Sabtu, 03 Agustus 2013

The Overtunes FanFiction (Bab 4)

Bab 4

“Krriiiinnngggg….”
Terdengar derit-derit kursi dan obrolan kecil; pelajaran telah berakhir hari ini.
Aku segera memasukkan buku-bukuku ke tas asal, yang penting sudah masuk semua. Aku berdiri dan memegang botol air minum yang berisikan ice coffee.
“Jane, hurry!” seruku ke Jane.
Jane mendongak. “Ya sabar kali, Mon…..”
Aku mengetuk-ngetukkan ujung sepatuku ke lantai. Perlahan-lahan kelas Sejarah sepi dan ketika Camille dan Clara lewat, mereka hanya tersenyum sinis menatapku.
Jane akhirnya selesai membereskan buku-bukunya. Ia mendatangiku sambil menutup tasnya, “Maaf lama, Mon… Ini bukunya ba-“
Aku memutar bola mataku, lalu segera menarik tangan Jane dan berjalan dengan cepat. “Mereka latihan sebentar lagi, we should be there!”
Jane mengangguk sambil mengikutiku berbelok di koridor. “Yeah, I know, Mon… Kamu gak sabar banget ketemu Mikha emang kangen banget yak….”
Aku menggeleng sambil tertawa. “Haha, maybe yes!”
Sudah dua kali aku nemenin Mikha latihan bola, dan aku belum pernah absen nemenin dia pas pulang sekolah.
Ngeliat Mikha lari-lari di lapangan bola, rambutnya yang tebal itu ketiup angin, wajahnya yang dipenuhi tawa dan rasa puas begitu berhasil mencetak gol, dan tentu aja senyum yang selalu ia layangkan dari lapangan bola ke kursi penonton buat aku.
Rasanya beda ngeliat Mikha di lapangan bola dan ruang musik. But, he’s adorable as always, hahaha!
Dan latihan kali ini, aku bawain kopi kesukaan Mikha: Top Coffee, BONGKAR! (FLOL) tersenyum membayangkan Mikha di lapangan bola, aku mempercepat langkahku.
Sesampainya di lapangan bola sekolah, yang tentunya sangat besar, aku segera mendatangi Mikha yang sedang pemanasan. Sedangkan Jane sudah ngacir ke Mada.
“Hi, Mik!” seruku seraya tersenyum.
Mikha menoleh, dan senyum langsung muncul di wajah tampannya itu. “Hi, Mon…” Mikha berdiri di depanku, lalu jarinya menyentuh hidungku sekilas. “How was your class?”
Aku tersenyum. Selalu lebih mudah untuk tersenyum kalau sudah berhubungan dengan Mikha, well setidaknya sampai saat ini. “Great, kami cuma nyatat tadi. And you know lah, aku kan suka kalau udah nyatat-nyatat gitu, jadi gak ada masalah.”
Mikha tersenyum, dan matanya gak pernah lepas dari wajahku. “Wow, good then!”
“How bout you, Mik?”
“Well, kami cuma bahas beberapa taktik baru buat pertandingan nanti,” jawab Mikha. Lalu ia melirik botol air minum yang kubawa. “Well, what’s that? Is it for me?”
Aku tertawa, lalu memberikan botol air minum berwarna coklat ke Mikha, yang baru aja aku beli tadi malam. Sesuai dengan warna kesukaan Mikha, coklat. Mikha membukanya lalu tertawa, “Ahaha, kopi nih? Thanks, Mona! Anyway, ini botol air minumnya baru, ya?”
What? Kok bisa tau, aduh. Aduh.
Aku segera menggeleng. “Gak kok, enak aja. Itu udah lama, Mik!” sanggahku, berusaha menahan gugup.
Mikha kemudian tertawa. “Mon, harganya 30 ribu, ya?” Mikha menunjukkan label harga di botol coklat itu.
MONAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA. Y U SO SMART. KENAPA TADI MALAM HABIS BELI LABEL HARGANYA GAK DILEPAS AAAAAAAAAAAAAAA.
Well……
Mikha masih tertawa, dan kurasakan wajahku memerah. “Thank you, Mon…” kata Mikha sambil mengelus rambutku. “Kamu kalau lagi malu-malu, blushing gitu lucu banget ya. Ahh, I just love you!”
“Sssttt, jangan nyaring-nyaring!” seruku sambil tertawa.
Mikha masih tertawa, lalu terdengar suara peluit dari tengah lapangan. Mikha menoleh ke lapangan sebentar, lalu menatapku lagi. “Well, aku latihan dulu. Watch me carefully, ya…”
Mikha meminum kopi itu dengan cepat, lalu memberikan botolnya kepadaku. Ia mengacak-ngacak rambutku sekilas. “Bye sweety!” Mikha lalu berlari ke tengah lapangan.
Masih melting gara-gara kejadian tadi, aku pun berusaha berjalan dengan benar ke bangku penonton, bergabung dengan Jane.
Kami berdua menonton tim sekolah berlatih dan berteriak-teriak sambil tertawa. Rasanya seru, and this makes me happy.
Mikha mencetak gol kelimanya, dan tepat pada saat itu muncul gerombolan cewek-cewek yang yang yang……..
“WAAAAAA MIKHAAAA! I LOVE YOUUUUUU!”
“REUBEEEENNNNNN! AWWW HE JUST SO CUTE!”
“JEREMY, I’M HERE!!!!!”
“MADAAAAAAAAAAAAAA! YOU ARE SO KEWL, MAD! HANDSOME AS ALWAYS!”
Aku tau teriakan terakhir dari siapa. Kulirik seorang cewek dengan syal terlilit di lehernya, berteriak menatap Mada yang sedang berlari mengejar bola; cewek cantik tempo hari yang ada di toilet.
Kulihat wajah Jane langsung memerah begitu mendengar teriakan cewek cantik itu. Ini pasti pertama kali buat Jane: saingan.
Bangku penonton yang sangat luas itu sekarang bagian kanannya penuh dengan cewek-cewek yang menjerit melihat Mikha, Reuben, Jeremy, dan Mada latihan.
“Jane, so crowded here! Girls are coming, should we go?” tanyaku cemas.
“Yeah, Mona Louissa, you should go with your friend…”
Dan dari banyaknya cewek yang ada disini, rupanya Camille dan Clara pun ikut menyetor wajah mereka yang selalu menatapku dengan tatapan sadis dan menghina.
Aku melihat Camille serta Clara berdiri di belakangku. Aku segera berdiri dan menatapnya. “Sorry?” Suaraku bergetar.
Camille tersenyum. Wajahnya nampak pucat. “Rasanya dulu pernah dengar kalau kamu gak tertarik sama bola, kan? Then, what are you doing here?”
Aku melirik Jane yang kayaknya udah emosi.
Camille masih tersenyum. “Oh, I think you wanna watch Mikha?” katanya. Jantungku langsung berdegup kencang. “Gak cukup apa, satu band sama mereka, dan sekarang mau nungguin latihan bola juga? Kamu kayak gak tau cewek-cewek disini gimana ya… Mereka jauh lebih cantik daripada kamu, dan mereka tau kamu lumayan dekat sama Mikha. Girls don’t like it, you know it, don’t you?”
Aku hanya bisa diam, sambil terus memandang Camille.
“Kamu harusnya tahu diri, Mona. You are different with them,” kata Camille pelan, namun menusuk.
Okay… Calm down, Mona….
“You should go, and don’t act like you don’t hear what people say…” Camille mengakhiri kata-katanya, lalu pergi ke kerumunan cewek-cewek.
Jane langsung memelukku yang shock. “Mona… Gak usah didengerin si Camille! Dia envy sama kamu, please… Gak usah didengerin!”
Aku melepaskan pelukan Jane, lalu mengangguk.
But…
Dikatain begitu siapa yang tahan, sih?
Peluit berbunyi, half time. Mikha yang rupanya tidak menyadari bahwa sekarang hampir cewek satu sekolah datang menonton dan menjerit untuknya bingung. Wajahnya yang berkeringat dan polo situ terlihat shock.
Aku hanya memandang Mikha dari bangku penonton. Jane juga bergeming disampingku. “Wanna come to them?”
Aku menggeleng, suram. “Camille’s right. We shouldn’t be here, Jane. We should go,” bisikku pelan.
Sekarang cewek-cewek itu menuruni bangku penonton dan mendatangi Mikha, Reuben, Jeremy, dan Mada. Mereka dikerubuni cewek-cewek, sedangkan pemain lainnya sudah duduk berselonjor di pinggir lapangan sambil minum, dan hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan cewek-cewek itu.
“We should stay here, Mon. Liat, deh, Mikha nyariin kamu. Ayok turun!” seru Jane.
Terlihat dari bangku penonton, Mikha yang dikerumuni cewek-cewek, mencari-cari. Matanya melirik ke kanan kiri, berusaha melepaskan diri dari kerumunan itu, namun gagal. Bahkan ada beberapa tangan-tangan mencubit pipinya dan memegang rambutnya.
“Mon, ayok! Mikha is looking for you!” desak Jane.
Aku menggeleng, suram. Aku menatap Jane, lalu memberikan botol coklat itu. “Kalau kamu ketemu Mikha nanti, please bilang aku gak enak badan tiba-tiba, so I should go home. Say sorry to him too.”
Tanpa banyak omong, aku pergi dari bangku penonton dan meninggalkan Jane yang saking shocknya hanya bisa menerima botol coklat itu dariku.
Aku berlari menuruni bangku penonton, lalu sebelum keluar dari lapangan bola, sempat kulihat Camille di sisi Mikha.
They look so… perfect. Camille is beautiful and famous, so perfect for Mikha.
Kutahan lagi air mataku, lalu berlari keluar dari lapangan bola.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku ngerasain yang namanya……
Jealous.
***
Aku mengganti-ganti channel di tv, cemberut.
Sehabis pulang sekolah tadi, aku langsung lari dan gak menggubris panggilan Mikha, Reuben, Jeremy, Mada, dan Jane dibelakangku. Aku langsung pulang dan rasanya stress.
Sudah 2 hari ini aku gak nemenin Mikha latihan bola. Dan sudah dua hari ini juga aku berusaha ngelak natap matanya yang bisa bikin aku dagdigdug gak karuan. Untungnya, Mikha sibuk banget sama latihan bola, jadi kami jarang banget bisa berdua bareng. Entah ini untung atau gak.
Ini semua gara-gara kejadian di lapangan bola kemaren. Kata-kata Camille masih menempel manis di otakku. Dan… ucapannya, benar.
Dan aku………. Jealous. Oke, sip.
Jadi, sore ini aku cuma duduk di depan tv, bingung harus ngapain. Dan pas ganti-ganti channel sambil menggerutu, aku melihat siaran bola.
Lapangan bola.
Harusnya sekarang aku ada di lapangan bola sekolah, nungguin Mikha latihan. Dan bercandaan bareng Reuben, Jeremy, Mada, dan Jane.
Aku membanting remote tv ke sofa. “Bete!” seruku.
Tepat pada saat itu, bel rumah berbunyi. Dan terdengar suara dari dapur, “Monaaa, open the door please. Mom is busy!”
Cemberut, aku beranjak dari sofa dan berjalan ke pintu depan malas-malasan. Aku membuka pintu dan…………………………
WOY GILA INI BOHONGAN!
“Hi, Mona.”
Mikha Angelo berdiri di depan rumahku. Tangannya memegang gitar kesayangannya itu.
“Mikha, what are you doing here?” tanyaku terkejut.
“Visiting you, maybe?” tanya Mikha sambil tersenyum jail.
Mikha yang sore ini mengenakan kaos tanpa lengan, serta celana selutut, tampak jauh lebih ganteng daripada biasanya-oh well, he’s handsome everytime. Dan rasanya liat dia di depan aku sekarang……………
I do miss him.
“Mona, siapa?” Sayup-sayup terdengar suara Mama dibelakang. “Oh, Mikha!”
“Selamat sore, Tante…” sapa Mikha sopan dan tak lupa memberikan senyumnya.
“Waah, Mikha. Kebetulan sekali, Tante baru aja bikin pancake, mari masuk…” ajak Mama ramah.
Aku membalikkan badanku segera dan Mikha mengikutiku di belakang. Sempat kudengar ia tertawa kecil. Oh no, pasti dia ngeliat foto aku waktu kecil yang dipajang di meja ruang tamu!
Aku membawa Mikha ke taman belakang rumah. Aku kemudian duduk di bangku dekat kolam renang dan Mikha duduk di sebelahku.
“I miss you,” kata Mikha singkat. Bisa kurasakan matanya menatapku.
Aku hanya diam. Kudengar Mikha menarik nafasnya.
“Do you angry with me? Do you hate me?” tanya Mikha.
Aku menggeleng pelan. “No, Mik…”
“Terus, kenapa kamu dua hari ini begitu bel bunyi langsung pulang?” tanya Mikha.
“Well… Aku banyak PR.”
“Aku? Kita, maksud kamu? Kita kan banyak ngambil kelas yang sama,”
“Well, kamu kan latihan bola. Jadi kamu gak tau kalau PR kita banyak,” jawabku asal.
“Jane bilang, PR nya gak banyak tuh,” kata Mikha. “Mona, please. Just tell me the truth.”
Aku diam, memandang air di kolam renang. Aku menarik nafas, “Mik, kenapa sih?” sahutku pelan.
Mikha masih menatapku, tapi aku gak berani natap balik. “Yang kenapa itu kamu, bukan aku.”
Aku menoleh dan menatap mata Mikha. Wajahnya terlihat lelah dan ada lingkaran hitam lagi bawah matanya. Aku terperanjat dan langsung panik. Aku gak suka liat Mikha kecapean, apalagi lingkaran hitam di bawah matanya-dia pasti kurang tidur.
“Mikha, kamu kenapa? Kamu pasti kurang tidur, ya? Kamu ngapain?” tanyaku beruntun. Tiba-tiba saja melupakan kata-kata Camille yang dua hari ini menyita perhatianku dan rasa jealous.
Mikha tersenyum. “Akhirnya kamu mau ngeliat aku juga…” bisiknya pelan. “Ini gak penting, aku-“
“No, its important! Kamu sakit?”
Mikha tertawa kecil sekarang. “Okay, Mona. Aku cuma kecapean latihan bola, akhir-akhir ini latihannya makin intensif. Gak cuma itu, aku juga begadang akhir-akhir ini. Nonton Newcastle.”
Aku menatap Mikha marah, “Harusnya kamu gak begadang, Mik. Kamu capek, harusnya langsung istirahat. Kalau kamu sakit nanti gimana?”
Mikha tertawa. “Oke, oke. Karena kamu yang minta, aku gak bakal begadang lagi.”
Aku terenyak dan memandang kolam renang lagi.
Rasanya kangen banget sama Mikha………………………….
“Sekarang…” kata Mikha. “Kamu yang kenapa, Mon... Dua hari ini kamu kayak bukan Mona tau gak…”
Mikha menarik tanganku dan menggenggamnya. Aku menarik nafas, lalu memberanikan diri menatap mata Mikha yang aku kangenin.
“Kamu gak ngerti, Mik….” kataku pelan. Sedih.
“Kalau gitu, bikin aku ngerti, Mon.”
Okay. Kayaknya memang harus bilang yang sebenarnya ke Mikha.
“Every girls in our school, obviously totally in love with you!”
Mikha menaikkan alisnya. “Then, why?” jawab Mikha enteng. “I just love you.”
Aku menggeleng. “Maksud aku bukan gitu,” kataku.
“Terus apa, Mon?”
Mikha meletakkan kedua tangannya di pipiku, dan menatap mataku lekat-lekat. Hal yang selalu ia lakuin kalau dia tau aku ada masalah.
Dan, setiap Mikha naruh kedua tangannya di pipiku, aku gak bisa bohong. Dan langsung nyeritain apa yang aku rasain. His eyes hypnotize me.
Aku memegang lengan Mikha yang masih berada di pipiku. I look into his eyes.
“Mikha. Firstly, I’m so sorry… Aku tau dua hari ini aku childish banget, I shouldn’t be like this… Tapi, waktu ngeliat kamu di lapangan bola kemaren, dikerumunin cewek-cewek, rasanya tuh…..”
Aku berhenti. Mikha masih menatap mataku.
“Rasanya tuh… Oh, God. Ini memang egois, tapi rasanya tuh badmood banget, dan harusnya aku yang nemenin kamu disana, bukan mereka! I’m so sorry, Mik…”
Mikha diam. Maka kulanjutkan kata-kataku, “And for the first time in my life, aku ngerasain yang namanya jealous.”
Aku langsung menutup mataku dan mengeratkan genggamanku di tangan Mikha yang masih menempel di wajahku begitu mengucapkan kata terakhir.
“Mona…” bisik Mikha. “Open your eyes, and look at me.”
Aku membuka mataku dan melihat Mikha tersenyum. Manis. banget. RRRR. “Makasih udah ngasih tau aku apa yang kamu rasain, honestly, dua hari ini aku begadang bukan karena Newcastle, tapi gara-gara kamu. Semalaman aku mikirin, aku salah apa sama kamu, dan thanks. Akhirnya aku tau kamu kenapa…
“Makasih udah buat aku ngerti, Mon….” kata Mikha, tersenyum. Jarinya mengelus pipiku lembut. “Sekarang, aku yang bakal bikin kamu ngerti.”
Mikha melepaskan tangannya dari wajahku lalu mengambil gitarnya. “Mona, this song is special for you…”
Mikha mulai memetik gitarnya dan dan dan……………
OMG.
***
“You’re insecure Don’t know what for you’re turning heads when you walk trough the door… Don’t need make up, to cover up, being the way that you are is enough…”
(nowplaying: Mikha - What Makes You Beautiful. hihihi ;3)
Mikha nyanyi lagu What Makes You Beautiful versi akustik dihadapanku. Dan seakan menyetujui, matahari sore pun menyorot Mikha dan gitarnya. Matanya berkilauan di sunset, dan suaranya lembut sekali.
“Baby you’re light up my world like nobody else the way that you flip your hair gets me overwhelmed but when you smile at the ground it aint hard to tell you don’t know oh oh oh you don’t know you’re beautiful…”
OH. GOD. CAN. I. GO. CRY. AND. MELTING. TOO. OH. NO.
Rasanya aku pengen nyebur ke kolam didepanku saking meltingnya.
Mikha mengakhiri lagu itu dengan sempurna, dan ia tersenyum. Matanya masih saja berkilau ditengah cahaya matahari sore itu.
Mikha meletakkan gitarnya dan menatapku lagi.
Please, Mik. Ini udah sunset, depan kolam renang, dan senyum kamu itu loh. ADOH.
“Mona, you don’t have to be jealous. Aku tau mereka semua mungkin jerit-jerit atau apa kalau liat aku, tapi… You’ve stolen my heart.”
Mikha menggenggam kedua tanganku, “Mona, I love you. Without you, I’m nothing. So please, trust me when I say, I love you.”
“You’re my sunshine, my sunrise, my sunset, my rainbow, my world, my love, my angel. Mona Louissa, you are my life.”
Aku tersenyum bahagia. Ya, bahagia.
Mikha tersenyum. “So, apa Monanya Mikha udah balik lagi?” tanya Mikha sambil nyengir.
Aku tertawa. “Yes, Sir! Hahahaha….”
“Promise to me… Don’t do this anymore, please. Rasanya gak enak,” kata Mikha. “Kalau ada apa-apa cerita, I’m always with you, babe.”
Aku mengangguk sambil tersenyum, kemudian di tengah sunset itu, Mikha mendekatkan wajahnya dan mencium keningku dengan lembut.
Jantungku rasanya berhenti berdetak.
Matahari benar-benar sudah nyaris tenggelam, dan di depan kolam renang itu, terpantul cahaya matahari yang berkilauan.
And Mikha kisses my forehead softly in the middle of the sunset.
***
H-2 pertandingan bola.
“… MADA! MADA! GO MADA GO MADA, YEEAAAAHHH! GOOLLL! MADAA!”
Aku menepuk bahu Jane. Jane yang sedang asik berteriak menyemangati Mada pun menoleh, “What?”
“Aku beliin minum buat mereka dulu, ya. Tadi aku lupa bawain,” kataku.
Jane mengangguk cepat-cepat, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan langsung menyemangati Mada lagi.
Aku menuruni bangku penonton sambil mengawasi pemain bernomor punggung 12.
Mikha.
Sejak kejadian di rumah aku sore-sore kemaren, aku putusin buat gak bertingkah kayak anak kecil lagi. Mikha cerita ini ke Reuben, Mada, dan Jeremy. Daaan tadi pagi, Mada langsung datangin aku dan bilang,
“Mon, I know its hard for you. But, jealous is not allowed. Mikha is yours. Titik,” kata Mada, lalu ia pergi setelah sebelumnya mengacak-acak rambutku.
Sooo, I will not jealous anymore. Well, semoga.
Aku selesai menuruni bangku penonton, lalu dari pinggir lapangan kulihat Mikha mencetak gol. Tersenyum, lalu aku berjalan keluar lapangan menuju sekolah.
Sekolah sudah sepi. Dan jalan sendirian di koridor sekolah mau ke kantin rasanya agak….. takut juga yak.
Maka aku berjalan sambil memegang gelang yang dikasih Mikha. Gelang ini gak pernah lepas, dan Mikha selalu tersenyum begitu ngeliat gelang yang dia kasih ini melekat manis di tanganku.
Hmm, anyway, Mikha mau minum apa ya? Reuben Mada Jeremy too. Jane juga, tenggorokan dia pasti kering habis teriak-teriak buat Mada.
Sambil memikirkan minuman apa yang harus aku beli, aku belok di koridor panjang, dan ow ow……
Ku pelankan langkahku begitu melihat Camille, Clara, dan cewek-cewek yang tempo hari kutemui di toilet sedang berdiri di tengah koridor.
Dan rupanya salah satu dari mereka menyadari kehadiranku. Mereka semua sekarang menatapku yang berjalan lurus.
Pada mau ngapain……………………………….
Mereka menghalangi jalanku menuju kantin. Dan begitu aku sampai di depan mereka, kutatap Camille yang sepertinya pemimpin gerombolan, “Sorry, aku mau lewat,” kataku.
“Mon, kamu jalan di koridor kayak gak pernah diperingatkan sebelumnya, ya?” kata Camille.
Aku menaikkan alis. “Diperingatkan?”
Camille mengangguk. “Apa kurang cukup, yang di lapangan bola tempo hari?”
Hatiku teriris kecil begitu mendengar Camille mengungkit-ungkit masalah di lapangan bola kemaren-kemaren. Aku hanya diam sambil membalas tatapan Camille.
“Mona, kami semua tau kamu pintar. Sering menang lomba ini itu, dan well, we should admit that your voice is good,” kata Camille, tersenyum.
Feeling aku gak enak nih………………
“To the point aja ya, kamu sebenarnya sama Mikha ada hubungan apa, sih, selain teman band?” tanya Camille.
“Ya kami cuma teman band,” jawabku singkat.
“Ahh, really? Kalau cuma teman band harusnya kamu gak usah nemenin dia latihan bola terus kan tiap hari? Atau gak usah duduk sebangku mulu kan sama Mikha? We watch you, Mona.”
Aku terdiam. Nafasku sudah naik turun. Kukepalkan tanganku kebelakang.
“Mona… kamu tau, kan, fansnya Mikha itu banyak banget? Semua cewek disini itu fansnya Mikha, Reuben, Jeremy, sama Mada,” kata Camille. “Kami gak bakal ngebully kamu kayak di film-film, atau novel-novel yang kamu baca.”
Tanganku berkeringat dingin. Ini namanya kucing lawan singa! Dan udah jelas siapa yang kucing siapa yang singa.
“We’re not going to hurt you…” bisik Camille, senyumnya mematikan sekarang. Dan dia jauh lebih tinggi daripada aku. Rrrrr.
“Well, gak usah deket-deket Mikha, bisa?”
Hening.
“Kami tau kamu satu band bareng Mikha, dan kami masih sanggup ngeliat kamu satu panggung bareng dia, tapi… Ini udah diluar batas kewajaran. You’re more than friend with Mikha, aren’t you?”
Aku diam, cepat-cepat menggeleng. Rasa takutku mulai menyerang. Jangan-jangan mereka….?
Camille menyibak rambutnya tidak sabar. “Kenapa kamu gak deketnya sama Reuben aja? Bukannya kalian dari dulu udah dekat, ya?”
Camille sekarang sudah benar-benar berada di depannku. Jarak kami hanya satu langkah kecil, dan posturnya yang tinggi menjulang sangat mengintimidasi.
Lalu Clara yang berbicara, “Mona, you’re a kind girl, we know. But please, jangan dekat-dekat sama Mikha. We cant watch it anymore.”
“Kamu itu berbeda sama Mikha. Jauh banget. Kamu pikir, deket-deket sama dia bikin cewek-cewek di sekolah ini fine-fine aja gitu? Gak, Mona,” kata Camille. Matanya berkilat-kilat. “Kita sering dengar dari cewek-cewek di sekolah ini, mereka semua gak suka sama kamu, you know.”
Aku cuma bisa diam. Selama ini aku udah ngebatasin kedekatan aku sama Mikha di sekolah. Aku cuma dekat-dekat sama dia ruang musik. Aku sama Mikha udah setuju gak bakal ngumbar-ngumbar depan umum. Tapi, kenapa mereka mikir gitu, sih? Apa kami kurang jauh di sekolah?
“So, kalau kamu bisa jauh-jauh dari Mikha, kami bakal bilang ke orang-orang kalau kamu gak seperti yang mereka bilang. Tapi, itu kalau kamu jauh-jauh dari Mikha,” ucap Camille. “Gimana?”
“Well, maksud kami jauh-jauh itu…” sambung Clara. “Kita cuma liat kamu bareng Mikha di panggung. Yup, just it.”
Rasanya kayak ditendang ke tembok. Tertohok.
Aku menatap mereka satu persatu. Mata mereka menatapku tajam.
Hening di koridor sekolah.
Aku menunduk. What should I do?
Di antara keheningan itu, tiba-tiba ada yang menggenggam tanganku dan menarikku kebelakang. Aku mendongak dan kulihat Mada didepanku.
Reuben dan Jeremy disampingku, dan yang memegang tanganku Mikha.
“Hello, girls. What are you doing with Mona here?” tanya Mada.
Gerombolan cewek-cewek itu terdiam. “Nope, Mad,” kata cewek yang di toilet kemaren, yang ngefans sama Mada.
Mikha menggenggam tanganku terlalu erat. Dan kulihat mata Camille gak lepas-lepas memperhatikan tangan kami berdua. Aku berusaha melepaskan tanganku, namun Mikha malah menggenggamnya semakin erat.
Tanganku semakin dingin.
“Well, then, bisa minggir? Kami mau ke kantin,” kata Mada. Wajah cewek-cewek itu sama semua: pucat.
Reuben maju, “Well, guys. Kami dengar apa yang kalian bilang sedikit tadi. Dan, semoga itu bukan dari hati kalian. Mona is our bestfriend. Is it enough?”
Mikha melepaskan genggamannya, aku bernafas lega namun……..
Mikha merangkulku.
Wajah Camille yang sudah putih, sekarang putih seperti cat tembok sekolah. Putih pias. Jelas dia gak bisa ngomong apa-apa. Clara langsung mengambil alih keadaan, “Well, Reu, we’re sorry. Kami cuma ngomong sebentar kok sama Mona. And sure, Mada, kami juga harus pergi. Well, goodluck for all of you…”
Barisan belakang gerombolan itu langsung pergi sambil melirik Mikha yang merangkulku. Camille harus ditarik terlebih dahulu supaya meninggalkan koridor ini.
Mereka semua pergi, dan hilang dari pandangan begitu berbelok di taman sekolah.
Aku menghembuskan nafas lega. Tanpa alih-alih, Mikha langsung memelukku erat. Aku membenamkan wajahku di pelukannya. Ini lebih dari sekedar nangis. Aku bahkan gak nangis sama sekali!
“Mona…” bisik Mikha lembut di telingaku. “Are you okay?”
Aku mengangguk. Yeah, Mik. Cukup oke untuk gak terjun dari gedung paling tinggi di sekolah.
Reuben memegang bahuku. “Mona, mereka bilang apa? Mereka bully kamu?”
Aku menggeleng di pelukan Mikha. Entah kenapa rasanya berat sekali melepaskan pelukan Mikha. Padahal Camille bilang aku gak boleh dekat-dekat sama Mikha. RRRRRR.
“Mereka bilang apa, Mon?” tanya Mada. Nada suaranya panik.
“Mereka… mereka cuma bilang kalau suara aku bagus dan, goodluck buat event nanti,” bisikku pelan.
Aku melepaskan pelukan Mikha dan langsung menatap wajah Mikha. Wajahnya ragu.
“Well, gapapa guys. Mereka bilang begitu kok,” kataku, sok ceria. Dan aku gak sepenuhnya bohong. Mereka toh beneran bilang begitu. “Then, lets go to canteen! Ayo beli minum!”
Reuben menatap Jeremy sekilas, wajah mereka ragu. Namun akhirnya kami semua berjalan ke kantin.
Mikha langsung menggandeng tanganku begitu kami semua berjalan. Reuben, Jeremy, dan Mada berjalan ke kantin, sementara kami berdua berhenti berjalan di tengah koridor.
“Mona, hal kayak tadi gak akan terjadi lagi,” kata Mikha. Ia memegang tanganku sekarang. “I will never leave you alone anymore.”
Never leave you? Apa artinya bakal jadi makin sering berdua kemana-mana, Mik?
Aku menggeleng, berusaha tersenyum. “Nevermind, Mik. Remember backstreet, eh?” kataku, sambil berusaha tersenyum.
Mikha menatapku. “Lupain backstreet. Kita gak akan backstreet lagi. Let we show them, that-“
“No, Mik. Please….” lirihku. “Like I said before, we have to backstreet.”
Mikha diam. “I still don’t understand why we have to do that,” sahut Mikha.
Aku memalingkan wajahku. Berusaha menahan emosi.
Mikha memelukku lagi, dan entah sudah berapa kali aku mencium bau parfumnya yang sangat menenangkan itu.
Aku memeluk Mikha erat-erat. Mikha meletakkan ujung dagunya di atas kepalaku. “Mona….”
“Mik, you don’t have to understand it. Kamu cukup jalanin itu,” bisikku.
Mikha diam dan aku anggap itu sebagai sebuah persetujuan.
***
Kutatap piano didepanku. Kupencet tuts-tutsnya sembarangan.
Aku menghela nafas. Ruang musik gak pernah sesepi ini.
H-1 dari pertandingan bola.
Semalaman aku mikirin ucapan Camille dan teman-temannya. Semua kata-kata mereka berputar di otakku gak stop-stop. Dan yang masih terngiang sampai sekarang: jauhin Mikha, bisa?
Aku menunduk menatap tuts piano. Rasanya hampa.
Kurang jauh apalagi aku sama Mikha di sekolah? Aku cuma dekat-dekat sama dia waktu di ruang musik. That’s all. Apa mungkin mereka ngintip ke ruang musik? Gak mungkin, kan.
Seharian di sekolah tadi, Mikha bener-bener gak ninggalin aku seharian. Dan untungnya gak begitu mencurigakan soalnya aku bawa Jane kemana-mana. Tapi… dimana ada aku bareng Mikha dan Jane, ada Camille juga. Dia pasti makin mikir yang aneh-aneh.
Dan waktu pulangan tadi, sebelum aku bilang mau ke ruang musik, Mikha sempat meluk aku sekilas, dan sialnya Camille liat.
Dan tadi, waktu aku mau ke ruang musik, aku sempat ngeliat Camille dipeluk Clara dan rasanya rada gak percaya ngeliat dia nangis.
Dan terburuk dari yang terburuk: Camille nangis liat Mikha meluk aku.
This is a big problem.
Mikha pasti sudah nungguin aku di lapangan bola. Should I come and watch him when my heart is hurt?
Aku menatap ruang musik. Di ruang ini, Mikha bilang ‘I love you’ pertama kali ke aku. Rasanya sudah lama sekali hal manis itu terjadi.
Ini gak bisa dibiarin. Cewek-cewek disana bisa aja jadi benci sama Mikha gara-gara…… aku. Dan Camille? She cried a lot.
Apa sebuah hubungan masih harus dipertahanin kalau udah banyak pihak yang sakit hati?
Aku menahan air mataku untuk tidak tumpah di atas tuts-tus piano.
Should I break up with him when I love him so much?
Pintu ruang musik menjeblak terbuka. Belum sempat kuhapus air mataku, aku mendongak dan melihat Mikha masih mengenakan seragamnya. Ia melihatku dan wajahnya langsung pucat.
Mikha mendatangiku. “Mon, are you okay?” tanya Mikha, sekarang berdiri di sebelahku.
Aku mengangguk. Seiring aku menganggukkan kepalaku, air mataku berjatuhan satu-satu dan mengenai tanganku yang ada di tuts-tuts piano.
Ini jelas bukan oke buat Mikha.
Mikha berlutut di sampingku yang duduk di kursi menghadap piano. “Mona, I not you’re not okay.”
Aku diam.
“You’ve promised me, you will tell everything,” kata Mikha tak sabar.
Aku bergeming. Memandang tuts-tuts piano.
“Mona.”
Suara Mikha tidak lagi lembut seperti biasanya. Aku terkejut sedikit, lalu menoleh dan memandangnya. “Apa, Mik?” tanyaku.
“Why are you here? What happened to you? And why are you crying?” tanya Mikha beruntun. “And please, can you answers my questions NOW? Before I’m going crazy?”
Aku membuka mulutku, hendak menjawab, “Kamu-“
“Dan jangan bilang kamu gak ngerti, karena kamu udah bikin aku ngerti, kan, kemaren?” tanya Mikha.
Aku menunduk dan berdiri. Mikha juga ikut berdiri dan kami sekarang berhadapan. Melihat air mataku yang tidak berhenti menetes, tatapan Mikha melembut. “Mona, please… I cant see you like this.”
Aku menangis lagi. Rasanya berat sekali.
“Mona, kenapa?” tanya Mikha lembut. Matanya cemas sekali.
Aku memegang tangan Mikha, lalu menatap matanya, “Mik, you should stay away from me,” bisikku ketakutan, still crying.
Wajah Mikha tambah pucat. “What? Mon, what, WHY?”
Mikha terlihat frustasi. Tangisanku semakin keras.
“You don’t have to ask why. Just do it, please.”
Mikha menatapku tak percaya. “I cant ask why to you? I should stay away from you for no reason, then?”
Aku hanya menangis.
“Mon, I will not stay away from you. You don’t give me any reasons,” kata Mikha.
Rasanya mau meledak boleh?
“Mik, you don’t know what they say to us! They hate me, they will hate you! Selama ini, aku gak pernah bilang ke kamu karena aku masih bisa nahan semuanya, tapi…”
Hening.
“Tapi kali ini gak. Mereka semua envy ngeliat aku dekat-dekat kamu. Mereka bilang aku gak seharusnya sama kamu, mereka bilang kita itu beda jauh, Mik!” seruku ke Mikha sambil terisak. “You don’t know what I feel, don’t you? Mereka semua bilang ke aku, we shouldn’t be together. Dan kemaren, Camille bilang kalau aku harus jauh-jauh dari kamu.
“Sekarang jelas, kan, kenapa kamu harus stay away dari aku? Aku gak perduli aku di bully atau apa, aku cuma takut mereka bakal benci kamu, Mik,” kataku sambil terisak makin keras. “Sebelum mereka tau kita lebih dari teman, Mik. Ini demi kamu.”
Hening.
“Yeah, Mik. Its my answer for your why,” kataku, mengakhiri.
Masih menangis, aku berlari dari hadapan Mikha dan membuka pintu. Gak pernah ruang musik semenyedihkan ini.
Aku terisak keras. Rasanya sakit sekali harus bilang apa yang aku rasain ke Mikha. Dan wajahnya tadi? Pucat banget, shock, dan jelas sedih.
Aku keluar dan sinar matahari langsung mengenai wajahku yang bersimbah air mata.
Aku berjalan menunduk kemudian aku melihat ada sepasang sepatu. Ada yang berdiri di depanku.
“Mon?”
Wajah Reuben yang khawatir berada di depanku. Tangisku belum berhenti, malah semakin hebat begitu melihat Reuben.
Tanpa pikir panjang, aku langsung memeluk Reuben sambil menangis. “Reu, I hurt your brother. Sorry, Reu.”
Reuben diam.
“Rasanya sakit, Reu,” kataku sedih. “I just love him so much”
Aku gemetaran saking sedihnya kemudian teringat kata-kata Camille kemaren. “Reu, why I don’t just fall in love with you? Kenapa gak sama kamu aja? Mungkin rasanya gak bakal sesakit ini.”
Aku menangis lagi, namun kudengar Reuben berkata, “Mona… There’s so much reasons why you don’t fall in love with me. You’re heart is just for Mikha….” bisik Reuben. Air mataku menetes begitu mendengar nama Mikha. “Dan, harusnya, kamu meluk orang yang ada di belakang kamu sekarang, bukan aku.”
Aku segera melepaskan pelukanku, dan membalikkan badan.
Mikha berdiri di depanku, dan tepat pada saat itu air mata meluncur dari pipinya.
***
Kutatap hujan deras di malam hari dari jendela kamarku. Mataku menatap kosong.
Rasanya hampa… Hampa.
Aku memeluk lututku, berusaha menahan tangis yang mungkin bakal turun buat kesejuta kalinya.
Oh c’mon, Mona… Apa gak cukup hujan aja yang turun?
Tapi tiba-tiba, aku ingat air mata Mikha yang jatuh gitu aja tadi siang di sekolah.
Air mataku meluncur mulus tanpa sempat ditahan.
“Mona………….. kamu kok cengeng banget, sih!” rutukku kesal. Suaraku parau.
Tanpa bisa kutahan, aku nangis lagi. HUFT.
INIMAH LEBIH DARI GALAU NAMANYAAAAA.
Lagi asik-asik nangis, hapeku bunyi. Aku beranjak dari kasur dan mengambil hapeku yang ada di meja belajar.
Kulirik layar hapeku: Mikha.
Aku segera menghapus air mataku dan mengatur suaraku. “Halo, Mik?”
“Mon…” katanya lembut. Yap, dan rasanya jadi makin galau. “Besok aku tanding, kamu nonton, kan?”
Mikha acts like theres nothing happen.
“Haha, siap, Captain!” kataku. Mikha tertawa
“Mon?”
“Iya?” engahku, berusaha menahan tangis lagi begitu mendengar tawa Mikha.
“I’m in front of your house.”
HAH?
Aku segera melempar hapeku ke ranjang dan berlari keluar kamar, melesat menuruni tangga. Ini hujan dan Mikha ada di depan rumah. No.. no… NO.
Mama melihatku berlari ke depan pintu, “Mona, kenapa?” tanya Mama bingung.
Aku tak menjawab dan membuka pintu depan.
Hujan langsung menerpa wajahku, dan kulihat Mikha berdiri di dekat lampu taman rumahku. Kehujanan. Rambutnya basah, bajunya basah, OH GOD.
Aku berlari dan menerjang hujan, berdiri di hadapan Mikha. “Mik, what are you doing here? Mik, ini hujan!!”
Mikha tertawa. “Mona… Theres something I want to tell,” bisiknya sambil tersenyum.
“Yup, tapi gak usah disini, please. Kamu bisa sakit nanti, kamu besok tanding, Mik kamu-“
Mikha meletakkan jarinya di bibirku. “Aku yang ngomong boleh?”
Aku terdiam. Diam sediam-diamnya.
Mikha kemudian memegang tanganku. “Mona, entah aku harus bersyukur atau apa buat kejadian di ruang musik tadi siang,” kata Mikha, masih tersenyum menatapku. Sementara itu air hujan masih tanpa ampun mengguyur kami berdua. “Akhirnya, aku tau apa yang kamu rasain selama ini.
“Aku tau aku yang salah, ternyata selama ini apa yang kamu rasain… rasanya gak enak banget, pasti. Dan kamu, memang hebat ngadapin semua itu sendirian. Semua kata-kata, bully, dan yang lainnya.”
Mikha membelai rambutku yang basah. “Mona, I’m sorry… for all your tears, your sadness,” bisik Mikha. “Whatever with them, I will never leave you.”
Air mataku bercampur dengan hujan yang turun.
“Dan kalaupun satu-satunya cara buat bisa bertahan sama kamu itu backstreet, I will take that way, cause I love you so much,” kata Mikha. “And standing under the rain feels so cold, but you’re here with me, standing in front of me, I feel warm.”
Aku langsung memeluk Mikha. “Mik, I’m sorry.”
Mikha memelukku erat. “You don’t have to say sorry, Mona, sweety.”
Aku memejamkan mataku, “Mik, I love you.”
“I love you more, Mona Louissa.”
Aku tersenyum sambil menangis bahagia. Akhirnya, semua beban yang ada hilang gitu aja.
“That was the first time you said I love you for me,” bisik Mikha, tertawa.
“Hahaha, so, how it feels?”
“More than you can imagine, I can't wait to get on one knee and promise you forever,” kata Mikha.
Mikha lalu mencium keningku lembut.
Lalu aku teringat wish yang pernah kubuat waktu SMP dulu:
Hug someone I love, and then he kisses me on my forehead softly under the rain: DONE.
Mikha, I couldn't imagine not having you.

Hmmm, gimana kelanjutannya ya? Gimana dengan pertandingan bolanya?
Thank you for reading, and please wait for the next bab :D
Love, @DjimbasSMD xx

Tidak ada komentar:

Posting Komentar