Bab 3
You by the light is the greatest find
In a world full of wrong you're the thing that's right
Finally made it through the lonely to the other side
You said it again, my heart's in motion
Every word feels like a shooting star
I'm at the edge of my emotions
Watching the shadows burning in the dark,
And I'm in love and I'm terrified.
For the first time and the last time
In my only life.
This could be good
It's already better than last
And nothing's worse than knowing
You're holding back
I could be all that you needed
If you let me try
You said it again, my heart's in motion
Every word feels like a shooting star
I'm at the edge of my emotions
Watching the shadows burning in the dark,
And I'm in love and I'm terrified.
For the first time and the last time
In my only life.
I only said it 'cause I mean it
I only mean it 'cause it's true
So don't you doubt what I've been dreaming
'Cause it fills me up and holds me close
Whenever I'm without you
You said it again, my heart's in motion
Every word feels like a shooting star
I'm at the edge of my emotions
Watching the shadows burning in the dark,
And I'm in love and I'm terrified.
For the first time and the last time
In my only life.
Gedung Kesenian meledak dengan tepuk tangan begitu lagu yang kami bawakan selesai.
Semua orang yang menonton berdiri dan memberikan standing applause kepada kami. Bahkan guru-guru pun juga!
Aku memandang penonton tak percaya. INI GILA!
Aku bahkan melihat banyak sekali tulisan-tulisan di kertas yang besar sekali:
‘THE OVERTUNES YOU ROCK!’ lalu ada lagi ‘THE OVERTUNES WE LOVE YOU!’ banyak sekali yang bertuliskan begitu namun satu yang menarik perhatianku, kertas besar berwarna coklat yang dipegang oleh Jane.
‘I’M YOUR SECRET ADMIRER, THE OVERTUNES!’
Itu sempat mengganggu pikiranku sejenak, namun akhirnya Mikha menggandeng tanganku menuruni stage, dan terdengar teriakan jauh lebih kencang lagi.
Kami semua tertawa lepas, kemudian kembali ke ruang tadi. Terlihat Madamoissele sudah bersiap-siap.
“How is it? Kami dengar tadi, dan yaampun, kalian harusnya udah go internasional!” seru Kania sambil memelukku.
“Thanks, Kania!” seruku sambil tertawa lega. Rasanya bahagia banget.
“Well, kami harus siap-siap,” kata Alice. “Kami urutan ke dua.”
“Goodluck!”
Madamoissele pun keluar dari ruangan.
Aku menatap Mikha, Reuben, Jeremy, dan Mada bergantian. Wajah mereka memerah saking senangnya, lalu aku menghambur ke pelukan mereka masing-masing. Wajahku berseri-seri.
“Good job, my lovely sister!” kata Mada begitu aku memeluknya.
Lalu aku beralih ke Jeremy, “Mona, you’re voice are rawk tadi! The Overtunes are cool!”
Dan Reuben. Aku berhenti sebentar, menatap matanya yang bercahaya, lalu memeluknya.
“Kamu keren, Mona,” kata Reuben simple. “Great job!”
Aku melepas pelukan Reuben lalu, mendatangi Mikha yang sedari tadi sudah merentangkan lengannya. Mada tertawa melihatnya.
Aku tertawa dan memeluk Mikha. (ini Mona meluk Mikha mulu……………. miminnya jealous. k, bye. FLOL)
“You are more than perfect, Mona,” bisik Mikha senang.
Aku tertawa kecil. “You are my inspiration for everything,” sahutku malu-malu.
Mikha melepaskan pelukannya kemudian tertawa. “Your secret admirer must be envy… I can hug you haha!”
Mikha hanya membuat wajahku semakin memerah dan jantungku berdetak tak karuan.
Pintu menjeblak terbuka, lalu kulihat Jane membawa beberapa botol air minum dan tampak kewalahan.
Mada segera berdiri dan membantu Jane membawakan botol itu, namun Jane secara tiba-tiba menjatuhkan botol itu.
“OH! OH! Sorry, sorry. Aku… Mada, sorry!” kata Jane terbata-bata, gugup.
Aku menyipitkan mataku, memandang Jane curiga.
Hmm…. It seems like……..
Jane segera mendatangiku dengan wajahnya yang memerah. Lalu ia langsung memelukku. “Mona my dear, OHMYGOD! You are rawk! Aku baru dengar suara kamu tadi, dan ternyata keren banget. Oh my, aku nyaris tuli di kursi penonton tadi tapi worth it, suara kamu….”
Kubiarkan Jane mengoceh. Aku tertawa.
Lalu Reuben berdeham, dan Jane langsung melepaskan pelukannya. Jane melirik Reuben dan Mikha sekilas, kemudian mengeluarkan kertas dari saku roknya.
“Mon, ini…”
Jane memberikan kertas dan aku membukanya.
Dear, Mona…
I don’t know what shoul I say. You just so cool with your microphone hahaha!
You are more than beautiful, more than smart, more than amazing, more than wonderful, more than perfect.
Great job, Mona!
Dan rasanya bisa satu stage sama kamu, I thank God for this chance.
You make me love you more and more every second.
Love, proud, happy,
Your Admirer :)
Aku melipat kertas itu, lalu menatap Jane. “Jane, kamu tau siapa secret admirernya?”
Jane hanya diam.
Aku menggucang bahu Jane saking gemasnya. “Jane, please tell me. NOW!”
Aku panik.
Secret admirer ini anak The Overtunes. Fix.
Berarti….
Aku memandang Mada, Jeremy, Reuben dan Mikha bergantian. Dan entah mengapa mereka membalas tatapanku.
“Jane………….” kataku pelan, namun mengancam.
“Mona.” Reuben yang menjawab. “Kami semua sudah tau siapa secret admirer kamu.”
WHAT?
Hening……………………………….
“Hey, kenapa ada jus disini? Cuma satu lagi!” kata Jeremy tiba-tiba sambil memegang sebotol jus.
“Oh…. itu…. buat….. Mada.”
“CIEEEEEEEE!!!!!” kata Mikha dan Jeremy berbarengan sambil tertawa.
Mada merebut botol itu dari tangan Jeremy, kemudian menatap Jane sambil tersenyum. “Thanks, Jane. I don’t know why you know I like orange juice but, nevermind. Thanks!”
Jane mengangguk dan pipi serta telinganya berubah warna menjadi merah.
Pantesan Jane nanya Mada suka jus apa kemaren.
But its not important for now.
Aku menarik tangan Reuben. “Reu, please.”
Well, ini aneh.
Gimana kalau salah satu dari Mada, Jeremy, Reuben, dan Mikha itu secret admirer itu?
Belum sempat Reuben menjawab, pintu terbuka. Madamoissele memasuki ruangan dengan wajah berseri-seri. They all beautiful.
“Waaaa, semua suka sama penampilan kami tadi!” seru Amanta girang.
Di tengah euforia itu, Kania mendekatiku. “Mon, ada yang ngasih aku ini tadi. Gak tau siapa, tapi ini buat kamu.” Kania tersenyum sambil memberikan sebuah kotak. Coklat.
“Thanks. Yang ngasih cewek atau cowok?” tanyaku deg-degan.
“Cewek.”
“Oh, oke. Thanks!”
Aku menjauh dari kerumunan, kemudian membuka kotak itu.
Hanya ada selembar surat yang digulung dengan pita merah.
Dear Mona…
Come to school’s park, and you will find me.
Love, proud
Your Admirer :)
Tanpa buang-buang waktu aku langsung lari keluar dari ruangan dan menerobos kerumunan di Gedung Kesenian yang sedang sibuk loncat-loncat. Kulirik ke stage sebentar, band cowok heavy metal.
Aku segera berlari ke taman sekolah yang lumayan jauh itu, dan sesampainya disana. Sepi. Tidak ada orang.
Aku terdiam. Melirik kanan-kiri sampai akhirnya tatapanku berhenti di kursi taman.
Aku mengambil sembuah kotak coklat dari kursi taman itu. Kubuka dan isinya cupcake dengan tulisan:
I Love You, Mona Louissa.
Dan ada memonya:
We came together underneath the stars above. What started out as liking soon turned into love. I sensed a certain something in my heart that was true. I know I waited all my life to fall in love with you.
Love,
Your Admirer, Mr. B.
Jantungku entah lompat kemana, yang jelas begitu melihat tulisan Mr. B dibawah memo, aku langsung panik.
Mr. B….
Mr. B…
Mr. B…
“Mon!”
Aku menoleh.
Mikha.
“What are you doing here? Sebentar lagi pengumuman, dan semua peserta harus ngumpul,” jelas Mikha. Kemudian ia memandang cupcake antusias.
“Wow, cupcake! Minta satu boleh?” tanya Mikha girang.
“Mik,” kataku. Dan Mikha langsung diam. “Secret admirer ini salah satu dari Mada, Jeremy, Reuben, dan kamu. Iya, kan?”
Wajah Mikha tampak santai-santai saja. “Do you think so?”
Aku memandang wajah Mikha, mencari-cari dan….
Mr. B….
“Mr. Brahmantyo?” bisikku pelan. Mikha hanya menatapku. “Mik, please…. You know it, don’t you?”
“Mon, apa muka aku kayak secret admirer yang selama ini ngasih kamu hadiah dan surat-surat itu?” tanya Mikha langsung.
Jleb.
Jleb.
Rasanya kayak ditusuk sama pedang.
“Cmon, Mona. Kita balik ke gedung dulu, baru kamu boleh fokus sama secret admirer kamu. I will not disturb you anymore. Cause you look so in love with him,” kata Mikha. Wajahnya biasa saja, lalu ia menggandeng tanganku.
Mik, I’m in love with you!
Dan sepertinya, secret admirer bukan Mikha.
Kutahan air mataku supaya tidak menetes.
In a world full of wrong you're the thing that's right
Finally made it through the lonely to the other side
You said it again, my heart's in motion
Every word feels like a shooting star
I'm at the edge of my emotions
Watching the shadows burning in the dark,
And I'm in love and I'm terrified.
For the first time and the last time
In my only life.
This could be good
It's already better than last
And nothing's worse than knowing
You're holding back
I could be all that you needed
If you let me try
You said it again, my heart's in motion
Every word feels like a shooting star
I'm at the edge of my emotions
Watching the shadows burning in the dark,
And I'm in love and I'm terrified.
For the first time and the last time
In my only life.
I only said it 'cause I mean it
I only mean it 'cause it's true
So don't you doubt what I've been dreaming
'Cause it fills me up and holds me close
Whenever I'm without you
You said it again, my heart's in motion
Every word feels like a shooting star
I'm at the edge of my emotions
Watching the shadows burning in the dark,
And I'm in love and I'm terrified.
For the first time and the last time
In my only life.
Gedung Kesenian meledak dengan tepuk tangan begitu lagu yang kami bawakan selesai.
Semua orang yang menonton berdiri dan memberikan standing applause kepada kami. Bahkan guru-guru pun juga!
Aku memandang penonton tak percaya. INI GILA!
Aku bahkan melihat banyak sekali tulisan-tulisan di kertas yang besar sekali:
‘THE OVERTUNES YOU ROCK!’ lalu ada lagi ‘THE OVERTUNES WE LOVE YOU!’ banyak sekali yang bertuliskan begitu namun satu yang menarik perhatianku, kertas besar berwarna coklat yang dipegang oleh Jane.
‘I’M YOUR SECRET ADMIRER, THE OVERTUNES!’
Itu sempat mengganggu pikiranku sejenak, namun akhirnya Mikha menggandeng tanganku menuruni stage, dan terdengar teriakan jauh lebih kencang lagi.
Kami semua tertawa lepas, kemudian kembali ke ruang tadi. Terlihat Madamoissele sudah bersiap-siap.
“How is it? Kami dengar tadi, dan yaampun, kalian harusnya udah go internasional!” seru Kania sambil memelukku.
“Thanks, Kania!” seruku sambil tertawa lega. Rasanya bahagia banget.
“Well, kami harus siap-siap,” kata Alice. “Kami urutan ke dua.”
“Goodluck!”
Madamoissele pun keluar dari ruangan.
Aku menatap Mikha, Reuben, Jeremy, dan Mada bergantian. Wajah mereka memerah saking senangnya, lalu aku menghambur ke pelukan mereka masing-masing. Wajahku berseri-seri.
“Good job, my lovely sister!” kata Mada begitu aku memeluknya.
Lalu aku beralih ke Jeremy, “Mona, you’re voice are rawk tadi! The Overtunes are cool!”
Dan Reuben. Aku berhenti sebentar, menatap matanya yang bercahaya, lalu memeluknya.
“Kamu keren, Mona,” kata Reuben simple. “Great job!”
Aku melepas pelukan Reuben lalu, mendatangi Mikha yang sedari tadi sudah merentangkan lengannya. Mada tertawa melihatnya.
Aku tertawa dan memeluk Mikha. (ini Mona meluk Mikha mulu……………. miminnya jealous. k, bye. FLOL)
“You are more than perfect, Mona,” bisik Mikha senang.
Aku tertawa kecil. “You are my inspiration for everything,” sahutku malu-malu.
Mikha melepaskan pelukannya kemudian tertawa. “Your secret admirer must be envy… I can hug you haha!”
Mikha hanya membuat wajahku semakin memerah dan jantungku berdetak tak karuan.
Pintu menjeblak terbuka, lalu kulihat Jane membawa beberapa botol air minum dan tampak kewalahan.
Mada segera berdiri dan membantu Jane membawakan botol itu, namun Jane secara tiba-tiba menjatuhkan botol itu.
“OH! OH! Sorry, sorry. Aku… Mada, sorry!” kata Jane terbata-bata, gugup.
Aku menyipitkan mataku, memandang Jane curiga.
Hmm…. It seems like……..
Jane segera mendatangiku dengan wajahnya yang memerah. Lalu ia langsung memelukku. “Mona my dear, OHMYGOD! You are rawk! Aku baru dengar suara kamu tadi, dan ternyata keren banget. Oh my, aku nyaris tuli di kursi penonton tadi tapi worth it, suara kamu….”
Kubiarkan Jane mengoceh. Aku tertawa.
Lalu Reuben berdeham, dan Jane langsung melepaskan pelukannya. Jane melirik Reuben dan Mikha sekilas, kemudian mengeluarkan kertas dari saku roknya.
“Mon, ini…”
Jane memberikan kertas dan aku membukanya.
Dear, Mona…
I don’t know what shoul I say. You just so cool with your microphone hahaha!
You are more than beautiful, more than smart, more than amazing, more than wonderful, more than perfect.
Great job, Mona!
Dan rasanya bisa satu stage sama kamu, I thank God for this chance.
You make me love you more and more every second.
Love, proud, happy,
Your Admirer :)
Aku melipat kertas itu, lalu menatap Jane. “Jane, kamu tau siapa secret admirernya?”
Jane hanya diam.
Aku menggucang bahu Jane saking gemasnya. “Jane, please tell me. NOW!”
Aku panik.
Secret admirer ini anak The Overtunes. Fix.
Berarti….
Aku memandang Mada, Jeremy, Reuben dan Mikha bergantian. Dan entah mengapa mereka membalas tatapanku.
“Jane………….” kataku pelan, namun mengancam.
“Mona.” Reuben yang menjawab. “Kami semua sudah tau siapa secret admirer kamu.”
WHAT?
Hening……………………………….
“Hey, kenapa ada jus disini? Cuma satu lagi!” kata Jeremy tiba-tiba sambil memegang sebotol jus.
“Oh…. itu…. buat….. Mada.”
“CIEEEEEEEE!!!!!” kata Mikha dan Jeremy berbarengan sambil tertawa.
Mada merebut botol itu dari tangan Jeremy, kemudian menatap Jane sambil tersenyum. “Thanks, Jane. I don’t know why you know I like orange juice but, nevermind. Thanks!”
Jane mengangguk dan pipi serta telinganya berubah warna menjadi merah.
Pantesan Jane nanya Mada suka jus apa kemaren.
But its not important for now.
Aku menarik tangan Reuben. “Reu, please.”
Well, ini aneh.
Gimana kalau salah satu dari Mada, Jeremy, Reuben, dan Mikha itu secret admirer itu?
Belum sempat Reuben menjawab, pintu terbuka. Madamoissele memasuki ruangan dengan wajah berseri-seri. They all beautiful.
“Waaaa, semua suka sama penampilan kami tadi!” seru Amanta girang.
Di tengah euforia itu, Kania mendekatiku. “Mon, ada yang ngasih aku ini tadi. Gak tau siapa, tapi ini buat kamu.” Kania tersenyum sambil memberikan sebuah kotak. Coklat.
“Thanks. Yang ngasih cewek atau cowok?” tanyaku deg-degan.
“Cewek.”
“Oh, oke. Thanks!”
Aku menjauh dari kerumunan, kemudian membuka kotak itu.
Hanya ada selembar surat yang digulung dengan pita merah.
Dear Mona…
Come to school’s park, and you will find me.
Love, proud
Your Admirer :)
Tanpa buang-buang waktu aku langsung lari keluar dari ruangan dan menerobos kerumunan di Gedung Kesenian yang sedang sibuk loncat-loncat. Kulirik ke stage sebentar, band cowok heavy metal.
Aku segera berlari ke taman sekolah yang lumayan jauh itu, dan sesampainya disana. Sepi. Tidak ada orang.
Aku terdiam. Melirik kanan-kiri sampai akhirnya tatapanku berhenti di kursi taman.
Aku mengambil sembuah kotak coklat dari kursi taman itu. Kubuka dan isinya cupcake dengan tulisan:
I Love You, Mona Louissa.
Dan ada memonya:
We came together underneath the stars above. What started out as liking soon turned into love. I sensed a certain something in my heart that was true. I know I waited all my life to fall in love with you.
Love,
Your Admirer, Mr. B.
Jantungku entah lompat kemana, yang jelas begitu melihat tulisan Mr. B dibawah memo, aku langsung panik.
Mr. B….
Mr. B…
Mr. B…
“Mon!”
Aku menoleh.
Mikha.
“What are you doing here? Sebentar lagi pengumuman, dan semua peserta harus ngumpul,” jelas Mikha. Kemudian ia memandang cupcake antusias.
“Wow, cupcake! Minta satu boleh?” tanya Mikha girang.
“Mik,” kataku. Dan Mikha langsung diam. “Secret admirer ini salah satu dari Mada, Jeremy, Reuben, dan kamu. Iya, kan?”
Wajah Mikha tampak santai-santai saja. “Do you think so?”
Aku memandang wajah Mikha, mencari-cari dan….
Mr. B….
“Mr. Brahmantyo?” bisikku pelan. Mikha hanya menatapku. “Mik, please…. You know it, don’t you?”
“Mon, apa muka aku kayak secret admirer yang selama ini ngasih kamu hadiah dan surat-surat itu?” tanya Mikha langsung.
Jleb.
Jleb.
Rasanya kayak ditusuk sama pedang.
“Cmon, Mona. Kita balik ke gedung dulu, baru kamu boleh fokus sama secret admirer kamu. I will not disturb you anymore. Cause you look so in love with him,” kata Mikha. Wajahnya biasa saja, lalu ia menggandeng tanganku.
Mik, I’m in love with you!
Dan sepertinya, secret admirer bukan Mikha.
Kutahan air mataku supaya tidak menetes.
***
Semua peserta audisi berdiri di backstage dengan tegang.
Pengumuman.
Aku berdiri di antara Mada dan Reuben. Mikha berdiri di depanku, dan Jeremy disebelahnya.
Mikha kayaknya marah, tapi waktu aku tanyain dia bilang dia gak marah. Tapi…….
HUFT.
“Okay, everyone! Hasil sudah di tangan saya, dan ada 5 peserta yang bisa tampil di event nanti, bertarung lagi untuk memperebutkan piala sekolah pertama dalam bidang musik!”
Terdengar tepuk tangan sopan dari penonton.
“Saya sebut secara acak, karena poin di audisi ini akan digabung dengan point di event nanti,” kata si pembawa acara. Aku menggenggam tangan Reuben. “Okay, peserta pertama yang lolos adalah………. MADAMOISSELE! CONGRATS!’
Kudengar pekik kegirangan terdengar dari arah kanan. Kania melambai ke arah kami sebelum ia naik ke stage.
“Selanjutnya…. congrats to…… FURTADO!”
Cowok-cowok dari band heavy metal yang sempat kuliat performance nya tadi segera naik ke stage.
“Next… Congrats to….. GEEK!”
2 cewek dan cowok dengan tampilan unik naik ke atas stage dengan wajah gembira.
“Sisa dua peserta lagi. Ayo, mana suaranyaaaa?”
“THE OVERTUNES! THE OVERTUNES! THE OVERTUNES!”
“Next… congrats to……. COCONUT DISCO!”
Aku memandang 4 cowok ganteng di sekitarku dengan takut. Peserta lain masih banyak, dan mereka semua bagus-bagus!
“Okay, okay. Peserta terakhir yang lolos……… MANA TERIAKANNYA BUAT…….”
Hening.
Hening.
……………………………………….
……………………………………….
“EVERYONE, SAY CONGRATS TO…….. THE OVERTUNES!”
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”
Aku melongo tak percaya, lalu selanjutnya yang kutahu Mikha memelukku. Lalu Reuben, Mada, dan Jeremy juga ikut memelukku.
Reuben merangkulku, kami semua naik ke stage.
“Ya, jadi ini lima peserta yang bakal bertarung lagi di event musik, dan say congrats, everybody!”
Teriakan bergema. Namun yang paling kencang adalah teriakan ‘The Overtunes’. Semua cewek-cewek menjerit melihat Mikha yang tersenyum lebar, Mada yang tertawa, Jeremy yang mengacungkan kedua ibu jarinya, dan Reuben….. yang merangkulku. Mereka semua berteriak. Dan gak heran kalau sebentar lagi Gedung ini bakal hancur.
Well, oke. Lebay.
5 menit kemudian, kami semua menuruni stage dan kembali ke backstage.
Aku sibuk berpelukan dengan semua personil Madamoissele, lalu bertemu dengan Jane dan memeluknya erat. Kulihat matanya berkaca-kaca.
“Congrats, my Mona! I’m so proud of you!”
“Thanks, Jane!”
Lalu kulihat Jane menyalami Mada dengan malu-malu, lalu Reuben yang menelpon entah siapa, dan Jeremy yang asik mengobrol dengan teman-temannya….
Where is him?
Aku keluar dari backstage dan mengedarkan pandangan, mencari-cari.
Lalu kulihat seorang laki-laki dengam rambutnya yang khas dan jaketnya yang berwarna coklat membuka pintu gedung dan hilang keluar.
Mikha pergi duluan.
Pengumuman.
Aku berdiri di antara Mada dan Reuben. Mikha berdiri di depanku, dan Jeremy disebelahnya.
Mikha kayaknya marah, tapi waktu aku tanyain dia bilang dia gak marah. Tapi…….
HUFT.
“Okay, everyone! Hasil sudah di tangan saya, dan ada 5 peserta yang bisa tampil di event nanti, bertarung lagi untuk memperebutkan piala sekolah pertama dalam bidang musik!”
Terdengar tepuk tangan sopan dari penonton.
“Saya sebut secara acak, karena poin di audisi ini akan digabung dengan point di event nanti,” kata si pembawa acara. Aku menggenggam tangan Reuben. “Okay, peserta pertama yang lolos adalah………. MADAMOISSELE! CONGRATS!’
Kudengar pekik kegirangan terdengar dari arah kanan. Kania melambai ke arah kami sebelum ia naik ke stage.
“Selanjutnya…. congrats to…… FURTADO!”
Cowok-cowok dari band heavy metal yang sempat kuliat performance nya tadi segera naik ke stage.
“Next… Congrats to….. GEEK!”
2 cewek dan cowok dengan tampilan unik naik ke atas stage dengan wajah gembira.
“Sisa dua peserta lagi. Ayo, mana suaranyaaaa?”
“THE OVERTUNES! THE OVERTUNES! THE OVERTUNES!”
“Next… congrats to……. COCONUT DISCO!”
Aku memandang 4 cowok ganteng di sekitarku dengan takut. Peserta lain masih banyak, dan mereka semua bagus-bagus!
“Okay, okay. Peserta terakhir yang lolos……… MANA TERIAKANNYA BUAT…….”
Hening.
Hening.
……………………………………….
……………………………………….
“EVERYONE, SAY CONGRATS TO…….. THE OVERTUNES!”
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”
Aku melongo tak percaya, lalu selanjutnya yang kutahu Mikha memelukku. Lalu Reuben, Mada, dan Jeremy juga ikut memelukku.
Reuben merangkulku, kami semua naik ke stage.
“Ya, jadi ini lima peserta yang bakal bertarung lagi di event musik, dan say congrats, everybody!”
Teriakan bergema. Namun yang paling kencang adalah teriakan ‘The Overtunes’. Semua cewek-cewek menjerit melihat Mikha yang tersenyum lebar, Mada yang tertawa, Jeremy yang mengacungkan kedua ibu jarinya, dan Reuben….. yang merangkulku. Mereka semua berteriak. Dan gak heran kalau sebentar lagi Gedung ini bakal hancur.
Well, oke. Lebay.
5 menit kemudian, kami semua menuruni stage dan kembali ke backstage.
Aku sibuk berpelukan dengan semua personil Madamoissele, lalu bertemu dengan Jane dan memeluknya erat. Kulihat matanya berkaca-kaca.
“Congrats, my Mona! I’m so proud of you!”
“Thanks, Jane!”
Lalu kulihat Jane menyalami Mada dengan malu-malu, lalu Reuben yang menelpon entah siapa, dan Jeremy yang asik mengobrol dengan teman-temannya….
Where is him?
Aku keluar dari backstage dan mengedarkan pandangan, mencari-cari.
Lalu kulihat seorang laki-laki dengam rambutnya yang khas dan jaketnya yang berwarna coklat membuka pintu gedung dan hilang keluar.
Mikha pergi duluan.
***
“Morning, Mona!”
“Oh, morning too…”
“Selamat pagi, Mona! Suara kamu keren, loh! Aku dukung The Overtunes!”
“Wow, thank you!”
“Mona, you are rawk!”
“Mona, we love you!”
Sepanjang koridor aku hanya menjawab semua sapaan murid-murid. Dan aku membalasnya dengan senang hati.
Kebanyakan dari mereka yang menyapa adalah cowok, tapi cewek juga ada sih. Sayangnya kebanyakan cewek jadi… haters?
Aku melewati koridor kedua menuju ke kelas Sejarah.
Saat aku melewati segerombolan cewek yang sedang duduk-duduk di bangku, kulihat dari sudut mataku mereka menatapku menghina dan tampak sangat jelas: they hate me.
Aku hanya tersenyum, mengangkat wajahku lebih tinggi dan terus berjalan tanpa memperdulikan mereka. Walaupun rasanya bete banget……………….
Aku masuk ke kelas dan duduk di bangku nomor dua seperti biasanya. Aku menaruh novelku di laci meja, namun novelku tidak bisa masuk.
Aku menunduk dan OHMYGOD.
Aku mengeluarkan barang-barang yang ada di laciku.
Ada 5 batang coklat, 10 bunga mawar, berlembar-lembar surat, bertumpuk-tumpuk kotak yang entah apa isinya.
Aku menatap benda-benda itu bingung. Namun satupun dari benda-benda itu gak ada yang berwarna coklat.
Aku menengok laci lagi, lalu di sudut laci ada sebuah kotak. Coklat!
Aku segera mengambilnya dan membukanya.
Ada sapu tangan coklat, gambarnya gitar dan balok-balok nada. Aku menaruhnya. Lalu membaca surat:
Morning, Mona Louissa.
Semakin dekat, sebentar lagi kamu bakal tau aku :)
Dan feeling aku bilang kamu butuh sapu tangan itu, don’t know why.
Mona, semua clue sudah ada.
Kenapa kamu susah sekali menebaknya?
Is it too hard, Mona?
Sapu tangan harusnya sudah bisa menjelaskan semuanya.
Love,
Your Admirer, Mr. B :)
Aku menahan napas dan mengamati sapu tangan itu.
Warnanya coklat…
Gitar…
Mr. B = Mr. Brahmantyo.
“Gak usah pamer juga, deh, Mon. Kami tau kok kamu punya ‘fans’ sekarang!” kata Camille.
Oh, sejak kapan ada cewek ini?
Clara mengangguk. “Well, biarin aja, Camille. I think she has haters more than fans. Lets go,” kata Clara. Mereka berdua memberikan senyum sinis lalu pergi.
Aku menunduk, memegang sapu tangan coklat itu erat-erat.
Mona bodoh. Pikiran itu tiba-tiba terlintas di benakku.
Harusnya aku udah pikirin dari awal. Mikha, Reuben, Mada, dan Jeremy itu bintang sekolah. Tenar. Famous. Dan semua cewek disini suka sama mereka, tanpa kecuali.
Dan aku, satu band sama mereka. Jelas aja cewek-cewek pada envy.
Dadaku sesak, dan Jane belum datang. Kelas sepi. Mikha, Reuben, Mada, dan Jeremy juga tak nampak batang hidungnya.
Well, secret admirer. Your feeling is right.
Aku butuh sapu tangan ini.
“Oh, morning too…”
“Selamat pagi, Mona! Suara kamu keren, loh! Aku dukung The Overtunes!”
“Wow, thank you!”
“Mona, you are rawk!”
“Mona, we love you!”
Sepanjang koridor aku hanya menjawab semua sapaan murid-murid. Dan aku membalasnya dengan senang hati.
Kebanyakan dari mereka yang menyapa adalah cowok, tapi cewek juga ada sih. Sayangnya kebanyakan cewek jadi… haters?
Aku melewati koridor kedua menuju ke kelas Sejarah.
Saat aku melewati segerombolan cewek yang sedang duduk-duduk di bangku, kulihat dari sudut mataku mereka menatapku menghina dan tampak sangat jelas: they hate me.
Aku hanya tersenyum, mengangkat wajahku lebih tinggi dan terus berjalan tanpa memperdulikan mereka. Walaupun rasanya bete banget……………….
Aku masuk ke kelas dan duduk di bangku nomor dua seperti biasanya. Aku menaruh novelku di laci meja, namun novelku tidak bisa masuk.
Aku menunduk dan OHMYGOD.
Aku mengeluarkan barang-barang yang ada di laciku.
Ada 5 batang coklat, 10 bunga mawar, berlembar-lembar surat, bertumpuk-tumpuk kotak yang entah apa isinya.
Aku menatap benda-benda itu bingung. Namun satupun dari benda-benda itu gak ada yang berwarna coklat.
Aku menengok laci lagi, lalu di sudut laci ada sebuah kotak. Coklat!
Aku segera mengambilnya dan membukanya.
Ada sapu tangan coklat, gambarnya gitar dan balok-balok nada. Aku menaruhnya. Lalu membaca surat:
Morning, Mona Louissa.
Semakin dekat, sebentar lagi kamu bakal tau aku :)
Dan feeling aku bilang kamu butuh sapu tangan itu, don’t know why.
Mona, semua clue sudah ada.
Kenapa kamu susah sekali menebaknya?
Is it too hard, Mona?
Sapu tangan harusnya sudah bisa menjelaskan semuanya.
Love,
Your Admirer, Mr. B :)
Aku menahan napas dan mengamati sapu tangan itu.
Warnanya coklat…
Gitar…
Mr. B = Mr. Brahmantyo.
“Gak usah pamer juga, deh, Mon. Kami tau kok kamu punya ‘fans’ sekarang!” kata Camille.
Oh, sejak kapan ada cewek ini?
Clara mengangguk. “Well, biarin aja, Camille. I think she has haters more than fans. Lets go,” kata Clara. Mereka berdua memberikan senyum sinis lalu pergi.
Aku menunduk, memegang sapu tangan coklat itu erat-erat.
Mona bodoh. Pikiran itu tiba-tiba terlintas di benakku.
Harusnya aku udah pikirin dari awal. Mikha, Reuben, Mada, dan Jeremy itu bintang sekolah. Tenar. Famous. Dan semua cewek disini suka sama mereka, tanpa kecuali.
Dan aku, satu band sama mereka. Jelas aja cewek-cewek pada envy.
Dadaku sesak, dan Jane belum datang. Kelas sepi. Mikha, Reuben, Mada, dan Jeremy juga tak nampak batang hidungnya.
Well, secret admirer. Your feeling is right.
Aku butuh sapu tangan ini.
***
Pulang sekolah, and FYI sudah 3 hari gak ketemu dengan layak sama Mikha.
Aku membawa buku-buku ku sambil berjalan ke taman sekolah. Reuben tadi menelponku, katanya semua udah ngumpul di taman sekolah.
Dan Reuben bilang semua. Berarti ada Mikha!
Juju raja, 3 hari gak ketemu Mikha dengan layak rasanya galau abis. Maksudnya layak, itu kayak sebelum-sebelumnya. Ngobrol bareng. He holds my hands. Hugs me. Something like that.
Akhir-akhir ini Mikha nampak sibuk. Dua hari lalu wajahnya terlihat kelelahan, dan kusimpulkan itu karena dia latihan bola. Dan tadi pagi, wajahnya pucat bukan main. Waktu aku tanya, Mikha bilang dia gak apa-apa.
“Calm down, Mona. Aku cuma nervous,” kata Mikha, tepat pada saat bel berbunyi.
“Nervous kenapa?” tanyaku berbisik.
Mikha menggeleng lalu tersenyum. “Secret!”
Lalu kami berdua sibuk mengerjakan tugas. Selalu seperti itu. Dan setiap istirahat dia juga langsung pergi keluar kelas, entah kemana. Dan waktu bel pulang berbunyi, dia orang pertama yang ninggalin kelas.
Aneh, kan? Bener-bener gak layak!
Di taman sekolah lumayan ramai karena bel pulang baru 5 menit yang lalu berbunyi. Aku melihat Reuben dan bergegas mendatanginya.
“Hi, Reu!”
Reuben menoleh, “Oh, hi Mona!”
Kulihat Mada dengan botol jusnya-yang pastinya dari Jane karena ada Jane juga disini-lalu Jeremy yang asik membalas sapaan cewek-cewek. Namun, gak ada Mikha.
“Reu, Mikha mana?” tanyaku segera.
Wajah Reuben membeku. “Rrrr, gak tau. Mad, Mikha pulang duluan ya tadi?”
Mada mengacungkan ibu jarinya. Lalu mengobrol dengan Jane. Hmmm, kalau aja Mikha ada disini pasti aku udah ngolokin dia sama Jane.
Aku gelisah. “Mikha should be here too.”
Reuben mengusap kepalaku pelan, “Tenang, Mon. He’s not gone kok. Dia lagi nyiapin something aja…”
“Something what?”
“I don’t know…”
Huft.
“Reu, Mikha must be angry with me. Waktu aku nyari secret admirer ke taman, dia bilang dia gak bakal ganggu aku lagi, cause he said I looked so in love with secret admirer!”
Reuben tertawa. “Mikha gak marah, Mona. Keep calm aja deh.”
Reuben kemudian mendatangi Mada sementara aku masih memikirkan Mikha.
Duh, Mik. Where have you been sih?!
Lalu Mada merangkulku tiba-tiba dan Jane sudah berjalan disampingku, kelewat girang. “Kita ke loker dulu ya, baju bola aku harus dicuci. Mama told me this morning.”
Maka aku pasrah saja dibawa ke ruang loker, lesu karena gak ada Mikha.
Sesampainya di ruang loker, Mada langsung membuka lokernya ditemani Jeremy. Reuben menuju lokernya dan menaruh bukunya.
Jane sendiri duduk di bangku dekat pintu.
Melihat buku, aku teringat novel Romeo Juliet ku yang hilang entah kemana. Sudah dari audisi aku nyariin tapi gak ada dimana-mana. Dan aku baru ingat kalau aku belum ngecek loker.
“Jane, aku cek loker dulu, ya. Kayaknya buku Romeo Juliet ku disitu,” kataku. Jane mengangguk sambil tersenyum girang.
Jane akhir-akhir ini terlalu girang. Hmm, she must be fall in love with… Mada! Hahahaha.
Aku membuka lokerku, dan…………………
“AAA!”
Aku kaget sekali begitu kulihat balon-balon melesak keluar dari dalam lokerku.
Ini apaan coba………………………………….
Balon-balon itu diikat ke sebuah bunga mawar. Ada memonya:
“When I see your smile, tears roll down my face, I cant replace…”
Ini lirik lagu! Lagunya The Red Jumpsuit Apparatus yang Your Guardian Angel. Nafasku mulai memburu.
(nowplaying: The Red Jumpsuit Apparatus - Your Guardian Angel)
Kulanjutkan membaca:
Mona, you already followed my twitter. So maybe, follow my heart now? Go to school’s park for the next clue. Oh and don’t forget to bring this rose too.
Your Admirer, Mr. B.
Aku melepas mawar itu dan memonya. Kututup loker, dan memandang sekeliling.
Sepi.
“Wait wait!” pekikku kaget. “Reu? J? Mad? Jane?”
They are gone.
Jantungku berdegup 10 kali lebih cepat. Maka aku segera berlari ke taman sekolah. Untung tas ku tidak terlalu berat hari ini, fiuh!
Di taman sekolah, tidak susah menemukan clue dari secret admirer. Ada balon-balon lagi diikatkan ke kursi taman.
Kemudian kulihat ada satu mawar lagi. Dan kertas yang digulung dan diikat dengan pita coklat. Well, always brown.
And now than I’m strong I have figured out. How this world turns cold and it breaks my soul. And I know I’ll find deep inside me, I can be the one.
Mona, I’ll tell you who I am today. Now. All my clues will lead you to me. Bring this rose, don’t forget it.
Come to the place in this school that have many books. Easy, isn’t it?
Your Admirer, Mr. Brahmantyo.
Place that have many books. Library.
Mr. Brahmantyo.
Tanpa pikir panjang, aku menyambar mawar itu dan suratnya, lalu segera berlari ke perpustakaan yang tidak jauh dari taman sekolah.
Sesampainya di perpustakaan, aku langsung memburu masuk dan melihat sekeliling. Masa cluenya ada balon lagi? Di perpus? Oh no, I’m dying of curious now!!!!
Lalu tiba-tiba terdengar lagu The Red Jumpsuit Apparatus yang Your Guardian Angel. Aku mencari sumber suara dan menemukan bunga mawar di atas meja dengan memo.
I will never let you fall. I’ll stand up with you forever. I’ll be there for you through it all. Even if saving you sends me to heaven.
Find a book in library. Anyway, you don’t have to run, Mona. You will run out of breathe. Calm down. I wait for you.
Book: lion, Peter, Susan, Edmund, Lucy.
Your Admirer, Mr. Brahmantyo.
Aku diam sebentar.
Narnia.
Lalu aku berkeliling rak-rak buku yang besar itu dan finally, I found Narnia!
Di buku itu terselip bunga dan memo:
Seasons are changing and waves are crashing. And stars are falling all for us. Days grow longer, and nights grow shorter. I can show you I’ll be the one.
Go to a place in this school, you spent your time mostly last month in that room. And, all the books, essays, made you won the competition.
Your Admirer, Mr. Brahmantyo.
Menang kompetisi…..
Think, Mona, think!
Olimpiade Sains!
Aku berlari langsung ke lantai dua, gak perduli sama dadaku yang sesak karena kehabisan napas, ini sudah kepo akut. Sudah berbulan-bulan dan akhirnya aku bakal tau siapa secret admirer!
Di lantai dua, aku langsung berlari ke ruang Olimpiade dan membuka pintunya. Sepi. Aku masuk dan melihat ada kursi yang diikat dengan balon-balon.
Kuambil mawar itu dan melepas memonya:
Cause you’re my... you’re my… my true love, my whole heart. Please don’t throw that away. Cause I’m here for you. Please don’t walk away, and please tell me you’ll stay. Stay.
Mona Louissa, one step closer.
Take the rose. Go to the place that you’ve seen me play guitar for the first time. I’m there.
Your Admirer, Mr. Brahamntyo :)
Aku menarik mawar dan memo, lalu keluar dari ruang musik. Aku menatap jam tanganku. Sudah jam 6 sore.
Play guitar for the first time…
Tapi siapa? Siapa yang aku pertama kali liat main gitar?
Gitar… Musik….
Ruang musik!
Seakan lampu baru saja dinyalakan di otakku, aku langsung bergegas ke ruang musik yang sangat jauh dari ruang Olimpiade. Ujung ke ujung!
Selama berlari, aku memikirkan semua clue yang ada. Jeremy jelas bukan. Mr. Brahmantyo itu hanya antara Mada, Reuben, dan Mikha.
Di perpus, buku Narnia. Mikha suka buku Narnia.
DAGDIGDUG.
Kupercepat langkahku ke ruang musik.
Di ruang Olimpiade, essay. Reuben ikut olimpiade dan bikin essay.
DAGDIGDUG.
Akhirnya, sampai di depan ruang musik!
Ada surat. Ku ambil.
Mona Louissa,
How much rose that you have now? Count it.
Aku menghitung mawar yang ada di tanganku. Lima tangkai mawar. Lalu kulanjutkan membaca.
Sebanyak itulah suku kata namaku. After you know my name, use this key to open the door. I’m in music room, my lovely angel, Mona Louissa.
Your Admirer, Mr. Brahmantyo :)
Aku bergetar memegang kunci itu.
Narnia, essay, lima suku kata.
OHMYGOD. Otakku bekerja sangat keras.
…………….
…………….
Aku memegang kunci itu gemetaran, lalu terdengar bunyi ‘klik’ pelan.
Setelah berbulan-bulan. Dan sebentar lagi, secret admirer bakal ketahuan.
Aku gugup. Banget. Someone help me please?
Aku membuka pintunya dan…………..
……………………………………..
………………………………………….
………………………………………………….
Rasanya jantungku berhenti berdetak.
Aku membawa buku-buku ku sambil berjalan ke taman sekolah. Reuben tadi menelponku, katanya semua udah ngumpul di taman sekolah.
Dan Reuben bilang semua. Berarti ada Mikha!
Juju raja, 3 hari gak ketemu Mikha dengan layak rasanya galau abis. Maksudnya layak, itu kayak sebelum-sebelumnya. Ngobrol bareng. He holds my hands. Hugs me. Something like that.
Akhir-akhir ini Mikha nampak sibuk. Dua hari lalu wajahnya terlihat kelelahan, dan kusimpulkan itu karena dia latihan bola. Dan tadi pagi, wajahnya pucat bukan main. Waktu aku tanya, Mikha bilang dia gak apa-apa.
“Calm down, Mona. Aku cuma nervous,” kata Mikha, tepat pada saat bel berbunyi.
“Nervous kenapa?” tanyaku berbisik.
Mikha menggeleng lalu tersenyum. “Secret!”
Lalu kami berdua sibuk mengerjakan tugas. Selalu seperti itu. Dan setiap istirahat dia juga langsung pergi keluar kelas, entah kemana. Dan waktu bel pulang berbunyi, dia orang pertama yang ninggalin kelas.
Aneh, kan? Bener-bener gak layak!
Di taman sekolah lumayan ramai karena bel pulang baru 5 menit yang lalu berbunyi. Aku melihat Reuben dan bergegas mendatanginya.
“Hi, Reu!”
Reuben menoleh, “Oh, hi Mona!”
Kulihat Mada dengan botol jusnya-yang pastinya dari Jane karena ada Jane juga disini-lalu Jeremy yang asik membalas sapaan cewek-cewek. Namun, gak ada Mikha.
“Reu, Mikha mana?” tanyaku segera.
Wajah Reuben membeku. “Rrrr, gak tau. Mad, Mikha pulang duluan ya tadi?”
Mada mengacungkan ibu jarinya. Lalu mengobrol dengan Jane. Hmmm, kalau aja Mikha ada disini pasti aku udah ngolokin dia sama Jane.
Aku gelisah. “Mikha should be here too.”
Reuben mengusap kepalaku pelan, “Tenang, Mon. He’s not gone kok. Dia lagi nyiapin something aja…”
“Something what?”
“I don’t know…”
Huft.
“Reu, Mikha must be angry with me. Waktu aku nyari secret admirer ke taman, dia bilang dia gak bakal ganggu aku lagi, cause he said I looked so in love with secret admirer!”
Reuben tertawa. “Mikha gak marah, Mona. Keep calm aja deh.”
Reuben kemudian mendatangi Mada sementara aku masih memikirkan Mikha.
Duh, Mik. Where have you been sih?!
Lalu Mada merangkulku tiba-tiba dan Jane sudah berjalan disampingku, kelewat girang. “Kita ke loker dulu ya, baju bola aku harus dicuci. Mama told me this morning.”
Maka aku pasrah saja dibawa ke ruang loker, lesu karena gak ada Mikha.
Sesampainya di ruang loker, Mada langsung membuka lokernya ditemani Jeremy. Reuben menuju lokernya dan menaruh bukunya.
Jane sendiri duduk di bangku dekat pintu.
Melihat buku, aku teringat novel Romeo Juliet ku yang hilang entah kemana. Sudah dari audisi aku nyariin tapi gak ada dimana-mana. Dan aku baru ingat kalau aku belum ngecek loker.
“Jane, aku cek loker dulu, ya. Kayaknya buku Romeo Juliet ku disitu,” kataku. Jane mengangguk sambil tersenyum girang.
Jane akhir-akhir ini terlalu girang. Hmm, she must be fall in love with… Mada! Hahahaha.
Aku membuka lokerku, dan…………………
“AAA!”
Aku kaget sekali begitu kulihat balon-balon melesak keluar dari dalam lokerku.
Ini apaan coba………………………………….
Balon-balon itu diikat ke sebuah bunga mawar. Ada memonya:
“When I see your smile, tears roll down my face, I cant replace…”
Ini lirik lagu! Lagunya The Red Jumpsuit Apparatus yang Your Guardian Angel. Nafasku mulai memburu.
(nowplaying: The Red Jumpsuit Apparatus - Your Guardian Angel)
Kulanjutkan membaca:
Mona, you already followed my twitter. So maybe, follow my heart now? Go to school’s park for the next clue. Oh and don’t forget to bring this rose too.
Your Admirer, Mr. B.
Aku melepas mawar itu dan memonya. Kututup loker, dan memandang sekeliling.
Sepi.
“Wait wait!” pekikku kaget. “Reu? J? Mad? Jane?”
They are gone.
Jantungku berdegup 10 kali lebih cepat. Maka aku segera berlari ke taman sekolah. Untung tas ku tidak terlalu berat hari ini, fiuh!
Di taman sekolah, tidak susah menemukan clue dari secret admirer. Ada balon-balon lagi diikatkan ke kursi taman.
Kemudian kulihat ada satu mawar lagi. Dan kertas yang digulung dan diikat dengan pita coklat. Well, always brown.
And now than I’m strong I have figured out. How this world turns cold and it breaks my soul. And I know I’ll find deep inside me, I can be the one.
Mona, I’ll tell you who I am today. Now. All my clues will lead you to me. Bring this rose, don’t forget it.
Come to the place in this school that have many books. Easy, isn’t it?
Your Admirer, Mr. Brahmantyo.
Place that have many books. Library.
Mr. Brahmantyo.
Tanpa pikir panjang, aku menyambar mawar itu dan suratnya, lalu segera berlari ke perpustakaan yang tidak jauh dari taman sekolah.
Sesampainya di perpustakaan, aku langsung memburu masuk dan melihat sekeliling. Masa cluenya ada balon lagi? Di perpus? Oh no, I’m dying of curious now!!!!
Lalu tiba-tiba terdengar lagu The Red Jumpsuit Apparatus yang Your Guardian Angel. Aku mencari sumber suara dan menemukan bunga mawar di atas meja dengan memo.
I will never let you fall. I’ll stand up with you forever. I’ll be there for you through it all. Even if saving you sends me to heaven.
Find a book in library. Anyway, you don’t have to run, Mona. You will run out of breathe. Calm down. I wait for you.
Book: lion, Peter, Susan, Edmund, Lucy.
Your Admirer, Mr. Brahmantyo.
Aku diam sebentar.
Narnia.
Lalu aku berkeliling rak-rak buku yang besar itu dan finally, I found Narnia!
Di buku itu terselip bunga dan memo:
Seasons are changing and waves are crashing. And stars are falling all for us. Days grow longer, and nights grow shorter. I can show you I’ll be the one.
Go to a place in this school, you spent your time mostly last month in that room. And, all the books, essays, made you won the competition.
Your Admirer, Mr. Brahmantyo.
Menang kompetisi…..
Think, Mona, think!
Olimpiade Sains!
Aku berlari langsung ke lantai dua, gak perduli sama dadaku yang sesak karena kehabisan napas, ini sudah kepo akut. Sudah berbulan-bulan dan akhirnya aku bakal tau siapa secret admirer!
Di lantai dua, aku langsung berlari ke ruang Olimpiade dan membuka pintunya. Sepi. Aku masuk dan melihat ada kursi yang diikat dengan balon-balon.
Kuambil mawar itu dan melepas memonya:
Cause you’re my... you’re my… my true love, my whole heart. Please don’t throw that away. Cause I’m here for you. Please don’t walk away, and please tell me you’ll stay. Stay.
Mona Louissa, one step closer.
Take the rose. Go to the place that you’ve seen me play guitar for the first time. I’m there.
Your Admirer, Mr. Brahamntyo :)
Aku menarik mawar dan memo, lalu keluar dari ruang musik. Aku menatap jam tanganku. Sudah jam 6 sore.
Play guitar for the first time…
Tapi siapa? Siapa yang aku pertama kali liat main gitar?
Gitar… Musik….
Ruang musik!
Seakan lampu baru saja dinyalakan di otakku, aku langsung bergegas ke ruang musik yang sangat jauh dari ruang Olimpiade. Ujung ke ujung!
Selama berlari, aku memikirkan semua clue yang ada. Jeremy jelas bukan. Mr. Brahmantyo itu hanya antara Mada, Reuben, dan Mikha.
Di perpus, buku Narnia. Mikha suka buku Narnia.
DAGDIGDUG.
Kupercepat langkahku ke ruang musik.
Di ruang Olimpiade, essay. Reuben ikut olimpiade dan bikin essay.
DAGDIGDUG.
Akhirnya, sampai di depan ruang musik!
Ada surat. Ku ambil.
Mona Louissa,
How much rose that you have now? Count it.
Aku menghitung mawar yang ada di tanganku. Lima tangkai mawar. Lalu kulanjutkan membaca.
Sebanyak itulah suku kata namaku. After you know my name, use this key to open the door. I’m in music room, my lovely angel, Mona Louissa.
Your Admirer, Mr. Brahmantyo :)
Aku bergetar memegang kunci itu.
Narnia, essay, lima suku kata.
OHMYGOD. Otakku bekerja sangat keras.
…………….
…………….
Aku memegang kunci itu gemetaran, lalu terdengar bunyi ‘klik’ pelan.
Setelah berbulan-bulan. Dan sebentar lagi, secret admirer bakal ketahuan.
Aku gugup. Banget. Someone help me please?
Aku membuka pintunya dan…………..
……………………………………..
………………………………………….
………………………………………………….
Rasanya jantungku berhenti berdetak.
***
Ini pasti mimpi.
Seribu lilin atau lebih atau kurang, I don’t care. Lilin-lilin ada di ruang musik, bercahaya di lantai. Memberikan efek romantis, karena lampu di ruang musik dimatikan dan ini sudah jam 6 sore. Bahkan lewat. Dan sunset.
Dan yang bikin jantungku berhendi berdetak tidak hanya lilin-lilin itu, tapi orang yang ada di dekat grand piano, dikelilingi lilin-lilin dan terkena cahaya matahari sore.
Mikha Angelo tersenyum kepadaku.
“Mona Louissa,” katanya.
Aku menekapkan tanganku ke mulut, seakan tak percaya. Bisa kurasakan air mataku nyaris tumpah dan rasanya ini udah ga karuan.
“Mon, are you okay?” tanyanya super lembut.
Aku mengangguk. Speechless.
Bohong sebenarnya aku baik-baik aja.
Jam 6 sore, pas lagi sunset, di ruang musik yang udah di dekor pake lilin-lilin yang jumlahnya banyak banget dan ditaruh di lantai, ada grand piano, dan yang lebih pentingnya, ada Mikha Angelo disini. Aku gak baik-baik aja. I need more oxygen.
“Well, aku bakal jelasin semuanya ke kamu,” kata Mikha dari dekat piano. Aku dan Mikha terbentang jarak 3 meter di antara semua lilin-lilin ini.
“Aku secret admirer kamu, Mona. Selama ini aku yang ngirimin kamu surat-surat, hadiah, dan surprise-surprise lainnya. Emang gak gampang ngasihnya. Karena aku harus datang jauh lebih pagi daripada kamu, dan nitipin ke orang-orang, and make sure they will not tell my secret.
“Awalnya sih masih gampang jadi secret admirer kamu, sampai akhirnya Ugi curiga. Dia tau sikap aku aneh akhir-akhir ini. Berapa kali dia juga sempat nanyain kalau aku secret admirernya, tapi aku selalu ngelak.”
Aku menahan napasku.
“Dan waktu kamu mulai nebak-nebak siapa secret admirernya, aku tau kamu udah mulai nebak aku dan saudara-saudara aku. Aku gak tau senang atau gak, tapi aku ngasih kamu clue lebih banyak lagi, kan?
“Udah gak kehitung memang berapa banyak surat yang aku kasih ke kamu, segala coklat, bunga, teddy bear, gelang itu-“ Mikha menunjuk gelang yang kugunakan”-aku bikin seharian, sampai malam juga. Dan sweter yang kamu pakai itu, aku kasih kerumah kamu waktu hujan deras malam itu. Iya sih aku kehujanan, but its not important.”
Hening.
“Dan sampai akhirnya, waktu aku pulang dari rumah kamu satnite kemaren, Ugi sama Mada ada di kamar aku. Dan akhirnya… mereka tau kalau aku secret admirer kamu. Tapi gak disangka, mereka malah bantuin aku, haha!
“Kamu pasti nanya-nanya, kan, kenapa Ugi sering gelisah waktu kamu dapat surat dari secret admirer dulu-dulu? Itu karena Ugi ngerasa kalau aku suka sama kamu. Dia tau aku gak pernah seceria dan sedekat ini sama cewek. Dan dengan adanya secret admirer, Ugi takut aku jadi down. Tapi, Ugi akhirnya tau kalau aku si secret admirer!
“Terus, kenapa clue nya lebih sering ke aku dan Ugi akhir-akhir ini? Itu usul Mada. Dia yang isengin supaya kamu rada bingung antara Ugi dan aku, tapi sebenarnya… itu lebih ngarah ke aku, Mona,” kata Mikha, tak henti-hentinya menatap mataku lembut. “Dan hari ini, Ugi, Mada, Jeremy, dan Jane ngebantu aku. Aku mutusin buat ngasi tau siapa secret admirer sehabis kita audisi.
“Dan omong-omong audisi, Ugi bilang ke aku kalau kamu takut aku marah. Mona, aku gak akan pernah bisa marah ke kamu. Dan semua kata-kata aku yang bilang kalau aku bukan secret admirer itu cuma supaya bikin aku gak gugup begitu kamu megang semua hadiah aku, dan kayaknya-“
“Kamu berhasil,” bisikku pelan.
“Yeah, haha.” Mikha tertawa. “Dan sekarang, aku bakal bilang apa yang harusnya aku bilang.”
Mikha menarik napasnya sejenak, lalu menatapku dalam-dalam. “Mona, I will sing and play piano just for you,” kata Mikha. Ia kemudian melangkah hati-hati, menarik tanganku lalu mendudukkanku di bangku yang menghadap piano. Sit right next to Mikha.
Tanganku lebih dingin daripada es. Dan rasanya tuh. GUGUP BANGET.
Mikha menatapku sambil tersenyum lembut, lalu mulai melarikan jari-jarinya di atas tuts-tuts piano.
Dan aku tersentak begitu mendengar lagu apa yang dimainkan Mikha.
(nowplaying: A Thousand Years. Ya bayangin aja Mikha nyanyi ini yaa hehehehe :3)
“Heart beats fast, colors and promises. How do be brave, how can I love when I’m afraid, to fall… But watching you stand alone all of my doubt suddenly goes away somehow…
“One step closer…
“I have died everyday, waiting for you. Darling don’t be afraid I have loved you for a thousand years… I love you for a thousand more…”
Melihat Mikha bernyanyi dan memainkan pianonya dengan sepenuh hati.
Buat aku.
Rasanya tuh lebih dari sekedar melting, lebih dari bahagia.
Mikha, you are everything I need.
Mikha mengakhiri lagu dengan permainan pianonya yang sempurna. Lalu ia berdiri dan berlutut di depanku.
INI MAU NGAPAIN INI ADUH………………………………
Mikha berlutut di depanku, di antara semua keheningan dan lilin serta cahaya sunset. “Mona Louissa, from the first time I met you, I know there was something wrong with my heart.”
Ia menggenggam kedua tanganku. “Day by day, I know I fell in love with you. I never felt like this before, you just took my breathe away, Mona.”
Aku berusaha menahan tangisku.
“I have searched in places, I’ve waited for years, I’ve taken all the chances, I’ve cried so many tears, I’ve seen so many faces, I’ve hid a lot of fears until my heart stopped searching cause you’re already here…” Mikha tersenyum. “Mona Louissa, you are my entire world. You are my life. You are the sunshine of my life. You are the greatest thing that ever happened to me.”
Mikha menarik nafasnya dalam-dalam, menatapku dengan lembut dan tersenyum.
“Mona Louissa, would you be mine?”
Kalimat yang sudah aku tunggu-tunggu dari dulu.
Air mataku mengalir begitu saja. Semua yang aku rasain tumpah gitu aja. Mikha masih menatapku, dan tersenyum.
“Yes, Mik.”
Mikha langsung berdiri dan memelukku erat sekali. Aku menangis di pelukan Mikha dan ini bukan tangis sedih.
Tapi bahagia.
“I will never hurt you, Mon,” bisik Mikha.
Aku cuma diam. Masih memeluk Mikha dan menangis.
Lalu Mikha melepaskan pelukannya sedikit, hanya supaya ia bisa melihat wajahku. Kemudian Mikha menghapus air mataku dengan jari-jarinya.
“I love you, Mona.”
Mikha kemudian mencium keningku lembut. Aku menutup mataku sambil memegang kedua lengannya yang memegang wajahku.
Mikha Angelo Brahmantyo, I love you too.
Seribu lilin atau lebih atau kurang, I don’t care. Lilin-lilin ada di ruang musik, bercahaya di lantai. Memberikan efek romantis, karena lampu di ruang musik dimatikan dan ini sudah jam 6 sore. Bahkan lewat. Dan sunset.
Dan yang bikin jantungku berhendi berdetak tidak hanya lilin-lilin itu, tapi orang yang ada di dekat grand piano, dikelilingi lilin-lilin dan terkena cahaya matahari sore.
Mikha Angelo tersenyum kepadaku.
“Mona Louissa,” katanya.
Aku menekapkan tanganku ke mulut, seakan tak percaya. Bisa kurasakan air mataku nyaris tumpah dan rasanya ini udah ga karuan.
“Mon, are you okay?” tanyanya super lembut.
Aku mengangguk. Speechless.
Bohong sebenarnya aku baik-baik aja.
Jam 6 sore, pas lagi sunset, di ruang musik yang udah di dekor pake lilin-lilin yang jumlahnya banyak banget dan ditaruh di lantai, ada grand piano, dan yang lebih pentingnya, ada Mikha Angelo disini. Aku gak baik-baik aja. I need more oxygen.
“Well, aku bakal jelasin semuanya ke kamu,” kata Mikha dari dekat piano. Aku dan Mikha terbentang jarak 3 meter di antara semua lilin-lilin ini.
“Aku secret admirer kamu, Mona. Selama ini aku yang ngirimin kamu surat-surat, hadiah, dan surprise-surprise lainnya. Emang gak gampang ngasihnya. Karena aku harus datang jauh lebih pagi daripada kamu, dan nitipin ke orang-orang, and make sure they will not tell my secret.
“Awalnya sih masih gampang jadi secret admirer kamu, sampai akhirnya Ugi curiga. Dia tau sikap aku aneh akhir-akhir ini. Berapa kali dia juga sempat nanyain kalau aku secret admirernya, tapi aku selalu ngelak.”
Aku menahan napasku.
“Dan waktu kamu mulai nebak-nebak siapa secret admirernya, aku tau kamu udah mulai nebak aku dan saudara-saudara aku. Aku gak tau senang atau gak, tapi aku ngasih kamu clue lebih banyak lagi, kan?
“Udah gak kehitung memang berapa banyak surat yang aku kasih ke kamu, segala coklat, bunga, teddy bear, gelang itu-“ Mikha menunjuk gelang yang kugunakan”-aku bikin seharian, sampai malam juga. Dan sweter yang kamu pakai itu, aku kasih kerumah kamu waktu hujan deras malam itu. Iya sih aku kehujanan, but its not important.”
Hening.
“Dan sampai akhirnya, waktu aku pulang dari rumah kamu satnite kemaren, Ugi sama Mada ada di kamar aku. Dan akhirnya… mereka tau kalau aku secret admirer kamu. Tapi gak disangka, mereka malah bantuin aku, haha!
“Kamu pasti nanya-nanya, kan, kenapa Ugi sering gelisah waktu kamu dapat surat dari secret admirer dulu-dulu? Itu karena Ugi ngerasa kalau aku suka sama kamu. Dia tau aku gak pernah seceria dan sedekat ini sama cewek. Dan dengan adanya secret admirer, Ugi takut aku jadi down. Tapi, Ugi akhirnya tau kalau aku si secret admirer!
“Terus, kenapa clue nya lebih sering ke aku dan Ugi akhir-akhir ini? Itu usul Mada. Dia yang isengin supaya kamu rada bingung antara Ugi dan aku, tapi sebenarnya… itu lebih ngarah ke aku, Mona,” kata Mikha, tak henti-hentinya menatap mataku lembut. “Dan hari ini, Ugi, Mada, Jeremy, dan Jane ngebantu aku. Aku mutusin buat ngasi tau siapa secret admirer sehabis kita audisi.
“Dan omong-omong audisi, Ugi bilang ke aku kalau kamu takut aku marah. Mona, aku gak akan pernah bisa marah ke kamu. Dan semua kata-kata aku yang bilang kalau aku bukan secret admirer itu cuma supaya bikin aku gak gugup begitu kamu megang semua hadiah aku, dan kayaknya-“
“Kamu berhasil,” bisikku pelan.
“Yeah, haha.” Mikha tertawa. “Dan sekarang, aku bakal bilang apa yang harusnya aku bilang.”
Mikha menarik napasnya sejenak, lalu menatapku dalam-dalam. “Mona, I will sing and play piano just for you,” kata Mikha. Ia kemudian melangkah hati-hati, menarik tanganku lalu mendudukkanku di bangku yang menghadap piano. Sit right next to Mikha.
Tanganku lebih dingin daripada es. Dan rasanya tuh. GUGUP BANGET.
Mikha menatapku sambil tersenyum lembut, lalu mulai melarikan jari-jarinya di atas tuts-tuts piano.
Dan aku tersentak begitu mendengar lagu apa yang dimainkan Mikha.
(nowplaying: A Thousand Years. Ya bayangin aja Mikha nyanyi ini yaa hehehehe :3)
“Heart beats fast, colors and promises. How do be brave, how can I love when I’m afraid, to fall… But watching you stand alone all of my doubt suddenly goes away somehow…
“One step closer…
“I have died everyday, waiting for you. Darling don’t be afraid I have loved you for a thousand years… I love you for a thousand more…”
Melihat Mikha bernyanyi dan memainkan pianonya dengan sepenuh hati.
Buat aku.
Rasanya tuh lebih dari sekedar melting, lebih dari bahagia.
Mikha, you are everything I need.
Mikha mengakhiri lagu dengan permainan pianonya yang sempurna. Lalu ia berdiri dan berlutut di depanku.
INI MAU NGAPAIN INI ADUH………………………………
Mikha berlutut di depanku, di antara semua keheningan dan lilin serta cahaya sunset. “Mona Louissa, from the first time I met you, I know there was something wrong with my heart.”
Ia menggenggam kedua tanganku. “Day by day, I know I fell in love with you. I never felt like this before, you just took my breathe away, Mona.”
Aku berusaha menahan tangisku.
“I have searched in places, I’ve waited for years, I’ve taken all the chances, I’ve cried so many tears, I’ve seen so many faces, I’ve hid a lot of fears until my heart stopped searching cause you’re already here…” Mikha tersenyum. “Mona Louissa, you are my entire world. You are my life. You are the sunshine of my life. You are the greatest thing that ever happened to me.”
Mikha menarik nafasnya dalam-dalam, menatapku dengan lembut dan tersenyum.
“Mona Louissa, would you be mine?”
Kalimat yang sudah aku tunggu-tunggu dari dulu.
Air mataku mengalir begitu saja. Semua yang aku rasain tumpah gitu aja. Mikha masih menatapku, dan tersenyum.
“Yes, Mik.”
Mikha langsung berdiri dan memelukku erat sekali. Aku menangis di pelukan Mikha dan ini bukan tangis sedih.
Tapi bahagia.
“I will never hurt you, Mon,” bisik Mikha.
Aku cuma diam. Masih memeluk Mikha dan menangis.
Lalu Mikha melepaskan pelukannya sedikit, hanya supaya ia bisa melihat wajahku. Kemudian Mikha menghapus air mataku dengan jari-jarinya.
“I love you, Mona.”
Mikha kemudian mencium keningku lembut. Aku menutup mataku sambil memegang kedua lengannya yang memegang wajahku.
Mikha Angelo Brahmantyo, I love you too.
***
“Morning, Mona! Suara kamu keren!”
“Thank you, have a great day ya!”
“Mona, we love you! Stay flawless!” kata kerumunan cowok-cowok yang sedang berdiri di koridor.
“Hahaha, thanks guys!”
Aku berjalan di koridor dengan senyum terkembang. Lebih ceria daripada hari-hari yang pernah ada. Jauh lebih bahagia 100 kali lipat dibandingkan dengan orang-orang yang ada disini.
Aku membalas semua sapaan yang kuterima sepanjang jalan menuju kelas dengan ramah dan ceria. Tak luput juga senyum dan tawaku kupamerkan.
Aku sampai di kelas dan masih sepi. Kuletakkan bukuku dan memandang sekeliling dengan perasaan bahagia.
Mikha Angelo is mine. Yeah. Itu nyata dan bukan mimpi.
Setelah peristiwa so sweet di ruang musik, butuh waktu berjam-jam buat ngeyakinin aku kalau itu semua bukan mimpi. Awalnya gak gampang, tapi begitu ingat kata-kata Mikha, pelukan dia, dan keningku yang rasanya langsung panas….
Bisa bayangin gak sih, bintang sekolah, bintang lapangan bola, pujaan cewek-cewek, akhirnya bisa jadi milik kamu, yang cuma dikenal sebagai penyumbang piala-piala dan piagam karena lomba, dan jelas-jelas gak famous, dan cuma dapat pujian kalau menang?
But, I don’t care with that.
Jelas di sekolah ini belum ada dan GAK AKAN ada yang tau kalau aku udah jadian sama Mikha. Paling cuma Reuben, Mada, sama Jeremy. Dan Jane.
Omong-omong Jane… I could say she’s in love with….
“MONA!”
Aku mendongak dan melihat Jane berlari ke arahku, wajahnya kelewat antusias.
Jane duduk di sebelahku, matanya berapi-api. “MON! YOU HAVE TO TELL ME EVERYTHING! NOW! DETAIL!”
Aku mengangkat alis lalu tertawa, “What?”
“Mikha!” bisik Jane sambil tersenyum.
Aku langsung tersenyum. “Tumben baru kepo sekarang…”
“Aku gak mau nelpon kamu, aku mau kamu langsung yang cerita. Karena kemaren malam gak mungkin banget aku kerumah kamu, yaudah jadi baru bisa nanya sekarang. Tell me, Mon!”
Aku tertawa lalu menceritakan semuanya secara mendetail ke Jane. Untungnya kelas masih sepi. Jadi aku tidak harus terlalu berbisik, dan setiap kata yang kuucapkan, nampaknya Jane semakin kehabisan nafas.
Begitu aku bilang Mikha meluk dan nyium kening aku, Jane meneteskan air matanya.
“Mona… Can I go cry now? Itu. So. Sweet. Banget,” kata Jane parau. Wajahnya bersimbah air mata sekarang. “Mona, I’m so happy for you. Aku gak tau harus ngomong apa, yang jelas, Mikha is only for you!”
Aku tertawa, kemudian memeluk Jane erat. “Thank you, Jane. You’re my bestfriend, forever! I love you!”
Kudengar Jane tertawa. “Haha, harusnya kamu bilang I love you ke cowok depan pintu tuh!’
Jane melepaskan pelukannya, lalu aku melihat Mikha dengan tasnya berjalan ke arahku.
DAGDIGDUG.
Aku kira kalau jadi pacar Mikha, dag dig dug gak jelas ini bakalan pergi. Berkurang aja gak, nambah sih iya……………….
“Morning, sweety,” kata Mikha sambil mengelus rambutku.
Jane langsung beranjak dari kursinya, menatapku dan Mikha jail. “Hmmm, seems like I have to go nih…”
Mikha tertawa. Dan tawanya bahkan jadi jauh lebih keren daripada sebelumnya. Oh, Mikha. “Hahaha, anyway, Mada ada di dekat sini loh, kejar dia sana!”
Wajah Jane seketika memerah. “Well, then I really have to go. Bye, guys!”
Lalu Jane melesat keluar dan Mikha segera duduk di sebelahku dan menatapku dengan matanya yang seperti biasa-berkilau.
“Jane kayaknya suka Mada, ya, hahaha…” kataku sambil tertawa, berusaha menutupi rasa gugup sekarang.
Mikha tertawa. “Haha, well, bakal nyusul kita mungkin?” kata Mikha santai. Namun detak jantungku gak pengen santai. “Anyway, how was your nite, Mon?”
“Hmmm, as usual. Aku tidur minum susu vanilla, cuci muka gosok gigi, terus tidur deh jam 9,” kataku polos, dan Mikha langsung tertawa. Entah kenapa ia sering tertawa akhir-akhir ini.
“You’re so gorgeous, Monaaaaa….” kata Mikha sambil mencubit pipiku. Kurasa pipiku memerah. OH MONA.
Hening.
Mikha terus menatap mataku seakan ia menonton pertandingan bola disana. Terlihat selalu tertarik dan ia tersenyum terus menerus.
“Mik, kenapa ngeliatin terus?” kataku pelan.
“Your eyes are so beautiful. I could stare into your beautiful eyes all day,” bisik Mikha, dan sekarang mulai menatapku dengan senyum mautnya.
RRRRRRRRRR. Melting boleh?
Aku tersenyum, dan baru aja mau tanya ke Mikha, pintu kelas menjeblak terbuka dan masuk segerombolan cewek sambil berkicau ria.
Aku langsung memalingkan wajahku dari Mikha dan pura-pura membaca bukuku. Awalnya Mikha kaget, namun ia langsung menulis-nulis di bukunya.
“…. Bandana aku? Rambut aku? Wajah oke? Well, wait,” kata cewek pemimpin gerombolan tersebut. Aku mencuri pandang sesekali.
“Hello, Mikha! How are you today?” sapa cewek itu dari depan kelas. Kurasakan Mikha mendongak perlahan dan aku semakin menunduk, berusaha berkonsentrasi dengan buku yang kubaca.
“Well, fine, thanks,” jawab Mikha singkat.
“Suara kamu bagus banget loh, Mik. Kami jadi makin nge fans sama kamu!” kata cewek itu sambil mengikik. Dan yang lain pun ikut mengikik. “And… maybe you can sit with me for class today? You do not have to sit with Mona….”
JLEB. WOY GUE DENGER WOY.
Kudengar hening, lalu Mikha tertawa dingin. “No, thanks. I will sit with Mona in every class.”
Aku melirik cewek itu sekilas, dan wajahnya tampak seperti habis dilempar batu. “Ahhh, okay. Nevermind. Next time, maybe. I will never give up, Mik.”
Lalu gerombolan cewek itu senyum ke Mikha, dan pergi ke kursi mereka dan melanjutkan gossip mereka-I guess.
Mikha menatapku, dan aku mengabaikannya. Kelas sudah terlalu ramai. Aku membaca buku di depanku, tapi tidak ada satu katapun yang masuk ke otak.
Tiba-tiba ada kertas digeser.
Ms. Beautiful, are you okay? :(
Mr. Handsome.
Aku mengambil kertas itu dan membalasnya:
I’m fine. Everything is fine :)
Ms. Beautiful.
Mikha mengambil kertas itu dan melipatnya lalu menaruhnya di laci meja. Ia mendekat sedikit, lalu berbisik di telingaku, “Mona… You don’t have to be jealous or whatever. I love you, just you.”
Aku tersenyum lemah. “Thanks, Mik.”
Mikha menjauh, lalu menarik tanganku dari atas meja. Lalu ia menautkan jariku ke jarinya: he holds my hand.
“I love you so much, more than you could ever imagine,” bisik Mikha, tangannya masih menggenggam tanganku di bawah meja.
Aku menatap Mikha, “Thanks, Mik,” balasku, tersenyum.
Mikha kemudian tersenyum, dan bel berbunyi.
Sampai bel istirahat berbunyi, Mikha gak lepasin genggaman tangannya.
Semoga kita bisa bertahan, Mik.
“Thank you, have a great day ya!”
“Mona, we love you! Stay flawless!” kata kerumunan cowok-cowok yang sedang berdiri di koridor.
“Hahaha, thanks guys!”
Aku berjalan di koridor dengan senyum terkembang. Lebih ceria daripada hari-hari yang pernah ada. Jauh lebih bahagia 100 kali lipat dibandingkan dengan orang-orang yang ada disini.
Aku membalas semua sapaan yang kuterima sepanjang jalan menuju kelas dengan ramah dan ceria. Tak luput juga senyum dan tawaku kupamerkan.
Aku sampai di kelas dan masih sepi. Kuletakkan bukuku dan memandang sekeliling dengan perasaan bahagia.
Mikha Angelo is mine. Yeah. Itu nyata dan bukan mimpi.
Setelah peristiwa so sweet di ruang musik, butuh waktu berjam-jam buat ngeyakinin aku kalau itu semua bukan mimpi. Awalnya gak gampang, tapi begitu ingat kata-kata Mikha, pelukan dia, dan keningku yang rasanya langsung panas….
Bisa bayangin gak sih, bintang sekolah, bintang lapangan bola, pujaan cewek-cewek, akhirnya bisa jadi milik kamu, yang cuma dikenal sebagai penyumbang piala-piala dan piagam karena lomba, dan jelas-jelas gak famous, dan cuma dapat pujian kalau menang?
But, I don’t care with that.
Jelas di sekolah ini belum ada dan GAK AKAN ada yang tau kalau aku udah jadian sama Mikha. Paling cuma Reuben, Mada, sama Jeremy. Dan Jane.
Omong-omong Jane… I could say she’s in love with….
“MONA!”
Aku mendongak dan melihat Jane berlari ke arahku, wajahnya kelewat antusias.
Jane duduk di sebelahku, matanya berapi-api. “MON! YOU HAVE TO TELL ME EVERYTHING! NOW! DETAIL!”
Aku mengangkat alis lalu tertawa, “What?”
“Mikha!” bisik Jane sambil tersenyum.
Aku langsung tersenyum. “Tumben baru kepo sekarang…”
“Aku gak mau nelpon kamu, aku mau kamu langsung yang cerita. Karena kemaren malam gak mungkin banget aku kerumah kamu, yaudah jadi baru bisa nanya sekarang. Tell me, Mon!”
Aku tertawa lalu menceritakan semuanya secara mendetail ke Jane. Untungnya kelas masih sepi. Jadi aku tidak harus terlalu berbisik, dan setiap kata yang kuucapkan, nampaknya Jane semakin kehabisan nafas.
Begitu aku bilang Mikha meluk dan nyium kening aku, Jane meneteskan air matanya.
“Mona… Can I go cry now? Itu. So. Sweet. Banget,” kata Jane parau. Wajahnya bersimbah air mata sekarang. “Mona, I’m so happy for you. Aku gak tau harus ngomong apa, yang jelas, Mikha is only for you!”
Aku tertawa, kemudian memeluk Jane erat. “Thank you, Jane. You’re my bestfriend, forever! I love you!”
Kudengar Jane tertawa. “Haha, harusnya kamu bilang I love you ke cowok depan pintu tuh!’
Jane melepaskan pelukannya, lalu aku melihat Mikha dengan tasnya berjalan ke arahku.
DAGDIGDUG.
Aku kira kalau jadi pacar Mikha, dag dig dug gak jelas ini bakalan pergi. Berkurang aja gak, nambah sih iya……………….
“Morning, sweety,” kata Mikha sambil mengelus rambutku.
Jane langsung beranjak dari kursinya, menatapku dan Mikha jail. “Hmmm, seems like I have to go nih…”
Mikha tertawa. Dan tawanya bahkan jadi jauh lebih keren daripada sebelumnya. Oh, Mikha. “Hahaha, anyway, Mada ada di dekat sini loh, kejar dia sana!”
Wajah Jane seketika memerah. “Well, then I really have to go. Bye, guys!”
Lalu Jane melesat keluar dan Mikha segera duduk di sebelahku dan menatapku dengan matanya yang seperti biasa-berkilau.
“Jane kayaknya suka Mada, ya, hahaha…” kataku sambil tertawa, berusaha menutupi rasa gugup sekarang.
Mikha tertawa. “Haha, well, bakal nyusul kita mungkin?” kata Mikha santai. Namun detak jantungku gak pengen santai. “Anyway, how was your nite, Mon?”
“Hmmm, as usual. Aku tidur minum susu vanilla, cuci muka gosok gigi, terus tidur deh jam 9,” kataku polos, dan Mikha langsung tertawa. Entah kenapa ia sering tertawa akhir-akhir ini.
“You’re so gorgeous, Monaaaaa….” kata Mikha sambil mencubit pipiku. Kurasa pipiku memerah. OH MONA.
Hening.
Mikha terus menatap mataku seakan ia menonton pertandingan bola disana. Terlihat selalu tertarik dan ia tersenyum terus menerus.
“Mik, kenapa ngeliatin terus?” kataku pelan.
“Your eyes are so beautiful. I could stare into your beautiful eyes all day,” bisik Mikha, dan sekarang mulai menatapku dengan senyum mautnya.
RRRRRRRRRR. Melting boleh?
Aku tersenyum, dan baru aja mau tanya ke Mikha, pintu kelas menjeblak terbuka dan masuk segerombolan cewek sambil berkicau ria.
Aku langsung memalingkan wajahku dari Mikha dan pura-pura membaca bukuku. Awalnya Mikha kaget, namun ia langsung menulis-nulis di bukunya.
“…. Bandana aku? Rambut aku? Wajah oke? Well, wait,” kata cewek pemimpin gerombolan tersebut. Aku mencuri pandang sesekali.
“Hello, Mikha! How are you today?” sapa cewek itu dari depan kelas. Kurasakan Mikha mendongak perlahan dan aku semakin menunduk, berusaha berkonsentrasi dengan buku yang kubaca.
“Well, fine, thanks,” jawab Mikha singkat.
“Suara kamu bagus banget loh, Mik. Kami jadi makin nge fans sama kamu!” kata cewek itu sambil mengikik. Dan yang lain pun ikut mengikik. “And… maybe you can sit with me for class today? You do not have to sit with Mona….”
JLEB. WOY GUE DENGER WOY.
Kudengar hening, lalu Mikha tertawa dingin. “No, thanks. I will sit with Mona in every class.”
Aku melirik cewek itu sekilas, dan wajahnya tampak seperti habis dilempar batu. “Ahhh, okay. Nevermind. Next time, maybe. I will never give up, Mik.”
Lalu gerombolan cewek itu senyum ke Mikha, dan pergi ke kursi mereka dan melanjutkan gossip mereka-I guess.
Mikha menatapku, dan aku mengabaikannya. Kelas sudah terlalu ramai. Aku membaca buku di depanku, tapi tidak ada satu katapun yang masuk ke otak.
Tiba-tiba ada kertas digeser.
Ms. Beautiful, are you okay? :(
Mr. Handsome.
Aku mengambil kertas itu dan membalasnya:
I’m fine. Everything is fine :)
Ms. Beautiful.
Mikha mengambil kertas itu dan melipatnya lalu menaruhnya di laci meja. Ia mendekat sedikit, lalu berbisik di telingaku, “Mona… You don’t have to be jealous or whatever. I love you, just you.”
Aku tersenyum lemah. “Thanks, Mik.”
Mikha menjauh, lalu menarik tanganku dari atas meja. Lalu ia menautkan jariku ke jarinya: he holds my hand.
“I love you so much, more than you could ever imagine,” bisik Mikha, tangannya masih menggenggam tanganku di bawah meja.
Aku menatap Mikha, “Thanks, Mik,” balasku, tersenyum.
Mikha kemudian tersenyum, dan bel berbunyi.
Sampai bel istirahat berbunyi, Mikha gak lepasin genggaman tangannya.
Semoga kita bisa bertahan, Mik.
***
“When I see your face, there’s not a thing that I would change, cause Mona is amazing, just the way you are…”
Aku tertawa kecil mendengar Mikha mengganti liriknya. “Am I amazing?” bisikku pelan, menatap matanya.
Mikha melepas gitarnya, lalu mengelus pipiku dengan jarinya. “No, you’re not amazing,” kata Mikha sambil tersenyum. Aku menaikkan alisku. “You are more than amazing. Stay flawless, you’re just so perfect to me, sweety.”
Mikha emang jago ya bikin melting, bikin pipi bersemu merah, bikin senyum-senyum sendiri……………….
Aku tertawa lagi, “Then if I’m amazing, you too. More amazing than me.”
Mikha tertawa. Lagi. “We are amazing couple, then? Haha!”
Aku ikut tertawa bersama Mikha, dan betapa mudahnya kami tertawa akhir-akhir ini. Walaupun di kelas dan tempat-tempat ramai lainnya aku menjaga jarak dengan Mikha, namun di ruang musik ini kami bebas tertawa bersama, mengobrol, dan saling menatap. Semua itu gak bisa dilakukan kalau banyak cewek-cewek yang jejeritan begitu liat Mikha jalan.
Dan pulang sekolah hari ini, kami berdua langsung ke ruang musik untuk latihan. Dan Mada dengan isengnya bilang kalau dia, Reuben, Jeremy sama Jane harus pergi cari makan, dan dia bilang kalau aku sama Mikha harus jagain ruang musik. So funny, Mad.
“Well, you should come to my house. Mama udah gak sabar ketemu yang namanya Mona Louissa,” kata Mikha seraya tersenyum.
Aku duduk tegak. Kemudian menatap Mikha. “Sorry, Mik?”
“Yeah, come to my house. I have told my Mom bout you, also showed your pic, and Mom said that you were so beautiful!” kata Mikha semangat.
Ini beneran……………………
“Oh my, really?” kataku lemas. “But I think I’m not ready to meet your Mom-“
“My family,” koreksi Mikha yang langsung membuatku semakin terkejut.
“What? Oh OH, well…” Speechless.
Mikha kemudian menarik kedua tanganku dan menggenggamnya. “Mona sayang, you don’t have to worry like that… Orang rumah pada suka sama kamu kok, they want to meet you so badly. Apalagi Andrew, hahaha!”
Wait. What did Mikha say? Mona sayang? Terbang boleh………………………….
“Well, okay. Asal jangan minggu ini, pleaseeeee?” kataku, memohon sambil tersenyum layaknya anak kecil yang sedang meminta permen.
Mikha tertawa, lalu mengangguk. “Siap, Ms. Beautiful!”
Pintu ruang musik terbuka dan Mada masuk sambil melirik tanganku dan tangan Mikha yang saling menggenggam. “Sweet couple you guys…”
Aku menarik tangannku namun Mikha menahannya. “Aku cuma bisa megang tangan kamu, mastiin kamu gak pergi dan baik-baik aja cuma di ruang musik ini. Di tempat lain? Kamu gak mau, kan?” sambar Mikha cepat.
Aku menatapnya. “Mik, kamu tau kan-“
“Yes, I know. Please, Mon.”
Well….. Aku mengangguk.
Reuben masuk dengan membawa beberapa kantong plastik yang berisikan makanan. Ia lalu duduk di depan kami dan mulai membagikan makanan.
Mada duduk di sebelahku diikuti dengan Jane, lalu Jeremy duduk di sebelah Reuben. “Wow, I can say I’m starving this day, latihan bola tadi bener-bener wow!” kata Jeremy, lalu ia mulai melahap makanannya.
“Emang tadi latihannya capek banget?” tanyaku.
Mada mengangguk. “Yup, latihan yang cukup berat buat awal minggu ini.”
Hening. Semua sibuk sama makanannya dan sekitar 10 menit kemudian, kami semua sudah selesai makan dan berkumpul di tengah ruangan.
“Omong-omong soal latihan, sebentar lagi bakal ada pertandingan loh,” kata Reuben sambil menatapku.
“Wow, really?” tanyaku antusias.
Reuben mengangguk. “Just a friendly match sih, tapi sekolah kita udah biasa menang kalau lawan sekolah itu nanti. Yaa, jadi rasanya bakal beda.”
“Harus latihan karena ini bergengsi, semua sekolah katanya bakal nonton,” kata Jeremy sambil memetik bassnya.
Aku mengangguk. Sedangkan Jane asyik bermain botol air mineral bareng Mada. Duh, susah ya kalo lagi fall in love…………………….. Wait, atau aku gitu juga dulu?
“Latihan di lapangan bola bakalan jadi lebih sering, dan kayaknya…” Reuben menatap gitarnya. “Latihan di ruang musik harus kepending dulu buat beberapa hari.”
“Gapapa, Reu! You guys have to practice a lot. Kita pending aja dulu, kan event musik nya juga masih agak lama,” kataku.
“Omong-omong pertandingan bola…” Jane akhirnya bersuara. “Dulu waktu aku sama Mona nonton kalian tanding, itu lucu banget loh!”
Mikha langsung berdiri tegak dan menatap Jane.
“Waktu kalian tanding, Mona malah asik baca Narnia. Dan dia sama sekali gak tertarik sama kalian, hihihi!”
“Jane…….” kataku.
“And now, Mona with Mikha. Rasanya gak nyangka ya? Aku masih ingat waktu Mona cerita dia fall in love sama Mikha, hahaha!”
Aku melempar Jane dengan tutup botol. “Jane, stop it!” seruku sambil tertawa.
Semua langsung tertawa, termasuk Mikha. Dan for your information guys, he always holds my hand. Always.
“Tiba-tiba keingat Mikha waktu pertama kali liat Mona!” seru Mada sambil tertawa.
Dan sekarang giliran aku yang berdiri tegak, menatap Mada ingin tahu.
“Waktu itu hari Senin, dan kamu lagi ada di podium, habis menang lomba tingkat internasional. Mikha yang awalnya udah capek banget, langsung merhatiin ke podium gak lepas-lepas, haha!”
Lomba tingkat internasional? Itu kan udah lama banget!
“Dan sekarang…. Kalian udah jadian, deh. I’ve never seen a couple as sweet as you guys,” kata Mada, tersenyum.
“Tapi… Walaupun Mikha udah punya Mona, tapi kok cewek-cewek tetep ada yang deketin Mikha, ya? Waktu habis latihan tadi, mereka malah-“
“J, mereka gak tau aku sama Mikha jadian. Dan yang tau cuma kalian-kalian. Please, don’t tell everybody bout this…” kataku sambil menatap mereka satu-satu.
Tangan Mikha menggenggam tanganku semakin erat.
“Well, okay. We’ll keep this as secret.” Reuben menatapku. “Lagian, kalau mereka tau juga kayaknya gak bagus… Pasti nanti pada envy.”
Semua mengangguk setuju. Lalu ruang musik kembali dipenuhi dengan obrolan ringan.
“Mona…” panggil Mikha lembut. Aku menoleh. “Bahagia itu sederhana…. kalau kamu mau nemenin aku latihan bola. Interested?”
Nungguin Mikha latihan bola? Wow, it would be rawk! Aku kan gak pernah liat dia latihan bola sebelumnya.
Dan well, semoga aja lapangan bola sepi. Amin.
Aku mengangguk, “Sure, Mik. Why not….”
Mikha lalu tersenyum cerah, dan mulai mengacak rambutku pelan. “Thanks, Mona!”
Lalu Mikha mulai memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu-lagu favoritnya kepadaku, dengan senyum dan tawanya yang khas, gimana mungkin aku gak sayang sama dia?
Mikha, semoga kita bertahan. Karena aku rasa… ini bukan cuma sekedar rasa biasa.
Kamu beda, Mikha.
No.
Kita beda, Mik.
“… and my heart is yours…” Mikha menyanyikan bait terakhir lagu, lalu mengelus pipiku sekilas dan tersenyum. Aku membalas senyumnya.
Dan perbedaan ini, semoga bisa bikin kita jadi satu.
Aku tertawa kecil mendengar Mikha mengganti liriknya. “Am I amazing?” bisikku pelan, menatap matanya.
Mikha melepas gitarnya, lalu mengelus pipiku dengan jarinya. “No, you’re not amazing,” kata Mikha sambil tersenyum. Aku menaikkan alisku. “You are more than amazing. Stay flawless, you’re just so perfect to me, sweety.”
Mikha emang jago ya bikin melting, bikin pipi bersemu merah, bikin senyum-senyum sendiri……………….
Aku tertawa lagi, “Then if I’m amazing, you too. More amazing than me.”
Mikha tertawa. Lagi. “We are amazing couple, then? Haha!”
Aku ikut tertawa bersama Mikha, dan betapa mudahnya kami tertawa akhir-akhir ini. Walaupun di kelas dan tempat-tempat ramai lainnya aku menjaga jarak dengan Mikha, namun di ruang musik ini kami bebas tertawa bersama, mengobrol, dan saling menatap. Semua itu gak bisa dilakukan kalau banyak cewek-cewek yang jejeritan begitu liat Mikha jalan.
Dan pulang sekolah hari ini, kami berdua langsung ke ruang musik untuk latihan. Dan Mada dengan isengnya bilang kalau dia, Reuben, Jeremy sama Jane harus pergi cari makan, dan dia bilang kalau aku sama Mikha harus jagain ruang musik. So funny, Mad.
“Well, you should come to my house. Mama udah gak sabar ketemu yang namanya Mona Louissa,” kata Mikha seraya tersenyum.
Aku duduk tegak. Kemudian menatap Mikha. “Sorry, Mik?”
“Yeah, come to my house. I have told my Mom bout you, also showed your pic, and Mom said that you were so beautiful!” kata Mikha semangat.
Ini beneran……………………
“Oh my, really?” kataku lemas. “But I think I’m not ready to meet your Mom-“
“My family,” koreksi Mikha yang langsung membuatku semakin terkejut.
“What? Oh OH, well…” Speechless.
Mikha kemudian menarik kedua tanganku dan menggenggamnya. “Mona sayang, you don’t have to worry like that… Orang rumah pada suka sama kamu kok, they want to meet you so badly. Apalagi Andrew, hahaha!”
Wait. What did Mikha say? Mona sayang? Terbang boleh………………………….
“Well, okay. Asal jangan minggu ini, pleaseeeee?” kataku, memohon sambil tersenyum layaknya anak kecil yang sedang meminta permen.
Mikha tertawa, lalu mengangguk. “Siap, Ms. Beautiful!”
Pintu ruang musik terbuka dan Mada masuk sambil melirik tanganku dan tangan Mikha yang saling menggenggam. “Sweet couple you guys…”
Aku menarik tangannku namun Mikha menahannya. “Aku cuma bisa megang tangan kamu, mastiin kamu gak pergi dan baik-baik aja cuma di ruang musik ini. Di tempat lain? Kamu gak mau, kan?” sambar Mikha cepat.
Aku menatapnya. “Mik, kamu tau kan-“
“Yes, I know. Please, Mon.”
Well….. Aku mengangguk.
Reuben masuk dengan membawa beberapa kantong plastik yang berisikan makanan. Ia lalu duduk di depan kami dan mulai membagikan makanan.
Mada duduk di sebelahku diikuti dengan Jane, lalu Jeremy duduk di sebelah Reuben. “Wow, I can say I’m starving this day, latihan bola tadi bener-bener wow!” kata Jeremy, lalu ia mulai melahap makanannya.
“Emang tadi latihannya capek banget?” tanyaku.
Mada mengangguk. “Yup, latihan yang cukup berat buat awal minggu ini.”
Hening. Semua sibuk sama makanannya dan sekitar 10 menit kemudian, kami semua sudah selesai makan dan berkumpul di tengah ruangan.
“Omong-omong soal latihan, sebentar lagi bakal ada pertandingan loh,” kata Reuben sambil menatapku.
“Wow, really?” tanyaku antusias.
Reuben mengangguk. “Just a friendly match sih, tapi sekolah kita udah biasa menang kalau lawan sekolah itu nanti. Yaa, jadi rasanya bakal beda.”
“Harus latihan karena ini bergengsi, semua sekolah katanya bakal nonton,” kata Jeremy sambil memetik bassnya.
Aku mengangguk. Sedangkan Jane asyik bermain botol air mineral bareng Mada. Duh, susah ya kalo lagi fall in love…………………….. Wait, atau aku gitu juga dulu?
“Latihan di lapangan bola bakalan jadi lebih sering, dan kayaknya…” Reuben menatap gitarnya. “Latihan di ruang musik harus kepending dulu buat beberapa hari.”
“Gapapa, Reu! You guys have to practice a lot. Kita pending aja dulu, kan event musik nya juga masih agak lama,” kataku.
“Omong-omong pertandingan bola…” Jane akhirnya bersuara. “Dulu waktu aku sama Mona nonton kalian tanding, itu lucu banget loh!”
Mikha langsung berdiri tegak dan menatap Jane.
“Waktu kalian tanding, Mona malah asik baca Narnia. Dan dia sama sekali gak tertarik sama kalian, hihihi!”
“Jane…….” kataku.
“And now, Mona with Mikha. Rasanya gak nyangka ya? Aku masih ingat waktu Mona cerita dia fall in love sama Mikha, hahaha!”
Aku melempar Jane dengan tutup botol. “Jane, stop it!” seruku sambil tertawa.
Semua langsung tertawa, termasuk Mikha. Dan for your information guys, he always holds my hand. Always.
“Tiba-tiba keingat Mikha waktu pertama kali liat Mona!” seru Mada sambil tertawa.
Dan sekarang giliran aku yang berdiri tegak, menatap Mada ingin tahu.
“Waktu itu hari Senin, dan kamu lagi ada di podium, habis menang lomba tingkat internasional. Mikha yang awalnya udah capek banget, langsung merhatiin ke podium gak lepas-lepas, haha!”
Lomba tingkat internasional? Itu kan udah lama banget!
“Dan sekarang…. Kalian udah jadian, deh. I’ve never seen a couple as sweet as you guys,” kata Mada, tersenyum.
“Tapi… Walaupun Mikha udah punya Mona, tapi kok cewek-cewek tetep ada yang deketin Mikha, ya? Waktu habis latihan tadi, mereka malah-“
“J, mereka gak tau aku sama Mikha jadian. Dan yang tau cuma kalian-kalian. Please, don’t tell everybody bout this…” kataku sambil menatap mereka satu-satu.
Tangan Mikha menggenggam tanganku semakin erat.
“Well, okay. We’ll keep this as secret.” Reuben menatapku. “Lagian, kalau mereka tau juga kayaknya gak bagus… Pasti nanti pada envy.”
Semua mengangguk setuju. Lalu ruang musik kembali dipenuhi dengan obrolan ringan.
“Mona…” panggil Mikha lembut. Aku menoleh. “Bahagia itu sederhana…. kalau kamu mau nemenin aku latihan bola. Interested?”
Nungguin Mikha latihan bola? Wow, it would be rawk! Aku kan gak pernah liat dia latihan bola sebelumnya.
Dan well, semoga aja lapangan bola sepi. Amin.
Aku mengangguk, “Sure, Mik. Why not….”
Mikha lalu tersenyum cerah, dan mulai mengacak rambutku pelan. “Thanks, Mona!”
Lalu Mikha mulai memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu-lagu favoritnya kepadaku, dengan senyum dan tawanya yang khas, gimana mungkin aku gak sayang sama dia?
Mikha, semoga kita bertahan. Karena aku rasa… ini bukan cuma sekedar rasa biasa.
Kamu beda, Mikha.
No.
Kita beda, Mik.
“… and my heart is yours…” Mikha menyanyikan bait terakhir lagu, lalu mengelus pipiku sekilas dan tersenyum. Aku membalas senyumnya.
Dan perbedaan ini, semoga bisa bikin kita jadi satu.
***
PART 33
Aku membuka pintu bilik kamar mandi, berjalan keluar dan ternyata sepi. Tumben.
Aku melangkahkan kakiku ke wastafel paling ujung di kamar mandi yang bernuansa sangat cewek ini. Dindingnya warna pink dan ungu, belum lagi ada ruang khusus nunggu dengan sofa empuk warna soft pink. Asik sih sebenarnya, hahaha!
Saat aku menunduk dan membuka keran, pintu menjeblak terbuka dan masuklah segerombolan cewek. Tampilan mereka modis banget, dan langsung aku simpulin mereka pasti tipe cewek famous di sekolah.
Mereka berjejer rapi di depan wastafel, menghadap kaca. Ada yang nyisir rambut, pake parfum, baikin baju, dan hal-hal cewek lainnya yang biasa dilakuin di toilet. Semuanya masih wajar-wajar aja sampai salah satu dari mereka, yang wajahnya paling cantik, membuka mulut.
“Eh eh girls, ini hot gossip banget!”
“Apaan?” kata cewek yang berdiri tepat disebelahku. Aku memasang kuping baik-baik, tiba-tiba aja mental kepo aku muncul.
“Itu, si Mikha,” kata cewek itu lagi. Jantungku langsung berdegup kencang begitu mendengar nama Mikha disebut. Cewek cantik itu sekarang menyemprot rambutnya entah dengan apa. “Dia deket banget ya sama cewek itu, siapa tuh namanya-“
“Mona?”
“Iyap! Well, aku tau sih mereka satu band. Kalau dekat juga wajar. Tapi….” Cewek itu mendekatkan wajahnya ke kaca. “Kayaknya mereka udah lebih dari sekedar teman, deh.”
“NO WAY!”
Cewek di sebelahku menarik dirinya dari kaca dan sekarang menatap cewek cantik tadi dengan mata membelalak. “Are you kidding me?”
Cewek cantik itu menggeleng. “Nope. Well, listen. Mereka jadian itu kemungkinannya besar banget-“
“Apa Mikha gak bisa liat cewek yang lebih cantik daripada Mona? Well, Mona cantik, tapi masih banyak lagi cewek yang jauh lebih cantik daripada dia. Mona emang pintar, tapi, Mikha kan famous!”
Cewek cantik itu menggeleng tak sabar. “Mikha gak cuma liat cantiknya, honey. Pasti ada something di diri Mona…”
“Yap, maybe. I don’t care with that. Mereka itu beda banget. Mona, siapa sih dia?” kata cewek di sebelahku tadi. Dan sekarang semua mengangguk setuju, bahkan si cewek cantik itu. “Well, we’ll see. Kalau bener mereka jadian, kita liat aja, seberapa lama mereka bisa tahan!”
“Iya, mending Mikha juga harusnya sama salah satu dari kita. Kalau aku sih, maunya sama Mada, haha!” kata cewek cantik itu, lalu masuk ke ruang tunggu toilet, yang ada sofanya. Dan gerombolan cewek itu langsung mengekor mengikuti.
Aku mencengkram keran yang ada di depanku kuat-kuat.
Hey girls, apa kalian gak liat aku ada disini?
Perlahan-lahan kulepaskan cengkramanku dari keran itu dan berlari ke luar toilet dengan nafas naik turun.
Sekolah sangat ramai karena ini waktu istirahat. Beberapa orang yang melewatiku langsung menyapa ‘hey Mona’, dan aku hanya membalas dengan senyum tipis. Gak sanggup lagi berkata-kata.
Aku berjalan ke arah kantin. Mikha, Reuben, Mada, Jeremy, sama Jane pasti udah nungguin aku dari tadi. Mereka bisa heran kenapa aku kelamaan di toilet.
Tapi…
Kuhentikan langkahku di tengah-tengah koridor yang penuh.
Aku gak sanggup balik ke kantin, ketemu sama mereka dan ngumpul lagi dengan kondisi aku yang lagi down gini. No. I cant.
Maka aku membalikkan badanku dan tiba-tiba ruang Olimpiade terlintas di benakku. Yeah, I should be there. Tempatku memang disitu.
Berjalan di koridor dan apa yang terjadi di toilet tadi rasanya………………. Nyesek. Mereka bahkan gak ngelirik ke aku sama sekali!
Tapi, mereka bener. Mikha famous, keren, cakep. Aku? Mona? Siapa? Bukan siapa-siapa.
Kutahan air mataku yang nyaris tumpah. Rasa kekecewaan dan sekaligus kesal campur aduk jadi satu.
Mikha… Kita baru jadian satu minggu dan rasanya udah berat…......
Aku berbelok di koridor, menutup mataku dengan kedua tangan. Menahan air mata supaya gak jatuh, namun……..
BRUK.
OW OW. Aku nabrak orang sepertinya……………………..
Aku segera melepas tanganku dari mata, kaget. Jelas-jelas aku udah nabrak orang. “Oh, OH, sorry! Maaf, aku, aku…. sorry, aku-“
“Mona?”
Aku mendongak. Suara yang tidak pernah hilang dari pikiranku tiba-tiba muncul dan terdengar nyata.
“Mik?” bisikku pelan.
Mikha berdiri di depanku, di belokan koridor yang cukup ramai. Aku melirik sekeliling dan mulai gugup. Kulihat ada Camille dan Clara di ujung sana.
“Mona, kamu lama banget di toilet. Kamu sakit perut ya, hahaha….” Mikha tertawa. Dan entah kenapa tawanya terdengar jadi lebih merdu dan rasanya sakit sekali. “Jadi, aku mutusin buat nyariin kamu. Eh, ketemu disini. Yuk balik ke kantin!”
Mikha sudah menarik sikuku, lalu aku menggeleng. “Gak, Mik. Aku mau ke ruang olimpiade.”
Mikha menaikkan alisnya, bingung. “Ngapain? Well, aku ikut.”
Aku menggeleng. “Gak, kamu balik aja ke kantin please. Kamu gak bakal betah di sana,” lirihku. Aku membuang muka dari Mikha, supaya dia gak bisa liat mataku yang udah berkaca-kaca.
Mikha melepaskan sikuku. Aku lega, sekaligus sakit. Namun, tangan Mikha langsung memegang tanganku.
OH NO.
“Mikha, koridor lagi rame. Lepasin,” bisikku keras, melirik kanan-kiri, takut.
Mikha menatapku tenang. “Aku ikut ke ruang olimpiade, atau aku bakal meluk kamu di sini?”
Aku mengerang. Pilihan yang gak dua-duanya. “Mikha, please….”
Tiba-tiba raut wajah Mikha berubah jadi sedih. Dan hal yang paling aku benci adalah ngeliat Mikha sedih kayak gini. “Mona… Pasti ada something bad happened, ya?”
Aku menatap mata Mikha yang terpilin sedih. Matanya tak lepas-lepas menatapku. Dadaku rasanya sesak.
Aku hanya menunduk, menatap tanganku yang dipegang Mikha.
Tanpa banyak omong, Mikha langsung menarik tanganku lembut dan berjalan di koridor sambil menggandeng tanganku.
Tanpa perduli dengan fakta bahwa semua cewek yang melihatnya menjerit, dan menatapku dengan tatapan envy.
Sepanjang koridor, aku hanya mengikuti Mikha sambil menunduk.
Kurasakan air mataku jatuh satu persatu.
Aku membuka pintu bilik kamar mandi, berjalan keluar dan ternyata sepi. Tumben.
Aku melangkahkan kakiku ke wastafel paling ujung di kamar mandi yang bernuansa sangat cewek ini. Dindingnya warna pink dan ungu, belum lagi ada ruang khusus nunggu dengan sofa empuk warna soft pink. Asik sih sebenarnya, hahaha!
Saat aku menunduk dan membuka keran, pintu menjeblak terbuka dan masuklah segerombolan cewek. Tampilan mereka modis banget, dan langsung aku simpulin mereka pasti tipe cewek famous di sekolah.
Mereka berjejer rapi di depan wastafel, menghadap kaca. Ada yang nyisir rambut, pake parfum, baikin baju, dan hal-hal cewek lainnya yang biasa dilakuin di toilet. Semuanya masih wajar-wajar aja sampai salah satu dari mereka, yang wajahnya paling cantik, membuka mulut.
“Eh eh girls, ini hot gossip banget!”
“Apaan?” kata cewek yang berdiri tepat disebelahku. Aku memasang kuping baik-baik, tiba-tiba aja mental kepo aku muncul.
“Itu, si Mikha,” kata cewek itu lagi. Jantungku langsung berdegup kencang begitu mendengar nama Mikha disebut. Cewek cantik itu sekarang menyemprot rambutnya entah dengan apa. “Dia deket banget ya sama cewek itu, siapa tuh namanya-“
“Mona?”
“Iyap! Well, aku tau sih mereka satu band. Kalau dekat juga wajar. Tapi….” Cewek itu mendekatkan wajahnya ke kaca. “Kayaknya mereka udah lebih dari sekedar teman, deh.”
“NO WAY!”
Cewek di sebelahku menarik dirinya dari kaca dan sekarang menatap cewek cantik tadi dengan mata membelalak. “Are you kidding me?”
Cewek cantik itu menggeleng. “Nope. Well, listen. Mereka jadian itu kemungkinannya besar banget-“
“Apa Mikha gak bisa liat cewek yang lebih cantik daripada Mona? Well, Mona cantik, tapi masih banyak lagi cewek yang jauh lebih cantik daripada dia. Mona emang pintar, tapi, Mikha kan famous!”
Cewek cantik itu menggeleng tak sabar. “Mikha gak cuma liat cantiknya, honey. Pasti ada something di diri Mona…”
“Yap, maybe. I don’t care with that. Mereka itu beda banget. Mona, siapa sih dia?” kata cewek di sebelahku tadi. Dan sekarang semua mengangguk setuju, bahkan si cewek cantik itu. “Well, we’ll see. Kalau bener mereka jadian, kita liat aja, seberapa lama mereka bisa tahan!”
“Iya, mending Mikha juga harusnya sama salah satu dari kita. Kalau aku sih, maunya sama Mada, haha!” kata cewek cantik itu, lalu masuk ke ruang tunggu toilet, yang ada sofanya. Dan gerombolan cewek itu langsung mengekor mengikuti.
Aku mencengkram keran yang ada di depanku kuat-kuat.
Hey girls, apa kalian gak liat aku ada disini?
Perlahan-lahan kulepaskan cengkramanku dari keran itu dan berlari ke luar toilet dengan nafas naik turun.
Sekolah sangat ramai karena ini waktu istirahat. Beberapa orang yang melewatiku langsung menyapa ‘hey Mona’, dan aku hanya membalas dengan senyum tipis. Gak sanggup lagi berkata-kata.
Aku berjalan ke arah kantin. Mikha, Reuben, Mada, Jeremy, sama Jane pasti udah nungguin aku dari tadi. Mereka bisa heran kenapa aku kelamaan di toilet.
Tapi…
Kuhentikan langkahku di tengah-tengah koridor yang penuh.
Aku gak sanggup balik ke kantin, ketemu sama mereka dan ngumpul lagi dengan kondisi aku yang lagi down gini. No. I cant.
Maka aku membalikkan badanku dan tiba-tiba ruang Olimpiade terlintas di benakku. Yeah, I should be there. Tempatku memang disitu.
Berjalan di koridor dan apa yang terjadi di toilet tadi rasanya………………. Nyesek. Mereka bahkan gak ngelirik ke aku sama sekali!
Tapi, mereka bener. Mikha famous, keren, cakep. Aku? Mona? Siapa? Bukan siapa-siapa.
Kutahan air mataku yang nyaris tumpah. Rasa kekecewaan dan sekaligus kesal campur aduk jadi satu.
Mikha… Kita baru jadian satu minggu dan rasanya udah berat…......
Aku berbelok di koridor, menutup mataku dengan kedua tangan. Menahan air mata supaya gak jatuh, namun……..
BRUK.
OW OW. Aku nabrak orang sepertinya……………………..
Aku segera melepas tanganku dari mata, kaget. Jelas-jelas aku udah nabrak orang. “Oh, OH, sorry! Maaf, aku, aku…. sorry, aku-“
“Mona?”
Aku mendongak. Suara yang tidak pernah hilang dari pikiranku tiba-tiba muncul dan terdengar nyata.
“Mik?” bisikku pelan.
Mikha berdiri di depanku, di belokan koridor yang cukup ramai. Aku melirik sekeliling dan mulai gugup. Kulihat ada Camille dan Clara di ujung sana.
“Mona, kamu lama banget di toilet. Kamu sakit perut ya, hahaha….” Mikha tertawa. Dan entah kenapa tawanya terdengar jadi lebih merdu dan rasanya sakit sekali. “Jadi, aku mutusin buat nyariin kamu. Eh, ketemu disini. Yuk balik ke kantin!”
Mikha sudah menarik sikuku, lalu aku menggeleng. “Gak, Mik. Aku mau ke ruang olimpiade.”
Mikha menaikkan alisnya, bingung. “Ngapain? Well, aku ikut.”
Aku menggeleng. “Gak, kamu balik aja ke kantin please. Kamu gak bakal betah di sana,” lirihku. Aku membuang muka dari Mikha, supaya dia gak bisa liat mataku yang udah berkaca-kaca.
Mikha melepaskan sikuku. Aku lega, sekaligus sakit. Namun, tangan Mikha langsung memegang tanganku.
OH NO.
“Mikha, koridor lagi rame. Lepasin,” bisikku keras, melirik kanan-kiri, takut.
Mikha menatapku tenang. “Aku ikut ke ruang olimpiade, atau aku bakal meluk kamu di sini?”
Aku mengerang. Pilihan yang gak dua-duanya. “Mikha, please….”
Tiba-tiba raut wajah Mikha berubah jadi sedih. Dan hal yang paling aku benci adalah ngeliat Mikha sedih kayak gini. “Mona… Pasti ada something bad happened, ya?”
Aku menatap mata Mikha yang terpilin sedih. Matanya tak lepas-lepas menatapku. Dadaku rasanya sesak.
Aku hanya menunduk, menatap tanganku yang dipegang Mikha.
Tanpa banyak omong, Mikha langsung menarik tanganku lembut dan berjalan di koridor sambil menggandeng tanganku.
Tanpa perduli dengan fakta bahwa semua cewek yang melihatnya menjerit, dan menatapku dengan tatapan envy.
Sepanjang koridor, aku hanya mengikuti Mikha sambil menunduk.
Kurasakan air mataku jatuh satu persatu.
***
PART 34
Kukira Mikha akan membawaku ke ruang musik-tapi aku salah besar.
Bel pelajaran sudah berbunyi, namun Mikha masih menggandeng tanganku dan arahnya sama sekali bukan ke ruang musik.
Tapi…….
Danau di belakang sekolah.
Aku mendongak dan menatap danau belakang sekolah itu. Ada pepohonan yang cukup banyak, serta semak-semak, dan kerennya ada jembatan kecil di danau itu. Dan Mikha membawaku kesana.
Mikha duduk di jembatan kecil itu dan terpaksa aku duduk juga karena Mikha gak ngelepasin tangannya dari tanganku.
30 detik penuh, Mikha hanya menatapku yang terus menunduk, sampai akhirnya dia jenuh dan memegang kedua pipiku lembut.
“Mona…. Please. Tell me what do you feel right now,” bisiknya pelan. Matanya masih saja terpilin sedih.
Aku memegang kedua tangan Mikha.
Di toilet tadi, ‘Mona memang pintar, tapi Mikha kan famous’, ‘Mereka itu beda banget. Mona, siapa sih dia?’ semua kata-kata itu masih terngiang di benakku.
Aku menatap mata Mikha yang jernih itu, dan tiba-tiba merasa kalau aku udah ngelakuin hal yang paling bodoh yang pernah ada.
Jatuh cinta sama Mikha Angelo, cowok paling famous di sekolah.
Dan sayangnya, rasa ini udah terlalu jauh tanpa aku bisa tahan. Sekarang, kalau gak ngeliat Mikha aja rasanya udah hampa banget.
And he’s mine.
Semua itu meledak di otakku, menatap mata Mikha, dan….
Perlahan-lahan, air mata bergulir dari wajahku, semakin lama semakin deras.
“Mona!” seru Mikha kaget. Tangannya semakin erat memegang pipiku. “Mona, please. Kamu sakit? Apa yang sakit? Mona, kamu kenapa? Ada yang jahatin kamu? Kamu digigit semut, atau apa? Mona, please….”
Aku terisak semakin keras begitu mendengar Mikha panik.
It hurts me badly: love Mikha but you know that you shouldn’t be with him.
“Mona…. Please. Apa aku harus nangis juga supaya kamu mau cerita ke aku kamu kenapa?” tanya Mikha parau.
No…. NO. Mikha gak boleh nangis. It will never happened.
Aku segera menggeleng, berusaha menghentikan tangis yang menyesakkan ini lalu menatap mata Mikha.
“So-so-sorry, Mik…” kataku terbata-bata. “Aku…”
Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Mikha sudah menarikku ke dalam pelukannya.
Dipeluk sama Mikha pas nangis gini. Rasanya tambah mau nangis. Melting juga. Aduh Mik……………….
“Mona,” bisik Mikha di telingaku. Ia masih memelukku. “Apapun yang bikin kamu nangis sekarang, aku pastiin itu bakal hilang.”
Yang ada aku malah nangis lagi begitu dengar Mikha ngomong gitu.
“One thing that you should know: I love you. Always. You’re not alone, Mona. You have me!” kata Mikha. Ia mengelus kepalaku pelan. “I love you, Mon. Please don’t cry…”
Masih dalam pelukan Mikha, lalu ia mulai bernyanyi lagu I’ll Stand By You (mimin dengerin lagu ini yang versi Glee :3) dengan suaranya yang lembut itu.
Aku menutup mataku dan memeluk Mikha erat.
Memang kadang pikiran dan hati gak selalu sejalan. Otak aku bilang, kalau aku harusnya gak disini bareng Mikha dan harusnya jauhin dia. Ini demi Mikha juga. Kami berbeda.
Tapi… hati aku bilang, kalau aku memang tepat ada disini. Stay with Mikha.
Dan sepertinya, kali ini hati menang.
Mikha selesai menyanyikan lagu itu. Lalu ia berbisik dengan suaranya yang paling lembut, “Selamat satu Minggu bareng Mr. Handsome, Ms. Beautiful.”
Mikha ingat!
Aku tertawa sambil menangis, entah rasanya aneh banget. “Thanks, Mik…”
“Stay with me, Mona. I just need you,” kata Mikha.
Aku mengangguk dalam pelukan Mikha.
I wanna stay with you, Mikha. I wish I can.
Kukira Mikha akan membawaku ke ruang musik-tapi aku salah besar.
Bel pelajaran sudah berbunyi, namun Mikha masih menggandeng tanganku dan arahnya sama sekali bukan ke ruang musik.
Tapi…….
Danau di belakang sekolah.
Aku mendongak dan menatap danau belakang sekolah itu. Ada pepohonan yang cukup banyak, serta semak-semak, dan kerennya ada jembatan kecil di danau itu. Dan Mikha membawaku kesana.
Mikha duduk di jembatan kecil itu dan terpaksa aku duduk juga karena Mikha gak ngelepasin tangannya dari tanganku.
30 detik penuh, Mikha hanya menatapku yang terus menunduk, sampai akhirnya dia jenuh dan memegang kedua pipiku lembut.
“Mona…. Please. Tell me what do you feel right now,” bisiknya pelan. Matanya masih saja terpilin sedih.
Aku memegang kedua tangan Mikha.
Di toilet tadi, ‘Mona memang pintar, tapi Mikha kan famous’, ‘Mereka itu beda banget. Mona, siapa sih dia?’ semua kata-kata itu masih terngiang di benakku.
Aku menatap mata Mikha yang jernih itu, dan tiba-tiba merasa kalau aku udah ngelakuin hal yang paling bodoh yang pernah ada.
Jatuh cinta sama Mikha Angelo, cowok paling famous di sekolah.
Dan sayangnya, rasa ini udah terlalu jauh tanpa aku bisa tahan. Sekarang, kalau gak ngeliat Mikha aja rasanya udah hampa banget.
And he’s mine.
Semua itu meledak di otakku, menatap mata Mikha, dan….
Perlahan-lahan, air mata bergulir dari wajahku, semakin lama semakin deras.
“Mona!” seru Mikha kaget. Tangannya semakin erat memegang pipiku. “Mona, please. Kamu sakit? Apa yang sakit? Mona, kamu kenapa? Ada yang jahatin kamu? Kamu digigit semut, atau apa? Mona, please….”
Aku terisak semakin keras begitu mendengar Mikha panik.
It hurts me badly: love Mikha but you know that you shouldn’t be with him.
“Mona…. Please. Apa aku harus nangis juga supaya kamu mau cerita ke aku kamu kenapa?” tanya Mikha parau.
No…. NO. Mikha gak boleh nangis. It will never happened.
Aku segera menggeleng, berusaha menghentikan tangis yang menyesakkan ini lalu menatap mata Mikha.
“So-so-sorry, Mik…” kataku terbata-bata. “Aku…”
Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Mikha sudah menarikku ke dalam pelukannya.
Dipeluk sama Mikha pas nangis gini. Rasanya tambah mau nangis. Melting juga. Aduh Mik……………….
“Mona,” bisik Mikha di telingaku. Ia masih memelukku. “Apapun yang bikin kamu nangis sekarang, aku pastiin itu bakal hilang.”
Yang ada aku malah nangis lagi begitu dengar Mikha ngomong gitu.
“One thing that you should know: I love you. Always. You’re not alone, Mona. You have me!” kata Mikha. Ia mengelus kepalaku pelan. “I love you, Mon. Please don’t cry…”
Masih dalam pelukan Mikha, lalu ia mulai bernyanyi lagu I’ll Stand By You (mimin dengerin lagu ini yang versi Glee :3) dengan suaranya yang lembut itu.
Aku menutup mataku dan memeluk Mikha erat.
Memang kadang pikiran dan hati gak selalu sejalan. Otak aku bilang, kalau aku harusnya gak disini bareng Mikha dan harusnya jauhin dia. Ini demi Mikha juga. Kami berbeda.
Tapi… hati aku bilang, kalau aku memang tepat ada disini. Stay with Mikha.
Dan sepertinya, kali ini hati menang.
Mikha selesai menyanyikan lagu itu. Lalu ia berbisik dengan suaranya yang paling lembut, “Selamat satu Minggu bareng Mr. Handsome, Ms. Beautiful.”
Mikha ingat!
Aku tertawa sambil menangis, entah rasanya aneh banget. “Thanks, Mik…”
“Stay with me, Mona. I just need you,” kata Mikha.
Aku mengangguk dalam pelukan Mikha.
I wanna stay with you, Mikha. I wish I can.
***
Mataku membelalak begitu melihat Jane. “JANE! Kamu bawa apaan?”
Jane tidak menjawab, wajahnya tertutupi dengan kardus air mineral yang dibawanya. Dua kardus. Oh, Jane!
Aku berlari menghampirinya, hendak membantu membawa kardus yang pastinya berat itu, namun aku keduluan.
Mada yang tiba-tiba muncul segera mengangkat dua kardus itu dan membawanya. Kulihat ia tersenyum. Aku terdiam sesaat, lalu menyapanya, “Hai, Mad!”
“Halo, sweety,” sapa Mada. Oke, selain Mikha, cuma Mada yang bisa manggil aku sweety. Oh, selain Jane juga pastinya. “Kayaknya kita ke lapangan aja deh sekarang, Ugi sama Jeremy udah disana. Lets goo!”
Jane langsung berjalan di samping Mada, dan aku gak heran kalau sebentar lagi mereka jadian. Mereka itu lucu sebenarnya. Mada yang kadang suka cool cool gimanaaa gitu, dan Jane yang suka lebay, hiperbola, dan terlalu polos. Mada Jane. Dua orang yang berbeda tapi kayaknya bakalan bisa jadi pasangan yang saling melengkapi.
Aku mengikuti Mada dan Jane dari belakang. Dan omong-omong berbeda………
“Hey, Ms. Beautiful!”
Yak, tepat.
(nowplaying: Little Things - One Direction)
Mikha sudah mengenakan baju bolanya, dan belum apa-apa udah keringatan. Ia berjalan di sebelahku, mengikuti Mada dan juga Jane yang berjala di depan.
“Hey, Mik. Kamu belum latihan tapi kamu udah keringatan, gimana, sih?” kataku sambil tertawa.
Mikha cuma tertawa, lalu mengelap keringatnya dengan tangannya. “Gimana? Mendingan?” tanyanya polos.
Aku tertawa. Bukannya keringat Mikha hilang, malah bertambah banyak. Tangannya juga keringatan, ahaha!
Aku memegang lengan Mikha dan berhenti berjalan. Mikha berdiri menghadapku. Aku mengeluarkan sapu tangan warna coklat dengan motif gitar dan balok nada.
Mikha tersenyum begitu melihat sapu tangan itu. “Hmm, sapu tangan secret admirer dibawa kemana-mana nih sekarang?” kata Mikha sambil mengulum senyum.
Aku tertawa. “Lucu, Mik,” kataku singkat. “Anyway, sapu tangan ini bagus. Thank you.”
Mikha tersenyum lembut. “Anytime.”
Hening.
Kurasa pipiku memerah, maka aku cepat cepat berkata, “Well, keringat kamu…”
Aku berjinjit sedikit, Mikha jelas-jelas jauh lebih tinggi. Aku mengelap keringatnya, dan Mikha terus menatapku sambil tersenyum.
Oke, oke. Tenang Mona….. Calm down.
AAAAAAAAAAAA DEMI APA INI JADI DEGDEGAN BANGEEEETTTT!
Selesai mengelap keringat Mikha, aku menunduk. Pipiku jelas sudah jauh lebih merah daripada tomat, namun akhirnya Mikha tertawa, “Mona, you’re so cute. The first time I saw you blushed like this… You’re just so lovely!”
Aku mendongak dan melihat mata Mikha yang berbinar-binar. “This just a little thing from you, that could make me more than happy…”
Aku tersenyum, sekaligus sedih. “Sorry, Mik. Backstreet from people here, is the best way for us,” kataku pelan. “Dan kita cuma berani berdua disini, gara-gara sekolah udah bener-bener sepi. Gak ada yang jerit-jerit liat kamu atau-“
“Envy ngeliat kamu,” sambung Mikha. Aku terdiam dan Mikha juga begitu. Kemudian Mikha tersenyum sambil menatapku. Oke, detak jantung, take it easy. “Sebenarnya, mau backstreet atau gak, toh you’re still mine, kan? The important thing is, I love you. And you’re here, with me.”
Aku menatap Mikha, lalu tersenyum. Rasanya bahagia……………… banget.
Kulihat Mada dan Jane sudah jauh di koridor ujung. “Well, kita ketinggalan Mada sama Jane!”
Mikha menoleh, melihat Mada dan Jane yang sudah berjalan sangat jauh. Lalu ia tertawa, “Ayo susul mereka!”
Aku berjalan bersampingan dengan Mikha, sampai akhirnya….
Mikha is holding my hand. Di koridor sekolah. Yang sepi tapinya.
“Lets run, Mona!” seru Mikha.
Kemudian aku dan Mikha berlari mengejar Mada dan Jane sambil tertawa. Tawa kami bergaung di koridor yang sepi itu. Jari-jemari kami bertaut satu sama lain.
Dan untuk kali ini, ketika jari kami terpaut, gak perlu khawatir atau cemas.
Karena gak ada yang ngeliat dan aku gak perlu nerima tatapan-tatapan lebih dari sekedar envy.
Jane tidak menjawab, wajahnya tertutupi dengan kardus air mineral yang dibawanya. Dua kardus. Oh, Jane!
Aku berlari menghampirinya, hendak membantu membawa kardus yang pastinya berat itu, namun aku keduluan.
Mada yang tiba-tiba muncul segera mengangkat dua kardus itu dan membawanya. Kulihat ia tersenyum. Aku terdiam sesaat, lalu menyapanya, “Hai, Mad!”
“Halo, sweety,” sapa Mada. Oke, selain Mikha, cuma Mada yang bisa manggil aku sweety. Oh, selain Jane juga pastinya. “Kayaknya kita ke lapangan aja deh sekarang, Ugi sama Jeremy udah disana. Lets goo!”
Jane langsung berjalan di samping Mada, dan aku gak heran kalau sebentar lagi mereka jadian. Mereka itu lucu sebenarnya. Mada yang kadang suka cool cool gimanaaa gitu, dan Jane yang suka lebay, hiperbola, dan terlalu polos. Mada Jane. Dua orang yang berbeda tapi kayaknya bakalan bisa jadi pasangan yang saling melengkapi.
Aku mengikuti Mada dan Jane dari belakang. Dan omong-omong berbeda………
“Hey, Ms. Beautiful!”
Yak, tepat.
(nowplaying: Little Things - One Direction)
Mikha sudah mengenakan baju bolanya, dan belum apa-apa udah keringatan. Ia berjalan di sebelahku, mengikuti Mada dan juga Jane yang berjala di depan.
“Hey, Mik. Kamu belum latihan tapi kamu udah keringatan, gimana, sih?” kataku sambil tertawa.
Mikha cuma tertawa, lalu mengelap keringatnya dengan tangannya. “Gimana? Mendingan?” tanyanya polos.
Aku tertawa. Bukannya keringat Mikha hilang, malah bertambah banyak. Tangannya juga keringatan, ahaha!
Aku memegang lengan Mikha dan berhenti berjalan. Mikha berdiri menghadapku. Aku mengeluarkan sapu tangan warna coklat dengan motif gitar dan balok nada.
Mikha tersenyum begitu melihat sapu tangan itu. “Hmm, sapu tangan secret admirer dibawa kemana-mana nih sekarang?” kata Mikha sambil mengulum senyum.
Aku tertawa. “Lucu, Mik,” kataku singkat. “Anyway, sapu tangan ini bagus. Thank you.”
Mikha tersenyum lembut. “Anytime.”
Hening.
Kurasa pipiku memerah, maka aku cepat cepat berkata, “Well, keringat kamu…”
Aku berjinjit sedikit, Mikha jelas-jelas jauh lebih tinggi. Aku mengelap keringatnya, dan Mikha terus menatapku sambil tersenyum.
Oke, oke. Tenang Mona….. Calm down.
AAAAAAAAAAAA DEMI APA INI JADI DEGDEGAN BANGEEEETTTT!
Selesai mengelap keringat Mikha, aku menunduk. Pipiku jelas sudah jauh lebih merah daripada tomat, namun akhirnya Mikha tertawa, “Mona, you’re so cute. The first time I saw you blushed like this… You’re just so lovely!”
Aku mendongak dan melihat mata Mikha yang berbinar-binar. “This just a little thing from you, that could make me more than happy…”
Aku tersenyum, sekaligus sedih. “Sorry, Mik. Backstreet from people here, is the best way for us,” kataku pelan. “Dan kita cuma berani berdua disini, gara-gara sekolah udah bener-bener sepi. Gak ada yang jerit-jerit liat kamu atau-“
“Envy ngeliat kamu,” sambung Mikha. Aku terdiam dan Mikha juga begitu. Kemudian Mikha tersenyum sambil menatapku. Oke, detak jantung, take it easy. “Sebenarnya, mau backstreet atau gak, toh you’re still mine, kan? The important thing is, I love you. And you’re here, with me.”
Aku menatap Mikha, lalu tersenyum. Rasanya bahagia……………… banget.
Kulihat Mada dan Jane sudah jauh di koridor ujung. “Well, kita ketinggalan Mada sama Jane!”
Mikha menoleh, melihat Mada dan Jane yang sudah berjalan sangat jauh. Lalu ia tertawa, “Ayo susul mereka!”
Aku berjalan bersampingan dengan Mikha, sampai akhirnya….
Mikha is holding my hand. Di koridor sekolah. Yang sepi tapinya.
“Lets run, Mona!” seru Mikha.
Kemudian aku dan Mikha berlari mengejar Mada dan Jane sambil tertawa. Tawa kami bergaung di koridor yang sepi itu. Jari-jemari kami bertaut satu sama lain.
Dan untuk kali ini, ketika jari kami terpaut, gak perlu khawatir atau cemas.
Karena gak ada yang ngeliat dan aku gak perlu nerima tatapan-tatapan lebih dari sekedar envy.
Hmm, what will happen to them next? Wait for the next bab everyone ;)
Thank you for reading <3
Love, @DjimbasSMD xx
Tidak ada komentar:
Posting Komentar