This short story based on Taylor Swift's song - You Belong With Me. Kalau namanya ada yang mirip maaf yaa ;p
Well, harus berapa lama lagi kamu telponan sama cewek itu?
Aku membuka
tirai, kemudian mengintip dari jendela kamarku menuju ke jendela kamar yang ada
di seberang sana.
Terlihat seorang
cowok dengan hape di tangannya, di arahkan ke telinganya. Wajahnya terlihat
kesal, kusut. Padahal dia ganteng, imut, cute, keren, OH. Oke, forget it.
Aku
kemudian membiarkan tirai ku tetap terbuka, lalu mondar-mandir di kamar, sambil
memegang pulpen yang sedari tadi kupegang. Sesekali kulihat melalui jendela
kamar, dan dia tetep aja masih dengan hape ditelinganya.
Kurebahkan
tubuhku di kasur, capek mondar-mandir.
Mikha….
kapan, sih, kamu stop telponan sama si Jess? Terus, kenapa tadi muka kamu kusut
banget gitu? Jangan-jangan….. kalian berdua lagi kelahian, ya? Bagus,
deh……………….. Ups, sorry.
Aku
kemudian berbalik dan menyetel lagu. Lagu-lagu yang beginian sih mana mau Jess
dengerin. Mikirin Jess, ingat…… Mikha.
Aku
menghela nafas.
Okay,
everyone, let me tell you bout my life.
Orang yang
dari tadi aku intipin lewat jendela kamar itu namanya Mikha Angelo, tetangga
aku. He’s my bestfriend. Dari kecil kerjaannya main bareng, sama Mada dan
Reuben (kakaknya Mikha) daaan juga si Andrew (adeknya Mikha)
Sekolah
juga selalu bareng sama mereka, dan jadi deh, bestfriend gitu. Dan well, entah
sial atau untung atau apalah namanya, waktu SMP, karena keseringan bareng
Mikha, tiba-tiba….. jadi suka gitu sama dia #duniaharustau
Dan
sekarang, di High School, aku tetep barengan sama Mikha, Reuben, dan Mada.
Mereka temen aku yang dulu imut-imut, sekarang udah gede dan keren banget!
Merek nge band, namanya, The Overtunes.
Dan,
beberapa bulan kemaren, Mikha baru aja jadian sama salah satu cewek di sekolah,
namanya Jess. Cewek popular di sekolah. Yap, tipe idaman semua cowok yang ada
di dunia ini: cantik, tinggi, kurus, langsing, rambutnya halus hitam panjang,
putih, dan senyumnya manis. Okay, forget it.
Tapi,
begitu aku tau Mikha jadian sama Jess, rasanya aneh. Mikha pernah bilang sama
aku kalau tipe ceweknya itu yang kalem, dan bisa bikin dia nyaman. Kalau aku
liat, sih, Jess itu gak kalem sama sekali. Dia anak cheers, pasti aktif kan?
Dan masalah
nyaman… Okay, mungkin aja Jess bikin Mikha nyaman.
Dan kalau
dibandingkan sama Jess? Ya ampun, mungkin harusnya aku lari ke kolong meja.
Aku bangkit
dari kasur, kemudian melirik ke jendela lagi. Tepat pada saat itu Mikha
melepaskan hapenya, OH GOD FINALLY.
Kemudian
aku segera mengambil buku ku yang berukuran besar dan mulai menulis di atasnya.
Lalu ku arahkan ke jendela.
Hi, Mik…
What’s wrong?
Mikha
menatapku lewat jendela kamarnya, lalu ia tersenyum dan mulai menulis di atas
bukunya.
Nothing,
I’m fine. Ada sedikit problem sama Jess, you know lah….
Aku
tersenyum.
Well, then,
semoga kalian cepat baikan. Muka kamu perlu disetrika tuh kayaknya, kusut
banget!
Mikha
tertawa di kamarnya. Kemudian ia menulis lagi di bukunya.
Amin. Jess
mungkin lagi badmood, maybe tomorrow she’ll feel better again. Thanks. And anyway,
muka aku udah gak kusut lagi. You just made me laugh! :)
Kurasakan
pipiku bersemu merah begitu melihat balasan Mikha. Aku tertawa, kemudian
menunduk sebentar di atas bukuku.
Should I
tell him how is it feel….
Aku menghela
nafas, kemudian menuliskan 4 kata di atas bukuku perlahan.
Aku
mendongak perlahan sambil menahan nafas.
Dan………… OH.
Mikha udah
nutup tirai kamarnya.
Aku
mengarahkan bukuku ke jendela, walaupun tau Mikha gak akan pernah ngeliat apa
yang aku tulis.
I Love You,
Mikha.
***
Kutatap
langit pagi ini. Mendung berawan.
Aku duduk
sendirian di kursi depan rumah, nunggu jemputan buat ke sekolah.
Kulirik
rumah Mikha yang berada di sebelah rumahku. Sepi. Mungkin Mikha belum bangun.
Dan Reuben, dan Mada……
Aku
mengeluarkan novel yang baru kubaca setengah tadi malam. Sampai akhirnya……
Gelap.
Ada yang
menutup mataku dari belakang dengan kedua tangannya.
Aku
bingung. “Well, who’s that?”
“Guess it!”
seru suara dari belakangku.
Dan
langsung saja jantungku berdegup tak karuan. Suara itu…….. Please, deh. Kalau
suka sama orang secara otomatis kita hapal suaranya, kan?”
“Mik, c’mon
masih pagi…..” kataku sambil tertawa, berusaha menutupi rasa gugup.
Kudengar
Mikha tertawa kemudian melepaskan tangannya dari mataku, lalu ia duduk di
sebelahku. Langsung saja, wangi khas Mikha menyeruak masuk ke hidungku. OH GOD.
“Good
morning, Taylor!” sapa Mikha sambil tersenyum manis banget. MELTING OKESIP.
“Morning,
Mik….” balasku, tersenyum.
“Well, kamu
gak cek jendela ya pagi ini?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Nope, why?”
Mikha
tersenyum. Aduh, Mik. Stop senyum bisa? Masih pagi dan ak uudah mulai kehabisan
nafas. “Pantesan aja. Aku nulis di buku tadi pagi, kamu mau gak berangkat
bareng sama aku ke sekolah hari ini? Kamu pasti nungguin jemputan kan?”
WAIT WAIT
WHAT WHAT?!
“Hah?”
tanyaku, tak percaya.
Mikha
tertawa, kemudia mendekatkan wajahnya, dan menyelipkan helaian rambutku ke
belakang telinga, disangkutkannya ke kacamataku. “Tay, kamu mau berangkat ke
sekolah sama aku gak hari ini?”
OH GOD. BLUSHING.
Siapa, sih,
yang gak mau berangkat ke sekolah sama kamu, Mik? Kita berdua udah lama…..
banget gak berangkat bareng ke sekolah. Cause of your busy schedule with The
Overtunes, and then your girlfriend, Jess, yang selalu maksa kamu buat
berangkat sekolah bareng dia.
“Well,
gimana? Do you want?” tanya Mikha, mulai mengeluarkan senyum andalannya sewaktu
kecil dulu, yang dia tau selalu bisa bikin aku luluh. Dan kehabisan nafas
pastinya.
RRRRRR, ini
pertanyaan yang jawabannya pasti iya gitu loh. “Well, okay,” kataku perlahan.
“Oke!”
Mikha kemudian menarik tanganku untuk berdiri.
TAPI……………………
“TIN
TINNNN!!!!”
Aku
menoleh.
“MIKHAAAA,
YUK BERANGKAT!”
OH
GOD……………………………
Mikha
melepaskan tangannya dari tanganku, dan langsung nyesek. Tambah nyesek lagi
begitu ngeliat Mikha nyamperin Jess di mobilnya, yang baru aja datang.
“Mik
Sayaaanng, yuk berangkat ke sekolah,” kata Jess sambil memegang tangan Mikha.
“Buat yang tadi malam maafin yaa, aku lagi PMS, biasalah cewek. But now, lets
go to school together. Spesial nih aku jemputin kamu!”
“Tapi…”
kata Mikha. Jess mengerutkan keningnya. “Aku udah janji mau berangkat ke
sekolah sama Taylor.”
“What?”
kata Jess, shock.
Aku yang
berdiri di depan rumah cuma bisa ngeliatin mereka berdua. Bingung. Kesal.
Bete. Galau. UHH.
“Oh, I got
an idea!” seru Mikha ceria. Jess menaikkan alisnya. Mukanya udah bete. “Taylor
ikut sama kita aja ke sekolah, gimana?”
Muka Jess
kayak habis dijedotin ke tembok.
“Are you
kidding me?” tanya Jess.
Okay, here
we go…. Our Drama Queen, Jess.
“Mik,
honey, gak mungkin lah kita berangkat sekolah sama dia!” kata Jess nyaring.
“Ntar dia jadi obat nyamuk lagi!”
Mikha
menoleh tiba-tiba dan menatapku. “Tay, kamu gak bakalan jadi obat nyamuk kok
kalo ikut kita. Maybe a little, sih. Are you okay with that?”
“Ngg-uh,
well…..” gumamku tak jelas.
Jess
menggeleng, kemudian menatapku dan tersenyum licik. “Jelas apa-apa lah, Mik.
Udahlah, kita berangkat sekarang, berdua. Nanti telat lagi kesekolah….” Jess
menarik tangan Mikha, namun Mikha masih bergeming menatapku. “Oh, c’mon,
sweety….”
Pemandangan
selanjutnya bikin aku mau muntah. Jess meluk Mikha sambil memohon-mohon supaya
mau berangkat ke sekolah berdua aja sama dia.
HEY WHAT
YOU DOING WITH A GIRL LIKE THAT………………………..
Kulihat
Mikha membalas pelukan Jess, kemudian melepaskannya dan menggadeng tangan Jess.
Mikha sempat menatapku sebelum masuk ke mobil. “Tay, I’m sorry. Hope you can
understand. Are you okay?”
No, Mik.
I’m not okay. Mana ada yang oke sama situasi beginian. Nyesek tau.
TAPIIII,
sejak kapan, sih, seorang Taylor ngungkapin apa yang dia rasa ke orang-orang?
Yang ad a mah dipendam mulu.
Aku segera
tersenyum; fake smile. “I’m okay, Mik. Just go with Jess, aku nunggu jemputan
aja, bye!”
Jess
kemudian tersenyum kepadaku, senyum licik dan sinis. Ia lalu menggandeng Mikha
seenaknya di depanku, lalu masuk ke mobil.
Lalu,
mereka berdua pergi dari hadapanku. Dengan wajah Mikha gak enak hati, dan wajah
Jess penuh kemenangan.
Aku?
Berdiri di
depan rumah, sendirian, nunggu jemputan dengan hati kacau balau.
What a nice
situation to start this day.
***
“Heyhooo!
Ngelamun mulu!”
Aku
terkejut, lalu menoleh dan kulihat Mikha sudah berada di sebelahku. Wajahnya
ceria.
Keingat
yang tadi pagi, bikin bete. Jadi, aku senyum sekenanya aja.
“Oh, hello,
Mik…”
Mikha
kemudian menatapku. “Sendirian di taman sekolah? Again?”
Aku
tertawa. Mikha walaupun sibuk, he still knows about this. Kebiasaanku buat
duduk di taman sekolah jam istirahat. “Well, Reuben Mada mana? Kamu juga
alone?”
“Reuben
Mada biasalah, lagi sibuk di kelas masing-masing, ngejar pelajaran yang
ketinggalan,” kata Mikha.
“Lah kamu
gak? Kan kamu juga banyak ketinggalan pelajaran tuh.”
“Iyasih….”
kata Mikha. “Tapi, ada yang lebih penting daripada sekedar ngejar pelajaran
yang ketinggalan.”
Alisku
terangkat. “Apaan?”
“Nemenin
sahabat aku yang lagi duduk sendirian di taman sekolah. Kasian, cantik-cantik
tapi alone,” kata Mikha sambil tersenyum ke aku.
OH GOD.
Blushing
blushing again.
“Ahahaha,
Mikhaaaa……” seruku sambil mengacak-acak rambutnya.
“Eits.
jangan acak-acak rambut dong!” Mikha segera mencubit pipiku dengan tangannya.
Dan
jadilah, aku ngacak-ngacak rambut Mikha dengan ganas, dan Mikha mencubit pipiku
dengan gemas. What a lovely scene, right?
Sampai
akhirnya, rambut Mikha bener-bener berantakan, dan pipiku udah merah banget,
kami berdua berhenti.
“Well,
hahaha, sorry for your cheeks,” kata Mikha.
Aku
mengangguk sambil tertawa. “Me too. Sorry for your messy hair…”
Mikha
mengangguk, tersenyum. Manis. Banget. DUUH.
I hope this
sweet scene will stay for-
“MIKHAAAA!!!”
OH NO, NOT
AGAIN……………..
“Mikha
Sayang, yuk pergi. Nanti siang kamu ada gigs di FX, kan? Mending nemenin aku ke
kantin dulu, ayuk!”
Jess
langsung menggamit tangan Mikha, dan Mikha dengan terpaksanya berdiri, namun
kulihat ia juga memegang tangan Jess.
“Oh, Tay,
hari ini The Overtunes bakal perform di FX, kamu datang, ya?”
Aku
mengangguk. “Okay, I’ll come.”
“Thanks!
Well, I have to go, see ya!” kata Mikha, sebelum akhirnya ditarik sama Jess
menjauh dari taman sekolah.
Yeah, I
wish that sweet scene will last forever.
***
“AND GIVE
YOUR LOUDEST SCREAM FOR……….. THE OVERTUNES!”
“AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
“MIKHAAAAAAAAA!!!”
“REUBEEEEEENNNN!!!”
“MADAAAAAAAAA!!!”
“THE
OVERTUNES!!!!!”
Aku
tersenyum sendiri begitu mendengar Tunist pada fangirling. I’m a Tunist too!
Dan begitu
terdengar intro lagu How Deep Is Your Love, Tunist langsung pada fangirling
lagi. Dan aku pun jadinya ikutan fangirling.
Sepanjang
lagu, Mikha, Reuben, sama Mada kece. Banget. Apalagi Mikha, sama Reuben, sama
Mada. Aduh……………
Mikha pakai
kemeja coklat, dan celana coklat mudanya, suaranya lembut banget. Reuben sama
kemeja navy bluenya, dan Mada pakai kemeja warna abu-abu.
The
Overtunes bawain 5 lagu, dan di lagu terakhir, Tunist puas-puasin fangirling.
Selesai
lagu terakhir, aku langsung beranjak dari kerumunan Tunist ke dekat stage, mau
nungguin The Overtunes begitu turun dari stage.
Begitu
sampai di dekat stage, aku ngeliat ada cewek tinggi dan rambut hitam panjang
lagi dirangkul sama seorang cowok. Aku kepo, jadinya aku deketin.
Dan begitu
aku deket mereka, OHMYGOD, itu Jess! Sama cowok lain! *heboh*
Ya ampun…..
Itu seriusan Jess?
Aku
mengucek mataku untuk meyakinkan, dan ternyata itu beneran Jess. Jess ngeliat
cowok di depannya mesra gitu, dan setelah aku liat-liat lagi, ternyata cowok
itu anak futsal di sekolahan, namanya Anthony.
Tapi kan…..
Jess sama Mikha, kok tiba-tiba sama Anthony rangkul-rangkulan mesra gitu…………………
“Hey, Tay!”
Ada yang
menepuk bahuku, dan aku langsung menoleh.
“Eh, guys,
udah selesai performnya?” tanyaku, gugup begitu melihat Mikha, Reuben, dan Mada
sudah ada di depanku.
Mikha
mengangguk, ceria. “Iya, asli seneng banget, deh. Banyak banget Tunist yang
datang!”
Aku
tersenyum sebisanya, agak bingung. Mikha nya ceria-ceria aja, dan Jess lagi
sama cowok lain……………………
Aku
langsung gugup gak karuan mikirin itu, dan rupanya Reuben peka. “Tay, what’s
wrong? Are you okay? Muka kamu pucat banget,”
“I’m fine,
Reu.”
“Tay?”
tanya Mikha. “Anyway, kamu liat Jess gak? Tadi dia disini juga, didekat
panggung.”
DUHHHH.
Belum
sempat aku mau bohong, Mada udah ngomong duluan. “Eh, liat deh di dekat stage
situ. Ada cewek pelukan sama cowok! Kayak kurang tempat aja buat pacaran,
disini kan depan umum…..”
Mataku
Mikha, dan Reuben tertuju ke cewek dan cowok yang lagi pelukan yang ditunjuk
Mada. Jantungku berdegup kencang, panik. Mada nunjuk Jess sama Anthony.
Mikha
menyipitkan matanya, kemudian berjalan pelan ke arah sana. “Wait, kayaknya aku
kenal, deh….”
Aku,
Reuben, dan Mada mengikuti Mikha.
Jess dan
Anthony masih asyik pelukan, sampai akhirnya Mikha sadar, dan berdiri tepat di
sebelah Jess.
“Jess?”
kata Mikha.
Jess
perlahan-lahan melepaskan pelukannya ke Anthony, kemudian berbalik dan menatap
Mikha sambil tersenyum. WHAT? Dia masih senyum?
“Oh, hai,
Mik. Gimana performnya tadi? Sukses?” tanya Jess sambil merangkul Anthony.
Kulihat
wajah Mikha berubah pucat. “What are you doing with him?” tanya Mikha sambil
nujuk Anthony.
Jess
tersenyum, dan senyumnya selalu licik. “Well, Mikha… Aku udah bosan sama kamu.
Lagian kamu juga sibuk banget, manggung sana-sini. Jadi, ya… kita putus.”
“Hah?”
pekikku, tak percaya. Namun Reuben langsung menutup mulutku.
Jess yang
mendengarku juga tertawa. “Udahlah, Mik. Gak usah sedih. You can find another
girl, toh kamu keren. But not for me anymore,” kata Jess, tertawa, kemudian
menggamit lengan Anthony. “Well, then, goodbye.”
WHAT A
WORDS.
Jess
kemudian pergi sambil memeluk Anthony di depan mata Mikha.
WAS THAT
FOR REAL?!
Aku segera
menatap Mikha yang shock, wajahnya pucat banget. “Mik, are you okay?”
“Well, I
told you, Mik. Jess itu emang gak baik, kan?” kata Mada.
“Mads,
jangan nyalahin Mikha,” bisikku pelan. “Mik, what do you feel right now?”
Mikha
menunduk sebentar, kemudian mendongak. “Gak pernah sebaik ini rasanya,” katanya
sambil tersenyum. “Well, I have to go.”
Mikha
kemudian berjalan, lalu berlari pergi dari hadapanku, Reuben, dan Mada.
Ngeliat
Mikha sedih gitu rasanya juga ikutan sedih.
Cant you
see that I’m the one who understand you, been here all along, so why cant you
see?
You belong
with me.
***
Kurasakan
nafasku sudah sesak, namun masih kupaksakan untuk berlari.
Sampai
akhirnya, kutemukan dia, duduk di pinggir lapangan basket sambil membaca buku.
“Reuben!”
Yang dipanggil
mendongak, dan heran begitu melihatku yang berdiri di depannya dengan nafas
memburu. “Taylor? Kenapa?”
“Finally I
found you….” kataku, masih terengah-engah.
“Kenapa?”
tanya Reuben. “Duduk deh disini….”
Aku pun
duduk di sebelah Reuben, lalu langsung menatapnya. “Mikha gimana?”
Reuben diam
sebentar. “Well, Mikha baik-baik aja dirumah.”
“Kenapa dia
gak sekolah?”
Reuben
tersenyum. “Mikha kecapean kemaren habis perform di FX, kita juga ada siaran di
radio, baru wawancara di majalah, jadi baru pulang kerumah sekitar jam 12
malam. Dia ketiduran jadinya yah gak sekolah. Mikha kecapean, tapi ya baik-baik
aja.”
“Terus,
tentang Jess gimana? Mikha-“
“Tay, don’t
be panic like that. Mikha baik-baik aja kok,” kata Reuben. Namun, begitu ia
melihat pandanganku yang tak percaya, ia segera tersenyum. “Well, mungkin
kemaren dia rada pendiam gitu, dan aku tau Mikha juga sedih. Tapi, tadi malam
pas mau pulang kerumah, Mikha udah ceria lagi kok. Jess is done for him.”
FIUHH.
Untung Mikha udah baik-baik aja.
“Thanks, Reu,”
kataku.
“Anytime,”
kata Reuben.
Hening.
“Anyway,
kenapa kamu gak bilang aja sih ke Mikha?”
“Hah?
Bilang apa?”
Reuben
tertawa kecil. “Ya bilang apa yang kamu rasain ke dia lah,” kata Reuben.
Aku menatap
Reuben bingung. “Reu?”
Reuben
balas menatapku. “Tay, I knew it. You love him, don’t you?” tanya Reuben.
What………………………….
“Sorry?”
kataku, tertawa, berusaha mengelak. “Gak salah denger, nih? He’s my
bestfriend.”
“But you
hope you can be his girlfriend, right?” tanya Reuben, yang langsung membuatku
terdiam. “Udahdeh, Tay, aku tau kok apa yang kamu rasain ke adek aku. Go and
tell him.”
Aku
menggeleng. “No. Mikha cuma anggap aku sahabatnya, gak lebih,” kataku.
“Emang kamu
tau perasaan Mikha ke kamu gimana? Gak kan?” tanya Reuben. “C’mon, Tay. Kamu
gak akan tau gimana perasaan dia ke kamu, sampai akhirnya kamu ngungkapin
sendiri. Siapa tau aja dia punya rasa yang sama kayak kamu.”
“Tapi kalau
dia cuma anggap aku sahabat gimana? Dan kalau setelah itu awkward gimana?”
Reuben
menghela nafas. “Tapi kamu gak akan penasaran lagi, kan? Kamu udah tau apa yang
dia rasain, dan kamu tau kamu gak perlu nunggu dia lagi. Intinya, you have to
tell him.”
Aku terdiam
mendengar kata-kata Reuben.
“I wait you
tomorrow, at prom night. Go tell Mikha about your feeling. You tell it, or you
keep waiting?” kata Reuben, kemudian ia berdiri. “Dan lagipula, Mikha lebih
cocok sama kamu daripada Jess.”
Reuben
kemudian berlalu dari hadapaku setelah sebelumnya mengelus kepalaku lembut.
Dan di
lapangan basket, aku duduk sendirian, bingung.
What should
I do?
***
Aku
membuka-buka majalah di depanku di kasur sambil tiduran, sampai akhirnya
kulihat cahaya di kamar Mikha lewat jendela.
Kuperhatikan
pelan-pelan, dan Mikha berdiri di jendela, sambil mengarahkan buku ke kamarku.
Do you come
to the prom tonight?
Aku
mengambil bukuku, kemudian menulis dan mengarahkannya ke Mikha.
Nope, I’m
studying.
Bisa
kulihat wajah Mikha terlihat kecewa.
Well, I
wish you there. You should go to the prom, Tay.
Aku
tersenyum membaca tulisan Mikha, kemudian menggeleng.
Lalu Mikha
mengangkat bahunya, kemudian mengambil jas dan mematikan lampu di kamarnya,
pergi.
Begitu
Mikha pergi, aku duduk termangu di kasur. Teringat perkataan Reuben.
Tell it….
or you keep waiting………….
Aku terdiam,
then decided something.
Aku melepas
kacamataku perlahan-lahan.
***
Okay,
Taylor, calm down. C-A-L-M D-O-W-N.
But
everybody is staring at me! How can I calm down?
Aku menarik
nafas, kemudian memasang senyumku yang paling manis, lalu berjalan perlahan
memasuki ballroom yang sudah penuh.
“OMG, Tay
is so beautiful!”
“Is it Tay?
Tay yang cupu itu? Kok jadi cantik gitu, sih?”
Aku hanya
tersenyum mendengar perkataan yang kudengar. Mataku mencari-cari dimana Mikha,
namun akhirnya Reuben dan Mada mendatangiku.
“OMG, ini
seriusan Taylor?” tanya Mada tak percaya.
Aku
tertawa, kemudian mengangguk. “Yup, Madster! Anyway, kalian cakep banget pake
jas gini!”
Reuben
tersenyum sumringah melihatku. “You look so beautiful with that white dress,
Tay!” katanya.
Aku
tertawa.
“Well,
then, go and tell him!” sahut Mada.
Aku menatap
Mada. “Do you know about it?”
Mada
tertawa. “Yaiyalah, Reuben told me yesterday. Udah, sekarang cepetan!”
Reuben
kemudian menunjukkan kerumunan yang lagi berdiri di dekat stage. “Mikha disana,
buruan…”
Aku
mengangguk, kemudian berjalan ke arah Mikha.
Dan tepat
begitu aku berjalan, Mikha membalikkan badannya. Aku ngeliat Mikha pakai jas…..
OH GOD, WHY MIKHA IS SOOOOO HANDSOME?
Mikha
melihatku terperangah, tak percaya. Namun ia segera melangkahkan kakinya ke
arahku.
Tinggal
beberapa langkah lagi aku berhadapan dengan Mikha, tiba-tiba Jess muncul dan
menarik tangan Mikha. Namun Mikha segera melepaskan tangannya dari Jess dan
tetap berjalan ke arahku.
And now,
Mikha is right in front of me. Matanya berkilau tak percaya begitu melihatku
yang berdiri di depannya.
“Oh God,
ini beneran Taylor?” bisiknya. “You look so perfect, more than beautiful…”
Aku
tertawa. “You too, look so sparkling with the tux.”
Mikha
tertawa, matanya tak lepas-lepas dari wajahku. “Finally you came here…”
Aku
tersenyum. Kemudian mengeluarkan kertas dari tasku. Kubuka perlahan-lahan
kertas itu, kemudian kulihatkan ke Mikha.
I Love You,
Mikha.
Jantungku
berdegup tak karuan, namun kulihat Mikha tersenyum. Ia mengambil sesuatu dari
saku jasnya. Kertas. Kemudian ia buka perlahan, dan ia lihatkan kepadaku.
I Love You,
Taylor.
Wait.
What.
Oh.
God.
Aku bengong
melihat kertas yang dipegang Mikha, kemudian kutatap wajahnya yang sekarang
tersenyum. “Mik?” bisikku tak percaya.
Mikha
tersenyum. “I love you since the first time I met you. Iya, dari kecil aku
sudah suka sama kamu, sayang aku gak berani ngungkapin apa yang aku rasain
selama ini,” kata Mikha, yang membuat mataku berkaca-kaca saking shocknya.
“Jess itu bukan apa-apa, I don’t like her anymore. So, Taylor, would you be
mine?”
Okay, calm
down.
“Is this
for real, Mik?”
Mikha
tertawa. “Yup, this is not dream anymore. Not yours, not mine. This is a
reality.” Mikha kemudian menatapku. “Taylor, would you be mine?”
Aku
mengangguk, kemudian tersenyum. “Yes, Mikha.”
Mikha
tertawa, kemudian menarikku ke pelukannya. Aku membalas pelukan Mikha, lalu
terisak pelan saking terharunya.
“Why are
you crying, Tay?” tanya Mikha, tertawa. Ia lalu menghapus air mataku dengan
jari-jari tangannya.
Then he
kisses my forehead softly.
Mikha
memelukku. “I love you, Tay.”
“I love you
more, Mik.”
Morral Lesson: kalau suka sama orang….. jangan dipendam mulu
ya. Gak enak. Sakit. Nyesek #eyaak hahaha! Jadi, ada baiknya kita bilang apa
yang kita rasain, daripada harus nunggu terus, hayoo ;p
Thank you for reading, wait for the next short story, and wait for the fanfic yaa :D xoxo
Love, @DjimbasSMD xx
Tidak ada komentar:
Posting Komentar