Jumat, 26 Juli 2013

The Overtunes FanFiction (Bab 2)

Bab 2

Di gedung lomba Olimpiade Sains
Aku dan Reuben duduk di depan, berusaha menahan rasa gugup masing-masing.
Today is the day. Olimpiade Sains tingkat nasional. Gedung bercat putih ini ternyata besar. Banget. Bisa nampung 2000 orang, dan orang yang ada disini lumayan banyak.
10 menit lagi lomba dimulai. Aku dan Reuben sudah duduk dari 20 menit yang lalu, memegang kertas essay.
Aku menatap Reuben. “Reu. I’m nervous, really…” kataku gelisah.
Reuben menatapku prihatin. Sebenarnya dia juga sama nervousnya sama aku. But he’s trying to hide it from me.
Reuben menggenggam tanganku dengan kedua tangannya erat-erat. “Mona, believe in yourself. Kita berdua pasti bisa. Jangan takut, you’re not alone right? Anggap aja ini kayak yang biasa kita lakuin di ruang olimpiade.”
HUFT……… Aku menghela nafas.
Kata-kata Reuben lumayan menenangkanku. Aku mengangguk, kemudian membalas senyum manis Reuben dengan lemah. Reuben melepas genggamannya, dan tiba-tiba rasanya gugup lagi. RRRRR.
Aku membuka hapeku dan melihat ada message. Its from Mikha:
Halo, Mona.
Kamu udah sering denger goodluck pasti akhir-akhir ini. Well, I’ll say something different. Aku tunggu kamu besok sama piala yang kamu bawa di atas podium sekolah sama Reuben ya? Ntar habis menang, langsung traktir aku bareng Mad and J!
Reuben itu orangnya nenangin loh. Yes, aku promosi. Hahaha, just kidding Ms. Beautiful.
Well, do your best. Kamu pasti bisa, goodluck! :)

Aku senyum-senyum sendiri menatap layar hape. Ah Mik, I wish you’re here with me right now.
Aku menyimpan hapeku, kemudian membuka tasku dan wait wait…
APAAN NIH?
Mataku membelalak begitu melihat ada kotak kecil berwarna coklat di dalam tasku.
Aku segera mengeluarkannya. Ada memo di atasnya:
Morning, Mona…
Goodluck goodluck goodluck goodluck goodluck!
Believe in yourself, Mona. Kamu pasti bisa. Anggap aja kayak yang kamu lakuin selama latihan ini, don’t be nervous.
And I will be standing right in front of the podium tomorrow, you and Reuben Nathaniel, with the cup.
Well I cant see you in school today. But nevermind, I’ll meet you no matter what. I’ll find the way haha.
I may not get to see you as often as I like, I may not get to hold you in my arms all through the night. But deep in my heart, I truly know, you're the one that I love and I can’t let you go.
Love, and miss also
Your Admirer :)

Aku membuka kotak itu perlahan dan melihat sebuah gelang coklat, bahannya dari kayu dan indah sekali. Dan jelas sekali ini handmade.
Ada bandul melodi dan hati kecil. Di kotak itupun ada suratnya:
This is special for you, Mona. I made this whole day yesterday, and made another surprises for you again.
Wear this, and I would be the happiest man in the world.
Love, and please wear this,
Your Admirer :)

Tanganku gemetaran saat menggunakan gelang coklat itu. Pas sekali di tanganku. Match perfectly, and so wonderful.
Aku nyaris menangis saking tersentuhnya, tapi lomba sudah dimulai. Seorang juri berdiri di atas panggung.
Reuben menatapku dan berbisik, “Well, here we go, Mona. Kita bakalan berdiri di podium sekolah besok. Believe in ourself.”
……
Wait wait…………………………………
What did he say?
SMS Mikha, surat dari secret admirer, dan kata-kata Reuben barusan.
Tiba-tiba puzzle yang kususun di otak selama ini menemukan dua bagian yang pas untuk diisi di puzzle.
Dua, bukan satu.
Siapa orang dibalik surat, bunga, coklat, memo, gelang, and all of these things?
***
Still at Gedung Olimpiade Sains, 2 pm
WHAT A…. DAY!
“Cant believe it, Reu! Akhirnya selesai, tinggal nunggu resultnya ajaaa! AAAA!” pekikku saat aku dan Reuben keluar dari ruangan Olimpiade.
Reuben tertawa lebar. Baru kali ini aku ngeliat dia ketawa lega. “Yang jelas aku lega. Masalah menang atau gak, itu urusan belakangan. We did our best, weren’t we?”
Aku mengangguk mantap. “Yes.”
Kemudian aku dan Reuben kembali ke gedung olimpiade yang super besar tadi dan duduk di bangku awal.
Reuben sibuk dengan hapenya, maka aku membuka novelku yang belum selesai kubaca.
Tak sampai lima menit kemudian, guru pembimbingku, Mrs. Winslet mendatangiku dan Reuben.
“Hi guys… Sebentar lagi waktunya pengumuman, udah siap dengernya?” tanya Mrs. Winslet sambil tersenyum.
Reuben tersenyum, “Apapun hasilnya, kami udah berusaha memberikan yang terbaik tadi. Yah, hope for the best hehe…”
Aduh, Reuben emang idaman banget deh……….
Kemudian Mrs. Winslet duduk di sebelahku. Dan tepat pada saat itu juga, juri naik ke atas panggung dengan membawa secarik kertas.
“Reuben, this is the time…….” bisikku, mulai cemas.
Reuben menoleh dan menatapku. Lama. Dan aku mulai grogi diliatin Reuben kayak gitu. “Mona, calm down. We do our best, aren’t we?” Kemudian ia menggenggam tanganku lagi dengan kedua tangannya yang hangat itu.
Langsung saja aku merasa damai, tenang, aman. Hanya tersisa sedikit rasa panik.
Mikha’s right. Reuben memang punya kemampuan buat orang merasa tenang, aman, dan terlindungi. (adoh ugi:3)
“Selamat siang, semuanya…” kata seorang juri laki-laki yang mengenakan jas.
Tanganku semakin dingin. Bisa kurasakan kontrasnya perbedaa suhu antara tangan Reuben dengan tanganku.
“Seperti yang telah kita ketahui, Olimpiade Sains telah dilaksanakan selama 4 jam tadi.” Yup, 4 jam bareng Reuben, menyelesaikan soal-soal yang sulitnya minta ampun. Belum lagi sesi tanya jawab yang rebutan. Bikin puyeng.
“Dan di kertas yang saya pegang ini, berdasarkan keputusan para juri, kami sudah menemukan tiga pemenang, dan mereka memang layak untuk mendapatkan piala serta piagam dan hadiah lainnya.” Terdengar tepuk tangan bergemuruh. Aku gak ikutan.
Perutku mulai sakit-reaksi yang pasti terjadi kalau aku gugup. Tanganku semakin dingin. OH MY GOD, kasih tau siapa yang menang sekarang aja bisa gak sih?!
Reuben memandangan tangan kami berdua yang bertaut. “Why your hand is so cold, Mona?” tanya Reuben bingung.
Aku menggigit bibir bawahku.
“Oh I know. Nervous, aren’t you?” tanya Reuben dengan tatapan meneduhkannya. “Mona, apapaun hasilnya, kita berdua udah berjuang, kan? Optimis aja, ya.”
Aku cuma bisa mengangguk.
Di lomba tadi, aku sama Reuben memang ada bingung beberapa soal. Dan pas tanya jawab rebutan, ada satu sekolah yang gencar banget jawab pertanyaan.
Okay, I’m getting so nervous right now.
“Juara tiga, dimenangkan oleh…………”
ARGH. ARGH.
Aku memegang tangan Reuben erat-erat. Entah ia merasa kesakitan atau apa, yang jelas aku butuh tangan seseorang untuk dipegang.
“Harapan Bangsa School, selamat!”
Tepuk tangan dari sudut kanan meledak. Siswa-siswi dan guru-gurunya pun langsung berpelukan satu sama lain. Kemudian dua orang siswa beserta guru pembimbingnya maju ke atas panggung. Wajah mereka terlihat bangga. Yaiyalah. Ini lomba nasional cuy.
“Reuben….” lirihku pelan.
“Masih ada juara dua sama satu, kan?” tanya Reuben, tersenyum lembut. But I know, deep inside his heart, he feels so nervous too.
“Dan juara dua. Jatuh kepada………………………..”
Aku menutup mataku.
“Pelita Jaya School, selamat!”
Teriakan yang lebih heboh terdengar dari tengah ruangan. Aku melihat wajah mereka memerah saking senangnya.
“Reu, itu kan sekolah yang pas sesi tanya jawab bener semua jawabannya? Kok cuma juara dua?” tanyaku panik.
Reuben mengangkat bahunya. “Mungkin pas sesi soal dia ada yang salah, kan…”
“Mereka cuma juara dua, juara satunya mau sepintar apa!” pekikku panik. “Oh, Reu. I think I’m going crazy.”
Reuben mengelus kepalaku lembut. “Please, don’t be like this Mona. Keep believing…” kata Reuben pelan, matanya berusaha meyakinkanku.
Aku tertunduk lemas.
“Dan sekarang, juara satu. Hmmm, kira-kira siapa ya?” tanya si juri jas hitam itu.
Aku langsung membalikkan badanku, menatap Reuben. Menatap matanya yang teduh itu. Reuben pun menatapku.
Oke, ini kayak adegan film so sweet. Pegangan tangan, saling hadap-hadapan sambil tatap-tatapan. Kalau aja aku lagi gak nervous, pasti aku udah ngakak.
“Reu….” lirihku.
“Mona…”
“Yap, CONGRATS TO……”
………………………………….
…………………………………..
Aku menggenggam erat tangan Reuben. Menatapnya tidak lepas-lepas.
“CONGRATS TO SYMPHONI INTERNATIONAL SCHOOL AS THE FIRST WINNER!”
WHAT? GAK SALAH DENGER KAN INI?!
Aku diam. Reuben diam.
………….
………...
…………
………………………………………………………..
Krik.
Teriakan heboh terdengar dari depan dan belakang. Kupingku sampai sakit mendengarnya.
Mrs. Winslet memeluk ku dan Reuben bersamaan. “Congrats Mona dan Reuben! You guys really deserved this, oh my god! You won!”
Aku dan Reuben menatap satu sama lain. Kemudian perlahan-lahan bisa kulihat ekspresi wajah Reuben berubah.
“REUBEEEENNNNNN, WE DID IT! WE DID IT REU!”
Aku sontak memeluk Reuben erat. Membagi kebahagiaan yang kami rasakan satu sama lain.
“I can believe it!” pekik Reuben di antara semua teriakan dan tepuk tangan yang ada.
Aku melepas pelukan Reuben. Menatapnya dengan mata berbinar-binar.
Aku, Reuben, dan Mrs. Winslet kemudian naik ke atas panggung. Semua cameramen langsung menjepretkan kameranya ke arah panggung. Duh, berasa artis hahahaha!
Juri kemudian memberikan piala, piagam, dan hadiah ke juara tiga. Lalu juara dua. Lalu aku dan Reuben.
Kulirik Reuben saat menerima piagam. Wajahnya yang putih berubah merah saking senangnya. Matanya berkilau berbinar-binar.
And now, its my turn.
Juri memberikan piagam dan piala, berserta hadiah. OH MY GOD, feel so proud!
And time to take some pics.
Semua peserta heboh bertepuk tangan, tapi tiba-tiba tatapan mataku jatuh ke arah belakang.
Aku menyipitkan mataku sejenak, and oh my God.
Mikha, Mada, dan Jeremy ada di belakang. Masih pake baju seragam. OH MY GOD, THEY ARE COMING!
Mada menyadari kalau aku melihatnya. Ia memberi tahu Jeremy dan Mikha. Mereka bertiga sontak mengangkat jempol mereka ke arahku dan Reuben.
“Reu, itu Mikha, Mad, sama J!” bisikku pelan.
Reuben pun melihat saudaranya. Wajahnya langsung sumringah.
Acara foto-foto sudah selesai. Aku dan Reuben pun turun dari panggung, menerima ucapan selamat dari guru-guru yang datang, lalu berfoto sebentar dengan juri yang kagum dengan kemampuanku dan Reuben.
Lalu kami berdua segera berlari ke belakang, mendatangi Mikha, Mada, dan Jeremy.
Begitu melihat Mikha ada di jarak pandangku, aku melihat Mikha merentangkan kedua tangannya, seakan hendak memelukku.
Aku pun segera berlari dan menghambur ke pelukannya.
AND I’M HUGGING MIKHA RIGHT NOW OH MY GOD CAN YOU BELIEVE IT GUYS?!
(nowplaying: My Heart Is Yours - The Overtunes (Justin Nozuka Cover))
Dipeluk Mikha dan rasanya damai. Tenang. Adem. Bahagia.
Dan ternyata Mikha itu wangi banget! Wanginya bikin relaks, dan emang khas Mikha banget.
Can I go cry now. I hug Mikha Angelo Brahmantyo, ladies and gentleman. Bintang sekolah!
Masih berada di pelukan Mikha, dan Mikha berbisik, “Congrats, Ms. Beautiful. I know you can. You did it!”
Bisa kurasakan pipiku memerah. Telingaku juga. Pipiku panas banget. Aku menutup mataku, menghirup aroma wangi Mikha. “Thanks, Mikha.”
Selamanya pelukan sama Mikha boleh gak……………………
Kemudian Mada datang dan mengacak rambutku. Oke, hancur semuanya.
“Duh, tau deh yang duet. Pelukannya juga gak usah lama-lama kali, hahahahahha!” olok Mada.
Mikha melepaskan pelukannya, wajahnya memerah. Dan ini pertama kalinya aku liat Mikha salting. Mukanya merah banget. Oh, mungkin aku juga semerah itu.
Mikha mendatangi Reuben untuk menutupi ke’salting’annya.
“Congrats my sweety, my sister, hahaha,” kata Mada kemudian memelukku.
Kalau yang kali ini beda. Rasanya pelukan dari seorang kakak cowok yang sayang ke adeknya. Sweet.
“Thanks, Mad,” balasku, tersenyum di pelukan Mada.
Mada melepaskan pelukannya, kemudian gentian Jeremy yang memelukku. Hari ini temanya peluk-pelukan, hahaha! (asik banget ya si Mona, seharian meluk The Overtunes mulu :’)
“Aduh lapar nih, lapar. Iya gak guys?” kata Mada sambil memegang perutnya.
“Aduh gak terima kode aduh gak dengar, hahaha!” kataku sambil tertawa.
“Yaudah, yuk aku sama Mona traktir sekarang! Lets goo!” kata Reuben, merangkulku. Mada gak mau kalah, ikutan ngerangkul di sebelah kiri, hihihihi :3
Ternyata Mada bawa mobil kesini. Dan sesampainya di depan mobil….. OH MY GOD.
Aku segera berlari ke kap mobil. Ada sebuket bunga mawar, lengkap dengan suratnya.
Aku membuka surat itu dan membacanya,
Congrats my lovely girl, Mona!
Ah, I knew it from the start that you and Reuben were the winner! But, ah congrats. I cant tell you how much I’m proud of you.
You’re so beautiful today. With that pink bandana, and your brown sweeter. Ah, an angel from heaven, aren’t you?
Love and proud,
Your Admirer :)

Aku nyaris sesak napas membaca surat itu. Lalu aku mengambil buket bunga itu, dan ada memo yang tertempel:
Mona,
Someone told me that there really is such thing as magic. I never believed in that till I saw your smile and felt your touch. Then I realized you’re the only magical thing on earth who could turn this world into paradise.
Love, miss, proud,
Your Admirer :)

Mikha mengambil bunga itu dari tanganku. Aku terkejut.
“Hmm, bunganya harum!” kata Mikha ke Mada. Mada langsung ketawa ngakak.
“Its not funny, Mikha. Give it back to me!” kataku.
Mikha kemudian memberikan bunga itu dengan santai. Lalu Reuben melirik surat yang kupegang, dan ternyata ia membacanya.
“So sweet banget.” Reuben berkata santai.
Mada masuk ke mobil diikuti Jeremy. Aku melirik Mikha dan Reuben sebelum masuk ke mobil.
Wajah Mikha bener-bener stay cool. Jangan-jangan, memang bukan dia yang ngasih? Tapi SMS nya tadi pagi sama surat dari secret admirer rada sama. Bakal liat aku di podium bareng piala. Kebetulan?
Dan Reuben. Wajahnya sulit ditebak. Masih ada sisa euforia kemenangan disana, but eyes cant lie. Theres something in his eyes.
Reuben juga bilang hal yang sama kayak di surat secret admirer. Just same like Mikha too.
Puzzle ku tiba-tiba terhambur lagi dan pasangannya hilang entah kemana.
***
“Audisi sebentar lagi loh….”
Perkataan Jeremy barusan menyadarkanku dari lamunan. Aku menegakkan tubuhku dan langsung menatap Jeremy, “Berapa hari lagi?”
“Hmm, denger-denger dari teman-teman aku sih… seminggu lagi.”
Seminggu lagi? WHAT? Waktu berjalan sangat cepat rupanya.
Aku menghela nafas, dan ternyata Reuben melihatku. “Gak ada yang perlu ditakutin, Mona. Kita udah siap kok. Lagu, aransemen, semua udah siap.”
Aku menatap Reuben lama-lama. Dan, as always, Reuben itu selalu nenangin. “Well… Tapi tetap aja rasanya gugup.”
Pintu ruang musik terbuka dan masuklah Mikha dengan kertas di tangannya. Mikha kemudian segera duduk di sebelahku.
“Audisi seminggu lagi. Pendaftaran dimulai besok, dan ini-“ Mikha menunjukkan kertas di tangannya. “-harusnya baru bisa didapat besok. Tapi karena aku ke ruangan Ms. Kath dan ngobrol bentar, she gave me this.”
Mikha menyerahkan kertas itu ke tanganku. Ku baca sekilas. Pointnya ada event sekolah, dan bakalan ada acara musik. Bisa band, duet, solo, boyband or girlband, vocal group. Bakalan ada audisi seminggu lagi, dan yang lolos audisi cuma 5 peserta. Dan di event nanti, bakalan ada tiga pemenang.
Aku memberikan kertas itu ke Mada. Kulirik Mada sebentar, matanya menyusuri kalimat-kalimat di kertas dengan seksama.
Aku memandang Mikha. “Seminggu lagi,” bisikku pelan.
Mikha menoleh, “Yup. Dan kita harus nentuin lagu apa yang bakal kita bawain buat audisi nanti.”
“Dan nama band kita,” sambung Jeremy, kertas pengumuman ada di tangannya.
Reuben mengubah posisi duduknya. “Jeremy bener. Band kita harus punya nama.”
Hening.
Nama… Reuben bener. Band harus punya nama.
“Gak usah yang ribet-ribet, cukup yang sederhana tapi udah nunjukkin kalau itu kita,” saranku pelan.
Jeremy menatapku lama sekali. Aku hanya membalas tatapannya sebentar, sebelum kemudian merasa jengah lalu mengalihkan pandangan ke Mikha.
“Just got an idea,” kata Jeremy di tengah keheningan. Semua mata langsung mengarah ke Jeremy. “But first, sorry Mona. Ugi, Mikha, Mada, kalian masih ingat gak waktu kita latihan di studio nyanyi lagu Fix You nya Coldplay?”
Reuben langsung mengangguk, disusul dengan Mikha dan Mada. “Terus kenapa?” tanya Mada.
“Waktu bagian reffnya, kita naikin kan, nadanya?”
Reuben, Mikha, dan Mada mengangguk lambat-lambat. “Kita overtuned nadanya.”
Hening lagi. Dan sepertinya aku tau ke mana arah pembicaraan mereka.
“The Overtunes.”
Semua langsung menatap Reuben dan Mikha. Mereka ngomong di saat yang bersamaan. The power of family!
“The Overtunes…” Kuulang kalimat itu dan rasanya…… Cool!
Mikha dan Reuben menatap satu sama lain, kemudian mengangguk berbarengan. “The Overtunes,” kata Reuben.
“That’s our name. Agree?” tanya Mikha.
Mada mengangguk, aku mengangguk, dan Jeremy yang paling girang. Karena ia yang mengusulkan.
“So… The Overtunes. Cool!” kataku bersemangat. Mikha tersenyum, manis sekali.
Dan langsung saja, jantungku berkerja dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Cuma karena senyum Mikha. Oh my God.
“Oke. Nama sudah fix. The Overtunes,” kata Reuben. Bisa kulihat jelas, ada setitik semangat yang membara di matanya. Membuat Reuben jauh lebih tampan. “And now… Song for audition.”
Semua diam lagi, dan sepertinya sore ini akan dihabiskan dengan berfikir.
Namun akhirnya ada satu lagu yang melintas di pikiranku, dan langsung kuutarakan.
“How about Terrified by Katherine Mcphee feat Zachary Levi?”
“It’s a sweet song.” Reuben langsung menatapku; tatapannya tak yakin. “Kamu yakin mau nyanyi itu?”
Aku mengangkat alis. “Maksud kamu, Reu?” Yeah, it’s a sweet song, and why then?
Mada tertawa. “Ya maksud Reuben, itu lagu so sweet. Kamu yakin mau nyanyi itu bareng Mikha? Yakin bisa dapat chemistry nya? Yakin tahan tatap-tatapan so sweet sama Mikha? Cause Reuben will be jealous, Mon! Hahahahaha!”
Jeremy dan Mikha ikut tertawa. Reuben menatap Mada. “Thanks, Mad. He’s right at first, but totally wrong in the end. I will not jealous, so calm down.”
Mada mengangkat bahu, sisa tawa masih terlihat jelas di matanya.
“I have no problem with that song, Reu,” kataku yakin. Masalah chemistry, tatap-tatapan, aku yakin pasti bisa. Dan untuk masalah salting, dadigdug gak jelas, itu…… urusan belakangan. Oke.
Reuben menatap Mikha. Tanpa ditanyai, ia langsung menjawab, “Yeah, same with Mona. I’m okay with that song.”
Reuben akhirnya mengangguk puas. “Okay. Jadi fix: The Overtunes dan Terrified Katherine Mcphee feat Zachary Levi.”
Semua mengangguk senang, dan satu hal yang jelas: lega terpancar di wajah semuanya.
“Jadi, mulai besok kita fokus latihan lagu itu, dan nyiapin satu lagu cadangan. Keep spirit guys!” seru Mada. Aku bertepuk girang sendiri.
Kemudian Mikha mendatangiku dan duduk di sebelahku. Okay, my heart beat, listen to me. Act normal, please.
“Good choice, Mona. Aku juga suka lagu itu,” kata Mikha, tersenyum.
Dan entah ini untung atau apa, aku sudah berani menatap wajahnya disaat ia juga menatapku. Jelas ini keuntungan besar.
Dan kulihat lingkaran hitam tidak ada lagi di bawah mata Mikha. Wajahnya jauh lebih segar dan jauh lebih tampan setiap detiknya.
“It’s a good song,” balasku singkat, gak tau harus ngomong apa.
“We will make it perfect. Together.” Mikha menatapku lekat-lekat, tersenyum.
RRRRRRRR………………….
Together, kata Mikha. Okeh, fine. Jangan nge fly, Mon. Please.
Aku cuma tertawa. “Goodluck for us, then?”
Mikha mengangguk. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telingaku, “For your information, I don’t know why, I think I have to see you everyday now. Oh, everytime. If I ever lost you, I'd go crazy.”
Kemudian ia mengelus kepalaku sebentar, dan tersenyum.
Apa tadi kata Mikha?
If I ever lost you, I’d go crazy?
MIK, ITU SO SWEET BANGET, AAAAHHHH I’M GOING CRAZY NOW!
And after he said that, I saw his eyes were sparkling.
Fall in love with Mikha: the best feeling I’ve ever had.
***
Satnite, spend my time in my room. A-L-O-N-E.
Jane mutusin buat pergi ke luar kota bareng keluarganya di satnite kali ini, dan dengan teganya dia ninggalin aku sendirian. Biasanya kan dia satnite bareng sama aku, sesama cewek single (yeah, single, not jomblo!) kami bakalan ngelakuin hal-hal aneh tapi menyenangkan dirumahku.
Maka malam minggu ini aku mutusin buat ngebacain semua surat-surat, hadiah, dan memo-memo yang aku dapat dari secret admirer.
Sudah berminggu-minggu ini dia ngirimin aku surat terus. Dan yang bikin melting, suratnya itu manis banget. Seakan-akan, cowok ini cinta mati, oh maybe something like that lah. He’s sweet.
Dan gelang coklat yang dia kasih, aku pakai setiap hari. Gelang ini gak pernah lepas dari tangan aku.
Semua perhatian yang dia kasih setiap harinya cuma bikin aku nambah kepo pastinya. Siapa, sih, yang ngirim?
Dilihat dari isi suratnya yang penuh kode dan misteri, aku nyimpulin kalau aku kenal sama dia. Dan dia orang yang lumayan sering ketemu aku tiap hari pastinya. Tapi siapa?
Sebenarnya, ada beberapa orang yang kucurigain. Well, Mada, Jeremy, Reuben dan Mikha. 4 orang terdekat akhir-akhir ini.
Mada? He’s my brother. Segala acak-acak rambut, cubit-cubit pipi, elus rambut, dan pelukan, mestinya wajar aja, kan?
Jeremy? Wajah cutenya itu emang bikin aku gemes sendiri kadang. But, yeah he’s my bestfriend!
Mada dan Jeremy gak mungkin. Tapi mungkin aja sih. Aduh, jadi gak jelas gini………….
Reuben dan Mikha. Aku sudah curiga waktu Olimpiade Sains kemaren. Sms Mikha, surat dari secret admirer, dan kata-kata Reuben itu sama. Apa mungkin kebetulan?
Aku menatap gemas surat di depanku. Hari ini aku dapat lagi, disertai dengan boneka teddy coklat yang imut. Cowok ini bener-bener tau apa yang aku suka.
Dan suratnya:
Dear Mona…
Teddy bear ini bakal nemenin kamu tidur, hahaha. I know you love Teddy Bear so much, so, hope you like it.
Okay, so hmm I just wanna write lyrics here. Special for you, beautiful
“When I look into your eyes, is like watching the night sky, or a beautiful sunrise, there’s so much they hold.”
You are so beautiful, Mona. You are the star's that twinkle in the night sky.
Love,
Your Admirer :)

Dan semalaman ini, lagu I Wont Give Up sudah kuputar berulang kali. Dan gak tau kenapa, setiap dengerin lagu ini, ingatnya langsung ke Mikha.
Okay, well, ini pasti efek kangen. Yup, I could say I miss him right now. Walaupun sudah seharian bareng Mikha tadi, tetep aja rasanya gak lengkap.
Kemudian tiba-tiba aku mendengar suara ganjil dari bawah. Aku segera berjalan ke jendela pelan-pelan, lalu membuka kaca jendela dan……………………………….
“Mikha?”
Untuk kedua kalinya, Mikha berdiri di depan rumahku. Dan bedanya kali ini malam.
“Hey, Mon!” sapa Mikha sambil tersenyum. Gitar sudah tergandul di punggungnya.
Aku tertawa lepas, jelas terlalu bahagia ini namanya. Aku segera mengambil sweter ku dan turun ke bawah.
Sesampainy di bawah, kulihat keluargaku asyik menonton tv. Maka aku segera berlari ke depan pintu, membukanya dan berjalan ke taman rumah.
Kulihat Mikha sudah duduk di rerumputan di taman rumahku. Aku pun suka sekali duduk di sana kalau sudah sore, melakukan aktivitas wajibku: menonton sunset.
Aku duduk di sebelah Mikha dan menatapnya penuh semangat. “What are you doing here, Mik?”
Mikha tersenyum. “Aku gak ada kerjaan di rumah. Sebenarnya Mama sama Papa ngajakin makan di luar, tapi Reuben sibuk. Andrew-“
“Andrew?” tanyaku bingung.
“Oh, dia adek aku yang paling kecil. Kamu harus ketemu dia, he’s extremely cute, hahaha!” kata Mikha. Aku menyerap semua kata yang Mikha katakan. “Andrew ngajakin aku main PS, tapi kata Mada aku harusnya datangin kamu buat latihan lagu terrified. Mada emang agak aneh sih waktu ngomong itu tadi, tapi yaudah, akhirnya aku kesini.”
Aku mengangguk. Suaranya yang lembut dan jernih itu masih terngiang di benakku, dan Mikha is more than handsome tonight.
Dan ternyata, ada untungnya Jane pergi ke luar kota. Aku satnite bareng Mikha!
“Jadi, kita latihan lagu itu?” tanyaku.
“Kamu mau?” tanya Mikha. “Menurut aku sih di sekolah aja, mungkin lebih ada feelnya kalau bareng-bareng. Sekarang kan kita cuma berdua.”
“So, what should we do now?”
“There’s something I wanna ask, actually…” kata Mikha, wajahnya berubah serius.
“What?”
“Secret admirer.”
Jantungku berdegup kencang. “Yea, why?”
“Masih ngirimin surat?”
Aku mengangguk.
“Masih ngirimin hadiah-hadiah?”
Aku mengangguk.
“Masih gak tau itu siapa?”
“Iya, aku-“
“So, do you love your secret admirer?” tanya Mikha langsung.
Aku terdiam. “Why do you ask me like that?”
Mikha menaruh gitarnya, lalu merebahkan dirinya ke rerumputan. Matanya menatap satu bintang yang paling terang di langit, “Just curious. He’s in love with you, I think.”
Lalu aku ikutan merebahkan diriku di rerumputan, menatap bintang. This is just like a sweet scene in movie, OHMYGOSH.
“I don’t know. Thay boy is really care to me. Tapi…” kataku pelan. Mikha menoleh. “I already loved someone.”
Wajah Mikha sempat berubah, namun ia langsung buru-buru menatap langit malam yang cerah itu lagi. “Wow, pukpuk for secret admirer, but congrats for boy that you love!”
Mik, yang aku maksud itu kamu…………………………….
I’m in love with you, Mik. Yeah, kamu menyelamati dirimu sendiri!
Aku diam. Namun Mikha mengeluarkan iPod dari saku celananya. Ia memberikan satu headset kepadaku, lalu ia memakainya. Maka aku memakai headset juga.
“Reuben lagi suka-sukanya sama lagu ini. Aku sudah suka lama sama lagu ini, dan lagi sering aku dengerin.”
Petikan gitar lembut terdengar, dan jantungku langsung melompat.
I Wont Give Up - Jason Mraz.
Oke, calm down, Mona. Okay ini………………………………… Secret admirer, Mikha, dan Reuben. Kebetulan lagi?
(nowplaying: Mikha - I Wont Give Up)
Mikha ikut bernyanyi. Dan langsung saja, suara Mikha jadi favorit ku. His sweet voice, bikin lagu ini jauh jadi lebih keren dan….. Oh my gosh, I’m melting.
Di taman depan rumah, sebelahan sama Mikha, watch the sky together, count the stars, and he’s singing my fav song right now. This is just so perfect.
“I wont give up on us, even if the skies get rough. I’m giving you all my love, I’m still looking up…”
Hening.
Mikha mengakhiri lagu itu dengan sempurna.
Ia kemudian menoleh dan menatapku, “If I counted to star's to how many way's I adored you, I would run out.”
Nafasku tertahan.
His. Words. Just. Made. Me. Breathless.
Mikha kemudian tersenyum. Jarinya menyentuh hidungku, lalu ia menutup matanya. “You are the answer to my prayers.”
Aku bisa merasakan air mataku meleleh satu persatu. Ini…………. Lebih dari bahagia.
Best satnite ever. With the one I love, Mikha Angelo.
***
Aku membawa bukuku yang lumayan banyak pagi ini ke kelas Biologi. Sekolah sudah lumayan ramai-aku kesiangan hari ini-dan gak heran kalau Mikha udah di kelas.
Memikirkan Mikha, aku mempercepat langkahku ke kelas. And finally, sampai.
Aku berjalan ke meja favoritku, dan…………………………
Berpuluh-puluh bunga mawar merah ada di atas mejaku. Aku terkejut, kemudian menaruh bukuku yang banyak itu ke meja lain.
Cewek-cewek di kelas menatapku dengan tatapan ‘envy’ dan melirik bunga-bunga mawar yang ada itu dengan tatapan memuja.
Aku duduk di kursiku, menghadap ke mejaku yang nyaris seluruhnya tertutup dengan bunga mawar.
Dan di tengahnya, ada memo:

Morning Mona…
If I had a flower for every time I thought of you, I could walk in my garden forever. And here’s the flower, anyway.
I just love you more and more, Mona.
And now, I know that you’re so curious. I will tell about myself as soon as possible. I don’t wanna lose you, really.
Je t’aime, Mona Louissa,
Your Admirer :)

Dan ada satu kotak berwarna coklat muda dihiasi pita pink lembut. Aku mengambil kotak itu dengan gemetar, dan membukanya.
Oh. No.
Sebuah frame handmade, berbentuk persegi dan ujung-ujungnya dihiasi dengan gambar piano putih, serta balok-balok nada.
Framenya bagus. Sangat kreatif. Namun foto yang ada disitu yang membuatku tercengang.
Fotoku ketika memegang piala di Gedung Olimpiade Sains kemaren. Dan entah efek cahaya atau apa, Mona di foto ini luar biasa cantiknya. Tersenyum penuh kebahagiaan.
Dan lagi-lagi ada memonya, namun pendek saja:
There’s no reason for me to not fall in love with you. Stay flawless. I love you, Mona Louissa.
Bisa kurasakan ada yang mengalir dari mataku, perlahan namun pasti. Aku tertunduk, dan perasaanku campur aduk. Antara senang, bahagia, tersentuh, terharu, sedih.
Siapapun secret admirer ini, selalu bisa bikin mood aku naik, walaupun aku kepo ujung-ujungnya. Oh my god… Siapa sih dia?
Lalu tiba-tiba ada jari yang menghapus air mataku dengan lembut. Aku mengangkat kepalaku.
Reuben.
“Why are you crying?”
“Is there something hurt you?” Terdengar suara di belakangku. Aku menoleh.
Mada.
Oke, ini aneh. Kenapa mereka tiba-tiba datang?
“Are you okay?” Suara dibelakang lagi. Dan tanpa perlu menoleh aku tau suara siapa itu.
Jeremy.
Aku melirik sekitarku. Kurang satu orang, atau drama ini bakal lengkap.
“Secret admirer lagi?” tanya Reuben sambil menunjuk mawar-mawar yang ada di mejaku. Aku mengangguk. “Then why are you crying?”
Aku mengangkat frame. Reuben mengambilnya. Wajahnya langsung berubah. Terkejut iya, namun…. tampak puas?
Ia melirik Mada dan Jeremy sebentar, kemudian mengembalikan frame itu ke tanganku.
Reuben mengacak-acak rambutku, “Don’t cry Mona. Your secret admirer is sweet.”
Tepat saat Reuben menaruh tangannya di kepalaku, Mikha berdiri di ambang kelas. Wajahnya sempat terkejut sebentar, lalu ia masuk dan tersenyum.
“Hey guys…” Mikha menaruh tasnya di sebelahku. Lalu matanya membulat besar begitu melihat bunga mawar di atas mejaku. “Wow, secret admirer again, eh?”
Aku mengangguk pelan.
Namun tepat pada saat itu juga, Reuben, Mada, dan Jeremy saling tatap penuh kode.
Wow wait wait… I think….
Ada rahasia antara Reuben, Mada, Jeremy…… dan juga Mikha.
***
Audisi semakin dekat.
Seiring dengan audisi yang dekat itu pula, secret admirer semakin gencar mengirimiku surat, memo, dan hadiah-hadiahnya yang selalu sukses bikin aku terharu. Dalam sehari, aku bisa dapat 5-8 surat, belum lagi hadiah-hadiahnya.
Dan seakan itu semua belum cukup buat bersarang di pikiranku, Mikha Angelo tentu aja gak terlewatkan.
I could say that me and Mikha are bestfriend now. But sometimes, more than bestfriend. Yup.
Apa natap mata lekat-lekat bisa dibilang bestfriend?
Apa pelukan yang tak terduga bestfriend?
Perhatian yang berlebihan?
Tangannya memegang pipiku?
Tentu aja hal-hal itu bikin aku senang, Mikha is care with me. Seenggaknya untuk sekarang, bisa dibilang perasaan aku gak bertepuk sebelah tangan.
Tapi… antara Mikha sama secret admirer.
Bisa dibilang aku udah mulai perhatian sama secret admirer. Apalagi sejak suratnya yang terakhir, dia bilang kalau secepatnya dia bakal bilang siapa dia sebenarnya.
Jadi…. Mikha dan secret admirer, bikin aku gak karuan.
Dan masalah aku nebak-nebak siapa si secret admirer, I give up. Gak ketebak. Tapi, ada satu hal yang aku yakin banget. Secret admirer itu antara Mada, Mikha, Reuben, atau Jeremy. Dan, kayaknya yang paling gak mungkin itu……
Semuanya sih……………….. Okay, ini gila.
WOY SECRET ADMIRER, KAMU SIAPA SIH SEBENARNYA?
“Mona!”
Aku yang sedang menutup mataku dengan tangan, langsung menyingkirkan tangan dari hadapan begitu mendengar ada yang memanggilku.
Mikha berjongkok di depanku yang sedang duduk di kursi taman. Dan ini lagi istirahat. Dan rame. Dan cewek-cewek langsung ngeliat kesini. Dan dan dan……..
“Mik, what are you doing here?” bisikku kaget.
“Meet you, I guess?” tanyanya sambil tertawa girang. Ia kemudian duduk di sebelahku dengan santai.
Ini orang gak tau apa ya aku sering salting kalau dia udah duduk di sebelahku………..
“Mik, ini lagi rame,” bisikku, menatap matanya tajam.
Mikha menoleh. “Then why? Kalau istirahat emang lagi rame, kan?”
Aku membuang muka frustasi.
Bukannya aku gak senang Mikha ada di sebelah aku sekarang. Rasanya bahagia banget, bisa duduk bareng Mikha di taman sekolah, dan tatapan envy cewek-cewek itu kadang bikin aku senang juga, hahaha. Tapi, masalahnya, aku sama Mikha itu berbeda.
Dia bintang sekolah, famous, dipuja sana-sini.
Aku cuma anak pintar sekolah, yang cuma di puji kalau aku menang lomba.
Terlihat jelas, kan, perbedaannya?
“Kamu kenapa, Mon? Kok gelisah gitu?” tanya Mikha bingung.
“Kita gak seharusnya duduk duduk santai berdua disini,” keluhku. “Kamu gak liat cewek-cewek itu apa?”
Dan benar saja.
Cewek-cewek sekarang berdiri di dekat taman, menatap ke arahku dengan tatapan membunuh. Benci. Kesal.
Dan kulihat di dekat pepohonan rimbun, ada Camille sama Clara. Dua cewek yang aku yakin seyakin yakinnya, gak suka dengan kedekatanku sama Mikha, Reuben, Jeremy, dan Mada. And now I can see they are staring at me.
Oke, harus ada yang ngambil tindakan sebelum semuanya jadi makin buruk.
Aku berdiri. Menutup novelku. “Mik, I have to go. See ya,” kataku pelan.
Mikha menatapku heran. Namun ia tetap ditempatnya, terpaku.
Sorry, Mik. But you don’t know what they say about us.
***
Dear, Mona…
If you hide, I’ll seek for you. If you’re lost, I’ll search for you. If you leave, I’ll wait for you. If they try to take you away from me, I’ll fight for you. Cause I never want to lose someone I love.
Mona, aku udah nemuin waktu yang tepat buat ngungkapin siapa aku sebenarnya. Now, all you have to do is just waiting. I swear, it will not take too long.
I saw you when you were standing in front of the Biology Class today. You looked so smart, beautiful also.
Love,
Your Admirer :)

Aku melipat surat itu, berusaha meredam debar jantungku yang begitu cepat. Hingga terasa sakit kadang.
Aku melirik ke dalam kotak. Dan… Wait wait wait. Apaan nih?
Sebungkus kopi instan (TOP COFFEE, BONGKAR! hahaha :3). Aku mengambilnya, mengamatinya dengan bingung.
Ada memonya:
Try my fav coffee, Mona. Haha, it’s a clue too.

Belum sempat aku menaruh kopi itu kembali ke kotak, Mada sudah menyambarnya. “Wah, minum kopi nih sekarang vokalis kita?”
Aku menggeleng cepat. “No! Itu dari si secret admirer!”
Jeremy yang melihat langsung mendatangiku dan Mada. “Niat banget ngasih kopi.”
Aku mengangkat bahu.
“Kopi ini kesukaannya Mikha sama Reuben,” kata Mada sambil melirik Mikha yang sedang bermain gitar, dan Reuben yang memegang kertas aransemen.
Wait wait wait….
“Mikha sama Reuben suka kopi ini?” tanyaku pelan, sehingga hanya Mada dan Jeremy yang bisa dengar.
“Yup,” kata Mada. “Kadang kalau kita semua begadang nonton bola, Mikha paling jago minum kopi ini. Reuben juga.”
“Aku gak sesering Mikha kok. Mikha paling jago tuh, iya kan, Mik?” tanya Reuben ke Mikha. Mikha hanya menaikkan alisnya.
Entah ini kebetulan atau apa……………………….
Mikha dan Reuben?
Aku menatap Mikha dan Reuben bergantian, sedikit gugup. Namun akhirnya Reuben bilang kami harus latihan.
Aku duduk di samping Mikha, yang sudah siap dengan gitarnya. Ia melirikku sekilas, lalu memberikan senyum terbaiknya.
RRRRRR….. Heart attack ini namanya.
(nowplaying: Terrified - Katherine Mcphee feat Zachary Levi. Yaaa anggap aja yang nyanyi kamu duet bareng mikha hihiw :3)
“You by the light is the greatest find, in a world full of wrong you’re the thing that’s right… Finally made it trough the lonely, to the other side…”
Mata Mikha menatapku dalam-dalam.
“You set it again, my heart’s in motion, every word feels like a shooting star. I’m at the egde of my emotions, watching the shadows burning in the dark…”
Hening. Aransemennya dibuat berbeda oleh Reuben. Jadi akustik.
“And I’m in love…” Mikha menyanyikan bagian ini dengan sangat lembut. Aku merinding. Melting.
Aku membalas tatapan Mikha yang lembut itu. “And I’m terrified…”
“For the first time, and the last time… In my only life…”
2 menit kemudian, kami mengakhiri lagu. Semua bertepuk tangan.
“Wow you guys did a good job!” seru Reuben, wajahnya nampak antusias. “Kita pasti bisa lolos audisi!”
“Gak cuma lolos audisi, kita juga pasti bisa menang di lomba nanti,” kata Jeremy optimis. Semua mengangguk setuju.
Kemudian kami melatih lagu itu 2 kali lagi dan satu lagu cadangan. Dan berkali-kali lagi aku harus melting gara-gara tatapan mata Mikha dan senyumannya itu loh……….. Aduh banget.
Jam setengah 6. Sekolah sudah benar-benar sepi dan kami memutuskan untuk pulang.
Aku berkemas, menyimpuni barang-barangku lalu memasukkannya ke tas. Sampai akhirnya ada yang mengacak-acak rambutku dengan ganas.
Siapa lagi kalau bukan….. Mada.
“Mad, stop. Kamu bisa bikin rambut aku rontok kalo gitu caranya,” kataku geli.
Mada tertawa. “J, Gi, ayo pulang!”
Aku menaikkan alis. “Gi?”
“Ask Mikha,” sahut Mada singkat.
Lalu Mada, Jeremy, dan Reuben pamit pulang dan berlalu dari ruangan. Mikha berdiri di belakangku.
“Mmm kita pulang sekarang?” tanya Mikha.
Aku mengangguk.
Lalu kami berdua berjalan beriringan. Sekolah sudah sangat sepi.
“Mik, Gi itu siapa?” tanyaku.
Mikha tersenyum. “Gi itu dari Luigi, namanya Reuben waktu masih kecil. Tapi sampai sekarang, kami masih manggil dia pake nama itu.”
“Cute name, hahahaha…”
Mikha menatapku. Aku menatapnya, kemudian menaikkan alis. “What?”
“Kenapa kalau pulang sekolah gini, kamu lebih ceria, Mon?” tanya Mikha.
“Maksud kamu?”
Kami menuruni tangga.
“Maksud aku….” Mikha diam sebentar. “Kamu kalau sekolah sudah sepi begini, jalan sama aku kayaknya santai aja. Lebih ceria. Tapi kenapa kalau sekolah rame, kamu gelisah, Mon?”
Pertanyaan Mikha membuatku menjatuhkan novel Romeo Juliet yang kupegang.
Mikha memungutnya. Aku mengulurkan tangan, hendak memintanya namun ia tidak memberi. Aku menghelas nafas.
“Mik, you don’t know what they say,” bisikku pelan. Sedih.
“I know. Aku denger apa yang mereka omongin,” jawab Mikha santai.
“Nah?”
“Nah apa?”
Aku berhenti berjalan. Kami berdua sudah sampai di taman depan sekolah. Kulihat mobil Mada masih terparkir di parkiran yang berada di sebelah kanan taman.
“Kamu harusnya ngerti, Mik. Cewek-cewek itu ngomongin kita!” Bibirku bergetar saat mengucapkan kata kita.
“I know it, Mona. Then why?” tanya Mikha bingung.
“Mereka envy sama aku. Bayangin, deh, Mik. Kamu bintang sekolah, famous, terkenal, keren, cakep, dan semua cewek yang ada di sekolah ini itu suka sama kamu. Dan aku? Cuma cewek biasa yang kalau dipuji karena menang lomba. You see the differences, don’t you?”
Mikha diam. “Jadi, kamu mikirnya gitu?” tanyanya pelan.
Sedih rasanya menatap mata Mikha yang tiba-tiba redup; kehilangan cahaya. “Aku gak mau, dengar cewek-cewek ngomongin kamu terus, kenapa kamu sering sama aku akhir-akhir ini. They can hate you in the end. And I wont let that thing happens.”
Aku melihat Mama sudah menjemputku. “Bye, Mik.”
Aku berjalan memunggungi Mikha, rasanya sakit sekali. Bilang hal-hal begitu ke Mikha, hal yang sebenarnya. Lalu meninggalkannya pergi begitu saja. Kutahan mataku untuk tidak menangis. Oh c’mon, Mona….
“MONA!”
Aku berhenti, menoleh. Mikha menatapku sedih.
“Mon, I don’t care what people say. Karena aku… ngerasa nyaman sama kamu.”
Rasanya jantungku berhenti berdetak.
“So, please. Stay,” kata Mikha lemah.
Oh no… Matanya. Mikha gak boleh sedih!
Aku segera mendatangi Mikha lalu menggenggam tangannya. Mikha menunduk. “Mik, you don’t have to worry. I will stay.”
Tanpa kusangka, Mikha langsung memelukku.
“Thanks, Mona. You just made my day,” bisiknya di telingaku.
Bisa kurasakan jantungku benar-benar berhenti berdetak. Atau saking kencangnya ia berdegup, hingga dadaku rasanya sakit sekali.
Tapi, dipeluk Mikha.
Gak ada yang bisa nandingin bahagia yang kayak gini.
***
H-1 Audisi.
Sekolah ramai membicarakan audisi yang bakal dilaksanakan di Gedung Kesenian sekolah. Yap, gedung ini buat acara-acara seni yang biasanya diadakan di sekolah. Dan buat latihan-latihan juga kadang biasanya disini. Bahkan, pelepasan siswa diadakan disini. Karena gedung ini yang paling besar dan paling bagus di sekolah.
Berita Mikha, Reuben, Jeremy, dan Mada bakal ikut audisi sudah terdengar seantero sekolah. Entah mulai dari siapa berita ini disiarkan, namun akhirnya satu sekolah sudah tau dan mereka gak sabar buat nonton audisi besok.
“… Tapi, Mon. Entah ini sisi bagusnya atau jeleknya, mereka cuma tau kalau Mikha cs yang bakal ikut audisi. Mereka gak tau, kalau kamu juga bakal duet sama Mikha!”
“Ssssttt, Jane!” kataku. Aku melirik kanan-kiri. Anak-anak tampak asyik mengobrol satu sama lain.
Jane mengimbangi langkahku yang semakin cepat. “Anyway, aku gak sabar liat kamu latihan di ruang musik!”
Aku tersenyum.
Latihan hari ini, aku sengaja ngajak Jane buat nonton aku latihan. Ini pertama kalinya, dan tentu aja dia bisa ngasih komentar buat The Overtunes nantinya.
Sesampainya di depan ruang musik, aku membuka pintunya. Aku masuk diikuti Jane. Lalu Jane menutup pintunya.
“Halo, guys…” sapaku.
“Hi, Mon!” kata Reuben. “Gimana kelas Sejarahnya?”
Aku menaruh tasku. “Hmm, not bad.”
Lalu Jane menyikutku. Aku menoleh. “Apa?”
Jane menunjuk ke arah Reuben, Mikha, Jeremy, dan Mada. Oh, I got it.
“Well guys, hari ini aku bawa sahabat aku buat latihan kali ini. Dia kan belum pernah dengar kita latihan gimana, jadi aku pikir dia bisa ngasih komentar buat kita nantinya.”
Jeremy mengangguk. “Great idea, Mon!”
“Thanks, J!” kataku, tersenyum. “Kenalin, namanya Jane. Dia sahabat aku.”
(nowplaying: The Overtunes - Sahabat)
Reuben yang menyapa Jane pertama kali. “Hello, Jane! Nice to meet you.” Reuben memberikan senyum mautnya. Bisa kudengar Jane menahan napas. Well, untung aku sudah lumayan kebal dengan senyum maut Reuben.
“Aku gak perlu kenalan, kan, sama kamu, Jane? We are classmate, aren’t we?” kata Mikha sambil tertawa.
Dan bisa kulihat wajah Jane memerah sekarang.
Jeremy tersenyum kepada Jane. “Hello, Jane. I’m Jeremy. Panggil J aja, hahahaha…”
Kali ini, Jane sudah jauh lebih rileks. Tepat pada saat ia membalas sapaan Jeremy, pintu terbuka dan masuklah Mada sambil membawa tasnya.
“Hey, Mad!” sapaku girang.
Mada menaruh tasnya lalu berjalan mendekat dan mencubit pipiku sekilas. Aku cemberut. “Mad, ini sahabat aku, namanya Jane. Dia baru pertama datang ke latihan kita hari ini, dan nanti dia bisa kasih komentar.”
Mada melirik Jane. Lalu menyodorkan tangannya. “Mada.”
Jane menjabat tangan Mada. Dan tepat pada saat itu bisa kulihat wajah Jane berubah menjadi merah sekali, sampai-sampai terlihat ungu.
Mada melepaskan tangannya, lalu memberikan senyum cool nya. “Nice to meet you…. Jane.”
Jane hanya mengangguk. Mada berlalu, mendatangi Mikha.
Lalu sesuatu yang sedingin es menggenggam tanganku. Kusadari itu tangan Jane. “OHMYGOD, Jane are you okay?”
Jane menutup matanya. “They are more than handsome.”
Aku tertawa.
“Kita mulai aja latihannya gimana?” tanya Reuben. Semua langsung mengangguk.
5 menit kemudian, kami sudah di posisi. Jane duduk di depan kami dan wajahnya sudah tidak sabar.
Petikan gitar Reuben terdengar pertama. Disusul gitar Mikha, bass Jeremy, dan cajon Mada.
Aku menyanyikan bagianku dengan baik, dilanjutkan dengan Mikha.
Dan satu hal yang bikin aku ngerasain senang yang meluap-luap: setiap nyanyi, aku sama Mikha harus ngebangun chemistry supaya lagunya tambah kerasa feelnya. Dan, cara Mikha ngebangun chemistry itu oke banget. Matanya selalu natap aku gak lepas-lepas sambil senyum.
Can I go fly now.
“For the first time and the last time, in my only…….. life.”
Tepukan heboh langsung terdengar dari depan. Jane menepukkan tangannya cepat sekali, wajahnya sangat sumringah.
“Kalian keren banget gilaaaaa! Kalian bakal menang! Kalian harusnya udah punya album, jadi artis, menang Grammy, go internasional!!!”
Aku dan Mikha tertawa. Begitu pula Reuben, Jeremy, dan Mada.
Kami berlatih 3 kali lagi, melatih lagu cadangan yang siapa tau diperlukan, dan setelah itu beristirahat.
Kami berenam duduk membentuk lingkaran. Mikha di sebelah kananku, lalu sebelah kiriku Jane. Lalu Mada disebelah Jane, Reuben di depanku, lalu Jeremy.
“Gak sabar nunjukkin apa yang selama ini kita persiapin besok ke juri,” kata Mikha sambil tersenyum.
“Gak cuma ke juri, Mik,” kata Jane perlahan.
Sekarang semua mata memandangnya. Jane langsung salting.
“Maksud kamu?” tanya Mada.
Jane diam. Tidak menjawab. Alih-alih menjawab, wajahnya langsung berganti warna menjadi merah. Namun yang lain terus memandangnya, ingin tahu. Maka sebelum wajah Jane berubah jadi hijau atau ungu, aku menyelamatkannya,
“Jane bilang, semua orang di sekolah ini, udah tau kalau kalian pada ikut audisi. Dan mereka semua gak sabar buat nonton audisi besok,” jelasku. Hening. “Tapi, mereka gak tau kalau aku juga ikut bareng kalian.”
“Wow, kejutan besar,” kata Mikha.
“Well, itu bukan jadi masalah. Toh pada akhirnya mereka bakal tau, kan? They should know about The Overtunes!”
“Agree!” sahutku sambil tertawa.
Lalu aku menaruh tanganku di tengah. Aku menatap mereka satu persatu sambil tersenyum penuh makna.
Mikha menaruh tangannya di atasku. Disusul Reuben. Lalu Jeremy. Dan Mada.
Jane menatap tangan-tangan kami ragu-ragu. “Join us, Jane!” seru Reuben ramah.
Maka Jane menaruh tangannya di atas tangan Mada, dan bisa kulihat bulir-bulir keringat jatuh di wajahnya. Namun ia tersenyum.
“Audition, wait for us, The Overtunes are ready!”
***
19:30, in my room, rain.
Aku bergelung di kasurku, membaca novel Twilight untuk yang keseribu kalinya. Karena selain tidur, hanya cara inilah yang bisa bikin aku tenang.
Besok audisi, dan ketegangannya sudah bisa kurasakan dari sekarang. Besok hari besar bagiku. Dan kata-kata audisi terngiang-ngiang di otakku.
Dan besok, untuk pertama kalinya, aku bakal nunjukkin ke orang-orang kalau aku juga punya feel di bidang musik.
Mereka yang ngenal Mona Louissa sebagai anak pintar selama ini, bakal ngeliat Mona yang nyanyi sambil duet dengan bintang sekolah, Mikha Angelo. Mona Louissa satu band sama Mikha Angelo, Reuben Nathaniel, Jeremy Hugo, dan Mada Emmanuelle. Bintang sekolah yang dipuja.
Entah mereka bakal ngeliat aku gimana besok. Cari sensasi? Seperti yang Camille dan Clara bilang waktu di kelas Sejarah terakhir. Mereka benci liat aku dekat-dekat Mikha, Reuben, Jeremy, dan Mada.
Aku udah cerita ini ke Reuben, dan dia dengan sangat yakinnya kalau semua orang bakal terpesona sama suara aku.
Tapi…
Gimana kalau besok suara aku jadi jelek? Atau hilang? Atau fals?
Gimana kalau besok The Overtunes gagal?
Gimana kalau mereka gak nerima aku duet bareng Mikha?
Gimana kalau mereka malah tambah benci dan aku bakal dikucilin nantinya?
Gimana? Gimana? Gimana? Gimana? Gimana?
“AAAA!” pekikku.
Aku membuka mata. Dan yang kulihat pertama kali adalah boneka teddy bear dari secret admirer yang kupajang di meja belajar.
Ternyata aku ketiduran. Oh my God…
Aku duduk lalu memegang gelang dari secret admirer itu. Menghembuskan nafas, dan akhirnya aku merasa tenang lagi.
Lalu tiba-tiba aku teringat dengan kopi yang diberikan oleh secret admirer. Aku beranjak dari kasur dan mengambil kotak berwarna coklat muda. Entah kenapa kotaknya selalu berwarna coklat. Dan sebisa mungkin hadiah yang secret admirer kasih itu juga warna coklat. Mungkin dia suka warna coklat. Aku sih gak masalah dengan warnanya, coklat bagus. Dan mungkin ini bisa bantu aku buat tau siapa orangnya….
Aku mengambil kopi itu lalu keluar kamar dan turun kebawah. Dan aku bertemu Mama di dapur.
“Hello, sweety. Sudah siap audisi besok?” tanya Mama.
“Yeah,” jawabku pelan sambil membuat kopi.
Mama mengelus rambutku, “Goodluck Mona. Doa Mama dan Papa selalu buat kamu. Tunjukkan yang terbaik, Sayang.”
Aku mengangguk dan tersenyum, “Thanks, Mom.”
Mama mengangguk kemudian berjalan ke ruang tengah. Aku selesai membuat kopi, lalu berjalan ke tangga sampai akhirnya aku mendengar ada suara benda jatuh dari luar.
Aku terdiam sebentar. Lalu memutuskan untuk berjalan ke pintu depan.
Aku berdiam diri disana. Ragu untuk mengecek atau tidak. Namun akhirnya kekepoanku mengalahkan rasa takut.
Aku membuka pintu. Tidak ada siapa-siapa. Yang ada malah rintik hujan dan angin malam menerpa wajahku.
Aku menunduk lalu melihat sebuah kotak. Coklat.
Secret admirer.
Aku mengambilnya dan memastikan bahwa ada memo bertuliskan namaku. Aku segera menutup pintu dan menaiki tangga dengan terburu-buru.
Sesampainya di kamar, aku langsung menaruh kopiku di meja, dan buru-buru membuka kotak itu.
Mawar merah yang ditempeli memo, lalu kain berwarna coklat. Segera kuambil dan ternyata….
Sweter berwarna coklat.
Aku buru-buru mencari suratnya yang ada di dasar kotak. Lalu membacanya.
Dear Mona…
Goodluck for tomorrow. Aku yakin kamu pasti bisa audisinya. Sukses!
“Hah?” pekikku tertahan.
Secret admirer tau kalau aku ikut audisi. Keyakinanku semakin bertambah kalau ini antara Mada, Jeremy, Reuben, dan Mikha. Jantungku berdegup keras.
Kulanjutkan membaca.

You don’t have to worry about tomorrow. You have beautiful voice. Your voice is just so perfect, Mona.
Kamu gak usah perduli orang ngomong apa. Begitu mereka dengar suara kamu, mereka bakal terpesona, dan gak ada alasan mereka buat benci kamu.
Goodluck, my beloved Mona. Te amo.
By the way, pakai sweter ini besok. Bakal matching sama gelang yang aku kasih. And I will be the happiest man alive again ;)
Love, proud, nervous also
Your Admirer :)
p. s: Mon, audisi besok dan sebentar lagi kamu bakal tau siapa aku.

Aku menaruh surat itu dan mengambil sweternya. Bagus sekali. Sangat cocok dengan gelang yang selalu kupakai ini.
Lalu kubaca memo yang ada di mawar:
Mona Louissa.
Would you believe me if I tell you that I love you so much? Actually, I’d prefer it if you won’t. Why? So that I can spend the rest of my life proving to you how much I do.
Goodluck for tomorrow.
Love,
Your Admirer :)

Aku duduk di sofa kamarku yang menghadap jendela. Hujan di luar tinggal rintik-rintik namun angin dingin yang menusuk tulang tetap berhembus.
Feelingku bilang kalau kotak ini baru aja ditaruh di depan rumahku, dan si secret admirer sendiri yang naruh.
Aku mendadak cemas. Maka kuambil kopi dan meminumnya. Dan rasanya….. Enak. Tenang.
Aku mengambil sweter itu dan mendekapnya. Lalu tercium bau parfum khas dari sweter itu. Aku terdiam sejenak dan mendekatkan sweter itu ke hidungku.
Baunya familiar! Oh Mona, ingat, ingat! Ini bau parfum siapa…….
5 menit penuh berakhir, tapi aku gak bisa ngingat bau parfum siapa ini.
Aku menaruh sweter itu dengan galau, lalu memikirkan suratnya.
You don’t have to worry. Aku bilang itu ke Mikha tempo hari sebelum dia meluk aku.
Terpesona dan gak ada alasan benci. Aku bilang ketakutanku ke Reuben kemaren-kemaren.
Lama aku terdiam di sofa. Otakku bekerja keras. Kopi sudah habis kuminum, sampai akhirnya aku ngeliat jam.
23:30
Mataku membelalak, dan langsung menyimpuni barang-barang di kasur, mematikan lampu dan tidur.
Tapi, gara-gara efek kopi. Aku jadi gak ngantuk……………………
“Mona, you are so smart. Jadi gak bisa tidur kan sekarang!” rutukku kesal.
Lalu tiba-tiba hapeku berbunyi dan kulihat Mikha menelpon. Jantungku langsung berdebar tak karuan.
“Halo?”
“Kamu belum tidur, Mon?”
“Not yet…” kataku.
“Kok belum?”
“Aku habis minum kopi yang dikasih secret admirer. Ya jadinya gak bisa tidur. How bout you?”
Kudengar Mikha tertawa. “Well, biasa. Newcastle!”
Aku tersenyum. “Goodluck for the match, Mr. Handsome!”
Mikha tertawa lagi. “Goodluck for tomorrow, Mona. The Overtunes pasti berhasil,” kata Mikha lembut.
Kata-kata Mikha membuatku tenang. “Yeah, Mik. Goodluck for us.”
“Well, you have to sleep, Mon. Nite, Ms. Beautiful.”
“Nite, Mr. Handsome.”
Lalu kutaruh hapeku di bawah bantal.
Aku menatap jendela kamarku.
Je t’aime, Mikha Angelo.
Te amo, Secret Admirer.
***
“Gila. Ini bohong. Ini mimpi. Please someone slap me or kick me or something. INI MIMPI!” pekikku keras, lalu berjalan menjauh.
Reuben menarik tanganku. “Mon, stay here!”
Aku diam. “Reu, please tell me this is dream.”
Reuben memegang kedua tanganku. “Gak, Mona. Ini bukan mimpi, and we will face this.”
Aku tidak mau memandang mata Reuben yang menatapku sangat lembut. Tatapannya menenangkan tapi…
Rupanya menoleh pun sangat salah.
The Overtunes sudah di Gedung Kesenian, di backstage (yup, ada backstagenya!). Pertama kali aku datang bareng Mikha tadi, gedung ini masih sepi dan hanya ada beberapa peserta. Lalu aku dan Mikha memutuskan untuk ke backstage untuk menemui Reuben, Jeremy, dan Mada yang udah nyampe duluan di gedung ini.
Awalnya aku cuma gugup-gugup biasa. Reuben, Mikha, Jeremy, dan Mada berulang kali menenangkanku, dan berhasil.
Tapi………….
Backstage akhirnya penuh dengan peserta yang BANYAK banget. Sampai akhirnya ada cewek yang bilang gini,
“Cant believe it! Semoga aku gak gugup nanti, banyak banget diluar…”
Aku yang dengar dan kepo langsung keluar dari backstage dan ngintip keluar.
Dan ternyata…………………….
Gedung Kesenian belum pernah sepenuh ini. Belum pernah aku liat selama sekolah disini, kursi-kursi terisi penuh bahkan banyak yang berdiri.
Aku kembali ke backstage dengan jantung hampir copot, lalu memberitahu apa yang kulihat.
Dan 25 menit terakhir inilah Reuben, Mikha, Jeremy, dan Mada berusaha menangkanku namun tidak berhasil.
Aku memandang Reuben yang berdiri di depanku. “Mona, kita pasti bisa. Anggap aja kayak kita latihan di ruang musik selama ini.”
Aku menutup mataku. Kemudian ada yang merangkulku. Aku terkejut dan melihat Mikha merangkulku.
Reuben menatap kami berdua bergantian. “Well, Mik, make Mona calm down. She needs your words, kayak apa yang selama ini kamu lakuin,” kata Reuben kemudian berlalu.
Ucapan Reuben tadi sempat membuat otakku beku sebentar, seperti ada lampu menyala. Namun keributan dari bangku penonton membuaku seperti tersiram air mendidih.
Mikha memegang kedua bahuku, menghadapkanku kepadanya. “Mona, what do you feel right now?” tanya Mikha cemas.
“Takut, cemas, panik, gugup, nervous…” bisikku pelan sambil menatap mata Mikha. “Gagal, fals, haters, envy. Oh, Mik, they will hate me!”
Mikha segera menggeleng. “Mona, please. Believe in yourself!”
Mataku sudah mau berkaca-kaca saking gugup dan takutnya. Jadi aku membuang muka, tidak ingin menatap Mikha.
Namun Mikha memegang pipiku dengan kedua tangannya.
Andai aja bukan dalam situasi panik, aku yakin jantungku pasti bakal stop bekerja.
Mikha menaruh kedua tangannya di pipiku. “Mona, look at me.”
Maka dengan rasa panik dan dagdigdug gak karuan gara-gara Mikha, aku menatap matanya. 1 menit penuh hanya memandang mata Mikha itu rasanya………………………….
ASDFGHJKL banget!
“Mon, aku udah bisa ngerasain kalau kita bakal lolos audisi. Just sing with your heart, with your soul. Just feel it. You don’t have to be nervous or something like that. Calm down. The Overtunes are ready. Kita pasti bisa.”
Belum sempat aku mencerna semua kata-kata Mikha, ia sudah membawaku ke pelukannya. Dan ini ternyata jauh lebih ampuh daripada apapun. Rasanya……… damai. Tenang.
“You are my strength, Mona,” bisik Mikha di telingaku.
Aku membenamkan wajahku di pelukkan Mikha. “Thanks, Mik. Gak tau apa jadinya kalau gak ada kamu,” bisikku.
Mikha tertawa kecil. “Secret admirer kamu harus berterima kasih sama aku, you don’t feel panic anymore, and your performance will be amazing. He should say thanks to me, haha!”
Aku melepaskan pelukan Mikha dan menatapnya bingung, “Mik, you say that like you know my secret admirer.”
Mikha diam.
“You know him, don’t you?” tanyaku segera.
Mikha belum menjawab namun Mada dan Jeremy datang sambil membawa nomor urutan. Mada memberikan nomor itu ke Mikha terlebih dahulu.
Kulihat wajah Mikha berubah sedikit.
“Well, ada yang harus aku urus sebentar.” Mikha pergi lalu memberikan nomor itu kepadaku.
Kulihat nomor itu.
The Overtunes, 1.
Ini. Bohong. Kan. Please.
Aku segera menatap Mada. “Mad, urutan pertama…..?”
Mada mengangguk, kemudian segera mengambil nomor itu. “Kita harus siap-siap, audisi 10 menit lagi.”
Perlu Jeremy yang menggandeng tangaku agar aku bisa berjalan dengan benar.
Ada beberapa ruangan di backstage, lalu Mada membuka pintu dan masuk ke ruangan itu. Tidak sepenuh di ruang utama backstage, walaupun ruang ini lebih kecil. Kulihat ada beberapa cewek duduk di sofa di sudut ruangan, dan Reuben yang sedang memegang gitarnya. Bahkan wajah Reuben pun terlihat pucat. Namun begitu ia melihatku memasuki ruangan, ia merubah wajahnya agar lebih rileks.
Reuben mendatangiku, lalu menyuruhku duduk di sofa, di sebelah cewek yang sedang memegang stik drumnya.
Cewek ini menoleh, “Kamu…. Mona Louissa bukan?” tanya cewek itu ramah.
Aku mengangguk seraya tersenyum.
Ia menyodorkan tangannya, “Kenalin, aku Rachel.”
Aku menyalami tangan Rachel sambil tersenyum. “Mona.”
“Reuben bilang ke aku tadi sebentar, band kalian namanya The Overtunes, ya? Wow, pasti keren. Aku udah denger dari kemaren kalau Reuben, Mikha, Mada, Jeremy bakal ikut audisi. Aku kira mereka cuma jago di lapangan bola, ternyata mereka juga main musik, ya? Keren!
“Terus aku tanya ke Reuben tadi, beneran ikut audisi atau gak. Ternyata bener, dan dia juga bilang kalau Mona Louissa bakal ikut. Aku udah tau kamu dari lama, sering menang lomba, kan, kamu? You’re so cool, Mon!”
Aku tertawa. Rachel anaknya sangat supel dan tiba-tiba rasanya gak gugup lagi. Aku mengobrol, dan bisa kulihat Reuben mengawasi dari sudut ruangan sambil tersenyum senang.
“… Iya, aku udah lama ngeband. Nama band aku Madamoissele. Aku di drum, Kania di vokal, Violet di biola, Amanta di piano, dan Alice di gitar.”
Aku terkagum-kagum mendengar cerita mereka yang udah sering manggung dimana-mana, walaupun eventnya masih kecil. But its totally cool!
Namun tiba-tiba terdengar ada yang ngomong di mic dari luar ruangan. Perutku langsung sakit dan seketika tanganku dingin.
“The Overtunes nomor urutan berapa?” tanya Violet yang ikutan mengobrol.
“Satu.”
“Goodluck, guys!” kata Kania sambil menepuk bahu kami.
Aku berdiri dan tepat pada saat itu pintu terbuka dan kulihat Mikha.
Kami berlima langsung membentuk lingkaran dan saling berangkulan.
“This is the time,” kata Mada.
“Kita pasti bisa,” kata Jeremy.
“Kita bakal lolos,” lanjut Mikha.
“No worries at all. Anggap aja kayak di ruang musik,” kata Reuben menenangkan.
Aku menarik napas. “Goodluck for us, The Overtunes!” seruku bersemangat.
Setelah ber ‘goodluck’ ria dengan Madamoissele, kami keluar dari ruangan dan ke backstage. Aku bisa melihat seorang cewek yang tergabung dengan OSIS sedang berbicara di mic.
“… Yap, karena para dewan juri sudah menempati tempat mereka masing-masing, langsung saja kita ke perserta pertama!”
Mikha dan Reuben menggenggam tangan kanan dan kiriku bersamaan. Mereka tau aku gugup, they’re tyring to make me calm down again.
“Siapa nih peserta pertama. Can you guys guess it, guys?”
“THE OVERTUNES!”
Penonton ramai berteriak ‘The Overtunes’ dan aku rasanya ingin meledak.
“Oke, you guys guess it right, here we go, give your big applause to THE OVERTUNES!”
“You can do it, Mona!” bisik Mikha sebelum ia memasuki stage.
Begitu Mada masuk, jeritan cewek-cewek histeris. Disusul Jeremy, dan Reuben, lalu Mikha dan teriakan semakis histeris. Para guru yang menonton pun terpaksa harus menutup kuping mereka.
Begitu aku masuk jeritan masih terdengar, namun ada bisik-bisik disana-sini. Mereka pasti heran.
Aku berdiri di depan mic ku, di sebelah Mikha. Memandang semua yang ada di Gedung Kesenian ini dengan gugup luar biasa.
“Well, good morning everybody!” sapa Mikha sambil memberikan senyum mautnya.
Balasan good morning too terdengar sangat keras. Aku meringis.
“So, we are The Overtunes. Saya, Mikha Angelo vokalis tapi main gitar juga, hehehe….” kata Mikha tertawa. Semua cewek tertawa dan tetap menjerit. “Cewek cantik yang ada di sebelah saya ini namanya Mona Louissa. Dia vokalis.”
Terdengar teriakan ‘awwwww dibilang cantik sama mikha!’ dan jerit-jerit lainnya yang tidak bisa terdengar saking ributnya ruangan itu.
“Lalu Reuben Nathaniel as lead guitarist, Jeremy Hugo as bassis, and Mada Emmanuelle as drummer. But now he will play with his cajon.
“So, guys. Hope you like our performance. The Overtunes!”
Semua cewek berdiri dan menjerit sambil menekapkan tangan mereka ke mulut.
Mikha melirik ku sekilas, tersenyum manis dan menenangkan.
Okay, here we go….
 
Gimana Audisinya?
Thanks for reading, and wait for the next bab hahaha :D
Love, @DjimbasSMD xoxo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar