Kamis, 01 Agustus 2013

You Belong With Me (TheOvertunes Short Story)

This short story based on Taylor Swift's song - You Belong With Me. Kalau namanya ada yang mirip maaf yaa ;p


Well, harus berapa lama lagi kamu telponan sama cewek itu?
            Aku membuka tirai, kemudian mengintip dari jendela kamarku menuju ke jendela kamar yang ada di seberang sana.
            Terlihat seorang cowok dengan hape di tangannya, di arahkan ke telinganya. Wajahnya terlihat kesal, kusut. Padahal dia ganteng, imut, cute, keren, OH. Oke, forget it.
            Aku kemudian membiarkan tirai ku tetap terbuka, lalu mondar-mandir di kamar, sambil memegang pulpen yang sedari tadi kupegang. Sesekali kulihat melalui jendela kamar, dan dia tetep aja masih dengan hape ditelinganya.
            Kurebahkan tubuhku di kasur, capek mondar-mandir.
            Mikha…. kapan, sih, kamu stop telponan sama si Jess? Terus, kenapa tadi muka kamu kusut banget gitu? Jangan-jangan….. kalian berdua lagi kelahian, ya? Bagus, deh……………….. Ups, sorry.
            Aku kemudian berbalik dan menyetel lagu. Lagu-lagu yang beginian sih mana mau Jess dengerin. Mikirin Jess, ingat…… Mikha.
            Aku menghela nafas.
            Okay, everyone, let me tell you bout my life.
            Orang yang dari tadi aku intipin lewat jendela kamar itu namanya Mikha Angelo, tetangga aku. He’s my bestfriend. Dari kecil kerjaannya main bareng, sama Mada dan Reuben (kakaknya Mikha) daaan juga si Andrew (adeknya Mikha)
            Sekolah juga selalu bareng sama mereka, dan jadi deh, bestfriend gitu. Dan well, entah sial atau untung atau apalah namanya, waktu SMP, karena keseringan bareng Mikha, tiba-tiba….. jadi suka gitu sama dia #duniaharustau
            Dan sekarang, di High School, aku tetep barengan sama Mikha, Reuben, dan Mada. Mereka temen aku yang dulu imut-imut, sekarang udah gede dan keren banget! Merek nge band, namanya, The Overtunes.
            Dan, beberapa bulan kemaren, Mikha baru aja jadian sama salah satu cewek di sekolah, namanya Jess. Cewek popular di sekolah. Yap, tipe idaman semua cowok yang ada di dunia ini: cantik, tinggi, kurus, langsing, rambutnya halus hitam panjang, putih, dan senyumnya manis. Okay, forget it.
            Tapi, begitu aku tau Mikha jadian sama Jess, rasanya aneh. Mikha pernah bilang sama aku kalau tipe ceweknya itu yang kalem, dan bisa bikin dia nyaman. Kalau aku liat, sih, Jess itu gak kalem sama sekali. Dia anak cheers, pasti aktif kan?
            Dan masalah nyaman… Okay, mungkin aja Jess bikin Mikha nyaman.
            Dan kalau dibandingkan sama Jess? Ya ampun, mungkin harusnya aku lari ke kolong meja.
            Aku bangkit dari kasur, kemudian melirik ke jendela lagi. Tepat pada saat itu Mikha melepaskan hapenya, OH GOD FINALLY.
            Kemudian aku segera mengambil buku ku yang berukuran besar dan mulai menulis di atasnya. Lalu ku arahkan ke jendela.
           
            Hi, Mik… What’s wrong?

            Mikha menatapku lewat jendela kamarnya, lalu ia tersenyum dan mulai menulis di atas bukunya.
           
            Nothing, I’m fine. Ada sedikit problem sama Jess, you know lah….

            Aku tersenyum.

            Well, then, semoga kalian cepat baikan. Muka kamu perlu disetrika tuh kayaknya, kusut banget!

            Mikha tertawa di kamarnya. Kemudian ia menulis lagi di bukunya.

            Amin. Jess mungkin lagi badmood, maybe tomorrow she’ll feel better again. Thanks. And anyway, muka aku udah gak kusut lagi. You just made me laugh! :)

            Kurasakan pipiku bersemu merah begitu melihat balasan Mikha. Aku tertawa, kemudian menunduk sebentar di atas bukuku.
            Should I tell him how is it feel….
            Aku menghela nafas, kemudian menuliskan 4 kata di atas bukuku perlahan.
            Aku mendongak perlahan sambil menahan nafas.
            Dan………… OH.
            Mikha udah nutup tirai kamarnya.
            Aku mengarahkan bukuku ke jendela, walaupun tau Mikha gak akan pernah ngeliat apa yang aku tulis.
            I Love You, Mikha.
***
            Kutatap langit pagi ini. Mendung berawan.
            Aku duduk sendirian di kursi depan rumah, nunggu jemputan buat ke sekolah.
            Kulirik rumah Mikha yang berada di sebelah rumahku. Sepi. Mungkin Mikha belum bangun. Dan Reuben, dan Mada……
            Aku mengeluarkan novel yang baru kubaca setengah tadi malam. Sampai akhirnya……
            Gelap.
            Ada yang menutup mataku dari belakang dengan kedua tangannya.
            Aku bingung. “Well, who’s that?”
            “Guess it!” seru suara dari belakangku.
            Dan langsung saja jantungku berdegup tak karuan. Suara itu…….. Please, deh. Kalau suka sama orang secara otomatis kita hapal suaranya, kan?”
            “Mik, c’mon masih pagi…..” kataku sambil tertawa, berusaha menutupi rasa gugup.
            Kudengar Mikha tertawa kemudian melepaskan tangannya dari mataku, lalu ia duduk di sebelahku. Langsung saja, wangi khas Mikha menyeruak masuk ke hidungku. OH GOD.
            “Good morning, Taylor!” sapa Mikha sambil tersenyum manis banget. MELTING OKESIP.
            “Morning, Mik….” balasku, tersenyum.
            “Well, kamu gak cek jendela ya pagi ini?” tanyanya.
            Aku menggeleng. “Nope, why?”
            Mikha tersenyum. Aduh, Mik. Stop senyum bisa? Masih pagi dan ak uudah mulai kehabisan nafas. “Pantesan aja. Aku nulis di buku tadi pagi, kamu mau gak berangkat bareng sama aku ke sekolah hari ini? Kamu pasti nungguin jemputan kan?”
            WAIT WAIT WHAT WHAT?!
            “Hah?” tanyaku, tak percaya.
            Mikha tertawa, kemudia mendekatkan wajahnya, dan menyelipkan helaian rambutku ke belakang telinga, disangkutkannya ke kacamataku. “Tay, kamu mau berangkat ke sekolah sama aku gak hari ini?”
            OH GOD. BLUSHING.
            Siapa, sih, yang gak mau berangkat ke sekolah sama kamu, Mik? Kita berdua udah lama….. banget gak berangkat bareng ke sekolah. Cause of your busy schedule with The Overtunes, and then your girlfriend, Jess, yang selalu maksa kamu buat berangkat sekolah bareng dia.
            “Well, gimana? Do you want?” tanya Mikha, mulai mengeluarkan senyum andalannya sewaktu kecil dulu, yang dia tau selalu bisa bikin aku luluh. Dan kehabisan nafas pastinya.
            RRRRRR, ini pertanyaan yang jawabannya pasti iya gitu loh. “Well, okay,” kataku perlahan.
            “Oke!” Mikha kemudian menarik tanganku untuk berdiri.
            TAPI……………………
            “TIN TINNNN!!!!”
            Aku menoleh.
            “MIKHAAAA, YUK BERANGKAT!”
            OH GOD……………………………   
            Mikha melepaskan tangannya dari tanganku, dan langsung nyesek. Tambah nyesek lagi begitu ngeliat Mikha nyamperin Jess di mobilnya, yang baru aja datang.
            “Mik Sayaaanng, yuk berangkat ke sekolah,” kata Jess sambil memegang tangan Mikha. “Buat yang tadi malam maafin yaa, aku lagi PMS, biasalah cewek. But now, lets go to school together. Spesial nih aku jemputin kamu!”
            “Tapi…” kata Mikha. Jess mengerutkan keningnya. “Aku udah janji mau berangkat ke sekolah sama Taylor.”
            “What?” kata Jess, shock.
            Aku yang berdiri di depan rumah cuma bisa ngeliatin mereka berdua. Bingung. Kesal. Bete.  Galau. UHH.
            “Oh, I got an idea!” seru Mikha ceria. Jess menaikkan alisnya. Mukanya udah bete. “Taylor ikut sama kita aja ke sekolah, gimana?”
            Muka Jess kayak habis dijedotin ke tembok.
            “Are you kidding me?” tanya Jess.
            Okay, here we go…. Our Drama Queen, Jess.
            “Mik, honey, gak mungkin lah kita berangkat sekolah sama dia!” kata Jess nyaring. “Ntar dia jadi obat nyamuk lagi!”
            Mikha menoleh tiba-tiba dan menatapku. “Tay, kamu gak bakalan jadi obat nyamuk kok kalo ikut kita. Maybe a little, sih. Are you okay with that?”
            “Ngg-uh, well…..” gumamku tak jelas.
            Jess menggeleng, kemudian menatapku dan tersenyum licik. “Jelas apa-apa lah, Mik. Udahlah, kita berangkat sekarang, berdua. Nanti telat lagi kesekolah….” Jess menarik tangan Mikha, namun Mikha masih bergeming menatapku. “Oh, c’mon, sweety….”
            Pemandangan selanjutnya bikin aku mau muntah. Jess meluk Mikha sambil memohon-mohon supaya mau berangkat ke sekolah berdua aja sama dia.
            HEY WHAT YOU DOING WITH A GIRL LIKE THAT………………………..
            Kulihat Mikha membalas pelukan Jess, kemudian melepaskannya dan menggadeng tangan Jess. Mikha sempat menatapku sebelum masuk ke mobil. “Tay, I’m sorry. Hope you can understand. Are you okay?”
            No, Mik. I’m not okay. Mana ada yang oke sama situasi beginian. Nyesek tau.
            TAPIIII, sejak kapan, sih, seorang Taylor ngungkapin apa yang dia rasa ke orang-orang? Yang ad a mah dipendam mulu.
            Aku segera tersenyum; fake smile. “I’m okay, Mik. Just go with Jess, aku nunggu jemputan aja, bye!”
            Jess kemudian tersenyum kepadaku, senyum licik dan sinis. Ia lalu menggandeng Mikha seenaknya di depanku, lalu masuk ke mobil.
            Lalu, mereka berdua pergi dari hadapanku. Dengan wajah Mikha gak enak hati, dan wajah Jess penuh kemenangan.
            Aku?
            Berdiri di depan rumah, sendirian, nunggu jemputan dengan hati kacau balau.
            What a nice situation to start this day.
***
            “Heyhooo! Ngelamun mulu!”
            Aku terkejut, lalu menoleh dan kulihat Mikha sudah berada di sebelahku. Wajahnya ceria.
            Keingat yang tadi pagi, bikin bete. Jadi, aku senyum sekenanya aja.
            “Oh, hello, Mik…”
            Mikha kemudian menatapku. “Sendirian di taman sekolah? Again?”
            Aku tertawa. Mikha walaupun sibuk, he still knows about this. Kebiasaanku buat duduk di taman sekolah jam istirahat. “Well, Reuben Mada mana? Kamu juga alone?”
            “Reuben Mada biasalah, lagi sibuk di kelas masing-masing, ngejar pelajaran yang ketinggalan,” kata Mikha.
            “Lah kamu gak? Kan kamu juga banyak ketinggalan pelajaran tuh.”
            “Iyasih….” kata Mikha. “Tapi, ada yang lebih penting daripada sekedar ngejar pelajaran yang ketinggalan.”
            Alisku terangkat. “Apaan?”
            “Nemenin sahabat aku yang lagi duduk sendirian di taman sekolah. Kasian, cantik-cantik tapi alone,” kata Mikha sambil tersenyum ke aku.
            OH GOD.
            Blushing blushing again.
            “Ahahaha, Mikhaaaa……” seruku sambil mengacak-acak rambutnya.
            “Eits. jangan acak-acak rambut dong!” Mikha segera mencubit pipiku dengan tangannya.
            Dan jadilah, aku ngacak-ngacak rambut Mikha dengan ganas, dan Mikha mencubit pipiku dengan gemas. What a lovely scene, right?
            Sampai akhirnya, rambut Mikha bener-bener berantakan, dan pipiku udah merah banget, kami berdua berhenti.
            “Well, hahaha, sorry for your cheeks,” kata Mikha.
            Aku mengangguk sambil tertawa. “Me too. Sorry for your messy hair…”
            Mikha mengangguk, tersenyum. Manis. Banget. DUUH.
            I hope this sweet scene will stay for-
            “MIKHAAAA!!!”
            OH NO, NOT AGAIN……………..
            “Mikha Sayang, yuk pergi. Nanti siang kamu ada gigs di FX, kan? Mending nemenin aku ke kantin dulu, ayuk!”
            Jess langsung menggamit tangan Mikha, dan Mikha dengan terpaksanya berdiri, namun kulihat ia juga memegang tangan Jess.
            “Oh, Tay, hari ini The Overtunes bakal perform di FX, kamu datang, ya?”
            Aku mengangguk. “Okay, I’ll come.”
            “Thanks! Well, I have to go, see ya!” kata Mikha, sebelum akhirnya ditarik sama Jess menjauh dari taman sekolah.
            Yeah, I wish that sweet scene will last forever.
***
            “AND GIVE YOUR LOUDEST SCREAM FOR……….. THE OVERTUNES!”
            “AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
            “MIKHAAAAAAAAA!!!”
            “REUBEEEEEENNNN!!!”
            “MADAAAAAAAAA!!!”
            “THE OVERTUNES!!!!!”
            Aku tersenyum sendiri begitu mendengar Tunist pada fangirling. I’m a Tunist too!
            Dan begitu terdengar intro lagu How Deep Is Your Love, Tunist langsung pada fangirling lagi. Dan aku pun jadinya ikutan fangirling.
            Sepanjang lagu, Mikha, Reuben, sama Mada kece. Banget. Apalagi Mikha, sama Reuben, sama Mada. Aduh……………
            Mikha pakai kemeja coklat, dan celana coklat mudanya, suaranya lembut banget. Reuben sama kemeja navy bluenya, dan Mada pakai kemeja warna abu-abu.
            The Overtunes bawain 5 lagu, dan di lagu terakhir, Tunist puas-puasin fangirling.
            Selesai lagu terakhir, aku langsung beranjak dari kerumunan Tunist ke dekat stage, mau nungguin The Overtunes begitu turun dari stage.
            Begitu sampai di dekat stage, aku ngeliat ada cewek tinggi dan rambut hitam panjang lagi dirangkul sama seorang cowok. Aku kepo, jadinya aku deketin.
            Dan begitu aku deket mereka, OHMYGOD, itu Jess! Sama cowok lain! *heboh*
            Ya ampun….. Itu seriusan Jess?
            Aku mengucek mataku untuk meyakinkan, dan ternyata itu beneran Jess. Jess ngeliat cowok di depannya mesra gitu, dan setelah aku liat-liat lagi, ternyata cowok itu anak futsal di sekolahan, namanya Anthony.
            Tapi kan….. Jess sama Mikha, kok tiba-tiba sama Anthony rangkul-rangkulan mesra gitu…………………
            “Hey, Tay!”
            Ada yang menepuk bahuku, dan aku langsung menoleh.
            “Eh, guys, udah selesai performnya?” tanyaku, gugup begitu melihat Mikha, Reuben, dan Mada sudah ada di depanku.
            Mikha mengangguk, ceria. “Iya, asli seneng banget, deh. Banyak banget Tunist yang datang!”
            Aku tersenyum sebisanya, agak bingung. Mikha nya ceria-ceria aja, dan Jess lagi sama cowok lain……………………
            Aku langsung gugup gak karuan mikirin itu, dan rupanya Reuben peka. “Tay, what’s wrong? Are you okay? Muka kamu pucat banget,”
            “I’m fine, Reu.”
            “Tay?” tanya Mikha. “Anyway, kamu liat Jess gak? Tadi dia disini juga, didekat panggung.”
            DUHHHH.
            Belum sempat aku mau bohong, Mada udah ngomong duluan. “Eh, liat deh di dekat stage situ. Ada cewek pelukan sama cowok! Kayak kurang tempat aja buat pacaran, disini kan depan umum…..”
            Mataku Mikha, dan Reuben tertuju ke cewek dan cowok yang lagi pelukan yang ditunjuk Mada. Jantungku berdegup kencang, panik. Mada nunjuk Jess sama Anthony.
            Mikha menyipitkan matanya, kemudian berjalan pelan ke arah sana. “Wait, kayaknya aku kenal, deh….”
            Aku, Reuben, dan Mada mengikuti Mikha.
            Jess dan Anthony masih asyik pelukan, sampai akhirnya Mikha sadar, dan berdiri tepat di sebelah Jess.
            “Jess?” kata Mikha.
            Jess perlahan-lahan melepaskan pelukannya ke Anthony, kemudian berbalik dan menatap Mikha sambil tersenyum. WHAT? Dia masih senyum?
            “Oh, hai, Mik. Gimana performnya tadi? Sukses?” tanya Jess sambil merangkul Anthony.
            Kulihat wajah Mikha berubah pucat. “What are you doing with him?” tanya Mikha sambil nujuk Anthony.
            Jess tersenyum, dan senyumnya selalu licik. “Well, Mikha… Aku udah bosan sama kamu. Lagian kamu juga sibuk banget, manggung sana-sini. Jadi, ya… kita putus.”
            “Hah?” pekikku, tak percaya. Namun Reuben langsung menutup mulutku.
            Jess yang mendengarku juga tertawa. “Udahlah, Mik. Gak usah sedih. You can find another girl, toh kamu keren. But not for me anymore,” kata Jess, tertawa, kemudian menggamit lengan Anthony. “Well, then, goodbye.”
            WHAT A WORDS.
            Jess kemudian pergi sambil memeluk Anthony di depan mata Mikha.
            WAS THAT FOR REAL?!
            Aku segera menatap Mikha yang shock, wajahnya pucat banget. “Mik, are you okay?”
            “Well, I told you, Mik. Jess itu emang gak baik, kan?” kata Mada.
            “Mads, jangan nyalahin Mikha,” bisikku pelan. “Mik, what do you feel right now?”
            Mikha menunduk sebentar, kemudian mendongak. “Gak pernah sebaik ini rasanya,” katanya sambil tersenyum. “Well, I have to go.”
            Mikha kemudian berjalan, lalu berlari pergi dari hadapanku, Reuben, dan Mada.
            Ngeliat Mikha sedih gitu rasanya juga ikutan sedih.
            Cant you see that I’m the one who understand you, been here all along, so why cant you see?
            You belong with me.
***
            Kurasakan nafasku sudah sesak, namun masih kupaksakan untuk berlari.
            Sampai akhirnya, kutemukan dia, duduk di pinggir lapangan basket sambil membaca buku.
            “Reuben!”
            Yang dipanggil mendongak, dan heran begitu melihatku yang berdiri di depannya dengan nafas memburu. “Taylor? Kenapa?”
            “Finally I found you….” kataku, masih terengah-engah.
            “Kenapa?” tanya Reuben. “Duduk deh disini….”
            Aku pun duduk di sebelah Reuben, lalu langsung menatapnya. “Mikha gimana?”
            Reuben diam sebentar. “Well, Mikha baik-baik aja dirumah.”
            “Kenapa dia gak sekolah?”
            Reuben tersenyum. “Mikha kecapean kemaren habis perform di FX, kita juga ada siaran di radio, baru wawancara di majalah, jadi baru pulang kerumah sekitar jam 12 malam. Dia ketiduran jadinya yah gak sekolah. Mikha kecapean, tapi ya baik-baik aja.”
            “Terus, tentang Jess gimana? Mikha-“
            “Tay, don’t be panic like that. Mikha baik-baik aja kok,” kata Reuben. Namun, begitu ia melihat pandanganku yang tak percaya, ia segera tersenyum. “Well, mungkin kemaren dia rada pendiam gitu, dan aku tau Mikha juga sedih. Tapi, tadi malam pas mau pulang kerumah, Mikha udah ceria lagi kok. Jess is done for him.”
            FIUHH. Untung Mikha udah baik-baik aja.
            “Thanks, Reu,” kataku.
            “Anytime,” kata Reuben.
            Hening.
            “Anyway, kenapa kamu gak bilang aja sih ke Mikha?”
            “Hah? Bilang apa?”
            Reuben tertawa kecil. “Ya bilang apa yang kamu rasain ke dia lah,” kata Reuben.
            Aku menatap Reuben bingung. “Reu?”
            Reuben balas menatapku. “Tay, I knew it. You love him, don’t you?” tanya Reuben.
            What………………………….
            “Sorry?” kataku, tertawa, berusaha mengelak. “Gak salah denger, nih? He’s my bestfriend.”
            “But you hope you can be his girlfriend, right?” tanya Reuben, yang langsung membuatku terdiam. “Udahdeh, Tay, aku tau kok apa yang kamu rasain ke adek aku. Go and tell him.”
            Aku menggeleng. “No. Mikha cuma anggap aku sahabatnya, gak lebih,” kataku.
            “Emang kamu tau perasaan Mikha ke kamu gimana? Gak kan?” tanya Reuben. “C’mon, Tay. Kamu gak akan tau gimana perasaan dia ke kamu, sampai akhirnya kamu ngungkapin sendiri. Siapa tau aja dia punya rasa yang sama kayak kamu.”
            “Tapi kalau dia cuma anggap aku sahabat gimana? Dan kalau setelah itu awkward gimana?”
            Reuben menghela nafas. “Tapi kamu gak akan penasaran lagi, kan? Kamu udah tau apa yang dia rasain, dan kamu tau kamu gak perlu nunggu dia lagi. Intinya, you have to tell him.”
            Aku terdiam mendengar kata-kata Reuben.
            “I wait you tomorrow, at prom night. Go tell Mikha about your feeling. You tell it, or you keep waiting?” kata Reuben, kemudian ia berdiri. “Dan lagipula, Mikha lebih cocok sama kamu daripada Jess.”
            Reuben kemudian berlalu dari hadapaku setelah sebelumnya mengelus kepalaku lembut.
            Dan di lapangan basket, aku duduk sendirian, bingung.
            What should I do?
***
            Aku membuka-buka majalah di depanku di kasur sambil tiduran, sampai akhirnya kulihat cahaya di kamar Mikha lewat jendela.
            Kuperhatikan pelan-pelan, dan Mikha berdiri di jendela, sambil mengarahkan buku ke kamarku.
           
            Do you come to the prom tonight?

            Aku mengambil bukuku, kemudian menulis dan mengarahkannya ke Mikha.
           
            Nope, I’m studying.

            Bisa kulihat wajah Mikha terlihat kecewa.

            Well, I wish you there. You should go to the prom, Tay.

            Aku tersenyum membaca tulisan Mikha, kemudian menggeleng.
            Lalu Mikha mengangkat bahunya, kemudian mengambil jas dan mematikan lampu di kamarnya, pergi.
            Begitu Mikha pergi, aku duduk termangu di kasur. Teringat perkataan Reuben.
            Tell it…. or you keep waiting………….
            Aku terdiam, then decided something.
            Aku melepas kacamataku perlahan-lahan.
***
            Okay, Taylor, calm down. C-A-L-M D-O-W-N.
            But everybody is staring at me! How can I calm down?
            Aku menarik nafas, kemudian memasang senyumku yang paling manis, lalu berjalan perlahan memasuki ballroom yang sudah penuh.
            “OMG, Tay is so beautiful!”
            “Is it Tay? Tay yang cupu itu? Kok jadi cantik gitu, sih?”
            Aku hanya tersenyum mendengar perkataan yang kudengar. Mataku mencari-cari dimana Mikha, namun akhirnya Reuben dan Mada mendatangiku.
            “OMG, ini seriusan Taylor?” tanya Mada tak percaya.
            Aku tertawa, kemudian mengangguk. “Yup, Madster! Anyway, kalian cakep banget pake jas gini!”
            Reuben tersenyum sumringah melihatku. “You look so beautiful with that white dress, Tay!” katanya.
            Aku tertawa.
            “Well, then, go and tell him!” sahut Mada.
            Aku menatap Mada. “Do you know about it?”
            Mada tertawa. “Yaiyalah, Reuben told me yesterday. Udah, sekarang cepetan!”
            Reuben kemudian menunjukkan kerumunan yang lagi berdiri di dekat stage. “Mikha disana, buruan…”
            Aku mengangguk, kemudian berjalan ke arah Mikha.
            Dan tepat begitu aku berjalan, Mikha membalikkan badannya. Aku ngeliat Mikha pakai jas….. OH GOD, WHY MIKHA IS SOOOOO HANDSOME?
            Mikha melihatku terperangah, tak percaya. Namun ia segera melangkahkan kakinya ke arahku.
            Tinggal beberapa langkah lagi aku berhadapan dengan Mikha, tiba-tiba Jess muncul dan menarik tangan Mikha. Namun Mikha segera melepaskan tangannya dari Jess dan tetap berjalan ke arahku.
            And now, Mikha is right in front of me. Matanya berkilau tak percaya begitu melihatku yang berdiri di depannya.
            “Oh God, ini beneran Taylor?” bisiknya. “You look so perfect, more than beautiful…”
            Aku tertawa. “You too, look so sparkling with the tux.”
            Mikha tertawa, matanya tak lepas-lepas dari wajahku. “Finally you came here…”
            Aku tersenyum. Kemudian mengeluarkan kertas dari tasku. Kubuka perlahan-lahan kertas itu, kemudian kulihatkan ke Mikha.
            I Love You, Mikha.
            Jantungku berdegup tak karuan, namun kulihat Mikha tersenyum. Ia mengambil sesuatu dari saku jasnya. Kertas. Kemudian ia buka perlahan, dan ia lihatkan kepadaku.
            I Love You, Taylor.
            Wait.
            What.
            Oh.
            God.
            Aku bengong melihat kertas yang dipegang Mikha, kemudian kutatap wajahnya yang sekarang tersenyum. “Mik?” bisikku tak percaya.
            Mikha tersenyum. “I love you since the first time I met you. Iya, dari kecil aku sudah suka sama kamu, sayang aku gak berani ngungkapin apa yang aku rasain selama ini,” kata Mikha, yang membuat mataku berkaca-kaca saking shocknya. “Jess itu bukan apa-apa, I don’t like her anymore. So, Taylor, would you be mine?”
            Okay, calm down.
            “Is this for real, Mik?”
            Mikha tertawa. “Yup, this is not dream anymore. Not yours, not mine. This is a reality.” Mikha kemudian menatapku. “Taylor, would you be mine?”
            Aku mengangguk, kemudian tersenyum. “Yes, Mikha.”
            Mikha tertawa, kemudian menarikku ke pelukannya. Aku membalas pelukan Mikha, lalu terisak pelan saking terharunya.
            “Why are you crying, Tay?” tanya Mikha, tertawa. Ia lalu menghapus air mataku dengan jari-jari tangannya.
            Then he kisses my forehead softly.
            Mikha memelukku. “I love you, Tay.”
            “I love you more, Mik.”

Morral Lesson: kalau suka sama orang….. jangan dipendam mulu ya. Gak enak. Sakit. Nyesek #eyaak hahaha! Jadi, ada baiknya kita bilang apa yang kita rasain, daripada harus nunggu terus, hayoo ;p
Thank you for reading, wait for the next short story, and wait for the fanfic yaa :D xoxo
Love, @DjimbasSMD xx

Tidak ada komentar:

Posting Komentar