tanyaku segera.
Mikha belum menjawab namun Mada dan Jeremy datang sambil membawa nomor urutan. Mada memberikan nomor itu ke Mikha terlebih dahulu.
Kulihat wajah Mikha berubah sedikit.
“Well, ada yang harus aku urus sebentar.” Mikha pergi lalu memberikan nomor itu kepadaku.
Kulihat nomor itu.
The Overtunes, 1.
Ini. Bohong. Kan. Please.
Aku segera menatap Mada. “Mad, urutan pertama…..?”
Mada mengangguk, kemudian segera mengambil nomor itu. “Kita harus siap-siap, audisi 10 menit lagi.”
Perlu Jeremy yang menggandeng tangaku agar aku bisa berjalan dengan benar.
Ada beberapa ruangan di backstage, lalu Mada membuka pintu dan masuk ke ruangan itu. Tidak sepenuh di ruang utama backstage, walaupun ruang ini lebih kecil. Kulihat ada beberapa cewek duduk di sofa di sudut ruangan, dan Reuben yang sedang memegang gitarnya. Bahkan wajah Reuben pun terlihat pucat. Namun begitu ia melihatku memasuki ruangan, ia merubah wajahnya agar lebih rileks.
Reuben mendatangiku, lalu menyuruhku duduk di sofa, di sebelah cewek yang sedang memegang stik drumnya.
Cewek ini menoleh, “Kamu…. Mona Louissa bukan?” tanya cewek itu ramah.
Aku mengangguk seraya tersenyum.
Ia menyodorkan tangannya, “Kenalin, aku Rachel.”
Aku menyalami tangan Rachel sambil tersenyum. “Mona.”
“Reuben bilang ke aku tadi sebentar, band kalian namanya The Overtunes, ya? Wow, pasti keren. Aku udah denger dari kemaren kalau Reuben, Mikha, Mada, Jeremy bakal ikut audisi. Aku kira mereka cuma jago di lapangan bola, ternyata mereka juga main musik, ya? Keren!
“Terus aku tanya ke Reuben tadi, beneran ikut audisi atau gak. Ternyata bener, dan dia juga bilang kalau Mona Louissa bakal ikut. Aku udah tau kamu dari lama, sering menang lomba, kan, kamu? You’re so cool, Mon!”
Aku tertawa. Rachel anaknya sangat supel dan tiba-tiba rasanya gak gugup lagi. Aku mengobrol, dan bisa kulihat Reuben mengawasi dari sudut ruangan sambil tersenyum senang.
“… Iya, aku udah lama ngeband. Nama band aku Madamoissele. Aku di drum, Kania di vokal, Violet di biola, Amanta di piano, dan Alice di gitar.”
Aku terkagum-kagum mendengar cerita mereka yang udah sering manggung dimana-mana, walaupun eventnya masih kecil. But its totally cool!
Namun tiba-tiba terdengar ada yang ngomong di mic dari luar ruangan. Perutku langsung sakit dan seketika tanganku dingin.
“The Overtunes nomor urutan berapa?” tanya Violet yang ikutan mengobrol.
“Satu.”
“Goodluck, guys!” kata Kania sambil menepuk bahu kami.
Aku berdiri dan tepat pada saat itu pintu terbuka dan kulihat Mikha.
Kami berlima langsung membentuk lingkaran dan saling berangkulan.
“This is the time,” kata Mada.
“Kita pasti bisa,” kata Jeremy.
“Kita bakal lolos,” lanjut Mikha.
“No worries at all. Anggap aja kayak di ruang musik,” kata Reuben menenangkan.
Aku menarik napas. “Goodluck for us, The Overtunes!” seruku bersemangat.
Setelah ber ‘goodluck’ ria dengan Madamoissele, kami keluar dari ruangan dan ke backstage. Aku bisa melihat seorang cewek yang tergabung dengan OSIS sedang berbicara di mic.
“… Yap, karena para dewan juri sudah menempati tempat mereka masing-masing, langsung saja kita ke perserta pertama!”
Mikha dan Reuben menggenggam tangan kanan dan kiriku bersamaan. Mereka tau aku gugup, they’re tyring to make me calm down again.
“Siapa nih peserta pertama. Can you guys guess it, guys?”
“THE OVERTUNES!”
Penonton ramai berteriak ‘The Overtunes’ dan aku rasanya ingin meledak.
“Oke, you guys guess it right, here we go, give your big applause to THE OVERTUNES!”
“You can do it, Mona!” bisik Mikha sebelum ia memasuki stage.
Begitu Mada masuk, jeritan cewek-cewek histeris. Disusul Jeremy, dan Reuben, lalu Mikha dan teriakan semakis histeris. Para guru yang menonton pun terpaksa harus menutup kuping mereka.
Begitu aku masuk jeritan masih terdengar, namun ada bisik-bisik disana-sini. Mereka pasti heran.
Aku berdiri di depan mic ku, di sebelah Mikha. Memandang semua yang ada di Gedung Kesenian ini dengan gugup luar biasa.
“Well, good morning everybody!” sapa Mikha sambil memberikan senyum mautnya.
Balasan good morning too terdengar sangat keras. Aku meringis.
“So, we are The Overtunes. Saya, Mikha Angelo vokalis tapi main gitar juga, hehehe….” kata Mikha tertawa. Semua cewek tertawa dan tetap menjerit. “Cewek cantik yang ada di sebelah saya ini namanya Mona Louissa. Dia vokalis.”
Terdengar teriakan ‘awwwww dibilang cantik sama mikha!’ dan jerit-jerit lainnya yang tidak bisa terdengar saking ributnya ruangan itu.
“Lalu Reuben Nathaniel as lead guitarist, Jeremy Hugo as bassis, and Mada Emmanuelle as drummer. But now he will play with his cajon.
“So, guys. Hope you like our performance. The Overtunes!”
Semua cewek berdiri dan menjerit sambil menekapkan tangan mereka ke mulut.
Mikha melirik ku sekilas, tersenyum manis dan menenangkan.
Okay, here we go….
 
Gimana Audisinya?
Thanks for reading, and wait for the next bab hahaha :D
Love, @DjimbasSMD xoxo

Rabu, 24 Juli 2013

The Overtunes FanFiction (Bab 1)

Prolog

Aku dan kamu berbeda, kelihatannya sangat berlawanan
Aku seperti ini, kamu seperti itu
Tapi tanpa mereka ketahui, ternyata kita sebenarnya sama
Music is our way to be one.
Ketika aku ragu, kamu yang meyakiniku
Ketika aku ingin menyerah, kamu yang menyemangatiku
Lalu pantaskah kita berdua menjadi satu?
Di antara banyak hambatan yang ada di depan mata kita?
Dan bagaimana mungkin aku bisa mengabaikan mu ketika permainan gitarmu dan suaraku melebur menjadi satu?
Lalu kamu berbisik kepadaku, “Ketika kamu yakin, kamu pasti bisa.”
Lalu aku percaya, dan mewujudkan apa yang kita inginkan berdua.
Dan bahagia, selamanya.

BAB 1

(nowplaying: Jet Lag - Simple Plan ft Natasha Bedingfield)
“Yak dan Mikha terus melaju kencang, oh melewati pemain bernomor punggung 5, dan dan GOOLLLL! MIKHA ANGELO SCORED AGAIN!”
Teriakan bergemuruh langsung terdengar dari lapangan bola yang lumayan besar untuk ukuran sebuah sekolah. Semua orang yang ada bangku penonton langsung berdiri, mengeskpresikan euforia mereka.
And me? Just sitting in here, reading a book. Well, ini kontras banget. Ketika semua orang lagi pada berdiri, teriak-teriak kegirangan, aku cuma duduk di bangku penonton dan baca buku Narnia.
Tapi lama-lama aku gak tahan juga. Aku menutup buku, gak bisa konsen. Lalu melihat ke arah lapangan, dan pandanganku jatuh ke seorang cowok yang memakai baju bola warna biru langit, nomor punggung 12.
Cowok itu sibuk dipeluki sama teman-teman se grupnya, gara-gara dia habis nyetak gol untuk yang ketiga kalinya. Dan entah berapa kali tim lawan harus nelan gondok gara-gara liat cowok nomor punggung 12 itu lincah banget waktu main bola.
“And… TIME IS OVER EVERYONE! CONGRATS TO SYMPHONI INTERNATIONAL SCHOOL!”
Lagi dan lagi, euforia kemenangan terdengar semarak dari bangku penonton maupun lapangan hijau besar itu. Dan untuk yang kali ini aku gak ngebuka buku ku, fokus ke cowok nomor punggung 12.
Mikha Angelo. Siapa sih yang gak tau dia? Kalo kamu tanya nama itu ke anak Symphoni, pasti mereka bakal ngangguk penuh semangat, apalagi cewek-ceweknya. Kalau bisa mereka langsung ngantarin kamu ke orangnya langsung. Dan kalo kamu tanyain nama itu ke sekolah-sekolah lain, gak dikit yang bilang kenal Mikha.
Gak heran sih Mikha banyak yang tau, soalnya dia itu salah satu pemain bola paling jago di Symphoni, dan mungkin seluruh sekolah yang ada di Jakarta. Dia sering banget ikut lomba bareng tim sekolah, dan hampir jarang kalah. Jago memang.
Gak cuma itu, kalo denger-denger dari teman-teman aku sih, Mikha juga pintar. Daaannnn, yang bikin cewek-cewek nge fans sama dia, karena dia gak jelek. Well, okay good looking.
Rrrrr………….
OKAAYYY, Mikha is handsome, dan punya kemampuan bikin cewek melting. Itu sih kata teman-teman aku, kalo aku mah biasa aja lalalalala~
“Dann, man of the match kita kali ini jatuh ke tangan…… MIKHA ANGELO, CONGRATS!”
Tuh kan, lagi-lagi cewek-cewek pada jerit-jerit. But, he deserved to be man of the match. Wait, bukannya dia selalu jadi man of the match ya?
“Hey, udah selesai kan tandingnya? Udah selesai ngeliatin Prince Charming?” tanyaku ke bangku sebelah, Jane. She is one of Mikha’s fans. Oh, wait. I bet all the girls in this school are Mikha’s fans. Except me, maybe.
Aku turun dari bangku penonton dan diikuti oleh Jane yang masih asik dengan euforianya. Kemudian ia mensejajarkan langkahnya denganku.
“Mona, kamu gak ada excitednya sama sekali ya sama bola?” tanya Jane.
“You said it like you’re a football lovers, Jane. Aku bukan gak suka, lagi suntuk aja jadi malas.”
“Gimana kamu bisa suntuk disana? Handsome boys berkeliaran di lapangan! Ada Mikha, Reuben, Jeremy, Mada, belum lagi tim dari sekolah lain! Bla bla bla…”
Jane is so crazy when she talks about boys, well it’s normal, of course. But I feel a little bored to hear that~
Reuben dan Mada itu saudaranya Mikha. Mada ada di tahun terakhir, Reu tahun kedua, dan Mikha baru di tahun pertama. Terus kalau Jeremy itu sepupu mereka, dan ada di tahun kedua sama kayak Reuben. Dan mereka berempat itu gak terpisahkan. Sama-sama main di tim sepak bola sekolah, dan ganteng. Kata cewek-cewek sih haha (padahal emang ganteng banget!)
Kami berdua melewati koridor panjang Symphoni, ngobrol-ngobrol, sampai akhirnya gerombolan tim sepak bola lewat, diikuti fans fans mereka dibelakang.
(p.s: you have to play Supermassive Black Hole - Muse, it would be great, just for a backsound ;)
“Hey, itu Mikha!” seru Jane. “Mon, you have to wait here while I’m congratulating him!”
Jane lalu berlari ke arah kerumunan fans itu sambil memperbaiki rambutnya. And I’m just standing here awkwardly.
Tim sepak bola itu sudah separuh jalan ke arah aku berdiri, jadi aku memutuskan untuk menepi ke pilar and trying to pretend to look ordinary.
Mikha lewat, sambil ngobrol ke Reuben. Dan aku membuka buku Narnia ku supaya kelihatannya biasa-biasa aja, dan well aku emang ngerasa biasa aja.
Tapi…
“Hey, Mon!”
Aku mendongak dan tau-tau Reuben udah di depanku. “Gimana persiapan buat Olimpiade Sainsnya?”
Kenapa tiba-tiba Reuben nanya disini? Dia kan bisa nanya di kelas Olimpiade atau gak di Lab nanti!
“Well, udah setengah jalan, sih. We can discuss it in Lab,” jawabku sambil tersenyum sebaik mungkin.
Reuben sudah mengangguk, dan aku lega. Reuben sudah jalan bareng Jeremy, tapi entah mengapa Mikha masih bertahan di dekatku.
“Kamu baca Narnia?” tanya Mikha.
Aku melirik buku yang kupegang. “Iya… Emang kenapa?” Is there something wrong if I read Narnia?
Mikha tersenyum. Dan sekarang semua orang ngeliat ke arah kami berdua. “Well, I like Narnia too. Good taste.”
Reuben kemudian mengajak Mikha pergi, setelah sebelumnya dadah duluan ke aku. And they’re gone, sambil diikuti diam-diam sama fans mereka pastinya.
Jane datang ke arahku. “Oh My! You talked with Mikha! Monaaa, you’re so lucky!”
Aku mengangkat alis. “Lucky? Please, Jane. Dia cuma nanya tentang buku. Kita kan sekelas sama dia di kelas musik, kelas-kelas lainnya juga!”
“Tapi tetep aja, Monaaaa, aku envy sama kamuu!”
Aku cuma bisa ketawa dengerin omongan Jane. Lucky?
Hmm, not so. Well, Mikha is handsome with the football costume, and also kind.
But it wasn’t a big thing, he just asked me about the book. And girls were being crazy because of that.
Tapi, harus diakuin. Mikha memang keren hari ini, and he deserved to be man of the match. 
 ***
 Tuesday, in Music Class. Sunny day
Suasana kelas Musik seperti biasanya, tenang namun ada obrolan-obrolan kecil yang terdengar di sudut-sudut ruangan. Dan hari ini aku duduk di bangku favorit ku di kelas musik; nomor dua dari depan, bareng sama Jane.
Kelas Music belum dimulai, dan semua kursi sudah nyaris penuh, hanya tersisa satu kursi di samping kiriku.
Aku asik mengobrol dengan Jane, kebiasaan semua murid disini sebelum kelas dimulai. Dan nampaknya Jane sudah mulai melupakan fangirling moment nya kemaren. Syukur deh~
Pintu kelas terbuka, dan tiba-tiba kelas langsung hening. Aku yang asyik tertawa dengan Jane langsung berhenti, bingung kenapa tiba-tiba kelas sepi.
Jane menyikut ku dengan sikunya berulang kali begitu matanya sudah terarah ke pintu kelas. Aku lalu melihat ke pintu kelas dan ternyata…
Mikha masuk sambil membawa tasnya. Ia berjalan pelan melewati panggung kecil yang ada di kelas ini, lalu belok di gang kecil antara meja kanan dan kiri.
Mikha diam sebentar, melirik ke seisi kelas-pasti mencari bangku kosong. Lalu ia melihat bangku kosong di sebelahku dan berjalan kesana.
Begitu Mikha berdiri tepat di sebelahku, entah kenapa tiba-tiba sinar matahari langsung menyinari seluruh tubuhnya, and he looks so sparkling.
Oke, ini aneh. There’s must be something wrong with me.
Mikha kemudian duduk di bangkunya, dan suasana langsung kembali sedikit normal. And I believe it, they’re talking bout him right now.
Jane menyikut ku untuk yang keseratus kalinya, aku menoleh. “Apaan, sih, Jane? Sakit tau!”
Mata Jane kemudian melirik Mikha dan menunjuk Mikha dengan dagunya. “Kamu itu lucky banget, ya.”
Lucky again? WHY? (ini suer gak nyadar banget Mona nya duduk sebelahan sama Mikha haha -_-)
“Lucky kenapa?”
“Kemaren kamu ngomong sama Mikha, sekarang Mikha duduk sebelahan sama kamu. Ini namanya lucky banget!” seru Jane, berapi-api.
Jane bener-bener deh………………
Tiba-tiba pintu kelas terbuka dan masuklah Ms. Kath sambil membawa mapnya. “Good morning, class!”
Semua langsung diam dan menatap Ms. Kath.
“Yeah, today we’re not going to study full today, I just want to announce something important. So, listen…
“Sebentar lagi, sekolah kita bakalan ngadain acara musik, kalian bisa main gitar, atau nyanyi, ngebentuk band, jadi solois, atau boyband juga boleh!” kata Ms. Kath. Semua murid langsung bergumam bersemangat. “Jadi, sebisa mungkin kalian harus ikut ya, nanti bakalan ada audisinya. I’ll wait for you guys!”
Jane menatapku. “Mona, ikutan gak?”
“I don’t know, I’m busy with my competition next week,” kataku agak ragu. “Kamu?”
Jane mengangkat bahunya, “Nggak tau, deh. Tapi, kalo Mikha ikut, aku juga bakal ikut! Hahaha…”
Jane is always about Mikha. Maybe forever and always.
Kulirik Mikha sekilas dan ternyata dia juga lagi ngeliat ke arahku. Oh NO. But it’s too late, Mikha sudah senyum duluan ke aku, dan mau gak mau aku balas senyum juga ke dia.
Aku kemudian berbalik menghadap Jane secepat mungkin. Jane menyadari perubahan wajaku, “Kamu kenapa? Kok mukanya merah gitu?”
“Hah? Really?” tanyaku panik. Masa gara-gara liat Mikha aja muka aku jadi merah?
Jane kemudian cuma geleng-geleng dan melanjutkan kegiatannya.
Okaay, ini absurd banget.
Lalu kulirik Mikha diam-diam untuk yang kedua kalinya, dan untungnya dia gak liat aku. Fiuh…
Mikha hanya mencoret-coret buku tulisnya dan jiwanya entah melayang kemana. Mungkin ke lapangan bola.
“Kriinnggg…”
Semua murid langsung berteriak senang karena bel istirahat berbunyi. Mereka cepat-cepat berkemas dan pergi keluar dari ruangan.
“Mona, aku duluan ya. Aku ada urusan sama Ms. Andrean, yah you know lah nilai math aku bermasalah kemaren. Bye!”
Seperginya Jane, aku melihat Reuben di depan kelasku. Aku segera mengemasi barang-barangku dan pergi keluar.
“Hey, Reu!”
“Hey! Gimana kelas musiknya?” tanya Reuben, dan kami berdua berjalan beriringan sekarang menuju ruang Olimpiade. Yes, I’ll join the Sains Olympiade with Reuben as a team. Mungkin ini udah yang kelima kalinya atau lebih aku ikut olimpiade barengan sama Reuben.
“Well, as usual. Tapi tadi ada pengumuman acara musik. Kamu ikut, Reu?” tanyaku.
Reuben diam sebentar. “Hmm I don’t know yet. Maybe I’ll join it ahaha… How about you?”
“Aku gak tau, mau fokus dulu sama olimpiade…”
“Tapi kan itu acara itu masih lama, Mon…” kata Reuben lembut sambil tersenyum (dying of Reu’s smile)
Di depan pintu ruang Olimpiade, kami berdua ketemu Mikha. Reuben langsung datangin Mikha, dan they’re talking. Seems so seriously.
Lalu Reuben dadahin Mikha and come back to me. Sebelum aku masuk ke ruang Olimpiade, Mikha lewat dan natap aku sambil senyum.
Dan tiba-tiba, refleks, aku balas senyum Mikha. OH MY GOD.
“Mona? Are you okay? Ayo masuk, kita kerjain essay nya….” Reuben memanggil ku dan tersenyum.
Oke, senyum Mikha berhasil bikin aku melting. Sesaat. Cuma sesaat kok, iya. Oh my, I think I’m going crazy today. 
 ***
“Bye, Mona! Aku duluan ya! See ya tomorrow!”
Reuben kemudian berlalu dari hadapanku. Well, akhirnya selesai juga essay yang aku kerjain bareng Reuben.
Aku keluar dari ruang Olimpiade. Sekolah bener-bener sudah sepi. Well, ini udah jam 5 sore, sih. Jadinya gak heran kalo udah sesepi ini.
Aku melewati ruang alat musik, kemudian berhenti di depan ruangan itu.
Dan tanpa sadar aku membuka pintunya perlahan dan masuk kesana.
Sinar matahari sore masuk ke dalam ruangan ini melewati jendela, dan menimpa Grand Piano berwarna putih yang berada di tengah-tengah ruangan.
Aku menaruh tas ku di lantai dan berjalan perlahan ke arah piano itu. Aku duduk dan mengelus permukaan piano itu dengan jariku yang bergetar.
Sebenarnya, aku suka musik.
Aku bisa nyanyi, dan main piano.
But nobody knows it because…
Orang-orang taunya aku cuma pintar di pelajaran, bukan di musik. Tapi sebenarnya, aku bener-bener jatuh cinta sama musik.
Dan pengumuman yang dikasih tau sama Ms. Kath tadi bener-bener bikin galau. Should I join that?
Aku memencet tuts-tuts piano itu perlahan, kemudian mulai memainkan intro sebuah lagu.
(nowplaying: Lost - Michael Buble. Ceritanya si Mona mainin lagu Lost pake piano sambil nyanyi)
“And God I hope it’s not too late… It’s not too late…”
Aku berhenti memainkan piano dan berhenti bernyanyi. Oh God, this is so true! Gak ada yang bisa nandingin rasa bahagia waktu aku nyanyi sambil main piano. Bahkan menang juara satu lomba nasional Olimpiade sama Reuben pun gak sebahagia ini rasanya.
Aku menatap jemariku di atas tuts piano, tertimpa sinar matahari sore.
Dan tiba-tiba dari belakang ada suara merdu yang membuatku merinding.
“Cause you’re not alone…”
Aku tidak bergerak sedikitpun. Suaranya yang lembut membuatku membeku seketika. Suaranya bagus banget! Siapa? Siapa?
Dan ternyata……………
Mikha duduk di sebelahku, lalu jemarinya berlari di tuts-tuts piano dan memainkan lagu Lost yang hanya setengah kumainkan tadi.
(nowplaying: Mikha Angelo - Lost ayoo bacanya sambil dengerin mikha nyanyi lost yaa :3)
“I’m always there with you, and we’ll get lost together, till the light comes pouring through. Cause when you feel like you’re done, and the darkness has won, babe you’re not lost…”
Mikha mahir banget mainin piano dan suaranya itu loh! OHMYGOD banget! Aku langsung melted, dan yes, siapa yang gak melting sih duduk di sebelah cowok ganteng kayak Mikha, dimainin piano dan ternyata suaranya bagus banget?
Mikha mengakhiri piano dan nyanyiannya dengan manis. Lalu ia memalingkan wajahnya dan menatapku sambil tersenyum, “Suara kamu bagus. Aku dengar tadi. Dan ternyata cewek paling pintar seangkatan kayak kamu, punya suara yang kece, haha…”
Aku cuma bisa senyum, kemudian menatap mata Mikha yang berkilau tertimpa cahaya matahari. “Suara kamu juga bagus banget, lembut dan bikin meleleh. Dan ternyata cowok paling famous di sekolah, jago di lapangan bola punya suara yang lembut banget.”
Kami berdua kemudian tertawa berbarengan (duhhh ketawa bareng mik<3)
Mikha berhenti tertawa dan menatap mataku. Please, Mikha. Bisa stop mandangin aku pake matamu yang berkilau itu gak?
“Seriously, suara kamu bagus banget tau. Kenapa kamu gak ikut acara musik sekolah aja nanti? Dan kenapa selama ini kamu gak nunjukkin kalo kamu berbakat di musik?”
Pertanyaan Mikha yang beruntun tadi membuat tawaku hilang seketika. “Well, gak semua hal harus ditunjukin kan, Mik?”
Mikha tersenyum manis………..banget. “Mona….” katanya lembut. Jantung aku langsung dag dig dug gak karuan begitu Mikha nyebut nama aku. That was the first time he said my name. “Ini masalah bakat. Bakat kamu itu harus ditunjukin, trust me!”
Aku memalingkan muka dan berhenti sebentar. Bener kata Mikha, ini masalah bakat…
Kemudian aku berpaling dan menatap wajah Mikha. “Okay, aku ikut acara musik itu kalo kamu ikut. Kamu juga harus nunjukkin bakat kamu, kan? Biarin orang tau kalo Mikha Angelo, yang jago di lapangan bola berbakat banget di musik. Deal?”
Mikha kemudian tertawa. “Hahaha, Mona… Kalau kamu ikut ya jelas aku ikut lah! Kan kita bakal duet nanti di acara musik!”
WHAT? DUET BARENG MIKHA? ASDFGHJKL.
“Hah? Sorry, Mik?”
“Hahaha, gini, deh. Kamu ikutan acara itu, and yes surely me too. Kita satu team tapi,” bisik Mikha lembut sambil tersenyum.
Dan bisa aku rasain semua darah lari ke pipiku. Oh God, Mikha bikin blushing!
“Satu team?” tanyaku sambil tersenyum. Senyum malu-malu tepatnya haha!
Mikha mengangguk. “Yes! Well, udah sore banget. I have to go, Mama bakalan nyariin aku nanti. Maaf gak bisa ngantar kamu pulang, Mona. Well, glad to know that you’re going to join that event, and see ya tomorrow! Oh yeah, I love your voice anyway!”
Mikha kemudian berdiri dari bangkunya dan mengacak-acak rambutku terlebih dahulu sebelum pergi. Mikha tertawa kemudian pergi ke luar ruangan.
And I’m here alone.
Percaya gak sih, Mikha yang jago di lapangan bola bisa punya suara selembut dan sebagus itu? Jago main piano lagi!
Dan barusan aja dia bilang kalau aku harus ikut event itu satu team bareng dia, dan sebelum dia pergi dia ngacak-ngacak rambut aku! WOW.
Aku diam beberapa saat, kemudian berdiri dan mengambil tasku. Baru saja aku mau keluar dari ruangan, tiba-tiba Mikha muncul.
“Mik?” tanyaku kaget.
“Well, I forgot one thing. Masalah kita bakal ikut lomba ini, jangan kasitau siapa-siapa dulu ya. Biar jadi surprise, cuma kita berdua yang tau.”
Aku cuma bisa ngangguk pelan, kemudian Mikha tersenyum dan mengacungkan jempolnya, kemudian pergi.
Cuma kita berdua yang tau…
Cara Mikha ngomong kalimat itu bener-bener bikin kalau ini rahasia. Antara aku. Sama Mikha.
Ini berasa mimpi. Please, tell me that this is not dream anymore.
Disenyumin Mikha berulang kali, dan hey, satu team bareng dia?
Aku kemudian menggeleng cepat-cepat. NO WAY, aku gak boleh suka sama dia. Ini baru permulaan, Mona.
Tapi… lagu Lost di ruang musik tadi, tatapan Mikha, all about him in Music Room…
I think I’m going crazy because of Mikha today.
 ***
Wednesday, Biology Class, Rainy Day
Cuaca hari ini bener-bener bikin beku! Bayangin aja, hujan dari tadi malam, dan anehnya, aku gak ngerasa dingin tadi malam. And for your information, aku mimpi Mikha tadi malam. Ini seriusan. I dreamed Mikha last night.
Yah, mimpinya rada gak jelas gitu sih, cuma ada Mikha duduk di depan aku sambil main gitar. Tapi satu hal; dia main gitar dan matanya gak pernah lepas dari mata aku. Dia selalu ngeliatin aku, and hmmm, I could say that his eyes were sparkling.
TAPI, itu kan cuma mimpi, so calm down, Mona. Calm down. Okay.
Aku melirik halaman sekolahku yang benar-benar luas dari kaca mobil. Sekolah masih sepi, seperti biasanya. Aku memang selalu berangkat pagi-pagi ke sekolah, don’t know why. Aku turun dari mobil dan segera saja hujan mulai membasahi rambutku.
Aku memegang erat buku-buku yang kubawa hari ini, melindungi mereka dari hujan yang lumayan deras ini. Dan gak tau kenapa buat sampai di tempat yang teduh rasanya lama banget…………..
Dan tiba-tiba butiran air hujan tidak terasa lagi kepalaku. Aku diam sebentar, lalu menoleh.
Seseorang telah melindungiku dengan jaket coklatnya….
Seseorang itu pun ikut berlindung dengan jaketnya dari hujan…
Seseorang itu merentangkan jaketnya di atas kepala kami berdua…
Dan sekarang, seseorang itu tersenyum kepadaku…
“Morning, Mona!” sapanya sambil tersenyum manis.
Okay. Take a deep breath, Mona. Calm down….
“Morning too, Mikha…” kataku pelan, sambil membalas senyumnya.
Kami berdua sampai di koridor sekolah, kemudian Mikha menurunkan jaket coklatnya dari kepala kami berdua. Bisa kulihat ada beberapa butiran air hujan turun dari rambutnya yang hitam itu.
“Thanks, Mik, for your jacket…” kataku.
Okay. Yang tadi ngelindungin aku dari hujan itu Mikha, pake jaket coklatnya, dan dia orang pertama yang bilang ‘morning’ ke aku. Pake senyum. Manis. Okay, I’m going crazy now.
“Anytime,” kata Mikha sambil tersenyum. Kemudian kami berdua jalan beriringan menyusuri koridor sekolah yang sepi.
Okay, this is awkward. Pernah mikirin gak sih, bakalan jalan di koridor sekolah, cuma berdua, dan sepi, sama Mikha Angelo, bintang sekolah dan bintang lapangan bola? Dan tadi dia ngelakuin hal yang terlalu manis buat aku. Okay, ini epic.
What should I do……
Dan entah kenapa koridor sekolah ini rasanya jadi panjang banget. Kapan sampainya di kelas? Oh my god.
“Mik, can I ask you something?” tanyaku tiba-tiba.
Mikha menoleh dan menatapku. Oh please… stop staring at me like that, Mik. Your eyes…. “Sure… Just ask me anything you want.”
“Kenapa pagi ini kamu datang pagi banget? Biasanya kan gak sepagi ini. Is there any particular reason?”
Mikha tertawa. “Well, aneh ya liat aku datang pagi banget?” tanya Mikha. Aku mengangguk. “Haha, iya, aku sengaja. Soalnya aku tau kamu sering datang pagi ke sekolah, ya udah jadi aku datang pagi juga.”
WHAT? WHAT DID HE SAY?
“Sorry, Mik?” tanyaku, shock. Sengaja datang pagi gara-gara aku datang pagi? Rrr……
Mikha is laughing again. “Kan kita bakalan jadi team nanti, jadi ya gak ada salahnya aku datang pagi and spend my time with you.”
Spend my time with you, he said?
Dan bisa kurasakan pipiku memerah gitu aja. Oh my god, ini absurd. “Okay, Mik. I think it’s enough.”
Mikha tersenyum. Lagi.
Dan sekolah akhirnya mulai ramai perlahan-lahan, dan entah ini sial atau untung, aku masih jalan beriringan bareng Mikha. Dan sekolah mulai rame. Bisa bahaya kalau fansnya Mikha liat ini………
And I just remembered that Mikha has Biologi Class with me too today. Uhh… Wheter have to feel happy or not.
Di kelas untungnya belum terlalu ramai, hanya diisi sama murid-murid yang rajin belajar, jadi begitu aku masuk ke kelas bareng Mikha, mereka gak begitu heboh, just poker face.
Aku berjalan ke bangku favoritku, seperti biasa, nomor dua dari depan. Dan di kelas apapun aku juga bakalan ngambil nomor dua, karena ini tempat yang paling pas dan strategis haha.
Aku menaruh buku-buku ku di meja, kemudian ingat kalau seharusnya buku-buku ini aku taruh di lokerku, bukan disini! Ahhh, ini pasti efek gara-gara jalan bareng Mikha tadi, deh! Jadi lupa semuanya rrrr……..
Aku kemudian berdiri sambil membawa buku-buku ku, kemudian Mikha yang berdiri di dekat lemari kaca segera menghampiriku. “Mau kemana, Mon?”
Aku menoleh, “Aku mau naruh buku di loker. Tadi lupa ehehe…”
Mikha kemudian tersenyum dan berdiri di sebelahku,” Yaudah, kalo gitu aku ikut. Sini bukunya aku yang bawain.”
Mikha langsung mengambil buku yang ada di tanganku dan berjalan keluar kelas. Aku cuma diam, bingung, shock. Ini mimpi bukan, sih?
“Mona, c’mon!” kata Mikha dari depan kelas.
Aku segera keluar kelas dan berjalan beriringan (lagi) dengan Mikha, menuju loker murid yang ada di dekat Aula Besar.
“Mik, bukunya biar aku aja yang bawa, deh….” kataku ke Mikha.
Mikha menggeleng. “Udah, biar aku aja yang bawa.”
Sesampainya di dekat taman sekolah, ada beberapa kumpulan cewek yang jerit-jerit begitu ngeliat Mikha.
And I can hear what they say………
“OMG! Itu Mikha, iyaa itu Mikha!!!”
“Aaawww Mikha ganteng banget hari ini pake jaket coklat, OMG!”
“Itu Mikha! Dia sama cewek, iihhh itu siapaaa?”
Aku yang dengar begituan cuma bisa, huft, sight. Hey girls, take it slow….
Aku kemudian tertawa kecil, Mikha menoleh dan bertanya, “Kenapa Mon? Is there something funny?”
Aku menggeleng. “No… Your fans, just make me wanna laugh. They are fangirling right now.”
Mikha tersenyum miring. Yak, pas sekali kena di hati. Mikha, why every time you smile, my heart beats faster?
“Mereka bener-bener perhatian sama aku,” jawab Mikha simple.
Dan, sepanjang jalan mau menuju ke loker sekolah, semua orang yang ada ngeliatin kami berdua. Ekspresinya sama semua: terpesona liat Mikha dan tatapan hmm…. envy maybe? Iri sama aku gara-gara jalan bareng sama Mikha ke loker? Please, girls…
Sesampainya di loker, aku memasukan kombinasi nomor kemudian Mikha menaruhkan buku ku di loker. Okay, anggap ini biasa aja.
Selesai menaruh buku di loker, aku pun kembali berjalan beriringan dengan Mikha, dan kembali menerima tatapan-tatapan aneh itu. Tapi kayaknya Mikha enjoy-enjoy aja……..
Tak lama kemudian, kami berdua sampai di kelas dan, kelas udah rame banget dan begitu kami berdua masuk, kelas langsung hening. Dan keheningan itu dipecahkan oleh suara Jane yang kedengarannya shock banget.
“Mona… sama Mikha?” tanyanya dengan mata melebar.
Aku segera menggeleng dan mendatangi Jane.
“Jane, stop looking at me like that!” bisikku cepat-cepat. Jane memandangiku aneh.
Kemudian Mikha datang. “Hmm, Jane. Kalau hari ini aku duduk sebangku sama Mona, is it okay? There’s something I wanna talk with her.”
Dan cewek-cewek sekelas langsung kompak bilang “Awww, so sweet!” sambil menutup mulut mereka. SO SWEET DARIMANAAA?!!
Jane pasti bakalan kena serangan jantung deh. Ini pertama kalinya sejak dia nge fans sama Mikha, diajak ngomong sama Mikha langsung.
Senyum Jane kemudian muncul perlahan-lahan, dan mengambil tasnya dari bangku di sebelahku dan pindah kebelakangku.
Oh my God, Jane, are you serious?
Mikha kemudian tersenyum cerah dan menaruh tasnya, kemudian duduk di bangku. Right next to me.
Dan semua cewek sekarang bergumam. And I know what they’re talking about, exactly.
Tepat pada saat itu bel berbunyi, dan Mr. Anthony masuk ke kelas dengan senyum khasnya itu.
“Morning class! Hey, Mona sit down please…”
Hanya aku yang belum duduk ternyata. Aku segera duduk di kursiku, disebelah Mikha. Okay. Okay, calm down.
Kemudian Mr. Anthony menatap kami satu persatu dan pandangannya berhenti di mejaku dan Mikha.
“Oh, so Mr. Brahmantyo, do you dicide to sit with Ms. Louissa? Good choice, both of you are smart, and yeah, I agree with it.”
Suasana kelas langsung ramai oleh ‘ciyee ciyee’ dan aku? Cuma bisa diam, speechless. Jane bahkan ikutan ‘ciyee ciyee’!
Aku kemudian melirik Mikha yang tertawa, wajahnya nampak bahagia. Kemudian ia sadar kalau aku memandanginya dari tadi, kemudian tersenyum miring lagi untuk yang kedua kalinya kepadaku. Langsung saja aku dag-dig-dug gak karuan.
Aku kemudian melirik Mr. Anthony yang ternyata ikut tertawa melihat aku dan Mikha duduk sebelahan. OMG.
Okay, ini EPIC!

***
“Krriiinnnngggg!”
Bel pelajaran Fisika berakhir, aku segera menyusun buku-buku ku, kemudian memasukkannya ke dalam tas. Dan di kelas Fisika ini, aku gak bareng-bareng sama Jane dan Mikha.
Actually, di kelas Biologi tadi aku pengen banget ngomong sama Jane tentang Mikha, tapi sayangnya Mikha gak ngasih kesempatan. Dia ngajak aku ngobrol terus sehabis pelajaran, dan sampai akhirnya bel bunyi, Jane langsung buru-buru pergi ke kelas Sejarahnya. Sedangkan Mikha langsung pergi ke lapangan bola buat latihan, setelah sebelumnya dia ngacak-ngacak rambutku (untuk yang kedua kalinya)
And now it’s time to break! Bakalan langsung nyari Jane dan cerita semuanya ke dia. Yap, HARUS!
Aku segera bangun dari bangku ku, kemudian berjalan ke depan kelas. Tapi, sesampainya di depan kelas, tau-tau ada Mikha berdiri pake baju bolanya.
“Mikha? What are you doing here?” tanyaku, kaget setengah mati. Gimana gak kaget coba, tiba-tiba ada cowok ganteng pake baju bola dan keringatan di depan mata?
Wait wait wait…. What did I say? Cowok ganteng?
Okay, there’s definitely something wrong with my brain.
Mikha terlihat buru-buru. “Mona, you should go with me. Ayok.”
Mikha langsung menarik tanganku dan membawaku berjalan di sampingnya. I’m shocked.
“Mik, aku mau ketemu Jane!” kataku sambil mengikuti langkah Mikha yang cepat.
Mikha menoleh, dan entah kenapa tangannya tidak berhenti memegang tanganku. “Sorry? Ini penting, Mona. Urusan Jane, aku bakal nemenin kamu ketemu dia nanti. All is well, now you just have to go with me.”
Aku terpaksa diam aja dan mengikuti Mikha. He still holding my hand.
Dan lagi-lagi, aku harus nerima tatapan-tatapan ‘aww mikha lewat’ dan ‘heyy, itu siapanya mikha’ dari orang-orang yang melihat kami berdua.
Aku dan Mikha melewati ruang kelas-kelas yang kebetulan mereka baru selesai belajar. Langsung saja, semua cewek yang ngeliat langsung, “AWMAYGAT, ITU MIKHA ANGELO! DIA CUTE BANGET DEH PAKE BAJU BOLA AWWWW!!!”
Tapi ada juga yang beberapa mempertanyakan aku siapa nya Mikha.
“Itu siapa, sih? Dari tadi pagi gue liatin dia bareng Mikha terus. Jangan-jangan….” kata cewek dengan rambut panjang ke teman-temannya. Well, act like you don’t hear it, Mona.
“Anyway, kamu udah makan belum?” tanya Mikha, disela-sela langkahnya.
Aku menggeleng.
“Well, maaf ya. But this is so important. Habis ini kita lunch bareng aja, okay?” tanya Mikha sambil tersenyum kepadaku.
Aku cuma bisa mengangguk.
Dan Mikha akhirnya berhenti di depan ruang musik yang bener-bener sepi. Mikha melepaskan pegangan tangannya and suddenly I don’t feel calm anymore. Oh no….
“Mik, emang kenapa kamu ngajak aku kesini?” tanyaku ke Mikha.
Mikha tersenyum. “Wait. I have mmm, a surprise for you.”
APA KATANYAAA? SURPRISE?
Mikha kemudian berdiri di depan pintu ruang musik yang ditutup. Aku kemudian ikut berdiri disana, kemudian menatap Mikha yang tersenyum kepadaku.
“Now, close your eyes, Mona,” bisik Mikha lembut.
Aku menurut saja, menutup mataku perlahan. Kemudian Mikha membawaku masuk ke dalam ruangan, dan….
Mikha kemudian berhenti, dan ia membisikkan sesuatu di telingaku, “Now, open your eyes.”
Aku membuka mataku dan…...
***

“HEY MONA!”
Okay, he’s right. I’m so surprised.
Reuben, Mada, dan Jeremy berdiri di depanku. Reuben memegang gitar, Jeremy memegang bass, dan Mada memutar-mutarkan stik drum dengan ahli.
Aku melirik Mikha, bertanya apa maksudnya ini. Kemudian Mikha tertawa dan berjalan mendekati Reuben dan merangkulnya.
“Reu, you can explain it to Mona,” kata Mikha sambil tersenyum.
Reuben kemudian maju dan berdiri tepat di depanku. Aku mengangkat alis, bingung.
“So, Mona… Mikha cerita ke kami, kalau kamu bakalan ikutan acara musik di sekolah. Daaann, kamu pasti tau kan kalo Mikha itu ternyata jago di musik?”
Aku mengangguk. Tapi, semuanya masih membingungkan.
“Tapi, kamu tau gak kalau aku, Mada, sama Jeremy juga bisa main musik?”
WHAT? SERIOUSLY INI MAH?!
“Reu? Are you serious?” tanyaku, too shocked.
Reuben mengangguk sambil tertawa--tawa khasnya. “Iyap, serius, Mona. Dan, selebihnya Mikha bakal bilang langsung ke kamu, sekarang.”
Mikha menatapku, “All you have to do is just watching us now.”
Mikha mengambilkan kursi kayu dan menyuruhku duduk. Reuben langsung mengambil gitarnya, Mada siap dengan cajonnya, Jeremy memetik bassnya. Sedangkan Mikha mengambil gitarnya dan menghadapku.
Mikha menoleh ke Reuben, Mada, dan Jeremy, “Are you ready guys?”
Mereka bertiga mengangguk kompak. Mikha kemudian menatapku, “Mona Louissa, My Heart is Yours……”
Aku sudah menahan nafasku.
“… by Justin Nozuka.”
Oh my God. Mikha bikin jantungan. Ternyata lagu nya Justin Nozuka. Kirain….. WAIT, jadi aku ngarep dia bakalan bilang gitu?!
Reuben mulai memainkan gitarnya, begitu pula dengan Jeremy dan bassnya, serta Mada dan cajonnya. Mikha memetik gitarnya.
(nowplaying: My Heart is Yours - The Overtunes (Justin Nozuka Cover) read this part with listen to this sonng :) here's the link: https://soundcloud.com/theovertunes-sound/my-heart-is-yours-justin
“This morning I woke up beside the river.The grass and trees were green, flowers became blooming, and birds were sweetly singing…”
Langsung saja ruangan ini dipenuhi oleh musik yang dimainkan mereka berempat. Suara Mikha mengalun baik dengan nada-nada yang dimainkan olehnya, Reuben, Jeremy, dan Mada.
Suara Mikha bener-bener bagus. Tapi yang bikin aku lebih takjub adalah Reuben, Jeremy, dan Mada yang ternyata jago banget main alat musik!
Mereka, bintang-bintang di lapangan bola, yang kalau lewat sering dikejarin sama fans mereka, sekarang ada di depan aku, nyanyiin lagu dan rasanya…… Nge fly. Banget.
“Oh darling when you look at me it’s just like the summer breeze. My heart…” Mikha terus menatapku saat menyanyikan lirik yang, well lumayan bikin ngefly. Dan mata aku juga udah gak bisa lepas dari mereka. Jadi aku cuma duduk sambil mandangin mereka semua, takjub dan melting. “So close your eyes and listen to the moonlight melody… darling dance with me, darling dance with me, darling dance with me.”
Aku bener-bener gak tau lagi harus ngomong apa. Mereka bener-bener amazing! Rasanya tuh ada yang terbang di hati, di perut. Rasanya…. bahagia.
Dan…… selesai.
Aku berdiri dan bertepuk tangan. Sendirian. Wajah mereka langsung sumringah begitu melihat wajahku yang takjub dan tepuk tanganku selama satu menit penuh.
“Guys. Kalian. Keren. Banget. Unbeliavable. But. This. Is. True,” kataku terpotong-potong, saking speechlessnya.
Mikha langsung sumringah, Reuben tersenyum senang, Jeremy dan Mada langsung berhigh five ria.
“So, gimana?” tanya Mikha.
“Gimana apanya?” tanyaku bingung. Masih terpesona.
“Mau tampil bareng kami gak di acara musik sekolah nanti? Kita bakalan latihan bareng-bareng, ikut audisi bareng, berhasil bareng, dan tampil di acara musik sekolah bareng. Mona, kamu mau?” tanya Mikha sambil tersenyum. Reuben, Jeremy, dan Mada pun ikut menatapku dan tersenyum.
Aku tertawa, bingung. “Ini kebalik. Harusnya aku yang nanya, kalian mau nampil bareng aku atau gak. Kalian keren banget begini, dan aku? Gak ada apa-apanya kalau dibandingin sama kalian, guys…”
Reuben segera menggeleng. “Gak, Mona. Kami udah denger dari Mikha, suara kamu memang bagus. We believe what Mikha says…”
Mikha menatapku. “And I believe you.”
I believe you…
Mata-mata mereka cuma bikin aku tambah meleleh.
“Guys, aku gak mungkin nolak kalian. So, yes! Iya, aku mau, pake BANGET, gabung dan tampil bareng kalian!” kataku sambil tertawa.
Mikha langsung terlihat lega, Reuben dan Jeremy tertawa, Mada tersenyum.
This is just so perfect. Perfect moment for perfect day.
Mikha, Reuben, Jeremy, dan Mada kemudian mendekat kepadaku dan membentuk lingkaran. Mikha dan Reuben berada di kanan kiriku dan langsung merangkulku ke dalam lingkaran.
“So,” kata Mada. “Are you ready for that event guys?”
“YEAHHH!” seru Jeremy bersemangat. Aku tertawa.
“So, ARE YOU READY GUYS?!!” seru Mada sambil tertawa.
“YEAAHHH!” Aku berteriak, bareng dengan Mikha, Reuben, dan Jeremy.
Kemudian kami berlima tertawa bersama-sama. Melihat tawa Mikha, Reuben, Jeremy, dan Mada untuk pertama kalinya.
Dan aku yakin ini bukan yang terakhir. Hari-hari ku baru saja dimulai bersama mereka. Hari-hari indah.
This is just so right.

***
“… Kenapa kamu pak gak masuk segala lagi tadi? Beneran sakit?”
“Iyaaa, Mona sayaanng. Aku sakit, kamu tega liat temen kamu yang unyu unyu ini sakit di sekolah? Mendingan bobo cantik deh dirumah!”
Aku tertawa mendengar ocehan Jane dari ujung telepon.
Jane gak turun hari ini, hari Sabtu. Di Symphoni, hari Sabtu cuma buat ekskul, dan jam remedial. Padahal hari ini aku mau ngajak dia ke ruang musik, ngumpul bareng Mikha, Reuben, Jeremy sama Mada. Jane pasti bakalan senang banget, dia bisa satu ruangan eksklusif bareng Mikha!
Udah beberapa hari ini, aku susah banget ngobrol sama Jane. Mikha terus-terusan duduk di samping aku, dan kebetulan beberapa hari ini aku ngambil kelas yang sama kayak Mikha. Entah harus bahagia atau gak. Yang jelas, Mikha bener-bener perhatian. Dan sialnya, pipiku langsung berubah warna jadi merah kalau udah deket-deket Mikha sekarang. Well, it’s normal, I think.
“So, gimana tadi di sekolah? Kamu pasti gak kesepian, kan…” kata Jane.
“Hmm… Biasa aja, sih. Aku kesepian tau, kan gak ada kamu, Jane…” kataku sambil tertawa.
“Mona, seriously. Kenapa akhir-akhir ini kamu sering banget bareng-bareng Mikha, Reuben, Jeremy, sama Mada? Kalo kamu bareng Reuben, aku sih gak heran, soalnya kalian satu team di Olimpiade. Nah, kalo sama Mikha, Jeremy, Mada? Kamu pasti ada rahasia nih sama aku.”
Jane, you’re right.
Aku menghela nafas. Aku udah tanya ini sama Mikha dan Reuben kemaren, dan dia bilang aku cuma boleh ngasih tau Jane tentang bakalan ikutan acara musik di sekolah. “Jane, aku baru mau ngasih tau kamu hari ini, dan ternyata kamu gak turun. So, I call you now, and I will tell you.”
Jane terdengar antusias. “Really?”
“Yeah, but promise me, you will listening this till the end of the story, and I’m not allowing you to scream. Karena kamu pasti bakalan teriak dengerin ini.”
“Okay, cepetan buruan! Aku udah kepo nih…”
“So… Aku bakalan ikut acara musik di sekolah bareng Mikha, Reuben, Jeremy, dan Mada.,” ucapku singkat.
Hening……………
Krik krik krik…
Satu menit penuh sudah lewat, dan Jane belum ada ngomong apa-apa.
“Jane, are you okay?” tanyaku sedikit cemas.
“Mona. Jangan. Tutup. Teleponnya. Dulu. Wait.”
Kemudian aku mendengar Jane berteriak. Ia pasti menjauhkan gagang telepon dari mulutnya, fiuh syukurlah.
“MONAAAAAAAAAAAA KAMU GAK BOHONG SAMA AKU, KAN? BILANG KE AKU KALAU ITU BOHONG!!!!”
Duh, Jane. Sudah diduga reaksinya bakalan begini. “Jane, I’m serious. Ini bukan bohongan, ini seriusan.”
“Mona, kamu gak tau rasanya jadi aku, OHMYGOD! I’m happy for you, my dear! AAAAAAA!” jerit Jane, suaranya terdengar sangat bahagia.
“Jane, jadi gak papa nih aku ikutan?” tanyaku.
“Iyalah, Sayang. Kamu harus ikut! Aku tau kamu memang ada bakat di musik, cuman selama ini aku gak berani bilang ke kamu, takutnya kamu merasa tersinggung. But now, you will join that event, ohmygod…. Ini lebih dari bahagia.”
Aku tertawa bahagia. Bagus deh kalo Jane juga senang.
Sambil mendengar Jane berseru kesenangan, aku melihat hapeku bergetar di meja belajar (aku telponan sama Jane pake telepon rumah yang ada di kamarku, di lantai dua) aku mengambilnya dan nomor tidak dikenal.
“Jane, ada yang nelpon aku, tunggu ya.” Jane ber iya-iya ria, masih mengoceh bahagia tapi.
“Halo?”
“Hey, Mona! Liat keluar jendela kamar kamu, deh, sekarang!”
Aku melirik hapeku sebentar. Rasanya suaranya familiar tapi…
Aku segera berjalan ke jendela kamarku. Dan begitu di jendela, aku melihat ke bawah dan ternyata….....
Please bilang ini mimpi!
***
Mikha tersenyum dari bawah, kepalanya mendengak dan menatapku. “Hey, Mon, turun sekarang!”
Okay, ini gila.
Aku melirik lagi ke bawah. Sebuah mobil terpakir di depan rumahku, dan aku bisa lihat di dalamnya ada Reuben, Mada, dan Jeremy, mereka semua senyum ke aku.
Gak pernah sebelumnya terlintas di pikiranku, kalau Mikha bakalan ada di depan rumahku. Pake kaos putih, celana coklat dan sepatu crocs.
“Mona, ikut kami yuk, latihan bareng di studio!” seru Mikha dari bawah.
Aku tersenyum senang, jelas sekali terlihat bahagia. Aku mengangguk, kemudian segera mengambil scarfku (hari ini berawan, jaga-jaga siapa tau kedinginan) dan jaket tipis berwarna soft pink.
Aku mengambil telepon rumah. “Jane, I have to go. Mik ada di depan rumah bareng Reu, J, sama Mad! I’ll tell you asap, bye cantik!”
Aku segera memutus telepon. Kemudian mengambil hape dan tas kecilku, kemudian berlari ke luar kamar dan menuruni tangga terburu-buru.
“Hey, Mona. Mau kemana?” tanya Mama.
“Mom, I have to go,” kataku sambil memakai sepatu.
Kemudian terdengar suara pintu diketuk. Mama langsung berjalan ke pintu. Oh no…. Itu pasti Mikha, Reu, J, sama Mada!s
Aku baru saja selesai memakai sepatu, kemudian Mikha sudah berdiri di depan pintu bareng sama Reuben, Jeremy, dan Mada.
“Selamat sore, Tante…” kata Mikha sambil tersenyum manis.
O wow. Your smile, Mik…
Aku langsung berdiri di belakang Mama. “Hey, guys…”
“Sore juga… Ini teman-teman kamu, Mona? Kenalin ke Mama dong…”
Aku tertawa, maksa tapi. Ini bingung banget ya ampun. “Ini Mikha, satu angkatan sama aku. Itu Reuben-“
“Oh, kalo Reuben Mama udah kenal, sering satu team Olimpiade, kan?”
Reuben mengangguk kemudian tersenyum. “Iya, Tante…”
“Itu Jeremy di tahun kedua, dan Mada di tahun ketiga.”
Mama mengangguk. “Ganteng-ganteng semua ya, hahaha…”
Aku cuma bisa ketawa garing. But, Mom’s right! Mereka ganteng semua hihihi….
“Yaudah, Ma. Aku pergi dulu ya, mau ke studio,” kataku. Mama mengangguk.
“Anaknya yang cantik ini kami ajak jalan dulu, ya, Tante. Sore…” kata Mikha, sambil tersenyum.
Anaknya yang cantik? Mik, stop making me blushing!
Aku kemudian masuk ke mobil, dan duduk di belakang bareng Mikha dan Jeremy. Di depan Mada sama Reuben.
Sekitar 15 menit kemudian, kami semua sampai di sebuah studio yang lumayan besar. Kami kemudian masuk ke dalamnya, dan setelah ngurus beberapa hal, akhirnya kami latihan untuk pertama kalinya di studio.
Mikha duduk di kursi kemudian langsung memainkan gitar yang ia bawa. Aku memperhatikan Mikha sebentar, sebelum akhirnya memalingkan wajah karena ia menatapku. Jangan sampe salting duluan sebelum latihan. Stay cool, Mona.
Reuben juga mengeluarkan gitarnya, Jeremy sudah sibuk duluan sama bass, dan Mada asik mainin stik drum.
“So, guys. Ini pertama kalinya kita latihan di studio. Well, then, goodluck for us,” kata Reuben. “Anyway, hari ini mau mainin lagu apa?”
Semua langsung tampak berfikir.
“Mona mungkin ada saran? Pilih satu lagu favorit kamu,” kata Jeremy sambil menatapku.
Hmmm, lagu favorit? “Lagu favorit aku banyak, sih…” kataku pelan, masih mikirin lagu apa yang harus dinyayiin hari ini.
“Hey, aku bakalan duet sama Mona, kan?” tanya Mikha sambil menatapku dan Reuben bergantian.
“Oh yeah, bener. Jadi, pilih lagu duet, ya!” kata Reuben sambil tersenyum lebar.
Dute bareng Mikha? Duh, please, Mona. Jangan salting jangan blushing…….
WAIT. Kenapa harus salting? Ini pasti ada something wrong with me, yeah. Pasti.
Kami semua berfikir, lagu apa yang pas untuk latihan kali ini.
Aku melirik Mikha sejenak, dan ternyata dia juga udah ngeliatin aku daritadi. And for the first time, aku beraniin diri buat natap balik matanya Mikha.
And…. OH MY GOD. Mikha, mata kamu jernih banget.
Dan di antara keheningan itu, Mikha bilang, “Lagunya Boys Like Girls feat Taylor Swift aja, yang Two is Better Than One.” And Mikha still looking at me.
Okay, breathe Mona, breathe…
“Wah, iya tuh! Lagunya bagus, aku juga sering mainin kadang-kadang. Well, itu aja. Good choice, Mik!” kata Reuben.
Dan ketika yang lain lagi asyik nyiapin buat lagu itu, Mada nyeletuk, “Mon, you have to sit next Mikha. Kan duet harus ada chemistry nya, hahaha!”
What. Mada ada-ada aja. Tapi Reuben juga nyuruh aku buat duduk sebelah Mikha. Oke, oke. Gak papa, I will try my best to not blushing and ‘salting’ anymore.
Jadi, aku duduk di kursi dan Mikha juga (sambil megang gitar), bersebelahan, dibelakang kananku ada Reuben duduk di kursi sambil megang gitarnya, Jeremy di dekat Mikha sama bassnya, dan di belakang Mada dengan drum dan stiknya.
Dan kami semua menghadap ke kaca besar di depan kami.
Aku menatap ke depan dan melihat susunan ini. Wow, this is just so great! Gak pernah kebayang kalo akhirnya aku bisa jalanin apa yang aku mau selama ini.
“So, everyone… Ready?” tanya Mikha, ngomong di mic.
“Yeah!”
(nowplaying: Two is Better Than One - Boys Like Girls feat Taylor Swift. yaaa bayangin aja yang nyanyi mikha hihi:3)
Suara gitar mulai memenuhi ruangan. Aku memandangi mic di depanku, dan tiba-tiba ngerasa gugup tanpa alasan yang jelas.
Aku melirik ke kaca, dan melihat Mikha menatapku sambil memainkan gitarnya. Akupun menoleh dan Mikha mulai bernyanyi.
“I remember what you wore on the first day, you came into my life and I thought ‘hey you know this could be something’…
“Cause everything you do and words you say, you know that it all takes my breathe away, and now I’m left with nothing…”
(bayangin Mikha nyanyi lirik itu dan natap kamu lekat-lekat ihiiy :3)
Dan kenapa lirik lagunya tiba-tiba bikin aku dag-dig-dug gak jelas…………
Mikha menyanyikan bagiannya dengan bagus, dan matanya itu loh. Please, Mik. Stop looking at me. Or I’ll blushing more and more.
“So maybe it’s true… That I can’t live without you, maybe two is better than one…” Akhirnya, aku nyanyi juga.
And I have too look into Mikha’s eyes, and oh my… Matanya Mikha ituloh.
Aku menghelas nafas pelan, melirik ke kaca. Dan Mikha masih ngeliatin. Okay, calm down.
“I remember every look upon you face, the way you roll your eyes, the way you taste, you make it hard for breathing… Cause when I close my eyes and drift away, I think of you and everything’s okay, I’m finally now believing…”
Dan sepanjang bait tadi, aku cuma ngeliatin Mikha dan rasanya?
Kayak habis diajak terbang ke langit sore, ngeliat sunset bareng-bareng, dan bahagia selamanya disana.
Sama orang yang kamu sayang.
Aku berhenti menatap Mikha, dan melirik ke kaca. Kulihat Reuben juga ikut bernyanyi dan suaranya….. bagus banget. Okay, they’re so talented.
“Two… is better than one…”
The last line, and I’m staring at Mikha, and him too.
Matanya bercerita banyak, senyumnya bikin melting. Mikha, please.
“Wow! Good job everyone! Keren banget!” kata Mada sambil berdiri. Wajahnya terlihat bahagia.
Reuben dan Jeremy langsung ber high five ria, Mikha datangin Mada dan langsung ketawa bareng. Dan aku ngeliatin mereka berempat bahagia itu rasanya juga bahagia. Banget.
“Gak nyangka pertama latihan langsung bisa keren begini. And, Mona, your voice… Brilliant. Never heard such a voice like you. Amazing,” kata Reuben sambil tersenyum. Manis sekali.
Aku membalas senyum Reuben. “You too. Kamu keren banget main gitar, suara kamu juga kece tau hahaha lol….” kataku. “Rasanya beda banget liat kamu di Lab sama disini, Reu.”
“Me too. Tapi dimana aja, kamu tetap brilliant,” kata Reuben.
More blushing, ladies and gentleman.
Mikha kemudian datangin aku dan berdiri tepat di depanku. “So, wanna high five with me, Mona Louissa?”
Mikha lagi-lagi nyebut nama lengkapku………….. Ow God.
“Yes, Mr. Brahmantyo.”
Aku kemudian ber high five ria sama Mikha, kemudian ketawa bareng-bareng.
Mikha kemudian mendekatkan kepalanya dan berbisik lembut, “Two is better than one, anyway…”
Kemudian ia tersenyum, dan mengacak-acak rambutku, lalu main gitarnya lagi bareng Mada.
Ini jantung kasian banget dari tadi kerjanya dua kali lebih keras daripada biasanya. Mikha bikin aku dag-dig-dug gak karuan.
Dan tadi dia bilang, ‘two is better than one’. Mik, maksud kamu apa?
And suddenly Jeremy comes to me, and he says, “Hey, Mon. Suara kamu keren. And anyway, Mik always looks at you!” Jeremy ketawa jail.
“Jeremy, kan duet, jadi harus tatap-tatapan, kan?” tanyaku polos.
Kudengar tawa Mada. “Udahlah, J. Mona masih malu-malu tuh kalo disuruh liat Mikha, harus sering-sering liat-liatan makanya, hahahahaha….”
Mada selalu bikin ketawa, deh. Semua langsung ketawa, including me.
Mikha ketawa, dan lagi-lagi dia ngeliatin aku.
Okay, calm down.
“Good job, everyone!” seru Reuben, berdiri di tengah-tengah ruangan. Kemudian ia menatapku dan tersenyum.
“Besok kita latihan lagi, ya!” kata Mikha, ketawa bareng Mada, Jeremy, dan Reuben.
Dan ini pertama kalinya aku ngeliat Mikha, dan rasanya itu nervous banget.
Dan kenapa tiba-tiba senyumnya jadi manis banget?
Dan kenapa suaranya gak mau hilang dari otak aku?
Dan kenapa… jadi pengen ketemu Mikha terus tiap hari?
OH MY GOD………
Do I fall in love with him?
 ***
Di ruang musik, jam 5 sore, habis hujan
“Okay, enough for today. You guys are rawk!” kata Jeremy sambil memetik bassnya, kemudian tertawa.
Kemudian Reuben, Mada dan Jeremy menyimpuni peralatan mereka. Hanya Mikha yang masih duduk di bangku dan terdiam, memegang gitarnya.
Reuben sudah siap dengan gitarnya. “Mik, ayo pulang.”
Mikha mendongak. “Gi, duluan aja, deh. Aku masih ada urusan bentar.”
Reuben menatap Mikha sejenak, kemudian mengangguk dan pergi ke luar ruangan bersama Jeremy dan Mada.
Mikha meletakkan gitarnya, kemudian berjalan ke piano dan duduk. Aku cuma bisa diam ngeliatin Mikha dari ujung ruangan.
Hmmm, sebenarnya aku udah mau pulang. Tapi Mikha masih disini dan rasanya gak sopan banget kalau aku pulang duluan. Mik, what are you doing, sih?
Aku kemudian asik baca novel yang baru aku beli, sampai akhirnya Mikha manggil, “Mona?” panggilnya lembut… banget.
Aku mendongak.”Iya, Mik?”
“Sini, deh…” kata Mikha sambil menepuk bangku yang kosong di sebelahnya.
Aku menaruh novelku kemudian duduk di sebelah Mikha, menghadap piano.
Daan kebiasanku kalau udah duduk didepan piano: langsung mencet tuts-tutsnya. Well, this is just so good.
Mikha menatapku, “Sejak kapan kamu suka main piano?”
“Hmm… sejak kecil. Umur 5 tahun. Daddy told me about this,” kataku sambil memainkan nada dasar. “Dan dari umur segitu aku belajar terus piano, sampe sekarang. Dan rasanya piano bener-bener gak bisa lepas dari hidup aku.”
Mikha mengangguk dan tersenyum. And now it’s my turn to ask him. “Kalau kamu? Sejak kapan main gitar? Jago banget loh, hahaha…”
Mikha tertawa. Dan ngeliat ketawanya Mikha dari dekat gini tuh rasanya….. Adem. “Aku udah dari kecil juga belajar gitar. Otodidak sih, belajar sendiri…”
“Really? Wow, you’re so great, Mik!” kataku, takjub.
“Thank you… Aku juga sering latihan ke studio bareng Reuben, Jeremy, sama Mada. Kadang kita cover lagu-lagu juga, kok.”
“Well, I should hear it as soon as possible haha…” kataku.
Mikha ketawa. Lagi. “Oh yeah anyway… Aku mau mainin instrument buat kamu,” kata Mikha sambil menatapku lekat-lekat. Okay Mona, keep your heartbeat. “Hope you like it…”
Mikha menarik nafas, kemudian jari-jarinya yang putih itu mulai memencet tuts-tuts piano.
(nowplaying: Yiruma - Kiss The Rain. ada yang tau instrument ini gak? keren banget loh, kesukannya mimin hihi :3)
Aku terkesiap. OHMYGOD. This is my fav instrument EVER! Kok Mikha bisa tau?
Dan rasanya dimainin instrument ini secara langsung sama Mikha, habis hujan, dan cuma berdua. I think I’m about to fly so high. Mikha. Bikin. Melting.
Denting-denting lembut piano memenuhi ruang musik sore ini. Mikha is playing piano now!
` Aku menatap Mikha, dan sebisa mungkin berusaha gak melting. Tapi…
Matanya? Bersinar lembut dan bikin melting.
Senyumnya? I think I need more oxygen. Senyumnya tulus dan manis banget.
Bisa banyangin gak sih? Bisa berduaan bareng sama bintang sekolah yang well ganteng, dan dimainin instrument kesukaan kamu pake piano? Suasananya juga mendukung banget pula: habis hujan dan sunset.
This is just so perfect.
Mikha selesai memainkan nada terakhir dengan manis. Ia kemudian menoleh dan tersenyum. Namun senyumnya lenyap begitu saja begitu melihatku. “Mona, why are you cyring?”
WHAT? Am I crying?
Aku langsung memegang pipiku dan oh no… Pipiku basah. Aku segera menghapus air mataku. “Gak apa, Mik. I’m just touched… Itu instrument favorit aku sepanjang masa, ahahaha…”
Tatapan Mikha berubah jadi cemas. Ia kemudian mengelap air mataku dengan tangannya. OH MY GOD.
“Don’t cry, Mona. I can’t see you like this…” kata Mikha lirih. Nadanya cemas. “I’m sorry.”
Aku menggeleng kuat-kuat. “Gak, Mikha. You don’t have to say sorry. Aku cuma gak percaya, cowok sebaik kamu, mau mainin instrument itu buat aku. Dan keren banget.”
Mikha benar-benar menghapus habis air mataku dari pipi. Kemudian ia tersenyum, “Well, thanks, Mona.”
Aku mengangguk, masih bingung harus bilang apa. Mikha, you took my breathe away.
Hening.
Kemudian aku menatap Mikha, and he looks at me too.
30 detik penuh ditatap Mikha sambil senyum. I think I’m going to fly.
Mikha kemudian memencet tuts-tuts piano lagi, sambil tersenyum tentunya. “Never felt like this before. And this is just so great…”
Yeah, Mik. Me too.
And… Oh My God.
I think I’m in love with you, Mikha Angelo Brahmantyo.
***
Kejadian kemaren sore di ruang musik sama Mikha, bener-bener bikin aku gak bisa tidur semalaman.
That was the first time Mikha wiped my tears away.
And oh yeah, I’m officialy fall in love with him. Yup, rasanya aneh banget baru suka sama Mikha sekarang. Kemana aja aku dari dulu?
Dan pagi ini rasanya aku udah gak sabar buat ketemu sama Mikha. I wanna see his smile, his laugh, hear his voice, everything about him!
Tapi, gara-gara gak bisa tidur tadi malam, aku jadi overslept daan kesiangan berangkat ke sekolahnya.
And well, finally. Akhirnya nyampe juga di sekolah. Aku melirik lewat jendela mobil dan sekolah udah lumayan rame. Aku segera turun dari mobil.
The sun is shining so brightly today. Have a sunny day, Mona Louissa!
Aku berjalan di lorong dengan perasaan bahagia. Okay, ini jarang banget kejadian. This is just because of him, Mikha. Hahahahaha. The power of fall in love.
Aku melewati lorong sambil bersenandung kecil. But suddenly….......
Ada yang nutupin mata aku dari belakang. Who is that?!
Aku pun langsung panik karena aku gak suka sama kegelapan. Yup, aku phobia sama kegelapan.
Aku memegang tangan yang menutupi mataku dan berusaha melepaskannya. Namun nihil. Tangannya kuat sekali menutupi mataku.
Kemudian aku mendengar jeritan cewek-cewek, “AWWW, SO SWEET! AAA WANT IT TOO!”
Aku masih memegang tangan itu kemudian berpikir. So sweet? Well, I think I know…
Kemudian ada yang berbisik di telingaku. “Good morning Mona, have a nice day!”
Kemudian tangan itu terlepas dari mataku. Fiuh, akhirnya bisa liat cahaya lagi! Aku segera menoleh, kepo siapa yang iseng ngerjain aku. Sebenarnya dari suaranya sih udah tau dan ternyata….
Mikha dengan gitarnya, lagi asyik ketawa. Moodbooster banget gak sih pagi-pagi udah liat Mikha ketawa?
“Mikhaaa!! Iseng banget, sih!” rutukku kesal.
Mikha masih ketawa. “Hey, Mona. Tumben datang gak pagi-pagi…”
Aku pura-pura ngambek. Aku berjalan dan mengabaikan Mikha.
Sebenarnya… ini nyiksa, sih. Mana bisa ngambek sama cowok sekece Mikha? But, let me try it once, HAHAHA.
Mikha kemudian mengejarku. “Hey, Mon! Don’t get mad, I’m just joking…” kata Mikha, berusaha mensejajarkan langkahnya denganku.
“But that wasn’t funny, Mik.”
Mikha kemudian berdiri di depanku. Aku berhenti berjalan. “Well, I’m sorry, Mona,” kata Mikha lembut dan tulus. Matanya bersinar saat menatapku.
Aduh skakmat ini namanya. Serangan tanpa persiapan. Mik, your eyes, duh. Mau gak mau harus stop pura-pura ngambek.
“Well, nevermind. But fyi, aku takut gelap, Mik. Tadi itu lumayan nakutin,” kataku sambil tersenyum lemah.
“Kamu takut gelap? Maaf, ya Mona…” kata Mikha, merasa bersalah banget.
“Hehe, gak apa, Mik. Aku tadi cuma sok ngambek aja, hahaha!”
Mikha kemudian menatapku sambil cemberut. Ia lalu mengacak-acak rambutku dengan gemas. “Dasar ya, Monaaa!”
Aku dan Mikha tertawa. Kemudian berjalan di koridor sambil mengobrol seru. Dan untuk pagi ini, aku gak perduli sama yang natap aku dengan tatapan envy or something like that. I’m with my crush now.
Mikha mengantarku sampai ke kelas Sejarah. Dan aku baru ingat kalau pagi ini aku gak satu kelas bareng Mikha.
“Well, sayang banget kita gak sekelas pagi ini,” kata Mikha sedih.
Aku tertawa. “Gak apa kali, Mik.”
“Coba aja aku bisa ganti kelas. But, I have to practice this morning.”
Aku tersenyum. “Semangat latihannya, Mr. Brahmantyo!”
“Haha, don’t miss me ya, Ms. Louissa! Haha lol,” kata Mikha tertawa sambil mengacak-acak rambutku. Hobinya Mikha kali nih ya………
Mikha kemudian berlalu dari hadapanku sambil membawa gitarnya.
“Yes, Mik. I miss you already,” bisikku pelan begitu Mikha sudah tidak di pandangan lagi.
 ***
History Class
Aku duduk di bangku favoritku-seperti biasa nomor dua dari depan. Dan Jane belum datang, well great.
Aku lagi asyik nyoret-nyoret di buku, sampai akhirnya telingaku yang kelewat peka ini dengar namaku disebut-sebut.
Aku menoleh perlahan, dan OMG. Sejak kapan aku sekelas sama cewek yang tempo hari gosipin aku sama Mikha?
Aku kemudian segera menatap buku tulisku. Kupingku panas.
Aku memang gak dekat sama teman-teman yang ada di History Class, karena aku cuma ambil kelas ini sekali dalam seminggu. Dan aku baru ingat kalau cewek-cewek itu juga ngambil kelas sejarah di hari yang sama kayak aku.
“… Heran, deh. Mendadak banget si Mona deket sama Mikha.”
“I don’t know. Mungkin mereka punya project kali?”
“Masa iya, sih? Mona bakalan gabung di team bola sekolah kita? Please, deh. Dia nendang bola aja gak bisa!”
“Aku taunya dia deket sama Reuben. Jangan-jangan dia minta dikenalin lagi ke Mikha!”
“Emang sih dia pintar. But, is she beautiful?”
“Definetely NOT, hahaha!”
Okay, enough. Hey girls, I’m sitting here and I can hear what you say clearly. Any anyway, aku bisa nendang bola kok!
Kupingku rasanya panas gara-gara dengerin ocehan mereka yang gak bener sama sekali itu. Oh my God, I need Jane!
Dan tak lama kemudian, Jane datang dan segera menaruh tasnya di sebelahku. “Morning, Mona…” katanya sambil tersenyum. “Kenapa muka kamu kusut gitu? Udah kusut gak udah ditambahin kusut, deh. Hahahaha…”
“Jane, seriously. Itu cewek yang duduk di pojokan kanan, berdua, namanya siapa, ya?” tanyaku pelan.
Jane menoleh sebentar. “Oh mereka. Camille sama Clara…” kata Jane. (maaf yaaa kalo ada yang namanya sama hehe, just fanfic okay ;) “Mereka sepupuan gitu. Dan fans beratnya Reuben sama Mikha. Emang kenapa?”
“Oh, gak apa. Just ask,” kataku pelan. Jane hanya mengangguk. Untunglah dia lagi gak kepo.
Bel masukan berbunyi, dan guru sejarah, Mr. Blackwood masuk sambil membawa buku yang tebalnya saingan sama makalah 100 murid.
Selama pelajaran, Mr. Blackwood mengharuskan muridnya buat nyatat dan dengerin apa yang dia sampaikan.
Biasanya, aku selalu rajin nyatat apa yang diomongin dan ditulis sama Mr. Blackwood. But today… I don’t feel like that.
Perlahan, aku membuka buku catatan pribadiku. Isinya sih coretan-coretan gak penting. Kemudian aku menulis lirik lagu.
(nowplaying: Colbie Cailat - Falling For You, ini lagunya pas banget buat Mona hihi :3)
I don’t know but
I think I maybe
Fallin for you
Dropping so quickly
Maybe I should keep this to myself
Waiting till I know you better
I am trying not to tell you
But I want to
I’m scared of what you’ll say
So I’m hiding what I’m feeling
But I’m tired of
Holding this inside my head

I’ve been spending all my time just thinking about ya
I don’t know what to do, I think I’m falling for you
I’ve been waiting my all my life
And now I found ya
I don’t know what to do
I think I’m fallin for you
I’m fallin for you

Aku senyum-senyum sendiri sambil menulis lirik itu. Dan fyi ajasih, dari tadi malam aku dengerin lagu itu terus sambil ngingat moment bareng Mikha. Rasanya pas banget, LOL.
Dan tanpa kusadari, kelas Sejarah tinggal 5 menit lagi. Oh my God, can’t wait to see Mikha!
Dan sisa menit pelajaran itu kugunakan untuk memperhatikan Mr. Blackwood yang masih setia menjelaskan, walaupun otakku udah melayang kemana-mana. Gak fokus. Oh, Mr. Blackwood maafkan muridmu yang lagi fall in love ini…
Jane kemudian menatap buku catatanku dan mengambilnya. Aku meliriknya cemas. Jane……………….
“Mona, are you falling in love with someone?” bisik Jane sambil menunjuk lirik yang kutulis.
“It’s just a lyric, Jane.” Hope she believes it………..
Jane menggeleng. “I know you, Mona. Aku kenal kamu bukan sedetik yang lalu. Tell me, please…” kata Jane, memohon. Mukanya udah kepo berat.
Jane bukannya nge fans sama Mikha, ya? Kalau dia tau aku suka sama Mikha gimana……
“Okay, aku bakal cerita. But please, forgive me after you hear my story,” kataku pelan.
Jane mengangguk. “Just tell me.”
“Ini gara-gara aku udah keseringan bareng dan melting terus. It feels like he took my breathe away. Never felt like this before, Jane.”
Wajah Jane makin kepo.
Baru saja aku hendak melanjutkan ceritaku, bel istirahat berbunyi. Semua murid langsung bersorak.
Aku menatap Mr. Blackwood yang membereskan buku-bukunya, kemudian berjalan keluar kelas.
Jane memegang bahuku dan menggoncangnya. “Monaaaa, aku kepo banget. Please tell me!”
“Maaf sebelumnya, Jane. Aku tau aku salah, but I think…” kataku pelan sekali. Aku menarik nafas dalam-dalam. “I think I fall in love with Mikha.”
Jane diam. Aku menutup mataku dengan kedua tangan, gak sanggup ngeliat reaksi Jane gimana. Aku ngerasa bersalah banget sebagai sahabat.
“YES! Ternyata usahaku selama ini gak sia-sia, horeeee!”
Aku membuka mataku dan melihat Jane nampak sangat bahagia. Ini Jane kenapa……
“Jane, are you okay?” tanyaku bingung.
Jane memegang pipiku sambil tertawa. “Mona, finally! You fall in love with him, don’t you? Selama ini aku nge fans sama Mikha, berusaha kamu bisa fall in love sama dia. And today, finally…”
Aku mengerutkan keningku. “Jane. Kamu gak marah?”
“Ya enggaklah, Mona sweetheart. Aku cuma nge fans biasa sama Mikha, iyasih emang fangirling gitu. Tapi beda sama apa yang kamu rasain. Aku cuma nge fans, kalo kamu… Fall in love kan ya, hihihi…”
Aku memukul bahu Jane pelan sambil tertawa lega. “Well, glad to hear that. This is a ascret between us, okay?”
Jane mengangguk ceria. “Kalo udah jadian, jangan lupa traktiran ya, hahaha!”
Aku cuma bisa ketawa. Jane memang sahabat yang paling kece!
Saat aku lagi asyik bercanda bareng Jane, tiba-tiba Jane menunjuk ke luar kelas dengan dagunya. “Hey, Mon. Tuh ada Mikha di luar kelas.”
Aku segera menoleh dan melihat Mikha memakain baju bolanya, tersenyum manis kepadaku sambil membawa sebotol air mineral. Wajahnya tampak segar habis latihan bola.
Aku tersenyum, kemudian mengambil tasku. “Jane, duluan ya, bye!”
“Jangan salting ya, Mon! Bye!” seru Jane nyaring.
Aku tertawa kemudian berjalan keluar kelas, menemui Mikha dengan senyum terbaikku.
***

Di ruang Olimpiade
Semua murid yang ada disini sibuk dengan berkas yang mereka pegang. Termasuk aku dan Reuben.
Yap, Olimpiade Sains tinggal seminggu lagi. Untungnya aku udah nemuin bahan-bahan buat Olimpiade, dan tinggal belajar bareng sama Reuben tiap hari. Latihan makin intensif, karena lomba sebentar lagi.
Aku dan Reuben duduk di dekat rak buku. Reuben asyik membaca essay yang baru kubikin tadi.
“Well, Reu. Rasanya agak aneh sekarang liat kamu disini. Kayaknya lebih cocok liat kamu bareng gitar, deh. Hehehe…” kataku pelan sambil tertawa.
Reuben mendongak dan ikut tertawa. “Haha, me too. Rasanya liat kamu nyanyi kemaren, dan sekarang liat kamu bikin essay. Beda banget…”
Kami berdua tertawa pelan. Reuben kemudian menatapku, “Oh iya, can I ask you something?”
Aku mengangguk.
“Menurut kamu, Mikha anaknya gimana? Seru gak?” tanya Reuben.
Denger nama Mikha disebut langsung aja aku nervous gak karuan. “Nngg… Mikha baik. Jago main musik. Lucu banget lagi, haha…”
“Yakin itu aja?”
Aku mengangguk lambat-lambat. “Emang kenapa, Reu?”
Reuben menggeleng. “Kayaknya, kamu sama Mikha akhir-akhir ini dekat, ya? Hmm, jangan-jangan kamu udah mulai suka lagi sama adek aku, hahaha!”
Okay. Okay. Calm down Mona. Tebakan Reuben bener dan aku mulai salting. Okay. Stay cool.
“Haha, ada-ada aja, Reu…”
“But seriously. Mik kayaknya belum pernah suka sama cewek. Tapi siapapun yang bakal dia sukain nanti, cewek itu beruntung banget. Mikha is like a prince, baik dan tulus banget,” kata Reuben sambil senyum.
“Promosiin Mikha, nih?” kataku sambil tertawa.
Reuben ketawa. Dan adek-kakak ini kalo ketawa emang ganteng banget ya…… Rrrrrr
“Haha. Kalo diliat-liat, sih, Mikha perhatian banget sama kamu. Just saying sih, Mon…” kata Reuben. “Dan kalau aku liat, cara dia natap kamu aja udah beda banget.”
Apa kata Reuben tadi? Perhatian sama aku? Rrrr blushing. Blushing.
Reuben kembali membaca essayku, sementara aku berpikir keras.
Bener sih, kata Reuben. Akhir-akhir ini aku kemana-mana bareng Mikha. Mulai dari sebangku terus di kelas, istirahat bareng Mikha, kadang-kadang juga sama Reuben, Jeremy, dan Mada, latihan bareng.
Kalau dibandingin sama yang dulu-dulu, jelas beda banget.
Aku takut berharap berlebihan. Bisa aja, kan, Mikha cuma anggap aku temannya?
Ya, bisa jadi.
Reuben menepuk bahuku, menyadarkanku dari lamunan sesaat. “Hey, Mon! Kamu mikir apa, sih? Udah, jangan mikirin Mikha mulu, hahaha lol.” Reuben ketawa.
Reubeeennn!

***

Aku berjalan ke lokerku, hendak mengambil novel yang sengaja kutaruh disana.
Sekolah masih ramai, padahal bel pulangan sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Dan hari ini aku latihan lagi bareng Mikha, Reuben, Jeremy, dan Mada di ruang musik! Wow, feel so excited!
Sesampainya di depan loker, aku langsung memasukkan kombinasi angka dan lokerku terbuka. Begitu aku membuka loker, sebuah buket bunga memenuhi isi loker.
Aku terkejut dan langsung menutup lokerku. Ada buket bunga! OMG!
Aku menarik nafas dalam-dalam dan kembali membuka lokerku perlahan-lahan/ Dan tetap, ada sebuket mawar merah di sana.
Aku mengambilnya perlahan kemudian mencium mawar-mawar itu. Harum banget. Seketika pipiku langsung bersemu merah.
Kemudian ada yang terjatuh dari buket itu. Aku menunduk dan melihat sepucuk surat. Aku memungutnya kemudian membacanya.
Halo, Mona.
Hope you have a nice day today. And these roses are special for you. But you are more beautiful than these roses. I cant do anything *hands up*
Well, don’t forget to have your lunch. And all I do this whole day is thinking, why are you so beautiful, Mona Louissa?
Love,
Your admirer :)
Aku nyaris serangan jantung begitu membaca surat itu. This is the first time I get this. Roses and sweet letters.
Aku nyaris nangis saking tersentuhnya. Siapapun yang ngirim ini, pasti dia tipe cowok yang suka bikin cewek melting. Yup, surely.
Aku melupakan novelku, kemudian membawa buket bunga itu ke ruang musik. Mana mungkin kan mawar sebagus ini aku simpan di loker?
Sesampainya di ruang musik, aku melihat Mada sedang sibuk dengan cajonnya, Jeremy asyik mengobrol dengan Mikha, dan Reuben dengan gitarnya.
“Halo guys, maaf telat,” kataku, berusaha menyembunyikan buket mawar, hendak menyimpannya di tas.
Namun, terlambat. Mada already saw the bouqet.
“Hey, Mon. Dapat mawar dari siapa, nih? Ecieeee….” kata Mada sambil ketawa.
Mada mendatangiku dan langsung mengambil buket itu. Aku cuma bisa….. well pasrah.
Mikha, Reuben, dan Jeremy langsung melirik buket mawar yang dipegang sama Mada. “Well, mawarnya bagus… Jadi, udah punya boyfriend nih sekarang?”
Aku cepat-cepat menggeleng. “Gak. Aku gak tau itu dari siapa, tadi ada di loker. Aku nyaris jantungan tau gak, sih.”
“Ecieee Mona, jadi sekarang udah punya pengagum rahasia, nih?” kata Mikha sambil tertawa.
Mada dan Jeremy ikut tertawa. Namun Reuben tampak gelisah. “Guys, latihan yuk.”
Aku buru-buru mengangguk. “Yuk latihan. Itu bunga gak usah dipikirin.”
Mada meletakkan bunga itu disamping tasku, kemudian ia sibuk dengan cajonnya. Mikha dengan gitar kesayangannya, Reuben dengan gitarnya, dan Jeremy dengan bassnya.
Lagu buat latihan hari ini adalah Free Fallin. (nowplaying: Free Fallin - The Overtunes) Lagunya asik dan lagi-lagi suara Mikha bikin melting. Dan suaraku hari ini gak malu-maluin. Well, syukurlah.
Selesai latihan lagu pertama, biasanya kami break dulu. Dan kali ini aku asik ngobrol bareng Mada dan Jeremy. Mada itu bener-bener jagonya bikin ketawa, deh! Walaupun dari luar keliatannya cool banget, tapi sebenarnya dia baik dan lucu hihihi :3
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruang musik. Karena aku yang dekat pintu, maka aku pun segera berlari ke depan pintu dan melihat ada cowok pake baju seragam (hmm we could say mas mas delivery) bawa sepaket makanan. “Dengan Mbak Mona, benar?”
Aku mengangguk, shock. “Kenapa ya, Mas?”
“Ini ada kiriman makanan. Ini ada suratnya, terima kasih…” Mas itu kemudian pergi setelah sebelumnya menyerahkan paket makanan yang terbungkus rapi.
Mada berdiri di belakangku, kemudian tertawa. “Your secret admirer is really care with you, Mona!”
Aku masuk ke ruang musik, masih setengah shock. Okay, this is so unbelievable.
Aku menaruh makanan itu di meja, kemudian membaca suratnya.
Dear Mona…
Aku tau kamu belum makan siang. Heres your lunch today, hope you like colonel yakiniku and spaghetti :)
Well, what should I say? You’re beautiful? I think you bored to hear it, so hmm… Thanks for being my moodbooster all the times? ;)
Love,
Your Admirer :)
Lagi dan lagi aku cuma bisa blushing.
Aku berdiri memegang surat itu, masih setengah tak percaya. Dua kali dapat surat romantis gini di hari yang sama, siapa yang gak terbang, sih?
Aku kemudian duduk di kursi di sebelah Reuben. “Reu, this is weird. I got this twice in a day,” kataku sambil menunjukkan kartu.
Reuben menatap surat yang kupegang. “Maybe he’s so in love with you, Mon. And Mada’s right, he’s really care with you!”
Pipiku memanas. Bahkan Reuben pun bilang kalau cowok ini terlalu perhatian.
Kulirik Mikha sekilas. Wajahnya nampak santai-santai saja. Malahan asyik ngolokin aku dan semua barang-barang ini.
“Nih udah aku siapin, Mon. Aku juga mau perhatian kayak secret admirer kamu,” kata Mada sambil mengacak-acak rambutku geli. Ia membukakan makanan tadi.
Aku cuma bisa cemberut. “Thanks, Mad.”
Sambil aku memakan makanan ini, aku memperhatikan Mikha, Reuben, Mada, dan Jeremy satu persatu.
Bisa aja kan mereka jadi secret admirer? Okay, ini aneh tapi, well hmm let’s see…
Jeremy asyik bermain dengan bassnya, dan dengan wajah imut-imutnya itu. Masa iya dia yang ngirimin bunga? Dan diliat dari reaksinya tadi, dia semangat banget ngolokin aku.
It’s not Jeremy, then. I believe it.
Mada. Selama ini dia yang paling sering isengin aku, but I know he’s just joking around. Mada itu lebih kayak kakak laki-laki yang gak aku punya. So, gak mungkin Mada.
Reuben.
Beberapa kali aku liat, wajahnya gelisah. I don’t know why. Mungkin aja dia gugup sama Olimpiade yang tinggal seminggu lagi-he told me. Tapi… rasanya ada yang janggal sama Reuben. Tatapannya waktu aku bawa buket bunga dan megang kartu itu susah buat dijelasin. Antara suka dan gak suka…. maybe?
Mikha.
Mikha lagi asyik main gitar. Hal yang selalu dia lakuin kalau lagi break. Gitar gak pernah lepas dari tangannya.
Dan dari aku masuk ke ruang musik hari ini sambil bawa buket bunga sampai mas mas delivery tadi, wajahnya gak berubah. Sama sekali. Tetap ngolokin aku bareng Mad and J, dan tetap stay cool kayak biasanya.
Aku emang gak mau ngambil keputusan buru-buru, tapi… Aku bakal kecewa kalau secret admirer itu bukan Mikha.
Tapi, aku sama Mikha kan cuma teman. Bisa aja perhatian yang dia kasih selama ini cuma karena kita bakalan tampil bareng di event sekolah nanti, kan?
Aku menghela nafas.
Pasti gak bakalan seribet ini jadinya kalau aku bisa nahan perasaan dari awal.
 ***
Morning, Mona!
Have a nice day, sweety.
I have no idea why are you so beautiful everyday, haha. I bet every girl on this planet will jealous with you.
Have fun in Music Class today, Mona.
Love,
Your admirer :)
Aku menghela nafas.
Kulipat surat itu perlahan, kemudian ku selipkan di novel. Lalu aku mengambil coklat yang ada di loker, kemudian mengunci lokerku.
Olimpiade Sains tinggal 3 hari lagi. Aku dan Reuben sudah menyiapkan semuanya dengan baik, tapi entah mengapa aku masih gugup. Reuben untungnya sudah tidak terlalu gugup lagi, jadi dia sering sekali menenangkanku.
Dan rasa gugupku ini sepertinya membuat si pengirim surat-coklat-bunga-dan-lain-lain semakin gencar mengirimiku.
Sudah tak terhitung berapa pucuk surat yang ia selipkan di lokerku dan di laci meja. Okay, I know it’s sweet but, I’m so curious. Who is behind this?
Belum lagi bunga dan coklat yang tiba-tiba ada di tas, di loker, di laci meja, dititipin ke orang. Dan surprise-surprise lainnya.
Honestly, I feel so happy when I get those things, but… Who? Who’s behind this?
Aku kemudian berjalan ke kelas sambil membuka bungkus coklat itu. Lumayan kan dapat coklat, gratisan lagi hihi…
Kelas Musik ternyata sudah lumayan ramai. Padahal aku datang pagi hari ini, tapi kenapa rame banget? Well, not so important.
Aku menaruh tasku dan duduk lalu menghabiskan coklat yang diberi secret admirer. Sungguh, siapapun yang mengirimi ini, orangnya pasti sangat romantis. Dan baik. Banget.
Kelas sudah ramai. Semua bangku sudah terisi, kecuali bangku yang ada di sebelahku. Jane sudah datang, tapi dia duduk di belakangku. Hal yang sering ia lakukan sekarang.
Jane mendatangiku, “Hey, Mon! Where is your prince?” tanya Jane.
Aku cemberut. “Don’t say it loudly. Mungkin dia kesiangan? It’s normal for him, right…”
Jane menggeleng. “Mikha kan akhir-akhir ini sering datang pagi. Kenapa hari ini gak? Padahal tadi aku liat Reuben sama Mada di taman sekolah.”
Aku terkejut. Reuben sama Mada udah di sekolah, tapi Mikha belum? Aku melirik jam tanganku. Udah jam setengah delapan. Sebentar lagi bel masukan berbunyi, but he’s not coming yet. Okay, don’t be panic.
“Kalo Mada sama Reuben udah di sekolah, harusnya dia juga….” kataku gelisah sambil menggigit ujung bibirku.
Jane menepuk bahuku perlahan. “Udahlah, Mon. Keep calm aja. Paling ntar lagi dia datang…”
“There must be something happen,” kataku pelan.
Jane menggeleng. “Duuh jangan pesimis gitu deh. Susah ya kalau udah suka sama orang terus gak ketemu, bawaannya panik sama kangen! Hahahaha….”
Okay, Jane lebay tapi bener.
Bel berbunyi, dan bangku di sebelahku masih kosong. Semua murid langsung duduk di bangku mereka masing-masing, namun masih sibuk berceloteh satu sama lain.
Ms. Kath sudah berada di ambang pintu, berjalan masuk sambil membawa filenya dan menaruh barang-barang itu di meja.
Detak jantungku sudah gak karuan, but suddenly…
Mikha berdiri di depan kelas. Ms. Kath menatapnya, kemudian nampak berbicara sebentar. Lalu akhirnya Mikha berjalan ke bangku di sebelahku dan duduk.
Penampilannya hari ini bener-bener beda. Rambutnya yang biasanya tertata rapi, hari ini nampak acak-acakan. Dan aku gak bisa liat wajahnya karena ia sedang menunduk.
Well, morning, Mik. What’s wrong with you? Aku p-a-n-i-k.
Mikha menengadah, kemudian menatapku. And oh my God. Handsome as always but…
“Mik, mata kamu kenapa?” tanyaku langsung. Shock.
Mikha menyipitkan matanya. “What’s wrong with my eyes?” Suara Mikha parau.
OH MY GOD, is he sick?
Tanpa pikir panjang, jari-jariku langsung menyusuri lingkaran hitam yang ada di bawah mata Mikha. And this is the first time I touch his face.
Mikha menutup matanya sebentar. Kemudian tangannya memegang tanganku yang berada di wajahnya (oke ini mimin bikinnya sambil melting hahaha flol). And he’s smiling.
“Mona, don’t worry. I’m fine,” kata Mikha, kemudian membuka matanya dan menatapku lekat-lekat dengan matanya yang jernih dan menghanyutkan itu. Tangannya masih memegang tanganku. “Aku cuma begadang tadi malam.”
Aku membalas tatapannya, dan entah dapat keberanian dari mana, pagi ini aku berani buat natap Mikha balik. Dan oh my God. Rasanya tuh dag dig dug gak karuan. Melting.
Tapi aku gak suka dengan lingkaran hitam yang ada di bawah matanya itu. Bikin Mikha jadi kelihatan capek. Dan aku gak suka liat dia capek atau sakit atau terluka or something like that. I just wanna see him happy everyday.
Dengan berat hati, aku melepaskan tanganku dari pegangan tangan Mikha. Langsung saja rasanya tidak damai dan bahagia lagi.
Mikha kemudian mengacak-acak rambutku-his hobby. Mikha berbisik, “You don’t have to worry, Mona. Anyway, good morning. Your hair look's so pretty.”
Aku menatap Mikha. Senyum terkembang di wajahnya.
Dan demi apapun senyum Mikha itu manisnya gak ada yang ngalahin.
AAARRRGGHHHHH MIK I’M MELTING!
I’m blushing.
Aku menunduk sambil tersenyum malu. Kemudian berpura-pura mendengarkan Ms. Kath di depan kelas.
Sampai akhirnya tangan Mikha menyenggol tanganku. Aku meliriknya bingung, kemudian ia menunjuk ke meja dengan dagunya.
Kulihat kertas bertuliskan:
Mr. Handsome (me) and Ms. Beautiful (you) are listening to Ms. Kath’s lesson right now. Well, Mr. Handsome will not boring because of Ms. Beautiful :)
Aku tertawa. This is so sweet! Mikha selalu tau caranya bikin aku melting, dag dig dug gak karuan, bahagia, panik, aaahh semuanya. It feels so right.
Aku mengambil pulpenku dan membalas kata-kata Mikha:
And Ms. Beautiful is not worried anymore because of Mr. Handsome :)
Mikha terdiam sebentar, kemudian menatapku dan tersenyum lembut. “I’m fine, Mona. Aku begadang tadi malam nonton Newcastle.”
Aku mengangguk, berusaha menatap mata Mikha tanpa salting. Tapi aku benci lingkaran hitam dibawah matanya.
Seakan membaca pikiranku, Mikha menutupi lingkaran hitam di bawah mata dengan jarinya. “How? Feel better, Ms. Beautiful?”
Aku tertawa pelan-pelan. Kalau gak Ms. Kath bisa nyuruh aku sama Mikha keluar kelas. “Of course, Mr. Handsome!”
Mikha ikut tertawa, kemudian kembali menulis di atas kertas tadi:
And now Mr. Handsome and Ms. Beautiful are laughing together. No worries at all. What a perfect moment in the morning :)
Aku cuma bisa diam, tersenyum tersipu sambil menatap Mikha.
Mikha membalas senyumku manis. Banget.
Fall in love with him… I will never regret this feeling.
 ***
H-1 Olimpiade Sains, ruang musik, 5 pm.
Aku dan Reuben duduk di sudut ruangan, asyik berdiskusi tentang essay kami berdua. Mengulang-ulang bahan yang telah kami hapal di luar kepala.
Reuben memegang essay tambahan yang baru aja aku buat sejam yang lalu sebelum latihan lagu kedua. Wajahnya tampak serius, but still handsome as usual, hihihi…
Latihan hari ini berjalan lancar seperti biasanya. Dan suaraku akhirnya bisa mengimbangi suara Mikha yang terlalu perfect, walaupun mereka selalu protes kalau suaraku itu juga gak kalah bagus hihi.
Kulirik Reuben, masih sibuk dengan essay. Kemudian aku memutuskan untuk mendatangi Mada, Jeremy dan Mikha yang duduk di tengah ruangan.
“Halo guys…”
“Hi, Mon! Udah selesai belajarnya?” tanya Jeremy.
“Not yet. Reu lagi baca essay yang aku buat,” kataku.
Jeremy ber’oh’ ria.
Lalu aku melirik Mada yang lagi belajar main gitar sama Mikha. Okay, ini agak aneh. Biasanya aku liat Mada dengan drum atau cajonnya, dan sekarang dia megang gitar. Well, mari kita ganggu Mada sebentar hihihihi…
“Mada belajar gitar ecieeee….” olokku sambil meleletkan lidah, just like a kid.
Mada menoleh kemudian tanpa banyak omong mengacak-acak rambutku dengan satu tangan. Mada knows me better now. Dia tau kalau kemampuannya buat ngacak-ngacak rambutku itu udah expert.
And now my hair… Oh my God. Lebih dari berantakan.
Aku cemberut. “Mada, kamu gitu banget, sih.”
Mada tertawa namun masih fokus dengan gitar dan Mikha. Seems like cant be interrupted. Rrrrr.
Well, kayaknya aku memang harus stay sama Reuben disudut ruangan. They have their own world here.
Baru saja aku hendak beranjak, ada yang memegang pergelangan tanganku. DAG DIG DUG. Siapa nih……………………
Aku menoleh dan melihat Mikha memegang tanganku. “Kenapa, Mik?”
“Stay here, please. Gak capek apa belajar mulu?” tanya Mikha.
Well, he forces me to stay with him. Okay. Haha, this is what I want.
Aku duduk di sebelah Mikha dan memperhatikan gitar yang ia mainkan dengan lihai.
Mikha kemudian mendongak dan menatapku. “Gimana? Udah siap buat lomba besok?”
Aku mengangguk perlahan. Okay, kayaknya Mikha mulai ngajak ngobrol, dan biasanya obrolan aku sama Mikha bakalan panjaaaaanng…….. banget. Love this, honestly hihi.
“Well, hope for the best,” ucapku simple.
Mikha kemudian tersenyum dan memainkan gitarnya kembali.
Hening di ruang musik.
Namun keheningan yang tercipta disini gak terasa aneh. Hening yang indah-I could say. This is just so great. Bisa ngumpul bareng Mada, Reuben, Jeremy, dan Mikha.
Reuben kemudian datang membawa essay dan duduk di sebelahku. “Amazing essay again, Mona. Ini bisa kita pake buat besok.”
“Thanks, Reu. I think its enough for today. We need rest.”
Reuben mengangguk.
Aku kemudian menatap mereka satu persatu. Wajah-wajah yang gak asing lagi di hidupku. Jeremy, Mikha, Reuben, Mada.
“You know guys…” kataku di antara semua keheningan. Jeremy langsung melirikku. “This is just so right. Gathered here everyday, play music, sing along. It feels like I have a new family…”
Reuben dan Jeremy langsung mengeluarkan senyum maut mereka, yang bisa bikin cewek-cewek jerit-jerit.
Mada tertawa kecil, kemudian mencubit pipiku. “Yeah, welcome to our family, Mona. You’re my sister from now. So, I’m your brother.”
Aku menatap Mada, kemudian tersenyum bahagia. Cant believe it, I have a brother now, hahaha.
“Thanks, Mad. It means a lot to me. I never had a brother before, ahaha…”
“Yeah, we’re family now.” Reuben menaruh tangannya di tengah-tengah.
Jeremy kemudian menumpuk tangannya di atas tangan Reuben. Kemudian disusul dengan tangan Mada.
Sisa tanganku dan Mikha yang belum bergabung. Mikha kemudian menggenggam tanganku dan menumpuknya bersamaan di atas tangan-tangan mereka.
Mada berdeham. “We’re not just a band. We are family.”
“YEAH!” Kami bersamaan melempar tangan kami ke atas, kemudian tertawa berbarengan, dan mulai mengobrol.
Tak terasa, 30 menit kemudian kami semua sudah berkemas, we have to go home. Mada dan Jeremy sudah keluar ruangan duluan, setelah sebelumnya mencubit pipiku dan mengacak-acak rambutku dengan gemas. Ada-ada aja Jeremy sama Mada.
Reuben kemudian berdiri di depanku sambil menggandul tasnya. “Well, goodluck for tomorrow. Kita pasti bisa, Mon. See ya tomorrow!”
Reuben mengelus kepalaku pelan, tersenyum, kemudian berjalan ke luar ruangan.
Lagi-lagi sisa Mikha dan aku di ruang itu. Aku memasukkan essayku kedalam tas, sampai akhirnya aku merasakan tanganku di genggam.
Mikha berdiri di depanku. Gitar dan tasnya sudah tergandul di bahunya.
“Thanks for today, Mona. Goodluck buat besok, ya,” kata Mikha.
Iya, Mik. Iya. Tangan kamu gak usah lepas dari tangan aku ya…………………
Aku tersenyum. Padahal dalam hati udah gak karuan rasanya. “Thanks, Mik.”
Mikha tersenyum. “Well, sleep tight for tonite. Haha, aku duluan ya, see ya!”
Mikha kemudian berjalan ke luar. Aku masih berdiri di ruang musik sambil senyum-senyum sendiri.
Kemudian aku memutuskan untuk berjalan keluar ruangan, dan saat aku keluar kelas, aku melihat sebuah memo tertempel di gagang pintu.
Aku melepasnya dan membacanya.
Dear Mona…
To love is something I was afraid to do but there is something different about you. You made me do something I swore not to do. You made me fall in love with you.
Love,
Your admirer :)
P. S: goodluck for tomorrow! I know you can do it, Mona.
P. S. S: you are more than beautiful.
P. S. S. S: well sleep tight for tonite! I know you’re happy today :)

Memo kecil berwarna kuning ini terlihat sudah lama tertempel di pintu. And how can I not realized this?
Aku menghela nafas, kemudian menempelkan memo itu ke novelku.
Hi, secret admirer, whoever you are. Thanks. You just made my day end perfectly.
 
Please wait for the next bab hehehe ;3
Thank you for reading<3